Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Kunjungan Singkat


__ADS_3

Jangan lupa sentuh jempol-nya supaya jadi biru, ya.


Terima kasih (*´˘`*)♡


***


"Sayang sekali kita harus mengatakan hal ini, tapi saudara Anda mengalami pendarahan lambung yang menyebabkan perutnya terasa begitu melilit." Seorang dokter memberikan penjelasan kepada Widuri dan Floryn, yang baru tiba beberapa saat lalu.


"Pendarahan lambung, Dok? Bagaimana bisa? Abang saya hanya punya mag. Bagaimana bisa sekarang ia punya pendarahan lambung?" tanya Widuri tidak percaya.


"Well ... mag yang menjadi semakin parah, membuatnya mendapat pendarahan itu."


"Jadi, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Floryn yang begitu penasaran.


"Kami akan meresepkan obat untuk mengontrol produksi asam lambung supaya tidak berlebihan. Biasanya obat-obatan ini dapat diminum secara langsung. Namun, bagi penderita yang sudah mengalami pendarahan lambung, obat-obatan itu akan kami berikan lewat pembuluh darah. Maksudnya lewat infus," ungkap dokter itu.


Floryn terlihat kaget. Salain karena ia kaget dengan kenyataan kalau Zoel punya penyakit lambung, ia tidak menyangka kalau penyakitnya sudah begitu parah.


Dokter yang merawat Zoel pergi setelah memberikan kabar tersebut kepada Widuri. Kini hanya tersisa kedua orang itu.


Tidak lama kemudian, dua orang perawat yang tadi membawa Zoel untuk melakukan pemeriksaan, kembali dengan mendorong kursi roda Zoel.


Laki-laki itu terlihat cukup terkejut dengan keberadaan Floryn di sana.


"Bu Floryn?" tanya Zoel bingung bercampur senang.


"Hai. Maaf saya datang tanpa memberi kabar," kata Floryn canggung.


"Sebaiknya kita ngobrol di dalam. Saya merasa tersanjung dengan kahadiran Anda di sini," ungkap Zoel.


Kedua perawat itu pamit dan akhirnya pergi dari sana. Tanpa menunggu lama, Widuri menggantikan orang-orang itu untuk mendorong kursi roda Zoel masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar, Floryn duduk di salah satu sofa panjang setelah dipersilakan. Zoel sendiri sudah kembali berbaring di atas ranjang rumah sakit karena memang tidak boleh terlalu banyak bergerak.


"Terima kasih." Floryn meletakkan HP barunya di atas meja.


"Apakah ... Ibu datang ke sini hanya untuk menjenguk saya?" tanya Zoel penasaran. Padahal, baru tadi malam mereka pulang barsama. Dan bisa dibilang, karena hal itulah ia berada di tempat ini sekarang.


"H-hah? Maaf, Anda jangan mengada-ada, ya. Saya datang untuk menemui Widuri. Ada masalah yang harus saya bicarakan dengannya. Ini masalah pekerjaan," sahut Floryn merasa agak tersudut.


Zoel tersenyum dan kini melirik ke arah adiknya. Setelah itu, Zoel menutup matanya.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya ingin memejamkan mata dulu sejenak. Boleh, kan?" tanya Zoel yang merasa begitu mengantuk. Mungkin karena semalaman ia tidak bisa tidur menahan sakit pada perutnya.


"Oke. Tidur saja, Bang. Mungkin dokter yang menyuntikkan obat akan datang sebentar lagi. Tidak masalah," terang Widuri.


Zoel mengangguk pada keduanya lalu menutup mata.


Floryn merasa sungguh tidak enak kepada kakak beradik itu. Pasti karena semalam ia menolak ajakan Zoel untuk makan, penyakit orang itu malah kambuh. Sungguh, ia begitu menyesal.


***


Setelah dokter menyuntikkan obat untuk mengontrol produksi asam lambung. Ia memberikan resep lainnya. Dokter itu juga bilang, kalau Zoel sudah bisa pulang setelah infusnya habis.


Floryn yang merasa sudah cukup lama berada di sana, memutuskan untuk pamit pulang.


Akan tetapi, sebelum Floryn bicara, Zoel terlebih dahulu memanggil adiknya untuk mendekat. Zoel membisikkan sesuatu hal kepada Widuri. Floryn sama sekali tidak bisa mendengarnya.


Widuri terlihat tidak percaya dan hanya bisa mengangguk.


"Bu, sebentar, ya ... saya harus membeli sesuatu," ungkop Widuri tidak enak.


Floryn hanya menagngguk saja tanpa bertanya hal yang membuat staff-nya itu harus pergi.


