
Brak!
Floryn tersentak kaget dengan sebuah gebrakan meja yang dilakukan mertuanya. Walaupun laki-laki itu dua kali lipat dari usia Enrik, tenaganya tidak kalah kuat. Bahkan, Floryn tidak pernah mendengar Enrik menggebrak meja seperti itu di rumah.
Floryn hanya bisa tertunduk. Apakah Edward marah padanya atau marah pada Enrik? Ia hanya bisa menunggu dan berharap nasib memihaknya saat ini.
“Kurang ajar anak itu! Floryn … apa kamu yakin dengan hal yang baru saja kamu katakan?” tanya Edward dengan wajah yang memerah. Sama seperti Enrik jika sedang kesal atau marah.
“I-iya, Yah … Floryn melihatnya sendiri,” ungkap Floryn dengan rasa takut yang belum juga mereda. Padahal ia sudah tahu kalau Edward marah pada anaknya.
Untuk sejenak, tidak ada yang bicara. Keduanya tenggelam dalam keheningan yang tercipta. Edward sibuk dengan pikirannya, begitu juga dengan Floryn. Ia bingung harus bicara apa tidak.
“Baiklah … mungkin kamu bisa bilang begitu padaku. Namun, pada kenyataannya aku tidak bisa memastikan jika omonganmu benar atau tidak. Jadi … apa kamu punya bukti yang bisa membuatku percaya? Lebih dari omongan dan sumpahmu itu?” tanya Edward menuntut.
Floryn gugup. Ia tidak punya bukti apa-apa tentang semua yang suami dan pembantunya lakukan. Lalu, apa mertuanya tidak bisa hanya percaya dengan semua apa yang ia katakan?
“Saya … saya tidak punya bukti. Ma-maksud Ayah … bukti yang seperti apa?” tanya Floryn memastikan.
“Apa pun. Bagaimana aku harus percaya? Apa yang harus kukatakan padanya jika aku memanggilnya ke sini dan menanyakan hal itu? Tentang perselingkuhan yang dilakukan anakku?” tagih Edward.
Floryn mengangkat kepala. Pria itu memang benar. Lalu, jika Edward meminta sebuah bukti, ia akan membawakannya. Ia tidak akan mundur dan pasti meyakinkan mertuanya tentang hubungan Enrik dengan pembantu di rumah mereka. Bukankah hal itu adalah aib yang bisa mencoreng nama keluarga?
__ADS_1
“Baiklah, Yah. Floryn akan membawakan bukti yang Ayah minta. Beri Floryn waktu dan Floryn akan kembali lagi ke sini,” ungkap Floryn dengan sangat yakin.
Rahang Edward terlihat mengeras. “Ya. Aku menunggu bukti itu. Kalau kamu bisa membuktikannya dengan cara apa pun. Aku tidak peduli. Saat ia benar berselingkuh darimu, kamu bisa memutuskan langkah apa yang akan kamu ambil kedepannya. Apa pun yang kamu ingin lakukan, Ayah tidak akan menghalangi,” ungkap Edward datar.
Baru saja Floryn merasa mendapat angina segar. Ia tahu kalau kata-kata Edward bisa dipegang. Pria itu tidak mungkin ingkar dengan kata-katanya sendiri.
“Baiklah, Yah. Kalau begitu, saya pamit dulu. Saya tidak boleh berada di sini terlalu lama …,” ungkap Floryn dengan nada yang masih sangat sopan.
Edward menganggukan kepala. Dari tempatnya duduk, ia menyaksikan kepergian sang menantu.
Di luar, Floryn jalan lebih cepat lagi. Ia tidak ingin bertemu dengan mertua tirinya atau rentetan pertanyaan akan menghentikan niatannya untuk segera pulang.
“Eh, Nyonya Floryn … bagaimana? Sudah selesai urusannya dengan tuan?” tanyanya dengan sangat kepo.
Floryn gelagapan. Ia tidak bisa terlihat datang ke rumah itu hanya untuk menemui mertuanya. Bisa saja ada yang melaporkan hal itu kepada Enrik. Bagaimanapun juga, Enrik adalah penghuni rumah itu dulunya dan Floryn bukan siapa-siapa.
“I-itu … anting-anting saya sudah ketemu. Ternyata ada di celah lemari buku ayah mertua. Untung saja bukan orang lain yang menemukannya …,” ungkap Floryn dengan kebohongan dadakan yang ia ciptakan.
“Anting-anting?”
“Iya … apa Bibik ingat, saat minggu lalu saya dan Enrik membawa Alvin ke sini? Kami sempat masuk ke ruang kerja mertua saya dan saya menjatuhkan anting-anting pemberian Enrik. Sebelum Enrik menyadari, saya harus menemukannya. Saya tidak mau ia kecewa …,” terang Floryn.
__ADS_1
Untuk lebih meyakinkan lagi, Floryn merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebelah anting yang berkilau. Sebuah anting emas yang pasangannya ada di telinga kiri Floryn.
“Oalah … saya kira ada apa. Tumben saja datang ke sini sendirian …,” sahut wanita itu.
Akhirnya Floryn bisa bernapas lega. Ia bersyukur jika orang itu percaya. Pasalnya, Floryn ingat sekali kalau ibu mertua tirinya itu sangat kepo dengan urusan orang. Ia bisa mengorek berita dari biang mana saja. Tidak terkecuali dengan para pembantu yang ia miliki.
“Iya, Bik. Kalau begitu, saya pulang dulu. Mungkin suami saya sudah pulan juga …,” jelas Floryn.
Pembantu itu tersenyum dan membiarkan Floryn berlalu. Ia kemudian kembali dengan kesibukannya sendiri.
Di dalam mobil, Floryn membuang napas dengan sangat lega. Ia lega dengan semua jawaban Edward. Ia lega karena Sintia tidak ikut campur sedikit pun tadi. Floryn lega karena ia punya alibi ketika datang ke rumah itu. Siapa pun yang mencoba membocorkan kedatangannya, tidak akan membuatnya masuk ke dalam kecurigaan Enrik.
Sebelum menjalankan mobilnya kembali, Floryn mengecek HP. Apakah ada paggilan dan pesan masuk atau tidak. Dan ternyata, sudah ada satu buah pesan yang masuk. Pesan itu dari Enrik. Jantung Floryn kembali berdebar.
“Apa aku sudah ketahuan sebelum betindak? Kalau Mas Enrik curiga, dia kan semakin waspada. Apakah aku bisa mendapatkan bukti itu nantinya?” lirih Floryn bingung.
[Apa yang Sayang lakukan di rumah ayah? Apa Sayang menemui Ayah?] Enrik.
“Damn … kerjaan siapa ini?!” Floryn benci saat perkiraannya benar.
Bersambung.
__ADS_1