Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Untuk Selamanya


__ADS_3

Floryn PoV


Bali, Indonesia.


Kami berdua tiba di salah satu resort di Bali setelah jam sepuluh malam. Zoel membawa tas kecil kami ke dalam kamar yang telah disediakan.


“Kamarnya indah,” kata suamiku saat kami berdua sudah masuk ke dalam kamar itu.


Aku setuju dengannya. Kamar kami terlihat begitu cocok dengan bulan madu ini.


“Tempatnya nyaman, ya ....” Aku menambahkan.


“Iya. Nyaman sekali. Apalagi ... ada kamu di sini bersamaku,” bisik Zoel tepat di samping telingaku.


Mendapatkan perlakukan seperti itu, aku merinding. Dengan enggan, aku menjauh darinya. Jika dibiarkan, ia bisa saja langsung menelanjangiku di sini.


“Kok pergi?” tanya Zoel yang tidak terima dengan kepergianku dari sisinya.


Namun, aku tidak menjawab. Hanya tersenyum kepadanya. Entah apa yang Zoel pikirkan, ia hanya balas tersenyum dan meletakan koper yang ia bawa ke dalam lemari.


“Apa kamu ingin makan malam lagi, Yang?” tanyaku sebelum ia melakukan hal lainnya.


Namun, ia hanya berbaring di atas tempat tidur dan menggelengkan kepala.


“Tidak, aku masih kenyang dengan makanan di pesawat tadi.” Zoel menghidupkan televisi yang ada di kamar kami. “Apa kamu lapar? Kita bisa keluar untuk mencari makan malam,” imbuhnya lagi.


Aku menggeleng dan masuk ke dalam kamar mandi. Dengan cepat, aku membersihkan diri. Jika melihat pantulan diriku di depan cermin, aku masih bisa melihat sisa-sisa riasan tadi siang.


Dengan sedikit ragu, aku mengangkat kedua tangan dan mencium aroma underarm.


“Apa aku mandi saja, ya?” tanyaku di dalam hati.


Aku ingin terlihat sempurna untuk Zoel. Apakah itu salah? Aku rasa tidak, kan? Sejauh ini, ia sudah berkorban sangat banyak untukku. Mungkin aku bisa membuatnya begitu bahagia di malam hari ini. Tentu tidak salah, bukan?


Keputusanku sudah bulat. Malam ini, aku tidak akan menjadi Floryn yang ia kenal. Sedikit permainan, pasti bisa membuatnya ... lebih mencintaiku? Aku sungguh berharap akan hal itu.


Dengan cepat, aku membuka kembali pintu kamar mandi, dan memita Zoel untuk mengambilkan tas tangan milikku sendiri.


“Kamu mau mandi, Yang?” tanya Zoel memastikan.


“Iya.”


“Mau bareng, gak?” tanyanya kemudian.


“Enggak!” sahutku kemudian menutup pintu kamar mandi rapat-rapat setelah mendapat apa yang kuminta. Zoel bahkan tidak sempat merayu untuk mendapatkan apa yang ia mau. “Sorry, Sayang ... aku akan memberikan sesuatu yang lebih baik untukmu,” batinku.


Aku mulai menghidupkan shower dan mandi dengan cepat. Setelah itu, buru-buru mengeringkan tubuh dan mengeringkan rambut dengan hair dryer yang ada di sana.


Tidak lupa memakai deodoran karena itu adalah hal wajib bagiku. Memakai sedikit parfum di beberapa area lipatan dan di dekat area sensitif. Kata Zoel, parfumku wanginya enak dan aku akan memanjakannya malam ini.


Setelah kurasa cukup, aku kembali memperhatikan diriku sendiri di depan cermin.


“Oke. Sentuhan terakhir dan aku akan siap.”


Dari dalam tas, aku mengeluarkan sebuah kotak kecil yang imut. Di dalamnya, ada sebuah baju dinas wanita yang tipis menerawang. Baju itu berasal dari salah satu merk ternama.

