
Floryn menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala. Ada enam puluh detik untuknya berpikir, kemana ia akan pergi sekarang.
Setelah berpikir cukup cepat, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dulu ke rumahnya sendiri. Berdasarkan dugaan kalau Enrik masih ada di kantor pada jam sekarang, ia menentukan pilihan itu.
Mobilnya melaju menuju rumah yang sudah beberapa hari ini tidak bisa memberikannya kenyamanan dari segi apa pun. Lagi-lagi rintik gerimis terliat mulai berjatuhan. Floryn harus menyalakan wiper mobilnya agar pandangan tidak terganggu.
Floryn pulang hanya karena ingin mengambil beberapa hal. Mungkin pakaiannya dan Alvin jika keadaan memungkinkan. Ia akan pergi lama dari rumah itu, meskipun belum bilang pada ibu dan anaknya. Lalu, hal penting lainnya adalah dokumen pribadinya dan Alvin. Ia akan memerlukan itu.
Tidak lama kemudian, mobil Floryn sampai di halaman rumahnya. Pintu garasi terlihat tertutup rapat. Tandanya tidak ada orang di rumah. Tentu saja, Enrik masih di kantor dan ia berada di rumah sakit dalam waktu yang cukup singkat.
Mobil Floryn berhenti di depan teras rumah. Ia buru-buru masuk ke dalam rumah setelah membawa ponsel bersamanya.
“Eh, Nyonya … tumben sudah pulang …,” kata Mira yang muncul tepat saat Floryn baru saja akan menekan bel.
“Iya. saya ada urusan sebentar. Nanti juga kembali lagi ke kantor,” sahut Floryn tanpa menghentikan langkahnya. Ia buru-buru naik ke lantai dua di mana kamar tidurnya dan Enrik berada. Ia bahkan tidak menghiraukan Mira yang terlihat ingin menyampaikan sesuatu padanya.
Asisten rumah tangga itu meneruskan langkahnya pergi ke luar rumah. Ia akan pergi ke pos jaga untuk mengantarkan kopi seperti biasa.
Di dalam, Floryn membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tepat saat ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar, Floryn mencium wangi parfum yang sangat ia kenal. Parfum milik Enrik. Parfum yang ia hadiahkan pada ulang tahun orang itu bulan lalu. Enrik hanya mengenakan parfum itu ketika akan pergi ke kantor. Tidak heran isinya masih ada hingga sekarang.
Floryn kembali berusaha fokus. Ia langsung pergi menuju lemari wardrobe milik mereka. Di dalamnya ada semua hal yang Floryn cari. Pakaian, dokumen, dan beberapa perhiasan Floryn yang mungkin akan ia perlukan. Pikiran Floryn sudah begitu jauh. Ia akan memerlukan uang untuk mengurus perpisahannya dengan Enrik dan ia tidak akan berharap pada mertuanya. Laki-laki itu bahkan tidak benar-benar mempercayainya.
Klek.
Floryn mendengar sesuatu. Seperti sebuah suara pintu yang terkunci. Karena takut terkunci di dalam lemari bajunya sendiri, Floryn berbalik dan mencoba untuk membuka pintu wardrobe. Untungnya pintu lemari itu masih terbuka dan ketakutannya sangat tidak beralasan.
__ADS_1
Dengan cepat Floryn mengambil sebuah koper yang berukuran cukup besar dan mulai memasukkan pakaiannya sendiri. Lalu mengambil surat-surat dan dokumen penting yang ia perlukan. Hal terakhir yang ia ingin ambil adalah perhiasan miliknya. Yang ia beli sendiri dan yang diberikan oleh Enrik juga mertuanya. Ia tidak peduli, semuanya itu sudah menjadi miliknya kini.
Akan tetapi, Floryn hanya bisa terdiam saat ia tidak bisa menemukan perhiasan yang ia simpan. Kotak perhiasan itu ada di sana, tapi mungkin tidak dengan isinya. Floryn terdiam untuk beberapa saat. Ia mencoba berpikir, di mana perhiasan itu mungkin ia simpan. Kotak perhiasan itu bahkan masih terkunci rapat. Bagaimana bisa isinya hilang?
