Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Apa Ayah Percaya?


__ADS_3

Floryn bisa melihat tinju mertuanya mengapal. Itu hanya berarti satu hal, laki-laki itu begitu marah saat ini. Floryn sangat berharap jika Edward marah pada Enrik, bukan padanya.


“Apa ini, Flo?” tanya Sintia yang juga ikut menyaksikan semuanya. “Kamu merekam suamimu dengan … wanita lain?” Ia terdengar tidak percaya.


“Brengsek anak itu! Apa yang ada di pikirannya, hah?!” tukas Edward dengan kemarahan yang tidak pernah Floryn atau Sintia lihat.


“Pah ….” Sintia berusaha menenangkan.


“Ayah bilang Floryn hanya harus memberikan bukti perselingkuhan Mas Enrik … ini dia. Lalu, apa Ayah percaya?” tanya Floryn yang entah mendapat keberanian dari mana.


“Semua ini sudah cukup memberi tahu apa yang Enrik lakukan. Anak laknat itu! Lalu … apa yang kamu inginkan sekarang, Flo? Apa kamu ingin berpisah darinya?” tanya Edward to the point.


Untuk beberapa saat lamanya, Floryn berpikir keras. Ia sadar jika perceraian hanya akan membuat suaminya menjadi begitu bebas. Lalu, apakah ia ingin bertahan? Apakah hubungan yang tidak sehat akan baik bagi Alvin?


“Floryn ingin berpisah dari Mas Enrik, Yah … Floryn minta maaf jika Floryn tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Mas Enrik … tapi, tidak mungkin Floryn kembali bersamanya. Ia sudah meniduri wanita lain …,” terang Floryn dengan dada yang terasa sesak.


“Oke ….” Edward duduk kembali di kursinya.


“Pah … sebaiknya kita bicarakan lagi semuanya besok. Ini sudah sangat larut, kita semua lelah. Kita perlu pikiran jernih untuk menyelesaikannya,” terang Sintia. Ia menangkup sebelah tangan Edward di pangkuannya.


Edward mengangguk setuju. Ia sudah sangat lelah dan masalah itu membuatnya semakin pusing. Ia tidak mengira jika anak didikannya akan menjadi seorang bajingan seperti itu. Kalau seorang laki-laki sudah tidak cocok lagi dengan pasangannya, hal itu bisa dibicarakan baik-baik. Kalau begini, apa yang Enrik lakukan memang tidak benar.


“Pulanglah, Flo. Temani Alvin cucuku. Masalah ini akan kita bicarakan lagi besok. Kita semua perlu pikiran yang jernih dan tenang untuk membahasnya,” ungkap Edward.


Floryn tidak percaya dengan apa yang mertuanya katakan. Apakah masih ada yang ingin dibicarakan lagi? Apa bukti rekaman itu belum cukup?

__ADS_1


“Jadi … Floryn hanya harus pulang?” tanya Floryn tidak percaya.


“Ya. Pulang. Get some rest dan datang lagi besok siang. Kamu mendengarnya, kan?” tanya Sintia yang tedengar tetap tidak menyukai Floryn.


Floryn terdiam di tempatnya. Namun, tatapan dingin Sintia membuatnya kembali sadar. Ia buru-buru merapihkan semua barang-barangnya untuk dibawa kembali ke dalam mobil. Dengan cepat, Floryn pergi dari sana. Ia tahu jika Sintia sudah mengusirnya secara halus lebih dari tiga kali sejak ia datang.


Di dalam mobilnya, Floryn menelungkupkan kepala di atas kemudi. Ia tidak percaya akhirnya berhasil menyampaikan bukti itu kepada sang ayah mertua. Ia masih ingin menikmati ketenangan yang terjadi saat ini.


Setelah itu semua, Floryn terus berpikir untuk melakukan sesuatu. Ia tidak mungkin kembali ke rumah mereka dan menetap di bawah satu atap yang sama dengan sang suami yang telah berkianat dalam rumah tangga mereka. Selain itu, Floryn cukup yakin jika Enrik juga tidak mau bersamanya lagi, setelah apa yang dilakukannya di pondok itu tadi sore. Enrik terlalu kasar. Entah apa yang merasukinya hingga sampai begitu tega padanya.


Maka dari itu, Floryn memutuskan untuk pergi dari rumahnya sendiri dan Enrik. Namun, bukan pergi untuk waktu yang lama. Floryn masih menyadari jika ia dan Alvin punya hak atas rumah tersebut. Ia tidak boleh melepaskannya dengan sangat mudah dan membahagiakan Ambar ataupun siapa saja yang akan menggantikan posisinya kelak.