__ADS_1


Senyum di wajahku tidak mau pergi. Antara geli dan semangat, aku memakainya di tubuhku sendiri. Pantulan di depan cermin membuatku tidak percaya.


Bagaimana bisa ada orang yang terpikir untuk membuat pakaian dinas seperti ini? Sangat ... tidak ada fungsinya. Tidak ada bagian yang tertutup dengan barang ini.


“Oke. Ini demi kamu, Yang. Aku harap kamu tidak mentertawakanku dan mau menerima apa yang kulakukan.” Aku bermonolog di depan cermin.


Setelah merasa cukup yakin, aku membuka pintu kamar mandi sedikit. Sebelum keluar, aku ingin memastikan apa yang suamiku lakukan di luar sana. Apakah ia masih melihat acara TV atau bagaimana.


“Yang? Kamu ngapain?” tanyaku dengan kepala yang sudah menjulur ke luar kamar mandi.


“Iya, Yang. Aku lagi nonton. Kenapa? Apa ada yang tertinggal?” tanya Zoel memastikan. Sepertinya, ia sudah mengalihkan pandangannya dari arah TV dan beranjak mendekati kamar mandi. “Yang, kenapa?” tanyanya saat sudah ada di depanku.


Di depannya, aku tersenyum dan menggelengkan kepala. “Apa kamu menginginkaku, Yang?” tanyaku memancingnya.


“Well ... ya. Tentu saja! Kenapa, sih?” tanyanya balik. Sepertinya ia tidak bisa menebak apa akan kuperlihatkan padanya.


Dengan lembut, aku membuka pintu kamar mandi dan melakukan sedikit pose di depannya.


“A-apa yang—”


“Tampan ... apa kamu ingin menggodaku?” tanyaku sembari menyisir rambut ke samping.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Zoel menarikku mendekat hingga aku berada tepat di dalam pelukannya.


“Aw ... agresifnya ...,” lirihku berusaha terdengar normal. Nyatanya, jantungku sendiri terasa ingin loncat dari tempatnya.


“Kenapa berpakaian seperti ini? Tidak dingin, hhmm?” tanya Zoel yang sudah mulai aktif. Ia menyentuh punggungku yang tidak tertutup apa-apa.


Gaun malam model yang kupakai ini, memiliki belahan depan berbentuk V, pun dengan punggungnya, memiliki model yang sama. Selain itu model roknya memang panjang, tapi terbelah di bagian kanan dan kiri. Kainnya juga sangat transparan. Rasanya, percuma saja mengenakan gaun itu pada akhirnya.


Zoel mengusap tubuh depanku yang telah menanti sejak tadi. Sentuhannya membuatku gila.


“Sayang ...,” lirihku merasakan sentuhan-sentuhannya.


Aku bisa gila jika ia terus-terusan begitu.


Dengan nakalnya, ia menyingkirkan lengan gaun yang tersampir di pundakku. Membuatku mencoba untuk menahannya agar tidak benar-benar melorot.


“Kapan aku bisa memilikimu seutuhnya?” tanya Zoel putus asa.


Aku tersenyum dan membisikan sesuatu padanya. “Biar aku yang mulai ... Sayang rileks saja dan serahkan semuanya padaku ...,” bisikku dengan lembut.


Bahkan, aku tidak tahu jika bisa mengatakan hal nakal seperti itu.


Tidak ingin mengecewakannya, aku mulai menarik Zoel ke arah tempat tidur. Ia menurut dengan baik. Seperti anak kecil yang telah dijanjikan permen setelah ini.


Tanpa berlama-lama, aku mengajaknya untuk naik ke atas tempat tidur kami. Dengan sedikit usaha, akhirnya aku berhasil melepaskan seluruh pakaiannya. Kini hanya tersisa underwear yang kubiarkan di sana.


“Sebaiknya Anda siap, Tuan ...,” bisikku lagi.


