
Di dalam mobil, Zoel mengambil banyak tissue untuk mengeringkan rambut Floryn. Hujan yang lumayan deras membuat rambut mereka lumayan basah.
"Terima kasih karena mau datang dan menolongku," ungkap Floryn dengan wajah tertunduk.
Zoel yang baru saja mulai mengeringkan rambutnya sendiri, langsung menghentikan aktivitas tersebut. Ia membuang tisu yang belum selesai digunakan.
“Saya punya banyak pertanyaan untuk Anda, Bu. Apa yang Anda lakukan di sini tengah malam buta? Bukankah seharusnya Anda bersama keluarga Anda di rumah?” tanya Zoel dengan rentetan pertanyaan.
Floryn terlihat memijat keningnya sendiri. Rupanya, wanita itu sedang berpikir, apakah ia harus menjelaskannya pada Zoel atau tidak. Akan tetapi, ia sudah sangat tidak enak karena membuatnya terlibat dalam masalah itu.
“Baiklah, saya akan menjelaskan semuanya. Tapi … bisakah Anda mengantarkan saya ke kantor polisi terdekat? Saya harus melaporkan kehilangan mobil saya …,” ungkap Floryn yang lumayan bisa menenangkan dirinya sendiri.
“Ah ya. Anda benar. Kita harus melaporkan kehilangan mobil Anda …,” sambung Zoel.
Mobil yang laki-laki itu kemudikan mulai beranjak dari sana. Ia mengendarainya dengan pelan karena hujan yang semakin deras.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah kantor polisi yang paling dekat dengan lokasi kejadian. Sayangnya, kantor polisi itu telah tutup dan tidak ada yang berjaga. Seharusnya mereka sadar jika saat itu sudah sangat malam dan tidak mungkin kantor polisinya masih buka.
“Jadi, apa Anda ingin cerita sekarang?” tuntut Zoel lagi. Ia sudah terlanjur terlibat dengan semua itu. Setidaknya, ia harus tahu masalah yang sebenarnya sedang dihadapai Floryn.
__ADS_1
Pada awalnya Floryn terlihat canggung. Sepertinya ia tidak enak dengan Zoel. Akan tetapi, karena sudah meminta bantuan orang itu, Floryn semakin tidak punya alasan untuk menolak cerita.
Sebelum mulai bercerita, Floryn meraba saku celananya untuk mengambil ponsel dan memperlihatkan pesan yang membuatnya datang ke sana. Sayang sekali, benda pipih itu tidak ada bersamanya. Floryn baru ingat kalau HP-nya ada di dalam mobil. Ia meninggalkannya di sana karena takut hilang sebelum mencari Cika.
“Gawat … HP-ku ada di dalam mobil,” ungkap Floryn dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Zoel yang tidak bisa mendengar perkataan Floryn dengan jelas.
“HP saya tertinggal di dalam mobil. Padahal, semuanya ada di sana. Bukti pesan masuk dari orang jahat itu dan semuanya …,” sahut Floryn kecewa.
“Jelaskan padaku …,” pinta Zoel.
Zoel memicingkan mata. “Pria lain teman Anda? Selingkuhannya?” Zoel memastikan.
Floryn hanya bisa angkat bahu. Ia sendiri tidak tahu hubungan seperti apa yang terjadi di antara Cika dan laki-laki itu.
"Saya tidak tahu. Seperinya bukan selingkuhan. Entahlah, hubungan mereka aneh dan membuatku bingung!" seru Floryn. "Sepertinya bukan selingkuh. Aku tahu bagaimana orang yang selingkuh. Sembunyi-sembunyi dan tetap terlihat baik -baik saja." Floryn menjelaskan dengan detail.
Di sana, Zoel merasa jika Floryn sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu. Seperti sebuah masalah yang tengah ia hadapi.
__ADS_1
"Suami Anda selingkuh, ya?" tebak Zoel asal.
Namun, perubahan air muka Floryn membuat Zoel tidak enak. Rupanya tebankan yang ia lontarkan barusan benar adanya.
Netra cokelat Floryn berkaca-kaca. Entah apa yang terjadi padanya, saat ini Floryn hanya ingin menangis. Perselingkuhan yang dilihatnya membuat hati Floryn hancur. Sayang sekali Floryn tidak punya tempat untuk mengadu.
Satu-satunya tempat yang ia pikir bisa dijadikan sandaran, malah melakukan hal memalukan dengan laki-laki lain. Floryn merasa Cika tidak ada beda dengan Ambar, pembantunya.
"Hei ... kalau Anda ingin menangis, silakan saja. Sepertinya kita punya banyak waktu di sini," ungkap Zoel. Ia hanya tidak ingin Floryn sakit karena memendam kesedihan yang begitu besar.
Setelah mempersilakan Floryn, wanita itu benar-benar menangis di hadapan Zoel. Lalu, ia memalingkan wajahnya ke arah jendela sebelah kiri. Ia tidak ingin Zoel mentertawainya.
Akan tetapi, Zoel bukannya melakukan apa yang Floryn pikirkan. Laki-laki itu malah membantu Floryn dengan mengusap punggungnya dari belakang. Merelaksasi agar Floryn tidak bersedih terlalu dalam. Gawat juga jika wanita itu sampai sedih kelewat-lewat.
Floryn berbalik dan menahan tangan Zoel. Ia mendekapnya di dada.
"A-aku ... dia ...."
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like-nya, ya!!!