Floryn mengulurkan tangannya ke rak paling atas yang ada di tempat itu. Di sana ada sebuah dompet tempatnya menyimpan kunci kotak perhiasan itu. Setelah menemukan yang ia cari, Floryn buru-buru membukanya. Dan benar saja, kotak itu kosong. Floryn syok. Satu-satunya orang yang ia pikir mungkin menagmbil semua perhiasannya adalah Enrik. Suaminya sendiri. Hanya laki-laki itu yang punya kunci kamar mereka.
“Kenapa lama sekali?” tanya sebuah suara yang sontak saja membuat Floryn tersentak kaget.
Floryn menjatuhkan kotak kosong itu dan berbalik. Ia merasa seperti maling yang tertangkap tangan sedang mencuri sesuatu. Padahal itu rumahnya sendiri.
“M-Mas Enrik? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Floryn terkejut.
Enrik sudah berdiri santai sambil bersandar di pintu wardrobe. Laki-laki itu berdiri tepat di bawah lampu, membuatnya terlihat mengerikan.
“Apa yang aku lakukan di sini? Dari apa yang kuingat, ini masih rumahku juga. Apa aku salah jika berada di sini?” tanya Enrik dengan senyum konyolnya.
“Pasti Mas yang mengambil perhiasanku, kan?” tanya Floryn yang sudah sangat yakin dengan tuduhan itu.
“Perhiasanmu? Bukankah hanya kamu yang memiliki kuncinya? Kamu ingin menuduhku juga?” tanya Enrik yang terlihat sedang berkata jujur.
“Ya. Semuanya tidak ada. Aku cukup yakin kalau Mas yang menagmbilnya! Kembalikan, Mas! Aku memerlukannya!” tukas Floryn yang sudah mulai kesal.
Lagi-lagi Enrik tersenyum. Bukannya menjawab kalimat Floryn barusan, ia malah pergi dari sana. Meninggalkan Floryn yang masih tidak terima.
Floryn meninggalkan kopernya dan beranjak untuk mengejar Enrik. Saat ia keluar dari wardrobe, Floryn melihat Enrik memutar kunci kamar mereka dan mencabutnya. Laki-laki itu menyimpannya di dalam saku jas.
__ADS_1
“Apa maksudmu dengan koper itu, Flo?” tanya Enrik dengan senyum memuakkan yang langsung saja membuat Floryn jengkel.
“Aku pergi, Mas. Tidak mungkin mau tinggal di rumah ini lagi denganmu. Begitu juga dengan Alvin, kami pergi seperti yang kukatakan tadi siang.” Floryn berbalik dan mencoba mengabaikan apa pun niat Enrik saat mengunci pintu kamar mereka. Ia bermaksud untuk kembali masuk ke dalam wardrobe dan mengambil kopernya yang tertinggal.
Sayangnya, belum juga Floryn menjauh dari sana, Enrik sudah lebih dulu menarik lengan Floryn hingga wanita itu harus kembali dan berakhir dalam pelukan Enrik.
“Mas!” tolak Floryn yang merasa tidak terima dengan semua itu.
“Apa? Kamu mau apa lagi, Flo? Kamu sudah melakukan semuanya di depan ayahku! Kamu mempermalukanku, Flo!” tukas Enrik geram.
“Lepasin, Mas!” pinta Floryn berharap agar Enrik mendengar.
Akan tetapi bukannya melepaskan sang istri yang telah ia sakiti, Enrik malah membawa Floryn agar mengikuti langkahnya. Floryn tidak mungkin menolak, lengannya terasa sakit sekali jika tidak mengikuti kemana orang itu pergi.
Enrik mendorong Floryn hingga wanita itu jatuh di atas tempat tidur mereka. Membuat Floryn melotot karena kepalanya hampir saja terbentur kerasnya katu jati tempat tidurnya sendiri.
“Mas!”
“Apa? Aku mau kamu melayaniku sekarang …,” kata Enrik dengan santainya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
“Enggak. Aku tidak gila dan hal itu tidak akan terjadi!” sahut Floryn marah. Jantungnya mulai berdebar tidak beraturan. Ia takut jika Enrik menyakitinya karena menolak permintaannya barusan.
“Kamu tidak mau? Dasar jal4ng! Kamu masih istriku … maka layani aku!” perintahnya dengan kasar.
Dengan cepat Enrik naik ke atas tempat tidur dan menahan Floryn yang sedang berusaha pergi dari sana.
__ADS_1
“Percuma, oke? Kamu tidak akan bisa kabur dariku ….”
Bersambung.