Aku memulai aksi.


“Sayang ... jangan lama-lama pemanasannya ... aku tidak tahan,” bisik Zoel memohon.


Aku tidak tega mendengarnya. Kuputuskan untuk langsung mengikuti keinginannya.

__ADS_1


“Ini sangat menantang ...,” lirihku dengan tatapan nanar. Sorry, tapi aku harus jujur, Zoel lebih segala-galanya dari pada Enrik.


Semua yang ada pada diri Zoel, membuatku candu. Melihatnya saja tanpa menyentuh, bisa membuat wanita mati penasaran.


“A-apa yang mau sayang lakukan?” tanyanya saat aku mencoba mendekatkan wajah.


“Eem ... mau memberika servis terbaik ...,”sahutku malu-malu.


“Sungguh?”


Aku mengangguk meyakinkan dirinya. Finally, ia diam dan berhenti bertanya.


"Damn ...,” umpatnya saat aku mulai semua aksiku pada tubuhnya.


Aku tidak bisa fokus dengan apa yang kurasakan. Karena tubuhku sendiri mulai terasa tidak nyaman di bawah sana.


Seperti paham dengan apa yang membuatku gelisah, Zoel membuatku menggeser tubuh hingga saat ini tubuhku sudah ada di atasnya.


Sebelum aku sempat bertanya, laki-laki itu sudah melakukan hal serupa seperti yang kulakukan. Memanjakan diriku inci demi inci.


Aku mulai hilang kendali. Hanya bisa menggigit bibir bawah berusaha menahan gejolak yang muncul tiba-tiba. Apa yang Zoel lakukan membuatku hilang arah. Tapi aku tidak mau kalah. Aku kembali memberikan sentuhan-sentuhan yang membuatnya nyaman.


Posisi kami begitu intim. Membuatku kewalahan dan akhirnya menyerah. Aku tidak berhasil membuat Zoel meraih kenikmatannya terlebih dahulu. Malahan, aku sendiri yang kelimpungan saat Zoel melakukannya dengan tempo yang semakin cepat.


“Yes ... faster, Yang ...,” mohonku tanpa malu.


Zoel memberikan apa yang kuminta. Tangannya pun tidak diam dan asik menelusuri setiap detail tubuhku yang polos tanpa pelindung apa-apa.


Sampai akhirnya aku tidak sanggup lagi dan hanya bisa mencengkeram sprei sembari menikmati apa yang ia berikan padaku.


Detik berikutnya, aku berusaha berbalik dan berbaring dengan benar. Namun, belum juga napasku kembali normal, Zoel sudah siap kembali dan berniat untuk memulai ronde berikutnya.


“Aku tidak ingin berhenti ...,” bisik Zoel setelah membersihkan sisa-sisa yang tadi.


Sedangkan aku, aku hanya bisa mengangguk dan membiarkannya memegang kendali. Aku cukup lelah dengan apa yang Zoel lakukan sebelumnya tadi.


Permainan Zoel begitu panas dan penuh gairah. Ia sangat paham apa yang kuinginkan dan bagaimana memberikannya dengan cara yang indah.


Beberapa kali kami mengulangnya. Saling memberi dan menerima. Seperti dunia hanya milik kami berdua.


Saat ini, aku tahu jika Zoel adalah ciptaan yang sempurna untukku. Sanggup memberikan apa yang tidak pernah kudapatkan.


Kuraharap, pernikahan ini yang terakhir bagiku. Hanya Zoel, dan aku akan bahagia ....


EXTRA PART TAMAT


***


Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mengikuti author sampai sejauh ini.


Temukan MAYANOV dengan judul-judul lainnya, ya! Byeee ʚ♡⃛ɞ(ू•ᴗ•ू❁)


***


Setelah hampir 10x revisi, bab ini lolos. Maaf jika kalian sampai menunggu lama.

__ADS_1


__ADS_2