Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Orang Jahat Bukan, Ya?


__ADS_3

Sebelum mulai baca, jangan lupa like dulu, yaaa.


Terima kasih, Semuanya :')


***


“Ih … Paman Polisi datang lagi …,” kata Alvin saat melihat kedatangan Zoel di teras depan rumah neneknya.


Floryn hanya bisa tersenyum. Rupanya kedatangan dua polisi tempo hari sangat berkesan untuk Alvin. Sampai-sampai, hal itulah yang terus ia ingat dalam beberapa hari ini.


“Ya … Paman Polisi akan ada di sini untuk menjaga Alvin dan Nenek …,” terang Floryn yang sudah berpakaian lengkap, siap pergi ke sidang.


Semalam, ia sudah bilang kepada ibunya jika Zoel akan datang untuk menemani mereka di rumah. Entah kenapa perasaan Floryn tidak enak untuk meninggalkan keduanya hari itu.


“Jadi merepotkanmu, Nak … padahal, biasanya juga Floryn pergi saja. Kami di rumah tidak akan apa-apa. Ada pak satpam dan pembantu ibu …,” terang Matha kemudian.


“Apa … sebaiknya saya menemani Anda saja, ke pengadilan?” tawar Zoel kemudian.


Floryn memukul lengan Zoel. Ia tidak ingin ibunya melihat dan mendengar gombalan Zoel yang sering ditujukan padanya. Ia akan sangat malu.


“Jangan macam-macam! Di sana akan ada banyak polisi dan orang lain. Kenapa aku harus dijaga?” kilah Floryn yang tidak setuju dengan usulan Zoel. Laki-laki itu hanya bisa terkekeh geli.


Setelah semua persiapa Floryn selesai, ia berangkat ke pengadilan. Ia sangat berharap kalau proses perceraiannya bisa selesai dengan cepat.


***


Sementara itu di kediaman Enrik.


Ambar baru saja terbangun dan tidak lagi mendapati Enrik di sampingnya. Ia mendengar suara shower air yang masih menyala. Itu tandanya, Enrik sedang mandi.


Kalau ia tidak salah ingat, hari ini adalah sidang perdana perceraian laki-laki itu dan istrinya. Kalau begitu, ia harus menyiapkan semua keperluan sang majikan dan partner ranjangnya.


Dengan terburu-buru, Ambar bangkit dari tempat tidur dan mengambil baju handuk yang dulu biasa dikenakan Floryn. Ia tidak peduli dan langsung mengenakannya.


Kemudian, ia pergi ke washtafel untuk menyikat gigi dan membasuh wajah. Mandi nanti saja, karena hal itu akan memakan waktu agak lama.


Setelah siap dengan dirinya sendiri, Ambar masuk ke dalam lemari wardrobe dan mulai mencari setelan yang cocok digunakan dalam pertemuan resmi seperti sidang. Selesai ia menyiapkan semua, Enrik keluar dari dalam kamar mandi.


Laki-laki itu bersiap dan kemudian pergi sarapan. Saat ini, Ambar sudah tidal lagi melayani Enrik untuk menyiapkan sarapannya. Kini ia duduk di samping Enrik, menggantikan sang majikan perempuan yang memilih untuk melepaskan laki-laki itu.

__ADS_1


***


Floryn mengitarkan pandangan. Sudah hampir jam sembilan dan Enrik belum juga datang. Apa orang itu berencana mangkir dari panggilan sidang perdananya?


Akan tetapi, sesaat sebelum Hakim masuk, Enrik terlihat hadir dengan seorang pengacara yang tidak pernah Floryn lihat sebelumnya. Karena laki-laki itu terlihat muda, Floryn berpikir jika mungkin pengacara itu adalah teman Enrik juga.


Sidang perdana itu berjalan dengan lumayan lancar. Seperti seharusnya, pengadilan menyarankan agar keduanya melakukan mediasi terlebih dahulu. Akan tetapi,Floryn dan Enrik sudah sepakat untuk tidak melakukan mediasi itu. Ini adalah kekompakan pertama mereka setelah perselingkuhan yang Enrik mulai.


Sidang yang diperkirakan akan selesai dalam dua jam, bisa selesai hanya dalam satu setengah jam. Dari hasil sidang itu, Enrik melepaskan hak asuh atas Alvin kepada Floryn. Ia mengingat ancaman Edward yang akan mencoretnya dari daftar ahli waris jika sampai mempersulit sidang mereka.


Floryn menjabat tangan Miranda, pengacara yang ia tunjuk untuk membantunya dalam persidangan kali ini. Miranda adalah teman SMA-nya yang telah menjadi pengacara ternama di kota mereka.


“Thanks karena sudah mau menjadi pengacara dadakan, Mir …,” kata Floryn dengan senyum merekah.


“It’s okey. Aku juga sedang tidak ada kesibukan saat ini.”


“Jadi, kita ketemu lagi minggu depan?”


