Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Psikopat


__ADS_3

Selamat Membaca (。ノω\。)


***


Sudah berulang kali Zoel mencoba untuk menghubungi ponsel Floryn. Sayangnya wanita itu tidak juga menjawab panggilan tersebut.


“Kenapa abang tidak menghubungi Ibu Martha saja? Mereka tinggal satu rumah, kan?” tanya Widuri kepada abangnya.


Zoel menoleh dengan wajah cemasnya. “Sudah. Katanya, Floryn belum kembali sejak tadi. Tante Martha berpikir kalau Floryn mungkin masih di sini,” ungkap Zoel.


Jawaban itu sukses membuat Widuri ikutan panik. Ia tahu jika abanganya pasti sedang sangat cemas saat ini. Padahal, tadi abangnya sudah ingin mengantar sampai rumah, tapi Floryn sendiri yang menolaknya. Dan sekarang malah kejadian sepeti ini.


“Jadi sekarang gimana, Bang? Kalau ada apa-apa sama Ibu Floryn gimana?” tanya Widuri cemas.


Zoel kembali membuka kunci HP-nya dan mencoba untuk menghubungi seseorang. Tidak perlu waktu lama, panggilan itu terhubung.


“Bim, apa kamu sedang sibuk? Aku memerlukan bantuanmu!”


***


Saat ini Floryn hanya bisa pasrah. Ia mengamati seisi rumah, berharap bisa menemukan CCTV di salah satu sudut ruangan. Sayangnya, tidak ada yang namanya CCTV di rumah mendiang temannya itu. Setidaknya, akan ada bukti atas apa yang terjadi padanya jika ada CCTV di sana.


“Hei hei! Kamu masih sadar, kan?” tanya Jack setelah kembali dari keperluanya di belakang.


Floryn mengira-ngira apa yang orang itu ambil di sana. Kenapa lama sekali.


“Eeemp!” Floryn mencoba untuk bicara dengan gumamannya. Hal itu menyadarkan Jack jika tawanannya sedang tidak bisa bicara saat ini.


“Oh … sorry. Aku lupa jika mulutmu sedang sibuk. Aku anggap itu sebagai jawaban ‘iya’,” kata Jack dengan santainya.


Di tangan Jack sudah ada sebuah kotak pipih berukuran 11 inchi yang sepertinya pernah Floryn lihat. Ia mencoba utuk ingat, tapi tidak bisa. Ingatannya terlalu samar untuk semua hal yang pernah berhubungan dengan orang kotak itu.

__ADS_1


“Eeemp!!” kata Floryn lagi.


Jack berpaling. Lama-lama ia penasaran juga dengan apa yang Floryn coba tanyakan. Dengan segera ia mendekati Flory dan melepaskan sapu tangan yang terikat di mulut Floryn dengan kasar.


“Biadab!” tukas Floryn setelah ia bisa bicara kembali.


“Hei … jaga ucapanmu atau kamu akan kehilangan fungsi mulut untuk bicara,” kata Jack yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman.


Setelah berusaha untuk mengingat, akhirnya Floryn tahu kotak apa itu.


“Itu perhiasan milik Cika! Bukankah polisi bilang barang-barang itu sudah hilang?!” tanya Floryn tidak percaya. Ternyata, selama ini benda itu masih ada di dalam rumah. Rupa-rupanya, Jack berhasil menyembunyikan benda tersebut dengan sangat baik dan membuatnya lolos dari lacakan para polisi.


“Kamu pintar sekali. Memangnya, untuk apa aku kembali ke sini jika tidak ada yang dicari? Jumlahnya sangat setimpal, Nyonya …,” terang Jack yang kini sudah membuka kotak perhiasan tersebut dan mengeluarkan isinya.


Untuk beberapa saat lamanya, Jack memandangi dua buah kalung yang sudah ada di dalam genggaman. Kilaunya membuat siapa saja merasa tertarik.


“Awalnya aku tidak percaya kalau orang seperti Cika memiliki perhiasan yang begitu mewah. Suaminya terlihat pelit dan perhitungan.” Jack mengeluarkan sebuah kantong hitam dari saku jaketnya. “Namun … pada satu malam kami ngobrol banyak tentang rumah tangganya. Saat itu Herman ada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Kami menghabiskan malam-malam yang menyenangkan. Tidak seperti jika ada Herman di sini,” tambahnya.


Floryn langsung teringat akan kecurangan yang Enrik lakukan terhadap dirinya. Semua itu memicu rasa muaknya untuk kembali.


