Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Mandi Basah


__ADS_3

Floryn terbangun dengan tubuh yang sakit di sana sini. Lumayan panjang juga permainan yang dilakukan Enrik padanya. Hal itu menyebabkan dirinya lelah dan mengantuk. Mau langsung kabur pun tidak bisa. Kunci kamar mereka entah ada di mana saat itu.


Saat Floryn terbangun, sudah tidak ada Enrik di sampingnya. Ia mengambil HP yang ada di dalam tas dan melihat jika ada pesan masuk. Ya, ternyata ada dua pesan masuk sekitar beberapa menit yang lalu. Yang satu dari ibunya dan yang satu lagi dari Zoel. Ia membaca pesan dari sang ibu. Wanita itu bertanya apakah ia akan pulang atau tidak. Setelah menjawabnya, Floryn membaca pesan kedua.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Zoel di dalam pesan itu. Floryn mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa orang itu bertanya keadaannya. Saat itulah Floryn baru sadar kalau ada dua panggilan tidak terjawab yang berasal dari Zoel juga. Panggilan itu masuk beberapa saat sebelum pesannya datang.


Ternyata karena Floryn tidak menjawab panggilan itu, Zoel jadi berpikir kalau ia dalam masalah. Sayangnya hal itu benar. Floryn baru saja bergelut dalam masalah. Tanpa pikir panjang, Floryn mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan memasukan semuanya ke dalam keranjang pakaian kotor.


Floryn memilih untuk langsung mandi dan pergi dari sana. Pintu kamar sudah tidak lagi terkunci karena ia bisa melihatnya tidak tertutup rapat. Enrik pasti sudah pergi.


Floryn masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dengan rapat. Ia tidak mau ada yang iseng dan menganggunya lagi. Entah itu Enrik atau bahkan Ambar.


Setelah hampir sepuluh menit berada di dalam kamar mandi, Floryn keluar dengan baju handuk miliknya yang biasa. Floryn bergegas untuk masuk ke dalam wardrobe dan mengenakan pakaian.


Setelah semuanya selesai, Floryn kembali dan mengambil tasnya. Ia sudah bersiap pergi, tapi masih berat karena tidak bisa menemukan perhiasan yang ia simpan. Bodohnya, tadi ia lupa bertanya kepada Enrik. Apa orang itu yang mengambilnya atau bagaimana.


Saat akan mengeluarkan HP-nya kembali, Floryn tidak sengaja menemukan CCTV mini portable yang waktu itu ia beli. Otaknya berputar. Saatnya menjadi detektif untuk mendapatkan bukti lebih banyak. Sebanyak-banyaknya sampai Edward muak melihat kelakuan anaknya sendiri. Sebanyak-banyaknya sampai hakim akan memutuskan jika ia bisa berpisah dengan Enrik dan membawa Alvin dan mendapatkan hak asuh anaknya itu.


Karena takut ketahuan, Floryn merapatkan pintu kamar terlebih dahulu. Lalu ia membuka kotak benda itu dan mulai membaca petunjuk penggunaannya. Ternyata caranya sangat sederhana. Dengan mudah, Floryn sudah bisa mengaktifkannya.


Setelah berpikir beberapa saat, ia memutuskan untuk meletakan benda itu di atas TV yang menghadap langsung ke tempat tidur dan di dalam lemari pakaian mereka. Ia ingin tahu siapa yang mungkin masuk ke dalam lemari itu selain Enrik.


Karena semua sudah ia lakukan, Floryn berencana untuk langsung pergi dari sana. Ia manggeret koper yang sudah diisi dengan pakaian, surat berharga, dan beberapa keperluannya yang lain.


Di bawah, Floryn bertemu dengan Ambar. Wanita itu terlihat begitu judes saat berpapasan denganya.


Hal itu membuat Floryn mendapatkan sebuah ide yang lumayan bisa membuat emosi naik. Sedikit membuat wanita itu marah akan baik-baik saja bukan? Anggap saja sedikit balas dendam.


“Apa?” tanya Floryn ketus. “Belum pernah lihat majikanmu ini mandi basah?” sambungnya lagi.

__ADS_1


Ambar diam saja. Namun Floryn merasa jika wanita itu sudah mulai kesal padanya. Atau jangan-jangan, ia menguping sejak Enrik memaksanya untuk berhubungan badan tadi? Senyum Floryn mulai terbentuk.


Sebelum Floryn bicara lagi, Ambar beranjak dari sana. Namun Floryn langsung menahan tangan pembantu itu hingga ia tidak bisa menjauh.


“Kamu tahu, meskipun ada tiga, empat, lima, atau sepuluh wanita yang menjadi simpanan suamiku, ia akan tetap merindukan istri pertamanya. Aku yang pernah memuaskannya untuk pertama kali, dan aku cukup yakin akan hal itu. Lihat, kan? Belum lama ia bersamamu, ia kembali menginginkan tubuhku …,” jelas Floryn dengan satu tangan yang bertengger di bahu Ambar. Sebelum Floryn pergi, ia menyentuh lehernya, tepat di mana Enrik memberikan tanda. Ia pamer, seolah-olah ia juga puas dengan apa yang diberikan Enrik dalam permainan mereka.


