Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Ngambek


__ADS_3

Hari ini Widuri sedang marah dengan Zoel, kakaknya. Bagaimana tidak, karena kelakuan Zoel, ia terancam akan dipecat oleh sang bos. Padahal, ia ingin mendapat rekomendasi, bukannya malah terancam seperti itu.


“Ri … jangan marah lagi, dong. Kakak gak mengira kalau ia segalak itu …,” ungkap Zoel di depan pintu kamar sang adik.


“Ah, males! Abang sengaja pasti,” sahut Widuri masih dengan rasa marahnya.


“Ri … udahan dong. Ini sudah jam dua. Kamu belum sarapan dan makan siang. Kalau kamu sakit, ayah akan membunuhku …,” ungkap Zoel lagi.


Walaupun tidak tinggal dengan ayah dan istri mudanya, Zoel masih sangat menghormati orang itu. Ia telah berjanji pada ayahnya untuk menjaga Widuri dengan sangat baik.


Setelah kematian ibu mereka lima tahun silam, akhirnya ayah Zoel dan Widuri memutuskan untuk menikah lagi satu tahun lalu. Zoel dan Widuri menghargai keputusan itu. Ayah mereka sudah menjalani hidup yang berat selama ibu mereka sakit dulu. Jadi, menurut mereka, laki-laki itu pantas mendapat kebahagiaannya lagi.


“Gak mau! Kalau sudah gini, nama Duri pasti sudah jelek banget, Bang. Abang gak mikirin kerjaan Duri, sih …,” rengek Widuri yang memang sering dipanggil ‘Duri’ oleh Zoel.


“Abang mikirin Duri, kok … kalau enggak, ngapain Abang repot-repot pergi ke tempat itu kemarin?”


“Ck … Abang memang mau aja pergi ke sana. Museum itu memang baru dibuka lagi, kan …,” tuduh Widuri.


“Oke … oke. Abang berjanji akan melakukannya dengan lebih hati-hati lain kali. Please, sekarang kamu keluar dulu. Makan, ya …,” bujuk Zoel tidak ingin menyerah.


Tidak lama kemudian, pintu kamar Widuri terbuka sedikit. Di depannya Widuri hanya mengintip tanpa berniat untuk membukakan pintu lebih lebar.

__ADS_1


“Janji?” tanya Widuri meyakinkan.


Zoel mengangguk dan menaikkan jari kelingking kanannya. “Janji …,” sahut Zoel dengan sangat yakin.


Hal itu membuat Widuri cukup percaya. Ia membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan berlalu keluar dari sana.


“Eh? Kamu mau kemana, Ri? Abang masih dicuekin?” tanya Zoel tidak percaya.


Widuri menghentikan langkahnya dan berpaling. “Widuri lapar, Bang. Mau makan orang!” sahut Widuri yang langsung kembali berbalik dan melangkah pergi.


Widuri tahu kalau Mbok Sur pasti sudah menyiapkan makan siang untuk mereka. Biasanya Mbok Sur akan selesai simpun-simpun jam sembilan pagi, setelahnya ia akan langsung menyiapkan makan siang. Itu artinya, makanan mereka sudah ada di atas meja makan saat ini.


Zoel duduk di seberang Widuri. Saat melihat adiknya mulai mengambil lauk dan nasi, ia pun melakukan hal yang sama. Hal itu menimbulkan pertanyaan untuk Widuri. Sudah jam dua, apakah abangnya itu juga belum makan untuk menungguinya? Kenapa Zoel begitu nakal? Padahal ia punya penyakit maagh yang kerap kambuh.


Hal itu membuat Zoel menghentikan kesibukannya. “Eem … sudah, sih. Tapi dikit. Karena membujukmu barusan, Abang jadi lapar lagi …,” aku Zoel. Hal itu membuat Widuri merasa geli. Ia tidak sanggup untuk menahan tawanya.


“Ha ha ha ha ha! Bang … Abang! Kamu ini kenapa, sih? Ngapain nyusahin diri sendiri? Kalau Widuri sih, bebas. Mau makan atau enggak juga gak apa-apa. Kasihaaan …,” kata Widuri kemudian.


Laki-laki itu hanya tersenyum. Ia tahu kalau penyakit maagh-nya bisa sangat menyusahkan. Makanya ia sudah sempat makan sebelum berusaha membujuk Widuri untuk keluar dari kamarnya tadi.


“Makanya, gak usah pakai ngambek-ngambek segala,” kata Zoel menegaskan. “Kamu suka kalau abang sakit?”

__ADS_1


“Hush! Abang apaan, sih? Pamali ngomong begitu, tau?!” seru Widuri lagi.


Zoel tidak menjawab perkataan sang adik barusan. Ia hanya menutup mulutnya dengan rapat.


Keduanya menyelesaikan makan siang dengan cukup cepat. Setelah itu, Mbok Sur yang merupakan asisten rumah tangga Zoel dan Widuri sejak dua tahun lalu itu, kembali membereskam meja makan. Sementara itu, Zoel dan Widuri kembali ke kamar masing-masing.


Widuri bilang ia ingin kembali nonton drama Korea dan tidak ingin diganggu. Karena hal itu, Zoel juga masuk ke dalam kamarnya. Ia akan ke restoran beberapa jam lagi. Mungkin jam lima nanti. Jadi sekarang ia memutuskan untuk istirahat lebih dulu. Mungkin tidur siang akan sangat baik.


***


Floryn memandangi selembar kertas berisikan sebuah deretan angka yang terlihat cantik. Saat ini sedang terjadi pertengkaran antara batin dan pikiran di dalam tubuh Floryn. Di satu sisi, Floryn ingin menghubungi Zoel melalui nomor HP yang orang itu berikan padanya. Akan tetapi, di sisi lain, ia tidak mau melakuan itu. Floryn terlalu Malu.


Namun ternyata, otaknya menang. Akhirnya ia menekan belasan deret angka itu dan mulai menulis pesan.


“Sore. Sorry, sebelumnya saya harus minta maaf atas kejadian kemarin. Semua itu murni kesalahan saya. Anda hanya berbaik hati menolong anak saya dan saya malah marah-marah. Sekali lagi terima kasih dan minta maaf,” ketik Floryn.


Tanpa membacanya dua kali, Floryn mengirim pesan itu. Setelahnya, ia mematikan jaringan internet yang masuk ke dalam HP-nya. Ia tidak ingin orang itu kegeeran dan langsung menghubungi Floryn.


“Oke. Akhirnya aku melakukannya juga. Semoga saja dia tidak salah sangka.”


Bersambung.

__ADS_1


Author Notes: Hai semua, maaf karena telat up-nya. Saya minta tolong banget, untuk para pembaca tidak lupa klik tombol like untuk setiap episode JANGAN SALAHKAN AKU. Berikan dukungan positif untuk penulis. Cerita ini free dan semoga saja bisa menghibur kalian. Terima kasih (●♡∀♡)


__ADS_2