Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Kabar Duka


__ADS_3

Hai, Kakak semua ...


Boleh dong, author minta dukungannya lagi. Gimana mau semangat nulis kalau kalian jarang komentar, kirim gift, atau vote. Hehehe... jangan sungkan berbagi pada author yang memerlukan, ya. Like-nya juga jangan lupa.


Terima kasih <3


***


Lagi-lagi HP Floryn bordering sebentar dan kembali mati seperti sebelumnya. Dengan agak kesal ia mengambil benda pipih itu dan melihat layarnya.


“Ini Cika kenapa, sih? Eh … tunggu dulu … bukannya waktu itu juga, pesan yang kudapatkan dari Cika, ya? Tapi … bagaimana dia tahu ini nomorku? Aku memang menyimpan data kontak yang ada di ponselku dalam penyimpanan online. Seharusnya tidak ada yang tahu nomor ini, kan?” tanya Floryn kepada dirinya sendiri.


Memikirkan hal itu membuat Floryn menyadari semuanya. Untung saja ia tidak langsung menghubungi balik nomor itu, kalau tidak, siapa pun itu pasti langsung yakin kalau nomor itu nomor Floryn


Floryn memilih untuk memblokir nomor itu untuk menjamin keamanannya sendiri. Ia tidak ingin terlupa dan berakhir dengan kesialan yang kembali menghampiri dirinya.


Setelah yakin kalau nomor itu berhasil diblokir, Floryn kembali ke dalam pekerjaannya. Ia ingin menyelesaikan semua itu dengan cepat, agar bisa pulang lebih awal. Tidak ada larangan untuk Floryn jika mau pulang lebih awal. Hanya saja, ia tidak ingin pekerjaannya tertahan hingga berhari-hari.


***


Beberapa menit setelah Floryn berhasil memblokir nomor yang meresahkannya, sebuah panggilan kembali masuk. Kali ini panggilan itu berasal dari ibunya.


Tanpa berpikir lama, ia menjawab panggilan itu.


“Iya, Bu?” sapa Floryn sebelum Martha bicara.


“Nak! Tadi ibu mendapat telepon dari kantor polisi … katanya ….” Ada jeda lama ketika Martha mengatakan hal itu.


Tentu saja Floryn menjadi sangat penasaran. Kenapa ada telepon dari kantor polisi? Apa ada hubungannya dengan laporan yang tadi pagi baru saja ia masukkan?


“Katanya apa, Bu?” tanya Floryn tidak sabar.


“Katanya mereka menemukan Cika meninggal di rumahnya, Nak … begitu juga dengan suaminya …,” terang Martha.


Nyeeess ….


Jantung Floryn terasa lolos sampai ke kaki. Begitu juga dengan HP yang sudah lepas dari genggamannya dan terjatuh di atas pangkuan.

__ADS_1


“Nak? Nak? Kamu baik-baik saja?” tanya Martha saat tidak mendengar suara putrinya lagi.


Sedangkan Floryn, ia masih terdiam kaku karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Tidak percaya. Ya, hanya itulah yang ia rasakan saat ini. Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi pada sepasang suami istri itu?


Dengan lemah, Floryn kembali mengambil HP-nya dari atas pangkuan.


“B-Bu ... apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Floryn memastikan.


“Nak … kata polisi, mereka berdua terbunuh. Kemungkinan besar ... keracunan …,” terang Martha.


Sebulir titik air mata mengalir ke pipi. Floryn tahu hubungannya dengan Cika tidak baik beberapa minggu belakangan. Namun, kematian merupakan hal terakhir yang pernah Floryn pikirkan, akan terjadi pada salah satu diantara mereka.


Panggilan itu ia akhiri. Dengan lemas, Floryn menyusun file yang tidak jadi ia garap. Ia lebih memilih untuk pulang dan mungkin pergi ke kantor polisi jika dibutuhkan.


Floryn kembali mengingat nomor yang tadi menghubunginya. Apakah semua itu pertanda akan hal buruk yang telah terjadi?


***


Tiiiiinnn!!


“I-Iya, Bu?” tanya Floryn saat mengetahui kalau polisi yang membawa motor itu adalah seorang wanita.


“Apa ibu baik-baik saja? Kenapa tidak menjalankan mobil? Kemacetan akan terjadi jika ibu tidak bergerak,” jelas polwan itu dengan suara yang agak nyaring.


