
Karena isinya sudah panjang, penulis gak akan nambah-nambahin catatan penulis terlalu panjang.
Selamat membaca, jangan lupa LIKE dan KOMENTAR, ya!
***
“Floryn?!” tukas Enrik yang terkejut dengan kehadiran sang istri di ambang pintu.
“MAS! Dasar laki-laki berengsek … BRENGSEK KAMU, MAS! ” tukas Floryn dengan tangan gemetar. Akan tetapi ia harus menguatkan diri dan terus merekam. Ia tidak mau semuanya sia-sia.
“Nyo-Nyonya Floryn ….” Ambar tertegun di tempatnya.
Keduanya begitu terkejut dengan kemunculan Floryn, sampai-sampai lupa untuk menutupi tubuh mereka yang polos seperti bayi iblis saat baru lahir.
Ketika sadar, Ambar langsung menutupi dadanya dengan tangan dan menarik selimut yang ada di ujung ranjang dengan cepat. Menutupkan selimut itu ke tubuhnya sendiri dan menjauhi Enrik.
“Apa yang kamu lakukan di sini? A-aku bisa jelaskan semuanya …,” kata Enrik sembari mengenakan kembali boxer yang tadi tergeletak saja di atas lantai.
Air mata Floryn tidak mau berhenti. Padahal ia sudah mengetahui perselingkuhan itu sejak lama. Namun entah mengapa, tangisan itu tetap tidak mau dikontrol. Hatinya terasa sakit sesakit-sakitnya. Rasanya bagaikan diiris dengan sembilu yang … mengerikan. Wajahnya seperti dilempari dengan kotoran. Bagaimana tidak, saingannya adalah seorang pembantu rumah tangga yang bekerja dengan keluarganya karena rasa kasihan.
“Jelaskan? APA LAGI YANG MAU KAMU JELASKAN, MAS?!” tukas Floryn yang terus mendekat dengan langkah kecil. Antara takut tapi ingin marah. “Aku sudah menyaksikan semuanya lebih dari satu kali! Apa yang ingin kamu katakan sekarang?!” tukas Floryn masih tidak bisa tenang.
Beriringan dengan kalimat Floryn, lagi-lagi gemuruh di langit terdengar. Sepertinya, langit begitu mendukung Floryn untuk menumpahkan kemarahannya pada kedua makhluk laknat tersebut.
“Sayang … aku akan jelasin semu— Sayang, kamu merekam kami? Apa yang ingin kamu lakukan dengan rekaman itu?!” tanya Enrik yang mulai curiga.
Mendengar jika suaminya tidak lagi berusaha untuk membujuk, Floryn berhenti mendekat. Ia merasa, kalau sampai Enrik tahu niatnya untuk memberikan rekaman itu pada ayah mertuanya, Enrik akan begitu marah.
“Sayang? Sayang kamu bilang, Mas? Apa kamu tidak punya malu ketika mengatakan sebutan itu untukku, hah?! Sebutan yang sama saat kamu memanggil wanita sundal itu!” tukas Floryn lagi. Tangan kirinya yang bebas, menunjuk-nunjuk Ambar yang hanya bisa tertunduk.
Di sampingnya Ambar terlihat gelisah. “Tu-tuan … mungkin Nyonya ingin memberikan rekaman itu kepada Tuan Edward …,” bisik Ambar yang masih menyembunyikan diri di balik selimut tebal. Ia tidak ingin tubuh telanjangnya kembali masuk ke dalam rekaman yang sedang dibuat Floryn.
Mendengar hal itu, Enrik kembali berpaling ke arah Floryn. “Apa benar begitu? Kamu ingin memberikan rekaman itu kepada ayahku?” tanya Enrik tidak percaya.
Floryn menelan saliva. Seharusnya ia yang marah-marah dan membuat mereka takut, tapi kenapa saat ini ia yang merasa gentar? Apa karena mereka berdua sedangkan ia sendirian?
“Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukannya? Aku bisa melakukannya!” sahut Floryn seraya mengusap air mata yang tidak seharusnya turun dan mengalir. Laki-laki seperti Enrik tidak pantas ditangisi.
__ADS_1
Floryn mundur beberapa langkah. Untungnya Enrik hanya berdiam diri saja, tidak ada niatan untuk semakin mendekati Floryn. Kepala Floryn yang masih diliputi oleh kemarahan, memerintahkannya untuk menyakiti kedua orang itu.
Dengan cepat, Floryn mengambil sebuah vas bunga yang tertata rapi di atas meja tamu. Floryn mengambil tiga tangkai mawar yang ada di dalamnya dan melempar bunga-bunga itu ke arah Enrik. Sayangnya, batang-batang bunga mawar itu bahkan tidak sampai menyakiti Enrik. Tanpa berpikir panjang, Floryn melemparkan vas bunga itu yang telah kosong itu ke arah Ambar.
Akan tetapi, lemparan itu begitu melenceng jauh dari tujuannya. Bukannya mengenai Ambar, vas yang terbuat dari keramik itu malah membentur dinding di belakang Ambar. Membuat Ambar terkejut dan takut.
“Nyo-Nyonya …,” lirih Ambar takut.
Melihat hal itu, Enrik membentak Floryn. “Floryn! Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin melukai orang lain? Kamu ingin masuk penjara?!” tanya Enrik tidak percaya.
“YA! Aku ingin membunuh wanita sundal itu! Dia sudah merusakmu, Mas! Dia mengambilmu dariku dan Alvin! Apa kamu lupa kalau kamu sudah punya anak?!” tanya Floryn masih dengan emosi memuncak.
