
Selamat membaca, Semua :')
***
Enrik terlihat kesal di belakang meja kerjanya. Sudah sejak beberapa saat lalu ia mencoba untuk menghubungi kedua orang yang ia bayar untuk meneror Zoel. Akan tetapi, nomor itu tidak menjawab panggilannya, padahal nomornya masih aktif.
“Damn! Kemana mereka? Aku ingin tahu, sudah sejauh mana mereka melakukan perintahku …,” kata Enrik pada dirinya sendiri.
Sayangnya, tidak ada yang mempunyai jawabannya. Hanya keheningan yang memenuhi ruang kerja Enrik tersebut.
Tok tok tok.
Sebuah suara ketukan pintu membuat Enrik berpaling dari layar HP-nya.
“Masuk!” kata Enrik dengan suara lantang.
Pintu ruang kerja Enrik terbuka. Dari sana, muncul sekretarisnya dan diikuti oleh dua orang polisi berseragam. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya tersendiri di benak Enrik.
“Selamat pagi, Pak. Kami datang untuk melakukan penangkapan atas tuduhan penyekapan yang terjadi pada Ibu Floryn. Apakah benar, Ibu Floryn ada di rumah Anda saat ini?” tanya salah satu polisi yang bernama Martin.
Enrik memandang bingung kedua polisi itu. Ia terenyum dan bingung ingin menjawab apa.
“Tu-tunggu dulu. Siapa yang bilang kalau saya menyekap istri saya sendiri?” tanya Enrik bingung.
“Maaf, Pak Enrik. Tetapi, informasi yang kami dapatkan seperti itu. Kalau ada yang ingin Anda katakan, Anda bisa membicarakannya di kantor polisi. Saat ini orang kami sedang dalam perjalanan untuk melepaskan Ibu Floryn,” terang seorang polisi yang terlihat lebih tua.
Enrik masih terlihat tidak percaya. Ia melihat sekretarisnya yang hanya bisa diam dan berdiri di dekat pintu masuk.
Salah satu polisi yang juga datang bersama rombongan, mendekati Enrik untuk menggiring orang itu pergi dari kantornya sendiri.
__ADS_1
“Lepas! Saya bisa jalan sendiri!” tukas Ernik menepis usaha perwira polisi itu untuk menggiringnya.
Polisi itu mempersilakan Enrik untuk beranjak, tapi Enrik tidak bergerak juga dari tempatnya.
“Aku ingin surat perintah atau semacamnya. Jangan pikir aku tidak tahu apa-apa tentang masalah hukum ini!” ungkap Enrik masih berusaha menolak.
Polisi yang tadi mendekati Enrik, merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia memperlihatkan isi lipatan kertas itu kepada Enrik. Di atasnya terlihat jelas bahwa surat itu adalah apa yang Enrik ingin lihat tadi.
“Ini adalah surat perintah pengadilan untuk membawa Anda ke kantor polisi. Status Anda saat ini adalah seorang tersangka. Anda bisa ikut dengan kami dengan cara baik, atau dengan cara yang agak kasar,” terang polisi itu dengan nada bicara yang datar-datar saja.
Enrik terlihat menelan saliva. Ia tidak percaya kalau ada yang melaporkan dirinya ke polisi. Padahal, ia sudah menyembunyikan tas Floryn di tempat yang tidak mungkin ditemukan oleh siapa saja. Lalu, siapa yang melaporkannya?
Sebelum beranjak dari sana, Enrik menutup laptopnya dan mengambil HP. Ia tidak akan meninggalkan benda itu dan pergi begitu saja. Akan ada beberapa orang yang harus ia hubungi nantinya.
Saat melewati sekretarisnya, Enrik berhenti. “Jangan bilang apa-apa dengan orang kantor. Kalau ayahku bertanya, bilang untuk langsung menghubungiku saja. Paham?” tanya Enrik kepada sang sekretaris. Wanita itu mengangguk paham.
Enrik meneruskan langkahnya meninggalkan kantor dengan santai. Ia tidak ingin karyawannya berpikiran kalau polisi-polisi itu datang untuk menangkapnya. Terlalu memalukan bagi nama Keluarga Bimasakti.
***
“Kamu kenapa, Bang?” tanya Widuri yang baru saja masuk ke dalam kamar Zoel.