Sudah hampir setengah jam ia terikat di sana. Tangannya sudah mulai sakit begitu juga dengan bahunya.


“Dia sudah mati dan tidak akan protes tetang hal itu,” sahut Jack dengan entengnya.


Tinju Floryn mengepal. Dengan kondisinya saat ini, ia hanya bia memendam emosi. Bagaimana bisa ada orang yang tidak bisa menghormati sosok yang telah meninggal?


Jack terlihat menyimpan kalung dan gelang dari dalam kotak, ke dalam kantung tersebut. Kemudian, ia menyisipkannya ke dalam saku jaket dengan resleting.


“Oke … sekarang apa? Apa yang akan kamu lakukan untuk lolos dariku?” tanya Jack seakan mengejek Floryn. “Kamu tahu, dulu gairahku naik saat melihatmu datang ke rumah ini. Tapi sekarang, tubuhmu tidak ada menarik-menariknya. Apa yang bisa kulakukan padamu?”


“Entahlah. Sepertinya kamu hanya harus melepaskanku. Walaupun aku melaporkan semua ini ke polisi, mereka juga tidak bisa menangkapmu dengan cepat. Kamu lumayan menyusahkan,” ungkap Floryn tanpa bermaksud memuji orang itu.

__ADS_1


Akan tetapi, orang yang dimaksud malah tertawa menyombong. “Ya, aku lumayan licin, kan? Bagus kalau kamu menyadarinya … tapi, aku tidak mau kamu susahkan lagi untuk kedepannya. Jadi, aku sudah punya rencana untukmu …,” kata Jack akhirnya.


Laki-laki itu berdiri dan mengambil sebuah jerigen yang sepertinya tadi tidak ada di sana. Saat Jack membukanya, Floryn bisa mencium bau menyengat yang sering tercium sebelumnya.


“A-apa yang akan kamu lakukan dengan cairan itu? Itu … itu bensin, kan?” tanya Floryn memastikan.


“Ya. Ini bensin. Kamu tahu tidak, sebenarnya jauh lebih mudah jika aku melenyapkan rumah ini dan kamu di dalamnya sekalian. Jadi, tidak ada saksi lagi atau TKP yang bisa memberatkanku. Para polisi itu juga tahunya kalau aku ada di kota lain …,” terang Jack.


Floryn mulai gelisah. Ia tidak mungkin berakhir begitu saja di tangan Jack. Saat ini ia berharap agar ada yang menolongnya keluar dari sana.


“TOLONG!” pekik Floryn kemudian. Setidaknya, hal itulah yang bisa ia lakukan untuk terakhir kali.


Medengar teriakan Floryn, Jack langsung meletakkan jerigen tadi dan beranjak mendekati korbannya. Ia kembali mengambil sapu tangan yang tadi sudah ia lepaskan. Dengan cepat Jack memasang benda itu kembali.


Penolakan yang Floryn lakukan tidak berpengaruh sama sekali. “Eeemmp!” Wanita itu berusaha untuk memekik.


“Sssttth … sudahlah. Tidak usah melawan … tidak akan ada pangeran yang menolongmu karena aku tahu kamu baru saja berpisah dengan suamimu, kan? Lalu, siapa laki-laki itu? Orang yang bekerja di cafe? Kalau dia datang lagi ke sini, aku akan langsung melenyapkannya juga …,” kata Jack seraya mengeluarkan sebilah pisau lipat dengan ujung yang begitu tajam.


Awalnya Floryn berpikir kalau Jack membunuh Cika dan Herman karena ketidaksengajaan saja, tapi saat ini ia baru paham kalau Jack memang seorang psikopat gila. Ia merencanakan pembunuhan seakan-akan hal itu sudah biasa ia lakukan.


“Eeeemmmmp!” Floryn semakin panik saat Jack mulai menyirami setiap sudut rumah almarhum temannya dengan bensin yang ia siapkan.


“Aku tidak bisa mendengarmu, Nyonya …,” kata Jack tanpa menghentikan apa yang ia lakukan.


Setelah bensin di dalam jerigen itu habis, Jack mengeluarkan sebuah pematik dari dalam saku celananya.


Netra Floryn membulat. Inikah akhir dari hidupnya?


Klik.


Detik berikutnya, kobaran api yang dipicu Jack dari gorden ruang tamu langsung membesar. Bahan gorden yang tidak terlalu tebal membuatnya gampang dilahap api.

__ADS_1


“Di sini mulai panas, aku harus pergi, Nyonya … dan satu hal lagi, semoga kamu beruntung ….”


Bersambung.


__ADS_2