Mendengar hal itu, Enrik terlihat marah dan semakin marah. Ia bergerak mendekati Floryn untuk mengambil HP itu dari tangan istrinya. Apa pun yang terjadi, video rekaman tersebut tidak boleh pergi dari villa itu. Kalau tidak, hidupnya akan hancur.
Merasa jika suaminya mulai maju untuk merebut HP-nya, Floryn mundur dan kemudian berbalik. Ia berlari dan pergi dari tempat dengan cepat.
Sembari berlari, Floryn mencoba untuk menyimpan rekaman video yang berhasil ia dapatkan.
Florin sendiri masih tidak tahu, apakah rekaman itu bisa digunakan untuk membuktikan perselingkuhan Enrik atau tidak, karena sejak tadi ia tidak fokus dengan HP yang ia pegang.
Hujan yang turun dengan deras tidak dipedulikan lagi oleh Floryn. Setelah menyimpan HP-nya di dalam tas, Floryn hanya berpikir untuk kabur dari sana tanpa tertangkap oleh Enrik.
"Berikan rekaman itu kepadaku! Kamu tidak boleh melaporkan apa pun pada ayahku, atau kita semua akan hancur!" tukas Enrik yang sedang berusaha membuat Floryn berhenti meronta.
"Kita, katamu? Mungkin kamu yang akan hancur, tapi tidak denganku! Aku hanya ingin bercerai denganmu, Mas! Setelah itu, kamu bebas untuk bersama dengan Ambar atau dengan wanita lain yang kamu inginkan!" sahut Florun dengan suara nyaring dan penuh amarah. Ia sedang berusaha menyaingi suara hujan yang juga tidak ingin kalah.
Usaha Fliryn untuk melepaskan diri dari Enrik membuat mereka berdua terjatuh di atas rumput yang basah. Dengan tenaga yang jauh lebih kuat, Enrik berhasil menguasai tubuh Floryn dan membuat wanita itu diam.
Sekuat tenaga, Enrik menahan kedua tangan Floryn di atas kepalanya dengan satu tangan saja. Tanpa membuang-buang waktu, Enrik mengambil HP Floryn yang ada di dalam tas.
"Jangan sentuh HP itu, Mas! Kamu tidak punya hak!" tukas Floryn frustasi. Ia susah payah mendapatkan bukti itu, tapi sekarang Enrik hanya satu langkah lagi untuk menghilangkan semuanya begitu saja.
Enrik masih diliputi kemarahan. Ia tidak lagi mempedulikan kata-kata Floryn. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah menghapus rekaman itu dan membiarkan Floryn pergi dengan rasa sakit hati.
Ayahnya tidak akan pernah percaya dengan kata-kata Floryn jika tidak ada bukti nyata. Puluhan tahun Enrik hidup dengan ayahnya, ia tahu betul sifat laki-laki itu.
"Tuan!" panggil Ambar yang sudah berdiri di ambang pintu pondok. Wanita itu hanya mengenakan selembar kemeja yang merupakan milik Enrik.
__ADS_1
Enrik dan Floryn menoleh ke suara itu. Melihat Ambar saja membuat emosi Floryn kembali timbul.
"Brengsek! Lepaskan aku!" pekik Floryn. Wajahnya mulai sakit karena terpaan air hujan yang sejak tadi mengenainya.
Karena tidak bisa menemukan file yang ia cari, Enrik berdiri dari atas tubuh Floryn dengan membawa HP itu. Dengan kuat, ia membanting HP tersebut ke atas lantai semen pinggiran kolam renang, lalu mengambil benda rusak itu dan melemparkannya lagi ke dalam kolam renang.
"MAS!" protes Floryn yang hanya bisa terduduk lemas di pinggiran kolam renang.
Enrik menoleh ke arah istrinya. Seperti sidah tidak ada lagi cinta tersisa pada sosok itu untuk Floryn.
"Kenapa, Mas ...," lirih Floryn yang begitu kecewa.
"Kenapa apa? Kenapa aku selingkuh? Kenapa aku merusak HP-mu? Apa yang ingin kamu ketahui?" tantang Enrik yang sudah merasa menang.
Floryn mengangkat tangan dan memperlihatkan cincin kawin yang diberikan Enrik saat pernikahan mereka dulu. Dengan cepat, Floryn melepaskan benda itu dan melemparkannya ke arah Enrik.
Benda kecil itu mengenai tubuh Enrik yang bergeming. Membuat tatapan Enrik semakin menyala.
"Ceraikan aku. Alvin tidak pantas memiliki ayah sepertimu, Mas ...," lirih Floryn yang mulai kehabisan tenaga. Ia lelah.
Enrik memungut cincin itu. Di sampingnya, sudah ada Ambar yang datang menghampiri mereka dengan sebuah payung di tangan.
Wanita itu melindungi Enrik dari hujan, dengan payungnya.
Enrik yang menyadari kehadiran Ambar, menatap Floryn dengan sinis. Lalu menarik pinggul Ambar dan merangkulnya semakin dekat.
"Kalau kamu masih berani melaporkanku kepada ayah, kamu akan menyesal, Flo ...," ancam Enrik yang kemudian berbalik dan membawa Ambar pergi dari sana.
Floryn menitikkan air mata yang langsung tersapu oleh derasnya air hujan. Ia tidak menyangka jika laki-laki yang begitu ia cintai menjadi tidak punya malu seperti ini.
Bahkan, Enrik tidak mencoba untuk menutupi aib yang ia lakukan dengan Ambar.
Pandangan Floryn beralih pada HP-nya yang mati dan tenggelam di dasar kolam renang.
Begini saja? Apakah ia akan pulang dengan sakit hati dan sia-sia?
Tanpa pikir panjang, Floryn berdiri dan menyeburkan diri ke dalam kolam renang.
__ADS_1
Bersambung.