Zoel meletakkan HP-nya dan kemudian mengambil remote TV yang ada di atas nakas. Ia memilih untuk menghidupkan benda elektronik itu terlebih dahulu.
“Polisi sudah membawa orang itu ke kantor polisi. Pihak kepolisian juga sudah mendatangi rumahnya untuk membawa Ibu Floryn keluar dari sana,” terang Zoel.
Tentu saja hal itu membuat Widuri bingung. Apakah bosnya tidak bisa pergi dari rumah itu? Apakah terjadi sesuatu dengan Floryn.
“Ibu Floryn baik-baik saja, kan?”
__ADS_1
“Sebenarnya, ia tidak apa-apa, sih … aku hanya mengatakan kepada polisi kalau bosmu itu diculik. Habisnya, aku sudah mencoba untuk menghubungi HP-nya sejak tadi, tapi tidak ada jawaban. Tadinya aku kira Si Enrik ini juga ada di rumah. Ternyata orang itu ada di kantornya,” terang Zoel dengan enteng.
“Kamu gila, Bang?” tanya Widuri tidak percaya.
“Kok gila?”
“Bagaimana kalau polisi bertanya kepada Ibu Floryn dan bosku menjawab kalau ia bukannya diculik? Kamu tidak takut berbalik menjadi tersangka? Ada yang namanya pasal pencemaran nama baik, loh …,” jelas Widuri panjang lebar.
Zoel tahu adiknya khawatir dengan apa yang mungkin terjadi dengannya kerena membohongi polisi. Akan tetapi, ia tidak akan bertindak jika tidak ada persiapan. Semua yang ia lakukan sudah diperhitungkan baik-baik.
“Tenang saja adikku yang cantik … abangmu ini tidak akan menggantikan Enrik untuk mendekam di balik jeruji besi. Aku masih punya otak yang lurus dan tidak kotor. Semua isinya memang hanya dipenuhi oleh bosmu itu. Makanya aku bisa melakukan hal ini. Lihat saja, kalau bagian Floryn berjalan dengan lancar, Enrik akan mendekam lama di dalam penjara. Sidang berikutnya, Floryn akan sah menjadi janda,” terang Zoel.
Widuri geleng-geleng kepala. Walaupun ia masih tidak tahu apa yang telah abangnya lakukan, ia memutuskan untuk percaya. Selama abangnya tidak nekat pergi ke sana dan mengurus Enrik sendirian, rasanya akan aman-aman saja.
***
Di Rumah Enrik dan Floryn.
“Apa Ibu yakin?” tanya polisi yang sudah datang untuk membawa Floryn pergi.
“Ya. Saya sangat yakin! Tas itu berisi semua barang pribadi saya. KTP, SIM, STNK, HP, dan kunci mobil! Tadinya saya datang ke sini untuk meminta Mas Enrik menghentikan kejahatan yang ia lakukan. Anda tahu, kan? Dia membayar orang untuk menculik teman saya dan memukulinya hingga terluka parah? Nah, saya hanya ingin dia berhenti. Lalu, dia mengancam saya untuk tidak pergi. Saya tahu apa yang orang itu bisa lakukan. Jadi saya tidak punya pilihan lain,” jelas Floryn. “Pagi-pagi tadi, saya berniat untuk pulang karena anak saya pasti mencari saya. Akan tetapi, saya tidak bisa menemukan kunci mobi dan HP. Intinya, tas saya hilang ….”
Polisi itu terlihat mengangguk-angguk tanda paham. Ia menyimpan cotatan kecil yang telah ia buat.
“Sebaiknya Ibu ikut kami ke kantor polisi. Di sana sudah ada Pak Enrik. Anda bisa memberikan kesaksian di sana, atas apa yang terjadi dengan Anda saat ini. Setelah tas Anda ketemu, kami akan mengantarkanya kepada Anda,” jelas pak polisi.
Floryn mengangguk paham. Pulang dari kantor polisi ia akan kembali ke rumah Martha. Ibu dan anaknya pasti khawatir karena tidak mendapat kabar darinya sejak semalam.
Enrik harus mendekam lama di penjara atau semua ini akan sia-sia saja ….
__ADS_1
Bersambung.