Mendengar penjelasan itu, Floryn mengalihkan pandangannya ke arah spion. Ternyata benar, di belakangnya ada antrian panjang mobil yang terlihat sudah tidak sabaran.


Pandangannya kembali ke depan dan melihat jika lampu hijau saja sudah akan kembali menjadi merah.


“Iya, Bu. Saya akan jalan.”


“Tolong maju dan menepi di bahu jalan. Saya perlu melihat surat-suratnya,” kata polwan itu lagi.


Floryn mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan padanya. Dengan cepat ia mengganti gigi dan menjalankan mobil.


Setelah menepi dan turun dari dalam mobilnya, Floryn diminta untuk memperlihatkan STNK dan SIM. Begitu juga dengan KTP Floryn.

__ADS_1


Floryn memberikan semua yang polisi wanita itu minta.


“Apa Anda baik-baik saja? Apa Anda mabuk?” tanya polisi itu dengan curiga.


Floryn menggeleng dengan pasti. “Tidak, Bu. Saya … saya hanya baru saja mendapat kabar yang mengerikan. Saya masih tidak percaya hal itu telah terjadi …,” ungkap Floryn.


“Baiklah kalau begitu. Sebaiknya Anda memanggil seseorang untuk menjemput Anda, atau Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum saja. Anda terlihat tidak siap untuk mengendarai mobil sendirian,” terang polwan yang ternyata bernama Sarah. Tertera di name tag pada seragamnya.


“Tapi … rumah saya sudah sangat dekat. Ada di dalam kompleks itu, Bu. Saya janji akan pulang dengan selamat!” terang Floryn yang tidak ingin tertahan lebih lama di sana.


Akhirnya, setelah negosiasi singkat yang terjadi di antara keduanya, Floryn kembali melajukan mobil. Kali ini, polwan itu mengiringi dari belakang. Hanya memastikan agar Floryn tidak berhenti lagi dan kembali menyebabkan kemacetan.


Sesampainya di rumah, Floryn langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Di sana masih ada beberapa teman Martha yang belum pulang. Mungkin mereka masih ngobrol tentang beberapa hal.


“Bu?” panggil Floryn saat tidak bisa menemukan ibunya.


“Ibumu ada di kamar. Katanya mau melihat keadaan Alvin. Tadi anakmu itu ketiduran …,” terang salah satu teman Martha yang terlihat masih menikmasti sajian yang masih ada.


Mendengar penjelasan itu, Floryn langsung pergi ke kamar ibunya. Ia ingin bertanya kenapa para tamu belum pulang, padahal sudah jam setengah tiga dan acara harusnya sudah selesai.


“Bu?” panggil Floryn seraya membuka pintu kamar ibunya.


“Iya, Nak …,” sahut Martha dengan suara gemetar.


“Bu … kasihan Cika …,” lirih Floryn yang langsung saja masuk ke dalam pelukan hangat ibunya.


“Yang tabah, Nak … ibu tahu dia teman baikmu sudah sejak lama … makanya ibu langsung mengabarimu saat polisi tadi mengabari ibu …,” jelasnya.


“Apa mereka menghubungi HP ibu?”


“Tidak. Mereka menelpon ke telepon rumah. Katanya, mereka mendapat nomor rumah ini di HP Herman,” jelasnya lagi.


“Bu, apa mereka … meminta Floryn untuk ke sana? Lalu … apa mereka sudah memberikan informasi ini kepada orang tua Cika? Orang tuanya ada di kampung, kan …,” lirih Floryn. Ia merasa sedih saat mengingat ayah Cika yang sudah sangat tua di kampung sana.


“Katanya, nanti mereka akan datang untuk meminta keterangan darimu. Lalu … untuk ayahnya Cika, sepertinya mereka masih tidak bisa menjangkau orang itu. Mereka meminta ibu untuk mengabarinya jika bisa,” terang Martha.


Kepala Floryn menjadi semakin sakit. Ia tahu kalau ibunya tidak akan bisa menyampaikan kabar itu kepada ayahnya Cika. Lalu, ia lah yang akan melakukan hal itu. Sungguh suatu perkara yang berat.

__ADS_1


“Baiklah, Bu. Nanti kita coba hubungi Om Bagus sama-sama. Semoga saja, ia tidak punya penyakit jantung, seperti yang Floryn takutkan …”


Bersambung.


__ADS_2