Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Membuatnya Malu? Melukainya?


__ADS_3

Mohon dukungannya, Semua. Mulai saat ini, author akan berusaha Up rutin setiap hari.


Terima kasih...


***


Brak!


Enrik membanting pintu mobil dan meninggalkannya begitu saja. Ia bahkan tidak memarkirkannya dengan benar. Kekesalan sudah memuncak di ubun-ubun. Langkahnya terasa berat, tapi ia ingin segera masuk dan mendinginkan kepala.


“Tuan sudah pulang …,” sapa Ambar yang baru saja muncul dari arah lantai dua.


Melihat kemunculan Ambar yang kemungkinan dari kamarnya, Enrik bertanya, “Apa yang kamu lakukan di atas? Kamu masuk ke kamarku?”


Ambar yang tadinya tersenyum, kini telah berubah. Ia tahu jika tuannya sedang mengalami hari yang buruk. Salah bicara, Enrik akan murka padanya.


“Eem … saya hanya membersihkan kamar, Tuan …,” sahut Ambar yang lebih seperti pembantu ketimbang selingkuhan Enrik.


Mata panas Enrik menatap sosok itu dari atas hingga ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Enrik mencekal tangan wanita itu dan menariknya menuju ke arah tangga. Ia membawa Ambar masuk ke dalam kamarnya dan Floryn.


“Tuan … apa Tuan menginginkannya?” tanya Ambar ragu. Bukannya tadi laki-laki itu terlihat sangat marah?


“Ya, aku menginginkannya! Aku menginginkannya melebihi apa pun!” sahut Enrik seraya mendorong Ambar hingga wanita itu jatuh di atas tempat tidur.


“Apa—”


“Diam! Jangan bicara apa-apa. Kamu adalah wanita pemuasku, bukan?” tanya Enrik kemudian.


Ambar yang tadinya ingin menawarkan diri untuk melayaninya dengan baik, mengurungkan niatan itu. Rupanya ada emosi yang masih menguasai pikiran Enrik. Pada saat seperti ini, ia hanya bisa menurut. Dari pada terluka, lebih baik diam.


Sebuah anggukan membuat Enrik tersenyum. Tanpa menunggu lama, ia melepaskan seluruh pakaiannya sendiri dan naik ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Dengan kasar Enrik menarik lepas pakaian Ambar hingga kancingnya terlepas. Terbukalah sudah pengaman yang menutupi bukit berisinya. Dengan susah payah, Enrik menelan saliva. Ia tahu kalau wanita di hadapannya tidak akan pernah mengecewakan.


Lihat wanita itu, ia bahkan tidak mengenakan dalaman saat bekerja di rumah. Apakah karena tidak ada pembantu laki-laki di sekitarnya?


“Akh, Tuan … kamu begitu bersemangat …,” lirih Ambar yang matanya selalu di manjakan dengan tubuh Enrik yang kekar dan sedikit berbulu.


“Jangan panggil ‘Tuan’, apa kamu lupa, hhmm?” tegur Enrik dengan tangan yang sudah sibuk di kedua bukit Ambar yang begitu menantang untuk dijamah. Ia begitu tergila-gila dengan kedua benda itu. Seperti ada sesuatu yang membuatnya kepikiran.


“Yeaah … Sayang … aku lupa,” katanya singkat. “Lalu … apa yang membuatmu begitu marah dan bersemangat?” tanya Ambar yang merasa sudah bisa bicara dengan leluasa. Kemarahan Enrik tadi sudah tidak terlihat, tergantikan dengan keinginan yang tidak akan bisa ia tahan.


Sebelum menjawab pertanyaan itu, Enrik mendekatkan wajah mereka dan mulai menyatukan saliva mereka berdua. Menikmatinya hingga Ambar harus berusaha ekstra sekedar untuk mendapatkan napas.


“Aaah ….” Suara Ambar terlepas ketika penyatuan itu berakhir.


“Wanita yang melahirkan anakku, baru saja bertemu dengan seorang laki-laki. Aku kesal karena ia sangat licik! Di depan anak dan keluarganya berlagak sangat suci … tapi kelakuan Floryn di belakang mereka … tidak ubahnya wanita penggoda …,” jelas Enrik di dalam kekesalannya.


Otak licik Ambar bereaksi dengan penjelasan itu. Entah kenapa, ia ingin sekali membuat mantan majikannya yang satu itu mendulang malu. Dengan begitu, rasa sakit hatinya akan terbayarkan sedikit demi sedikit.


“Apa … Sayang marah?” tanya Ambar basa-basi.


Ambar tersenyum. Ia tahu majikannya marah, tapi tidak ingin mengakuinya. Laki-laki itu terlalu gengsi.


