Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Hari Sempurna


__ADS_3

Selamat membaca (≡^∇^≡)


***


“Ini fitting terakhir sebelum hari H. Apa semuanya sudah sesuai dengan keinginanmu?” tanya Yasmin, teman Floryn yang merupakan sekretaris Edward dulu.


Ya, dulu. Sudah sejak dua bulan yang lalu, Edward bukan lagi pemilik dari perusahaannya. Semua tangkup kekuasaan telah berpindah tangan ke seorang laki-laki bernama Jason. Yasmin bilang, Edward berhutang banyak kepada Jason dan tidak bisa melunasinya.


Walaupun perusahaan dalam keadaan fit, rupanya tidak bisa menjamin hasil yang positif. Edward tidak bisa melunasi semua pinjamannya berdasarkan waktu yang telah ditentukan. Maka, perusahaan Keluarga Bimasakti jatuh ke tangan Jason yang berasal dari Singapura.


“Ya … sepertinya yang ini sudah sangat sesuai. Thanks ya, Min. sudah mau menemaniku ke sini,” terang Floryn yang begitu merasa beruntung karena Yasmin masih menganggapnya teman.


“Hei … kamu ini seperti apa saja. Tapi, ingat ya … kalau nanti aku nikah, kamu harus mau menjadi pendampingku. Aku tidak ingin orang lain!” seru Yasmin sembari mengambil foto mereka berdua sebatas dada. Katanya, calon pengantin tidak boleh memperlihatkan dirinya dengan gaun pengantin yang akan dikenakan, sebelum hari pernikahan tiba. Entah dari mana mitos itu berasal, Floryn hanya merasa ia bisa mengejutkan Zoel dengan hal itu nanti.


“Tentu saja aku akan melakukannya.” Foryn tersenyum. “By the way, kamu tidak masalah ijin sampai jam dua, Min? Nanti bos barumu marah, loh …,” terang Floryn yang baru mengingat kembali jika bos Yasmin bukan lagi Edward.


“Gak apa-apa. Kami ada janji nanti malam. Jadi, aku bisa memanfaatkannya …,” bisik Yasmin kepada Floryn.


Floryn membelalakkan mata. Apakah temannya itu baru saja mengisyaratkan kalau ia ada hubungan dengan Jason? Apakah Jason single atau laki-laki beristri? Kenapa ia yang khawatir?


Akan tetapi, Floryn tidak ingin dianggap lancang dengan menanyakan hal seperti itu. Jadi Floryn memilih untuk diam.


Sayangnya, Yasmin seperti tahu apa yang Floryn pikirkan, karena ia melihat perubahan air muka pada temannya tersebut.


“Hei, kamu tenang saja. Jason itu duda ditinggal mati. Ia punya satu anak perempuan bernama Nessa yang sudah berusia tujuh tahun,” terang Yasmin. Ia tahu Floryn punya trauma sendiri dengan wanita berstatus pelakor.


Floryn cukup terkejut. Yasmin yang berusia 28 tahun, sedang dekat dengan seorang duda beranak satu. Apakah akan ada kabar baik tidak lama lagi?


“Kenapa aku merasa kalau kamu akan segera menyusulku?” tanya Floryn curiga.


Mendengar hal itu, Yasmin hanya tersenyum penuh misteri. Ia enggan menjawab, karena suka melihat Floryn penasaran.


“Ha ha ha ha! Aku ikut senang dengan kabar itu. Semoga saja niat baik itu akan berjalan mulus, ya!” seru Floryn tidak kalah senang.


Setelah keluar dari butik, kedua sahabat itu memilih untuk pergi ke sebuah warung makan karena mereka belum makan siang. Sudah jam setengah satu dan jam dua nanti Yasmin sudah harus berada di kantor. Ada banyak mulut yang suka bergosip jika ia sering memanfaatkan hubungannya dengan Jason.


***

__ADS_1


Hari pernikahan (Yang sangat ditunggu-tunggu terutama oleh Zoel).


“Bagaimana, Saksi?” tanya penghulu kepada seluruh saksi yang ada di sana.


“SAAHH ….” Jawaban itu sontak saja membuat setitik air mata dari netra Floryn terjatuh. Ia tidak mengira sama sekali, jika setelah apa yang mereka lewati, hari ini akan tiba juga. Semunya terlihat sempurna.


“Silakan bersalaman untuk kedua mempelai. Lalu dilanjutkan dengan sungkem kepada orang tua …,” ucap pembawa acara yang mengarahkan mereka hari itu.


Jantung Floryn berdebar. Ini adalah saat-saat yang tidak begitu ia tunggu-tunggu. Dengan semua kebahagiaan yang telah terlihat di depan mata, ada satu hal yang membuat semua itu sedikit hambar.


Minimnya kominukasi antara Floryn dan kedua orang tua Zoel, membuat ia masih begitu sungkan. Bahkan, ibu dari Zoel tidak begitu menyukai pernikahan ini, walaupun ia juga tidak melarang.


Sebagai anak laki-laki pertama, wajar jika orang tua menggantungkan harapan yang besar kepada Zoel. Dan menikahi seorang janda bukanlah salah satu hal yang ingin mereka lihat sebagai orang tua.


Floryn mengikuti langkah Zoel mendekat kepada ibu mertuanya. Ada banyak gejolak emosi yang tertahankan saat ini. Floryn sedih dan hanya bisa berharap jika ibu mertuanya bisa ikhlas menerima keadaan dirinya.