Sepeninggal Floryn dari sana, Ambar melemparkan nampan kosong yang bawa. Rupanya ia baru saja mengantarkan semangkuk kolak untuk satpam di depan. Mira sudah ijin pulang sejak tadi dan satpam itu memaksanya untuk mengantarkan kolak buatan Mira.


Apa yang Ambar lakukan membuat benda itu pecah dan terbelah menjadi dua. Padahal, nampan itu terbuat dari plastik. Hal itu menandakan jika Ambar begitu termakan oleh emosinya sendiri.


“Awas kamu, ya!” tukas Ambar dengan amarah membara. Ia harus balas dendam. Tidak boleh tidak.


***


Floryn melajukan mobilnya ke arah rumah sang ibu. Ia sudah mendapatkan pakaian yang ia perlukan juga surat-surat penting miliknya dan Alvin. Hanya saja, ia harus menelan kekecewaan karena perhiasan miliknya tidak ada di sana.


Beberapa perhiasan yang diberikan Enrik dan Edward, ia simpan di bank karena tidak mau sampai hilang. Floryn menganggap benda itu adalah benda berharga dengan nilai sentimantal tinggi. Nyatanya bull ****!


Di dalam mobilnya yang melaju, ponsel di dalam tasnya kembali berdering. Floryn tidak mau celaka. Maka ia menepikan mobilnya yang baru keluar beberapa ratus meter dari pagar rumah.


Panggilan itu berasal dari Zoel. Ia menepuk keningnya sendiri karena lupa membalas pesan orang itu tadi. Floryn berdehem dan menjawab panggilan itu.


"Hallo ...," sapanya dengan suara rendah.


"Ibu Floryn! Akhirnya Anda menjawab panggilan saya. Apa pesannya tidak sampai?" tanyanya tentang pesan yang sudah Floryn baca tadi.


"Aku ... sudah menerimanya. Hanya lupa membalas. Itu saja. Tadi aku pulang untuk mengambil pakaian Alvin. Aku sama sekali tidak mendengar panggilan-panggilanmu. Sorry," terang Floryn singkat. Ia tidak boleh kelepasan bicara sehingga semua orang tahu hubungannya dengan Enrik sedang kacau. Ia bisa kehilangan respect di kantor. Itu pun jika Edward masih mempertahankannya.


"Ooh ... tadinya saya berpikir mungkin Anda mendapat masalah karena mengunjungi saya," ungkap Zoel.

__ADS_1


"Mengunjungi kamu? Tadi itu saya ada perlu dengan Widuri. Kebetulan saja ia ada di sana menjagamu. Tolong, jangan terlalu pede ...," jelas Floryn sembari berusaha menahan tawanya.


Mereka sama-sama tahu jika kedatangan Floryn ke sana karena khawatir dengan keadaan Zoel. Bahkan, Floryn-lah yang membuat Zoel sampai harus dibawa ke rumah sakit.


"Anda jahat sekali ...," gumam Zoel.


"Bercanda ... kenapa kamu tidak menyadarinya, sih? Selain itu ... aku minta maaf, ya. Karena kesalahanku, kamu sampai menderita begitu. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar pendarahannya? Tidak perlu operasi, kan?" tanya Floryn memastikan.


"Untungnya tidak. Obatnya bekerja dengan baik dan mungkin besok saya sudah bisa pulang," jalas Zoel. "Kasihan Widuri jika harus bolos kerja lagi. Bisa-bisa ia tidak dapat perpanjangan kontrak," tambah Zoel.


Floryn tersenyum. Ia tahu Widuri berusaha dengan keras untuk mendapatkan kontrak permanen dari perusahaan. Hanya bisa terwujud jika ia memberikan rekomendasi pada staff-nya itu.


"Katakan padanya, jika ia menjagamu dengan baik, aku akan mempertimbangkan rekomendasi itu."


"Benarkah?"


"Ya ... tapi aku tidak jamin ia akan percaya begitu saja. Hi hi hi hi hi ...." Floryn tertawa geli.


"Hhmm ... saya pikir juga begitu."


Pembicaraan itu terhenti saat Floryn melihat mobil Enrik melewati mobilnya. Ia bingung kenapa Enrik tidak berhenti atau sekedar membunyikan klakson. Tidak mungkin Enrik tidak mengenali mobilnya, bukan?


Perasaan Floryn tiba-tiba menjadi tidak enak.


"Maaf, bicaranya sudah dulu. Ada sesuatu yang harus kulakukan." Floryn mengakhiri panggilan sebelum Zoel sempat menjawab.


Dengan terburu ia melajukan mobilnya kembali. Mengikuti mobil Enrik yang sudah meninggalkannya jauh di belakang. Semoga saja apa yang ia pikirkan tidak benar-benar terjadi ....


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2