
Semoga kalian masih bertahan sampai judul ini tamat, ya. Tenang, gak akan lama lagi, kok :')
Selamat membaca ( *3*)
***
Floryn buru-buru datang ke rumah Zoel saat tanpa sengaja Widuri mengatakan keadaan abangnya. Tadi, Floryn hanya iseng saja menghubungi Widuri. Ia ingin tahu apakah abangnya sudah pulang ke rumah atau belum. Pasalnya, ia terlalu malu untuk menghubungi Zoel secara langsung.
Di depan kamar Zoel yang pintunya terbuka sebagian, Floryn menghentikan langkah. Di dalam sana, ada Zoel yang terbaring di atas tempat tidurnya. Laki-laki itu tidak tahu kalau ia akan datang. Zoel tertidur dengan lelap.
Tanpa Floryn sadari, sebulir air mata menitik melalui ujung netra. Ia tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Apakah semua ini ulah mantan suaminya itu? Kenapa Enrik bisa sekajam ini kepada orang lain?
“Apa kata dokter, Wi?” tanya Floryn kepada Widuri yang ada di sampingnya. Mereka bicara dengan suara pelan agar tidak membangunkan Zoel yang katanya baru saja tertidur.
“Untungnya, organ vital abang masih aman. Semua baik-baik saja. Tapi … ya gitu, seluruh tubuhnya dipenuhi bekas pukulan lebam dan luka,” ungkap Widuri.
Floryn menyeka air matanya. “Lalu ... apa kata polisi? Apa sudah ada tersangkanya?” tanya Floryn lagi.
Entah kenapa, ia yakin sekali kalau otak dari semua ini adalah Enrik. Setelah ia menolak upaya rujuk yang laki-laki itu usahakan, Enrik terlihat kesal.
“Tersangkanya utamanya ... suami ibu. Tapi … mereka belum bisa melakukan penangkapan karena surat pengadilannya belum turun. Beberapa polisi menjaga rumah ini, Bu. Saya yang memintanya. Saya hanya takut jika orang-orang itu kembali lagi dengan rencana yang lebih buruk,” terang Widuri.
Floryn menepuk punggung karyawannya. Ia tahu kalau hal ini merupakan sebuah cobaan berat.
“Kalau begitu … tolong kamu jaga dia baik-baik, ya … aku akan bicara dengan Mas Enrik. Aku akan memintanya untuk menghentikan semua ini. Sudah cukup aku saja yang terluka. Tidak perlu ada orang lain lagi …,” pinta Floryn kepada Widuri.
Mendengar hal itu, Widuri seperti kebingungan. Apa yang baru saja bos-nya katakan? Apakah laki-laki seperti suami bos-nya merupakan tipe yang mau mendengarkan? Sepertinya bukan.
“Bu? Apa yang akan ibu lakukan? Bicara? Apakah hal itu masih berguna?” tanya Widuri kurang yakin.
__ADS_1
Floryn mengangguk. “Kalau aku berjanji untuk kembali bersama di sisinya, dia akan menghentikan kegilaan ini. Setidaknya, sampai abangmu aman. Sampai cukup bukti dan polisi bisa menangkap Mas Enrik …,” terang Floryn.
Widuri tercengang dengan apa yang Floryn katakan. Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri? Bagaimana kalau suami bos-nya itu kembali menyakiti Floryn seperti sebelumnya? Bisakah Floryn bertahan?
“B-bu? Apakah Ibu yakin? Sungguh?”
Floryn mengangguk. ia yakin dengan keputusannya kali ini. Cukup dia. Jangan ada orang lain yang menjadi target amukan Enrik.
“Iya. Dan … tolong tidak usah bilang kalau aku ke sini. Nanti ia akan semakin kepikiran, oke?” tanya Floryn.
Widuri mengangguk kaku. Ia tidak tahu harus bagaimana. Menolak pun tidak punya hak. “Apa … ibu pulang sendirian?” tanya Widuri khawatir. Ia melihat jam yang menggantung di dinding kamar abangnya. “Sudah jam sembilan malam, Bu. Apa sebaiknya panggil taksi online saja?”
Floryn menggeleng. “Tidak perlu. Masih ada beberapa polisi yang menjagaku, kan?” Floryn mencoba menepis kekhawatiran karyawannya.
