Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Tidak Mungkin Tidak Kenal


__ADS_3

Sepanjang hari itu, Enrik tidak begitu mempedulikan Floryn. Ia hanya menyibukkan dirinya dengan Alvin saja. Sebenarnya Floryn tidak keberatan dengan hal itu karena ia sendiri telah merasa ilfil dengan suaminya sendiri.


Perselingkuhan yang dilakukan Enrik, membuat Floryn kesal dan marah. Akan tetapi, walaupun Enrik memohon agar dimaafkan, Floryn belum tentu akan mengabulkannya. Hal seperti itu sama seperti penyakit. Bisa kambuh jika tidak dituntaskan hingga ke akar-akarnya. Dan dalam hal ini, Floryn tidak tahu mana akar penyakitnya.


“Bun … sini. Sama Alvin dan ayah …,” kata Alvin yang kembali untuk menarik tangan Floryn.


Floryn tersenyum dan menyambut uluran tangan mungil itu. Ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


“Aku tidak suka dengan orang tadi. Kenapa ia mengenakan baju yang mirip dengan milikku?” tanya Enrik kepada Floryn.


Floryn yang mendengar pengakuan itu membulatkan matanya. Apakah suaminya baru saja mengakui kalau ia cemburu?


“Tidak suka kenapa? Aku juga tidak mengenalnya …,” sahut Floryn cuek.


“Tidak mungkin kamu tidak mengenalnya. Kalau tidak kenal, kenapa kalian bisa ngobrol bertiga di sana? Apa yang tidak kuketahui?” tuntut Enrik dengan suara yang datar dan biasa saja. Ia tidak mau membuat anaknya takut dengan perdebatan mereka.


Floryn baru saja akan membuka mulut dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya, tapi ia buru-buru menghentikan rencana itu. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal yang baru saja terjadi? Apakah ia akan bilang kalau Alvin hilang dari pengawasannya? Membuat Enrik bertanya-tanya dan menjadikan hal itu senjata suatu saat nanti? Tidak. Floryn lebih baik mencari alasan lain.


“Tadi Alvin mengira kalau ia adalah dirimu. Pakaian kalian memang mirip … mau bagaimana lagi. Aku harus berterima kasih karena orang itu mau memaafkan Alvin, karena telah mengikutinya,” ungkap Floryn dengan sebagian cerita. Ia tidak berbohong, Floryn hanya tidak mengatakan semuanya.


“Hhmm … aku tidak tahu. Sepertinya masih ada yang kalian sembunyikan,” tambah Enrik.


“Mungkin. Semua orang pasti punya sesuatu yang mereka sembunyikan, bukan? Walaupun suatu saat pasti akan ketahuan, setidaknya untuk saat ini semuanya baik-baik saja.” Floryn membawa Alvin menuju rumah lego yang ada di depan mata. Sedangkan Enrik, laki-laki itu terdiam di tempatnya semula. Entah apa yang orang itu pikirkan, mungkin ia merasa jika Floryn telah mengetahui sesuatu.


“Apa kamu tidak mau ikut, hhmm?” tanya Floryn sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam rumah lego.

__ADS_1


“Ya. Aku akan membeli cemilan dulu. Kalian masuk saja deluan,” kata Enrik dengan senyumannya yang terpaksa.


Floryn balas tersenyum dan berbalik. Ia membawa Alvin masuk untuk menikmati kreasi permainan anak yang begitu disukai Alvin, anaknya.


***


Di tempat lain ....


Di dalam toko rotinya, Zoel sedang duduk termenung. Ada suatu hal penting yang sedang ia bayangkan saat ini.


Zoel baru saja membayangkan pertemuannya dengan Floryn tadi siang. Ternyata, wanita itu memang jauh lebih cantik saat tidak bekerja.


Sudah sejak beberapa minggu lalu, Widuri memaksa Zoel untuk membantunya. Ia ingin Floryn memberikan rekomendasi untuk kenaikan jabatan yang akan diberikan pada akhir tahun. Hal itu hanya bisa terwujud jika mereka bisa dekat sebagai atasan dan karyawan. Faktanya, di kantor Floryn sangat kaku.


Awalnya Zoel menolak permintaan itu. Namun, kegigihan Widuri membuatnya goyah. Ia pun menyanggupi permintaan Widuri, dengan syarat jika Widuri tidak menuntut dan berharap terlalu lebih. Semua orang tahu kalau Floryn sudah memiliki keluarga. Jadi, mungkin berteman dengannya saja sudah cukup.


"Oke, aku akan mencoba untuk mendekatinya agar kita bisa akrab. Kamu bisa mengandalkan ketampanan abangmu ini. Tapi ... jangan minta yang aneh-aneh lagi!" kata Zoel saat itu dan Widuri setuju.


Maka, setelah kue-kue dan gombalan singkatnya saja tidak sanggup membuat Floryn tertarik, Zoel semakin penasaran. Padahal ia merasa cukup pede dengan ketampanan yang ia miliki.


Apalagi saat Widuri bilang apa yang Zoel lakukan itu membuat pekerjaanya terancam. Zoel merasa gagal sebelum berperang.


"Kenapa, ya? Kenapa aku jadi memikirkannya terus? Hei dummy, dia sudah punya suami dan anak ...," ejek Zoel kepada dirinya sendiri. "Mungkin karena dia menolakku, ya? Ck! Dasar adik tidak tahu diri. Kalau—" Perkataan Zoel terhenti saat seseorang masuk dan memukul pundak Zoel.


"Bang! Itu gosong!" tukas salah satu karyawan Zoel yang merupakan sahabat adiknya.

__ADS_1


"Apaan sih, Sher?" tanya Zoel yang masih belum menyadari dengan apa yang terjadi di dapurnya.


"Itu, Bang! Gosong! Oven!" sahut Sherla masih dengan kepanikan melanda dirinya.


Zoel menoleh dan melihat ke arah oven besarnya yang masih menyala. Dari sana keluar aroma gosong yang sangat pahit.


"Syit!" umpat Zoel yang diplesetkan. Sengaja, agar ia tidak terdengar begitu kasar apalagi di depan karyawan cewek. Zoel langsung berdiri dan mendekati oven itu. Ia mematikan perapian dan menjauh dari sana. Zoel belum berani membuka oven itu karena aromanya pasti akan mengganggu tamu-tamunya di depan.


"Bang ... Bang ...," lirih Sherla tidak percaya.


"Apa di depan banyak orang?" tanya Zoel kepada Sherla.


Sherla menggelengkan kepala. "Tadi ramai, tapi sekarang udah kurang, sih ...," sahut Sherla.


"Coba kamu tutup rapat pintu itu dan hidupkan blower-nya lebih besar," perintah Zoel.


Sherla melakukan perintah Zoel. "Mikirin apa sih, sampai gitu banget?" tanya Sherla yang tidak berharap jawaban dari sang bos.


"Mikirin cewek. Gila, kan?" sahut Zoel dengan entengnya.


Akan tetapi, tidak seperti Zoel yang terlihat santai, Sherla malah terlihat sangat terkejut. Ada rasa tidak terima bersarang di hatinya.


"Bisa-bisanya ...," batin Sherla kesel.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2