“Ya. Jaga kesehatanmu, ya … kalau sidangnya lancar seperti ini, aku yakin semua akan beres dalam waktu dua bulan saja,” terang Miranda kemudian mengenakan kacamata hitamnya.


Wanita itu bersiap untuk pergi dari sana. Begitu juga dengan Floryn. Ia mengeluarkan HP untuk menghubungi ibunya dan mengabarkan kalau ia sudah akan pulang. Ia sendiri memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dulu hari ini. Edward pasti akan paham.


“Hallo …,” sahut Floryn setelah mendengar suara ibunya. “Floryn sudah mau pulang, Bu. Apa … Zoel masih ada di sana?” tanya Floryn memastikan.


“Ah, tidak, Bu. Apa … ada yang mau titip seusatu?” tanya Floryn mengalihkan pembicaraan.


“Tidak ada. Sudahlah … lekas saja pulang,” perintah ibunya.


Floryn mengakhiri panggilan itu dan bergegas pergi ke tempat mobilnya diparkirkan.


Sebelum ia sampai ke tempat mobilnya parkir, langkah Floryn terhenti karena melihat seseorang yang mencurigakan. Sosok itu duduk di sebuah bangku taman yang paling dekat dengan mobilnya parkir.


Pikiran Floryn terbagi. Apakah ia harus putar balik atau tetap masuk ke dalam mobilnya itu?


“Duh … itu orang jahat bukan, ya?” batin Floryn yang sudah sangat dekat dengan mobilnya sendiri.


Karena selama beberapa saat tidak ada pergerakan dari orang itu, Floryn terus saja melangkahkan kakinya menuju mobil.


Akan tetapi, saat Floryn hendak membuka pintu mobilnya, laki-laki itu mulai bergerak mendekat. Floryn yang panik tanpa sengaja menjatuhkan kunci mobil yang ada di tangannya.

__ADS_1


Dengan buru-buru Floryn mengambil dan menekan tombol open. Dari sudut netra, Floryn bisa melihat kalau orang itu memegang sesuatu di tangannya.


Floryn menjadi semakin panik karena ia sadar, orang itu memang mendekati dirinya.


“To-tolong!!!” teriak Floryn bahkan saat orang itu belum berbuat apa-apa.


Namun, detik berikutnya orang mencurigakan itu telah menyiramkan sesuatu ke arah Floryn. Floryn yang lumayan sigap, berhasil berpaling dan menutupi kepalanya dengan lengan. Alhasil, cairan yang disiramkan orang itu hanya mengenai blazer dan sedikit punggung tangan kanannya.


“Aarrgh!!” pekik Floryn yang merasa sakit pada tangannya.


Sadar akan apa yang orang itu siramkan kepadanya, Floryn buru-buru melepaskan balzer yang ia kenakan.


Pandangannya mulai kabur karena lonjakan kepanikan yang ia rasakan. Sekilas, Floryn melihat beberapa orang mengejar pelaku penyiraman. Lalu beberapa lagi menghampiri dirinya. Hal berikutnya yang Floryn lihat hanya hitam dan ia tidak lagi sadar …


***


Floryn terbangun di ranjang rumah sakit. Ia berusaha memfokuskan pandangannya pada keadaan sekitar.


“Bu …,” panggil Floryn karena ia melihat ibunya sedang bicara pada dokter.


“Floryn … kamu sudah bangun, Nak …,” lirih Martha yang sudah berdiri di samping anaknya.


“Bu … apa yang terjadi?” tanya Floryn memastikan. Ingatannya agak samar tentang hal tadi. Mungkin karena ia baru saja bangun dari pingsan.


“Tidak apa-apa, Nak … penjahatnya sudah ditangkap …,” terang Martha sengan sedikit senyum khawatir.


Floryn mencoba untuk tersenyum. Namun, masih ada yang mengganjal pikirannya. Laki-laki yang menyerangnya, tidak mungkin Jack. Posturnya tidak sama seperti yang terakhir kali Floryn ingat. Lalu siapa dia?


Tok tok tok.


Sebuah suara ketukan pintu mengalihkan pikiran Floryn. Dari sana muncul Alvin dan Zoel. Anak itu memegang sebuah permen kapas dengan raut wajah terkejut.


“Bundaaa!” panggilnya saat melihat Floryn membuka mata.


“Bu Floryn …,” sapa Zoel yang ikut lega dengan apa yang ia lihat.


“Hai, Sayang …,” sahut Floryn dengan senyum mengembang pada keduanya.


Mendengar hal tersebut, Zoel langsung deg-degan. Kenapa Floryn berkata seperti itu dengan pandangan yang tertuju padanya? Zoel sadar kalau yang dipanggil ‘Sayang’ itu adalah Alvin, tapi kenapa ia merasa ge-er juga?

__ADS_1


“Nyonya … aku tidak sabar untuk menunggumu menjadi janda …,” batin Zoel serius. Ya, ia tidak bisa menahan perasaannya terhadap Floryn lebih lama lagi ….


Bersambung.


__ADS_2