“Mas … mungkin kamu berpikir kalau aku adalah wanita lemah yang tidak bisa hidup tanpamu, sayangnya kamu tidak benar!” tukas Floryn dengan emosi yang kembali naik. “Dasar laki-laki brengsek, tidak tahu diri … kamu akan menyesal karena telah memilih wanita itu daripada istrimu sendiri!”


***


Setelah kepulangan Floryn, keduanya langsung masuk ke dalam kamar utama. Bukan untuk melakukan kegiatan rutin mereka setiap malam, tapi lebih untuk membicarakan masalah yang Floryn bawa tadi.


"Apa maunya anak itu? Kenapa dia melempar kotoran ke wajahku seperti ini?" tanya Edward kepada sang istri.


"Papah ... apa tidak sebaiknya kita tunggu kedatangan Enrik dulu? Kita dengar dari mulutnya sendiri, tentang apa yang terjadi di antara mereka," ungkap Sintia. "Bagaimana jika anak itu punya alasannya tersendiri kenapa sampai melakukan ini semua? Kita baru mendengar pengakuan dari satu sisi saja, kan?" terang Sintia.


Edward berpaling ke arah sang istri. Mungkin ia berpikir jika apa yang Sintia katakan ada benarnya.


"Kamu benar, Mah. Sebaiknya kita tunggu Enrik pulang. Kalau perlu, kita pertemukan mereka berdua agar semuanya jelas. Kalau Floryn memang ingin berpisah, ya sudah. Aku juga tidak mungkin melarangnya," terang Edward.

__ADS_1


Sintia mengangguk setuju. Mereka mengakhiri malam itu dengan banyak pertanyaan di dalam kepala. Tapi, semua harus diselesaikan secepatnya. Enrik dan Floryn memang harus bertemu.


***


Floryn melepaskan syal yang dikenakannya sejak tadi. Ia merebahkan diri di atas tempat tidur miliknya dulu dan mencari guling untuk dipeluk. Satu-satunya teman yang tidak akan pernah berkhianat.


Pikiran Floryn menjelajah jauh pada kehidupan pernikahannya beberapa tahun belakangan. Apa yang membuat sang suami menjadi berubah? Apa ada hal yang ia lewatkan? Salahnya, kah?


Sayangnya Floryn tidak bisa menemukan apa-apa. Ia memutuskan untuk tidur dan melupakan semuanya untuk sejenak. Ia sudah mulai sakit kepala dan hal itu tidak biasa. Karena tidak punya stok obat, Floryn memaksakan untuk tidur. Besok pagi ia harus pergi ke kantor dan menghadapi semuanya dari sudut pandang yang berbeda.


***


Floryn terbangun karena derasnya hujan yang turun. Tangannya berusaha mencari sebuah benda yang biasanya ada di atas nakas. Sayang sekali benda itu tidak ada di sana. Beberapa detik kemudian ia baru ingat kalau HP-nya sudah rusak.


"Sial ...," lirihnya pelan. Ia hanya bisa bangkit dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi lagi-lagi air mata Floryn menetes. Padahal Ia tahu betul jika laki-laki seperti Enrik tidak pantas untuk mendapatkan air matanya. Dengan cepat Floryn menghapus air mata itu dan membasahi kepalanya dengan air mengalir.


Sebelum keluar dari kamar mandi, Floryn menghadapi cermin yang memantulkan tampilan dirinya secara sempurna. Ia memejamkan mata, lalu mengambil nafas sebanyak yang ia bisa dan kemudian membuangnya dengan perlahan.


"Kuatkan dirimu Floryn. Kamu bukan wanita lemah! Kalau Mas Enrik memang bukan jodohmu, kalian harus berpisah. Hubungan yang akan terjadi setelah perselingkuhan itu tidak akan berjalan dengan baik ...," kata Floryn kepada dirinya sendiri, melalui pantulan cermin. Ia berharap afirmasi itu bisa menstimulus otaknya untuk lebih tegar menjalani hari-hari kedepan.


Setelah selesai bersiap, Floryn keluar dari kamar untuk langsung menemui ibu dan Alvin. Hari ini ia harus pergi ke kantor. Satu sisi dirinya merasa sedikit takut. Bagaimana jika ia bertemu dengan suaminya di kantor hari ini? Bukankah mereka ada rapat bersama nanti siang?


"Semoga saja kamu tidak muncul, Mas ...."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2