Widuri mengingatnya. Sudah hampir satu bulan sejak kejadian waktu itu. Namun penjahat yang membunuh teman bos-nya belum juga tertangkap. Entah apa yang polisi-polisi itu kerjakan, mungkin ada kasus yang masalahnya jauh lebih penting untuk diurus.
Floryn meninggalkan rumah Zoel dan Widuri. Akhirnya, ia hanya melihat laki-laki itu untuk memastikan jika Zoel tidak apa-apa. Pemuda itu terlihat kacau, tapi setidaknya saat ini ada di tangan yang tepat dan aman.
“Hallo?” sahut Enrik saat mengetahui siapa yang menghubunginya.
“Hallo, Mas. Kamu di mana? Aku mau bicara,” kata Floryn. Niatnya sudah bulat dan tidak ada yang akan menghentikan hal tersebut.
“Aku ada di rumah. Apa kamu ingin datang ke sini dan bicara padaku?” tanya Enrik yang sepertinya bisa mengetahui niat Floryn.
Floryn mengangguk. “Iya. Aku akan ke sana. Tapi, aku sendirian, Mas … Alvin sudah tidur,” ungkap Floryn dengan suara yang sedikit bergetar. Ada perasaan takut yang masih menguasai dirinya.
“It’s okey. Aku hanya memerlukanmu di sisiku, saat ini,” sahut Enrik.
Floryn menutup mata. Ia tahu kalau ia akan menyesali ini semua. Tapi saat mengingat apa yang Enrik bisa lakukan, nampaknya ia tidak punya pilihan lain. Mau mengancam mertuanya pun Floryn takut. Ia takut Edward terkena serangan jantung lagi dan meninggal karena masalah ini. Ia tidak ingin dihantui rasa bersalah seumur hidupnya.
__ADS_1
Semua ini adalah masalahnya dengan Enrik. Ia akan menyelesaikannya sendiri. Tidak ada Ambar, tidak ada orang lain. Hanya ia dan Enrik. Seharusnya semua bisa dibicarakan baik-baik. Ya, hanya sampai polisi menangkap laki-laki itu. Sampai hakim mendapatkan bukti yang bisa membuktikan kesalahan Enrik atas semua kejahatannya.
***
Tangan Floryn menekan bel rumahnya sendiri. Sudah lama ia tidak berada di sana. Bahkan, untuk mengambil pakaian saja, tidak. Floryn tidak ingin berurusan dengan Enrik, hingga hari ini.
Klek.
Pintu di depan Floryn terbuka lebar. Di hadapannya sudah ada Enrik yang menyambutnya dengan senyum merekah. Tangan laki-laki itu langsung terulur dan mendarat di pinggang Floryn.
“Masuk, Flo …,” ajak Enrik.
Floryn menurut dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia mengamati Enrik yang terlihat begitu senang. Entah apa yang sedang laki-laki itu pikirkan saat ini. Floryn hanya ingin segera masuk dan tidur di kamarnya sendiri.
“Trims, Mas …,” sahut Floryn seraya melangkah masuk. Ia langsung saja berjalan ke arah kamar tamu yang selalu kosong saat tidak ada orang lain di rumah itu.
“Aku senang kamu bisa datang, Flo …,” kata Enrik yang masih berjalan di belakang Floryn. Ia mengamati istrinya saat memperbaiki sprei di kamar tamu mereka.
“Mas, kalau boleh tahu, apakah kamu yang membayar orang untuk menyakiti temanku?” tanya Floryn to the poin. Ia tahu apa yang suaminya sanggup lakukan. Hal buruk itu salah satunya.
“Aku tidak membunuhnya, kan?” tanya Enrik mengejek.
Floryn menggelengkan kepala. “Please … berhenti menyakiti orang lain hanya karena aku, Mas. Hentikan semua yang kamu rencanakan,” pinta Floryn sungguh-sungguh.
Enrik duduk di salah satu kursi yang ada di sana. “Kalau kamu mau kembali ke sisiku, aku akan menghentikan semua aksi ini. Bagaimana, Flo? Hanya kita bertiga. Aku, kamu dan, Alvin.” Enrik terlihat begitu antusias.
Dengan ragu Floryn menganggukkan kepalanya. Berat, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
“Baiklah, Mas. Berjanjilah padaku dengan apa yang sudah kamu katakan …”
__ADS_1
Bersambung.