Tanpa menunggu lama, Widuri pergi dari kamar itu meninggalkan Zoel dan Floryn berdua saja.


"Hah? Apa yang kamu katakan kepada Widuri tadi? Kenapa ia mau saja pergi dari sini?" tanya Floryn curiga.


"Tenang saja, Bu. Saya hanya bilang kalau saya memerlukan aspirin untuk sakit kepala saya," terang Zoel seraya tersenyum kepada bos adiknya.


Mendengar hal itu, Floryn hanya bisa mengulum senyum. Ia tidak menyangka jika Zoel akan membuat adiknya pergi dari sana.


Saat Zoel tidak memperhatikan, Floryn memukul bahu Zoel dengan punggung tangannya. Ia melakukannya dengan pelan dan hati-hati.


"Aw ... infus saya terasa bergetar," keluh Zoel sambil meringis kesakitan.


Floryn menutup mulutnya dengan kedua tangan. "So-sorry! Apakah begitu sakit?" tanya Floryn panik. Ia tidak melakukannya dengan keras. Masa iya, Zoel kesakitan?


Detik berikutnya, Zoel tersenyum dan mengambil tangan Floryn yang paling dekat dengannya.


"Enggak. Saya bohong. He he he he ... maaf. Saya hanya bercanda," aku Zoel.


"Ck! Dasar anak kecil. Kamu membohongiku, hah?" omel Floryn yang masih merasakan debaran cepat pada jantungnya. Orang itu hampir membuatnya terkena serangan jantung!

__ADS_1


Cup.


Zoel mengecup punggung tangan Floryn sehingga membuat wajah wanita itu merona.


"Apakah saya anak kecil? Kenapa sepertinya, saya merasa kalau saya masih jauh lebih tua dari Anda, ya?" tanya Zoel ragu. Ia juga tidak pernah menanyakan hal itu kepada adiknya. Kira-kira, berapa usia bosnya itu?


Hal tersebut tentu saja membuat Floryn hampir tertawa. Ia sudah menikah dan punya satu anak berusia tiga tahun. Tentu saja ia merasa masih lebih tua daripada Zoel.


"Usiaku dua puluh delapan tahun. Apa kamu memang masih lebih muda daripada aku?" tanya Floryn penasaran.


Zoel tersenyum. "Ternyata Anda memang masih lebih tua daripada saya. Tenang, hanya berbeda dua tahun saja, kok ...," ungkap Zoel masih dengan pede-nya.


"Yeah. Tetap saja aku masih lebih tua daripada kamu," terang Floryn.


Klek.


Pintu kamar rawat Zoel terbuka. Dari sana, muncul Widuri yang langsung masuk dan kembali menutup pintu.


"Sorry lama. Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Widuri yang langsung memberikan aspirin seperti yang diminta Zoel.


Kemunculan itu membual Floryn menjauh dari ranjang Zoel dengan cepat. Ia tidak ingin staff-nya melihat yang bukan-bukan.


"Kamu membelinya di dekat rumah kita apa? Sakit kepalaku bahkan sudah hilang dengan sendirinya ...," ungkap Zoel seraya melipat kedua tangan di depan dada.


Widuri memutar bolanya tidak percaya. Namun ia tetap saja memberikan obat aspirin itu kepada Zoel.


"Hhmm ... kalau gitu, sepertinya saya harus pergi sekarang. Saya harap, besok kamu sudah bisa masuk kerja. Bisa, kan?" tanya Floryn memastikannya kepada Widuri.


"Siap, Bu! Saya akan masuk kerja besok. Lagi pula, Bang Zoel sudah boleh pulang setelah infusnya yang ini habis," terang Widuri.


Floryn mengangguk saat mendengar informasi tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu, ya. Dan ... untuk Anda, semoga lekas sembuh!" kata Floryn lagi.


Zoel tersenyum kepada Floryn. Hal itu membuat Widuri berusaha keras untuk menahan tawa. Ia merasa jika abangnya masih berusaha untuk menarik perhatian sang bos. Atau mungkin abangnya sudah mulai suka pada orang itu.


Apa yang terjadi di antara mereka, benar-benar tidak jelas menurut Widuri.


"Terima kasih, Bu." Zoel tersnyum lagi.


Floryn pergi dari sana dengan cepat. Ia tidak ingin terlihat sedang menjenguk seorang laki-laku oleh orang yang ia kenal. Bisa saja langsung muncul gosip yang tidak mengenakkan. Hal itu bisa membuat masalah baru yang tidak ia inginkan. Ia masih belum bebas, karena sang mertua belum yakin padanya seratus persen. Ia masih punya PR untuk diselesaikan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2