
Selamat Membaca!
Maaf jika author slow update dan terima kasih bagi yang masih setia :')
***
“Bunda ….” Tangisan Alvin terdengar begitu memilukan.
Tepat seperti apa yang Floryn duga, anak itu akan terpeleset dan jatuh. Hal itu menyebabkan telapak tangan Alvin terluka.
“Seharusnya kamu membiarkan kami pulang, Mas!” tukas Floryn setelah Zoel pergi membawa Alvin menjauh dari sana.
Enrik terlihat sedih. Ia ingin memeluk anaknya yang terluka. Akan tetapi, para penjaga yang membawanya tidak akan mengijinkan.
“Aku hanya ingin bertemu dengannya, Flo. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa,” sahut Enrik yang memang belum pernah bertemu lagi dengan Alvin setelah mendekam di dalam penjara.
Floryn memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit. Itu pasti karena tadi ia berlari. “Harusnya kamu berpikir lebih jauh sebelum melakukan perselingkuhan itu, Mas. Bukankah kamu punya otak yang berfungsi dengan baik?” tanya Floryn sinis.
Enrik hanya bisa tertunduk lesu. Malu. Ya, hal itulah yang Enrik rasakan sekarang. Karma yang harus ia terima ternyata datang lebih cepat. Tidak hanya kisah perselingkuhannya yang harus berakhir menyedihkan, tapi juga hukumannya karena telah mencoba untuk melukai Zoel kala itu.
Floryn berbalik meninggalkan Enrik. Di belakangnya, ia mendengar suara polisi yang memerintahkan Enrik untuk kembali berjalan. Sudah waktunya Enrik kembali ke dalam sel yang tidak nyaman dan dipenuhi nyamuk. Tanpa Floryn sadari, air matanya menitik. Bagaimanapun juga, laki-laki itu ayah anaknya.
***
“Alvin begitu kuat. Lukanya sudah diobati dan ia berhenti menangis,” kata Zoel setelah mencuci tangannya sendiri dengan air mineral yang masih tersisa di dalam botol. Zoel menyimpan kembali kotak P3K yang selalu ready di dalam mobilnya.
Floryn tersenyum kepada buah hatinya. Ia tahu kalau Alvin tidak hanya menangis karena terjatuh, tapi juga karena tidak bisa bertemu dengan sang ayah.
“Kenapa ayah tidak mau menolong Alvin? Kenapa ayah jahat, Bun?” tanya Alvin yang mengingat betul jika sang ayah memang hanya berdiam diri di sana.
Zoel berpaling ke arah Floryn. Ia merasa kalau Alvin begitu menyayangi ayahnya. Hal itu membuat Zoel takut, jika anak dari Floryn tersebut tidak akan mau menerimanya.
“Itu karena … ayah ….” Floryn tidak tahu bagaimana menjelaskan hal itu kepada anaknya. Ia tidak mungkin bilang kalau ayahnya diborgol sehingga tidak bisa datang untuk menolong.
__ADS_1
Melihat kekhawatiran Floryn, Zoel mengusap rambut Alvin. Ia merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan bocah laki-laki tersebut.
“Itu karena, ayah mau Alvin menjadi anak yang mandiri. Ayahnya Alvin harus pergi dalam waktu yang lama. Ada hal yang harus ayah Alvin selesaikan terlebih dahulu. Ayah Alvin hanya ingin Alvin menjadi pelindung bagi Bunda. Kalau terjadi sesuatu dengan Bunda, Alvin adalah orang pertama yang harus menolong Bunda, kan? Maka dari itu, Alvin harus berdiri sendiri saat terjatuh,” terang Zoel bijak.
Sepertinya Alvin setuju dengan penjelasan itu. Ia mengangguk paham dan kembali melirik sang bunda.
“Terima kasih, Om. Alvin janji untuk menjaga bunda,” katanya kemudian.
Hal itu membuat Floryn dan Zoel merasa lega. Untungnya Alvin mau menerima alasan tersebut. Zoel tidak berbohong. Memang Alvin lah yang harus menjaga bundanya mulai saat ini.
“Ya sudah, sebaiknya kita pulang. Nenek sudah menunggu di rumah, Nak. Sebentar lagi jam makan siang,” terang Floryn yang baru saja mengingat hal tersebut. “Nenek pasti memasak ayam panggang untuk Alvin. Siang ini kita makan di rumah saja, ya?” tawar Floryn kepada Alvin yang tadinya ingin makan di luar.
Mendengar jika neneknya memasakkan ayam panggang, Alvin menjadi sangat bersemangat. Anak itu mengangguk setuju.