“Bu … saya … saya minta maaf jika—”


“Ibu akan mencoba ikhlas untuk hal ini. Semoga kalian bahagia.” Ibu Anjani terdengar datar tanpa emosi.


“Aku minta maaf karena ibu begitu padamu … lambat laun, ibu pasti akan merubah pandangannya kepadamu, Sayang …,” kata Zoel saat mereka berdua sudah berada di kamar pengatin.


Setelah acara yang cukup melelahkan—karena setelah akad, resepsi langsung dilaksanakan hingga jam lima sore—mereka berdua memilih untuk istirahat di kamar.


Kamar itu adalah kamar milik Floryn karena akadnya memang dilakukan di rumah Martha.


Untuk Ibu Anjani dan Pak Jaka sendiri memilih untuk kembali ke rumah anak-anak mereka. Begitu juga dengan Widuri si bungsu.


“Kamu memang harusnya memiliki istri yang sepantaran denganmu. Bukannya aku yang janda dan lebih tua,” lirih Floryn sedih.


Tanpa permisi, Zoel memeluk wanita yang telah sah menjadi istrinya. Ia menghirup aroma wanita itu ibaratkan candu yang menenangkan.


“Kalau mereka menginginkan orang lain, aku tidak akan mau menikah sampai kapan pun,” ungkap Zoel membuat Floryn terkekeh geli. Bukan karena perkataan orang itu saja, tapi karena tangan Zoel yang mulai usil terhadap tubuhnya.


“Sayang, ini masih sore, jangan usil, dong …,” tolak Floryn yang merasa tidak bisa menahan sensasi geli yang Zoel ciptakan.


“Well … sebentar lagi bulan puasa. Aku ingin mencuri start, mulai sekarang. Takutnya … kita tidak punya banyak waktu …,” bisik Zoel yang terus menggoda sang istri.

__ADS_1


“Astaga … kamu menghawatirkan hal itu, Sayang? Kita punya semua waktu yang bisa kita dapatkan untuk berdua saja. Jangan mencari-cari alasan, ya …,” elak Floryn saat Zoel mencoba untuk membuat tanda di tengkuknya.


Yang benar saja, tidak hanya mereka berdua yang ada di rumah ini. Bagaimana jika Alvin mengetuk pintu dan mencari bundanya? Apa yang akan mereka lakukan?


“Hhmm … rupanya istriku ini memang pelit. Apa kamu tidak begitu mencintaiku, ya?” tuduh Zoel yang sudah berdiri dari sana dan menjauhi Floryn.


Menyedari jika Zoel mungkin saja marah, Floryn mengambil HP yang ada di atas tempat tidur. Ia lupa mengatakan sesuatu kepada suaminya itu.


Dengan lembut, Floryn memeluk Zoel dari belakang. Lalu memperlihatkan layar HP-nya kepada sang suami.


“Apa ini?” tanya Zoel yang tidak paham dengan apa yang Floryn tunjukkan. Laki-laki itu merangkul Floryn dan mengambil HP yang tadinya dipegang sang istri. “Tiket ke Bali? Siapa yang membelinya?”


“Ini hadiah dari Yasmin dan kekasihnya. Dia sekretarisnya Pak Edward dulu, sekarang, bosnya adalah kekasihnya,” terang Floryn.


“Dia kekasihnya Pak Edward?”


“Ish, bukan, dong … sekarang bosnya bukan Pak Edward lagi, perusahaan Bimasakti sudah diambil alih oleh orang lain. Rasanya aku sudah pernah menceritakan hal ini kepadamu, Sayang …,” aku Floryn.


“Mungkin aku yang lupa. Lalu … bukankah ini berlebihan?”


“Aku pun bilang begitu. Tapi Yasmin berkeras kalau hadiah itu untuk kita. Dan … tiketnya untuk keberangkatan malam ini. Apa Sayang tidak masalah?” Floryn takut jika mungkin Zoel punya rencana lain.


Tadinya, Zoel memang ingin membeli tiket bulan madu untuk mereka. Ia ingin membawa Floryn ke Paris untuk bisa melihat menara Eiffel. Namun, kedatangan kedua orang tuanya membuat rencana itu ia simpan untuk sementara. Akan tetapi, hadiah ini … mereka jelas tidak boleh melewatkannya.


“Tentu saja kita akan pergi. Walaupun sebenarnya aku punya rencana sendiri, anggap saja rencana itu untuk bulan madu kedua kita nantinya!”


“Eeem … apa tidak apa-apa kita pergi saat bapak dan ibu ada di rumahmu? Aku takut mereka tersinggung,” ungkap Floryn.


“Tenang saja. Mereka tidak akan mempermasalahkan hal itu. Aku yakin mereka paham karena sudah pernah muda. Kini giliran kita yang menikmati semua ini. Menjauhi masalah hidup untuk sementara.”


Zoel mendekati Floryn dan mencium bibir wanita itu dengan lembut. Lalu beralih ke puncak kepala istrinya.


Hari ini bergitu sempurna. Kenapa masih ada orang yang tidak bersyukur atas pernikahan yang ditakdirkan Tuhan untuk mereka?


Tamat!


(Akan lanjut ke Extra part untuk BULAN MADU mereka, ya!)

__ADS_1


__ADS_2