
Sepeninggal Widuri dari hadapannya, Floryn kembali memulai pekerjaannya hari itu. Seperti biasa, suaminya sendiri akan datang ke kantor labih siang. Sudah sejak dulu, mereka tidak pernah datang ke kantor bersama-sama. Dulu Enrik mengantar Floryn ke kantor selama sebulan penuh, saat wanita itu baru mulai bekerja di sana. Setelah itu, mereka pergi masing-masing.
Untuk sejenak pandangan Floryn beralih ke arah kotak berisi kue yang belum ia sentuh sama sekali. Ia ingin menghubungi nomor itu dan bertanya maksud orang itu mengiriminya kata-kata seperti tadi. Akan tetapi, Floryn malu. Hal itu terkesan memalukan. Kenapa harus ia yang menghubunginya lebih dulu?
Floryn mengambil HP dan memilih untuk menghubungi Yasmin, teman kerjanya dari divisi lain. Wanita itu bekerja di sana karena rekomendasi darinya. Yasmin begitu beruntung karena ia baru saja naik jabatan menjadi sekretaris Tuan Edward dan ia berjanji ingin mentraktir Floryn makan enak karena hal tersebut.
“Apa kamu sibuk siang ini, Nona Sekretaris?” tanya Floryn dengan candaan seperti biasa.
“Sibuk apa? Namanya jam makan siang, ya istirahat, lah …,” sahut Yasmin. “Eh, kita makan siang bareng, yuk! Bosen makan siang sendiri di pantry. Aku mau makan di luar …,” ajak Yasmin yang memang jarang makan di luar. Wanita itu pergi ke kantor dengan taksi online, tidak seperti Floryn yang menggunakan mobil pribadi.
“Kebetulan banget. Aku lagi butuh teman curhat. Mau dengerin curhatan ibu-ibu ini, gak?” tanya Floryn basa-basi.
“Kita mau ngegosip? Hayuuuk!” seru Yasmin yang terdengar sangat senang. Floryn senang karena temannya itu tidak berubah. Membayangkan siang ini, Floryn begitu bersemangat.
***
Saat ini Floryn dan Yasmin sudah berada di salah satu rumah makan yang menyediakan berbagai jenis bakso. Ya, mereka berdua adalah penggila bakso yang tidak akan pernah merasa bosan dengan makanan yang satu itu.
“Kamu serius?!” tanya Yasmin tidak percaya.
Floryn mengangguk dan mengambil tasnya yang ada di samping. Ia lalu mengeluarkan selembar kertas yang telah ia lipat beberapa kali.
__ADS_1
“Ini …,” kata Floryn seraya memberikan selembar kertas kecil itu kepada Yasmin.
Yasmin menerimanya dengan sangat penasaran. Ia membuka kertas itu dan membaca isinya.
“'Hai, Cantik!'? Wah wah wah … rupanya kamu memang punya fans. Ha ha ha! Hati-hati … jangan sampai suamimu tahu tentang hal ini. Bisa-bisa kamu jadi janda dalam waktu singkat …,” ungkap Yasmin bercanda.
Akan tetapi, Floryn malah menjadi murung setelah mendengar perkataan Yasmin barusan. Yasmin yang menyadari hal itu, langsung saja meminta maaf kepada temannya.
“Tidak apa. Apa yang kamu katakan benar. Mungkin aku akan jadi janda tidak lama lagi,” sahut Floryn kemudian.
“Hah? Benar bagaimana? Kamu ada masalah apa dengan Enrik, Flo?” tanya Yasmin yang tiba-tiba berubah menjadi khawatir.
"Kalau memang begitu, kamu laporkan saja pada Pak Edward. Kasihan kamu dan Alvin," kata Yasmin iba. Untung saja dua mangkuk bakso yang mereka pesan telah habis sejak tadi, karena nafsu makan Floryn tiba-tiba lenyap.
"Min ... aku tidak terlalu mengenal mertuaku sendiri. Bagaimana kalau ia malah membela Mas Enrik dan mengusirku dari kantor? Mau makan apa aku dan Alvin? Lalu gimana kalau mereka memisahkanku dengan Alvin? Haaaaaah ...." Floryn menghela napas dengan berat. Ia tidak punya sosok yang akan membelanya.
Enrik hanya memiliki ayahnya. Ibu Enrik telah berpulang sejak lama sekali. Mungkin hal itu juga yang mengakibatkan Enrik bisa mempermainkan perempuan seperti istrinya sekali pun.
"Bagaimana kalau tidak dicoba? Mana tau mertuamu itu akan membela dirimu dan Alvin. Kamu tahu, kamu punya sebuah senjata yang tidak mungkin bisa dikalahkan oleh siapa pun."
"Hah? Maksudnya?"
__ADS_1
"Alvin! Mertuamu pasti tidak akan mau kehilangan cucu satu-satunya. Secara, Pak Enrik itu anak tunggal. Percaya sama omonganku ...," terang Yasmin.
Sejenak Floryn memikirkan kata-kata Yasmin. Mungkin apa yang wanita itu katakan ada benarnya juga.
Kini Floryn berpikir untuk mengadukan semua yang sudah Enrik lakukan kepada ayah mertuanya. Mungkin Tuan Edward mau menasehati Enrik dan Enrik menjadi terbuka pikirannya.
"Mungkin aku akan mencobanya, Min. Thank's ya, kamu mau mendengarkan curhatan gak jelas ini ...," ungkap Floryn menggenggam tangan Yasmin yang tertelungkup di atas meja.
Yasmin balas menepuk-nepuk punggung tangan Floryn. "Kamu wanita baik, Rin. Kalau kamu masih mau mempertahankan hubungan kalian, hanya cara itu satu-satunya. Kamu jangan mau kalah dengan pelakor yang hanya bermodalkan tubuhnya untuk menghancurkan kalian. Aku pasti menolongmu ...," ungkap Yasmin.
Lima menit kemudian mereka berdua pergi dari rumah makan itu. Sudah masuk jam kerja dan mereka tidak boleh masuk kelewat terlambat. Sebagai atasan, keduanya harus mencontohkan hal baik bagi seluruh karyawannya.
Akan tetapi, setelah berpisah dengan Yasmin di pintu lift, Floryn kembali berpikir.
"Apakah aku memang ingin kembali bersama Mas Enrik setelah ia menanamkan miliknya di lahan wanita lain? Bisakah aku pura-pura hal itu tidak pernah terjadi selama sisa umurku kelak?"
Bersambung.
Author corner:
Menurut kalian gimana, Mak? Rebut kembali Mas Enrik, atau hempaskan keduanya jauh-jauh? Tunggu jawabannya di bab selanjutnya, yaaa!
__ADS_1