“Iya! Kita pulang saja. Ayam panggang buatan nenek memang paling enak!” seru Alvin.
“Benarkah? Wah … Om jadi penasaran,” aku Zoel mengimbangi obrolan anak itu.
Zoel melajukan mobinya menuju rumah orang tua Floryn. Rumah yang sudah sering ia kunjungi. Sejauh ini, ia bersyukur karena Martha merestui hubungannya dengan Floryn. Walaupun Zoel harus membujuk dengan usaha ekstra, tapi hasilnya tidak mengecewakan.
***
Di Rumah Martha.
Martha menyambut kedatangan Floryn, Zoel, dan Alvin. Ketiga orang itu terlihat seperti satu keluarga bahagia yang utuh.
“Ini Alvin kenapa? Habis menangis?” tanya Martha saat melihat wajah Alvin yang sedikit sembab.
“Iya, tadi ia terjatuh, Bu. Tangannya lecet dan ia menangis begitu kuat. Mungkin, Floryn ceritakan nanti saja, takutnya ia kembali mengingat hal itu,” terang Floryn dengan suara pelan.
Floryn tidak mau anaknya kembali mengingat pertemuan dengan ayahnya yang tidak menyenangkan. Yang Alvin pahami, sang ayah tidak mau menolongnya saat itu.
Kening Martha berkerut, tapi ia segera mengubah arah pembahasan karena mengikuti permintaan Floryn.
__ADS_1
“Nenek masak ayam panggang untuk Alvin!” seru Martha kepada cucu kesayangannya.
Mendengar hal itu, Alvin langsung saja memeluk sang nenek. Ia tahu kalau neneknya tidak akan mengecewakan.
“Alvin rindu ayam panggang buatan Nenek …,” katanya di dalam pelukan Martha.
Kalimat itu sukses membuat mereka tertawa geli. Bisa-bisanya anak sekecil Alvin, menyatakan rindunya kepada makanan.
“Kita ganti pakaian dulu, yuk. Supaya makannya enak dan nyaman,” ajak Floryn kepada sang anak.
Alvin yang merupakan anak pandai, menurut dengan ajakan itu. Ia mengangguk dan beranjak mengikuti bundanya menuju ke kamar tidur. Sebelumnya, ia sempat melambai kepada Zoel yang hanya berdiri saja di samping Martha.
“Jadi, bagaimana sidangnya?” tanya Martha kepada Zoel.
Zoel menoleh dan tersenyum. “Floryn sudah resmi berpisah dengan suaminya, Bu …,” sahut Zoel dengan kegembiraan yang tidak bisa ia tahan.
“Syukurlah … maksud ibu, bukannya ibu senang anak ibu menjadi janda. Tapi mau gimana lagi? Kelakuan Enrik begitu bejat. Ibu sendiri tidak menyangka kalau menantu yang selama ini ibu bangga-banggakan, akan menodai pernikahannya sendiri,” sesal Martha.
“Semoga Zoel bisa menjaga amanah itu dengan baik, Bu. Zoel berjanji tidak akan menyakiti hati Floryn,” katanya dengan sungguh-sungguh.
Martha menepuk punggung Zoel. Ia tahu kalau pemuda itu begitu tulus dengan Floryn.
“Kapan kalian akan menikah? Apa sebaiknya, setelah Floryn melahirkan?” tanya Martha to the point. Ia tahu anaknya bukan ABG yang masih harus menunggu waktu matang untuk menikah. Anaknya berstatus janda walaupun masih sangat muda.
Tiba-tiba saja Zoel merasa deg-deg an. Hal itu tidak pernah ia bahas dengan Floryn sebelumnya. Kenapa tidak terpikirkan selama ini?
“Eemm … apakah saya harus menunggu Floryn melahirkan? Sepertinya saya tidak akan sanggup, Bu. Saya tidak ingin Floryn sendirian di kehamilannya kali ini. Ia tidak boleh stress dan membuat calon bayinya tidak sehat,” terang Zoel.
Martha tersenyum. Ia senang karena Zoel berpikiran jauh untuk Floryn, bukan hanya dirinya sendiri.
“Kalau begitu, kalian bicarakan dulu bagaimana baiknya. Ibu hanya bisa mendukung semua hal yang akan kalian lakukan. Selama itu semua baik dan tidak melanggar hukum, ibu akan selalu setuju dengan keputusan itu.”
Bersambung.
__ADS_1
***
Gimana gimana gimana? Nanti mau happy ending atau sad ending, nih? Atau mau nambah konflik lagi? Hehehehe ....