“Bagaimana jika saya melakukan sesuatu untukmu, Sayang?” tanya Ambar basa-basi. “Aakh!” Tiba-tiba saja wanita itu tersentak kaget saat dengan tanpa pemberitahuan, Enrik menghujamkan miliknya dengan satu kali dorongan hingga terbenam dengan sempurna. “Sayaaang ….”


“Milikmu semakin sempit. Kamu begitu pandai menjaganya …,” bisik Enrik saat wanita di bawahnya tidak bisa berkata-kata lagi. Ambar hanya bisa tersenyum dan merangkulkan kedua tangannya di bahu Enrik. Lupa dengan apa yang ia tawarkan tadi. Kini ia lebih fokus dengan rasa yang tercipta di pusat dirinya. Tidak tahu bagaimana, Enrik pandai sekali membuatnya ingin sampai dengan cepat.


“Semua ini untuk Sayangku … bagaimana aku tidak menjaganya?” tanya Ambar kemudian.


Enrik mengambil tangan Ambar yang tadi merangkulnya, dan menahannya di atas kepala wanita itu. Ia berhasil menguasai tubuh polos itu atas dan bawah. Ia suka saat mendapatkan apa yang ia mau.


“Kamu bilang akan melakukan sesuatu untukku? Apa itu? Apa kamu punya rencana untuk membuat mantan istriku malu?”

__ADS_1


“Aakkh … terserah Sayang. Apa pun yang Sayang inginkan. Mengganggunya? Membuatnya malu? Atau bahkan melukainya …,” tawar Ambar yang sejatinya sudah tidak bisa berpikir jernih. Ia tengah menikmati dorongan-dorongan yang diberikan Enrik padanya.


“Baiklah … kalau begitu, kita akan bicarakan itu nanti. Saat ini … kamu hanya harus melayaniku, Sayang ….”


***


Sementara itu di tempat lain, Floryn baru saja mengakhiri panggilan dengan polisi yang tadi pagi datang ke rumah.


Petugas polisi itu menjelaskan kalau besok Floryn sudah bisa melakukan proses pemakaman untuk almarhumah Cika.


Tentu saja hal itu sangat baik. Orang yang sudah meninggal tidak boleh terlalu lama ditahan jasadnya. Apalagi, ayah Cika di kampung juga sudah memberikan amanah pada Floryn untuk melakukan yang seharusnya. Sayang sekali, orang itu tidak bisa hadir karena juga sedang sakit.


Lalu, hasil yang polisi-polisi itu dapatkan tidak mengejutkan Floryn sama sekali. Rupanya, Jack memberikan racun yang sama pada kedua orang itu. Dia begitu tidak professional sebagai pembunuh, tapi sangat pandai sebagai pencuri.


Jack berhasil memindahkan seluruh harta Herman yang ada di bank. Bermodalkan HP dan laptop kantor milik Herman, serta semua tanda pengenal yang bisa ia dapatkan dengan mudah.


Kata polisi-polisi itu, Jack terlacak ada di Yogya saat ini. Hal itu membuat Floryn sedikit bernapas lega. Setidaknya, orang itu tidak berpikir untuk menemuinya sekedar untuk menyapa.


“Nak …,” panggil Martha yang muncul dari arah pintu samping. Sepertinya, ia baru saja mengurusi lusinan kembangnya seperti biasa. Lalu muncul Alvin di belakang Martha, dengan sebuah sekop plastik di tangan.


“Iya, Bu?” sahut Foryn yang kemudian berdiri dan menyimpan HP-nya di saku celana.


“Jadi, besok jasadnya akan langsung dimakamkan?” tanya Martha memastikan.


“Iya, Bu. Kata Mas Budi, mereka akan mengurus jasad Cika sekalian. Menguburkan mereka berdampingan …,” jelas Floryn.


Budi adalah adik dari almarhum Herman. Kebetulan ia sudah datang tadi sore dan sudah mempersiapkan semuanya. Laki-laki itu menyiapkan segalanya sebelum polisi melepaskan jasad pasangan itu pada pihak keluarga. Ia begitu cekatan.


Almarhum Herman sendiri hanya memiliki Budi sebagai adiknya. Laki-laki itu telah menikah dan memiliki dua orang anak. Istri dan anak-anaknya juag ia bawa serta. Saat ini mereka akan tidur di rumah Almarhum Herman dan Cika. Kalau Floryn tidak salah ingat, mereka akan menjual rumah itu dengan cepat.


“Kasihan temanmu, Nak … ibu harap … pelakunya segera tertangkap.”

__ADS_1


“Iya, Bu. Semoga saja begitu ….”


Bersambung.


__ADS_2