Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Salah Lihat Saja


__ADS_3

Enrik dan Ambar keluar dari supermarket tersebut dengan hati berbunga-bunga dan puas. Keduanya tidak peduli lagi dengan hal lain dan mengakui jika apa yang mereka lakukan itu adalah suatu hal yang salah dan begitu rendah. Yang ada di dalam pikiran mereka adalah mencari kepuasan dan kenikmatan saja.


Bahkan Endrik merangkul wanita itu itu seperti kemesraannya dulu bersama Floryn.


Keduanya berjalan menuju mobil Enrik yang sudah menunggu di lahan parkir. Setelah meletakkan hasil belanjaan di jok belakang, keduanya masuk ke dalam mobil.


“Tuan, memangnya kita mau ke mana, sih?” tanya Ambar yang merasa jika tuanya itu bahagia sekali.


“Ke Bogor …,” sahutnya dengan santai.


“Iya, saya tahu kita akan ke Bogor, maksudnya … ke Bogor itu ngapain? Mau main aja jauh banget …,” ungkap Ambar sekedar basa-basi. Sebenarnya ia suka dengan ajakan itu. Tandanya Enrik menaruh perhatian lebih untuknya. Bahkan laki-laki itu sampai meninggalkan Floryn dan anaknya untuk mengajaknya jalan. Seketika Ambar merasa spesial.


“Biar puas. Kalau tetap di Jakarta, aku akan was-was. Takut jika ada yang melihat dan melaporkan semuanya kepada ayahku atau Floryn …,” ungkap Enrik.


“Eem … bagaimana kalau Tuan Edward sampai mengetahui hal ini, Tuan?” tanya Ambar yang mungkin saja baru memikirkannya saat ini.


“Tahu? Tidak mungkin … Floryn yang tinggal dengan kita saja tidak mengetahuinya. Bagaimana bisa ayahku tahu? Kalau dia sampai tahu, pasti kamu yang memberitahukannya …,” terang Enrik seraya menyubit gemas dagu pembantunya itu. Memuakkan.


“Ih … Tuan … untuk apa saya mengadu? Saya juga suka, kok …,” ungkapnya malu-mala. Padahal tidak tahu malu.


Enrik kembali fokus dengan jalanan di depan sana. Sedangkan Ambar, ia mencoba untuk memejamkan mata atas perintah Enrik. Laki-laki itu mau Ambar tidak kelelahan setelah nanti sampai di tempat tujuan mereka.


Ambar mengalihkan pandangan ke arah kiri, menikmati pemandangan yang berbaris rapi di sana. Sampai sebuah bus Trans lewat dan membuatnya pucat seketika.


“Nyonya Floryn? Apa yang orang itu lakukan di dalam bus?” tanya Ambar di dalam hati. Ia berniat mengatakannya kepada Enrik, tapi Ambar tidak mau jika rencananya untuk bersenang-senang di Bogor sampai batal. Masalahnya … bagaimana jika ternyata nanti mereka sampai bertemu dengan Floryn secara tidak sengaja? Semua yang mereka sembunyikan akan langsung ketahuan. Pasti akan ada perang besar.


“Tu-tuan … sepertinya tadi saya melihat Nyonya Floryn …,” ungkap Ambar dengan sedikit ragu.


Hal itu membuat Enrik kehilangan senyuman yang sejak tadi membingkai wajahnya. “Kamu ini bicara apa? Aku tidak melihat mobil Floryn sejak tadi. Kamu menghayal, ya?” selidik Enrik.

__ADS_1


Ambar menggelengkan kepala. “Tidak, Tuan. Nyonya ada di dalam bus itu …,” kata Ambar seraya menunjuk ke arah bus Trans yang sudah melewati mereka.


“Ambar … Ambar … apa kamu sangat takut ketahuan hingga menghalu seperti itu? Tidak mungkin istriku ada di dalam sana. Ia sedang di rumah ibunya untuk menjaga Alvin,” sahut Enrik dengan sangat yakin.


“Tapi, Tuan ….”


“Apa kamu melihatnya dengan jelas?” tanya Enrik. Lalu Ambar menganggukkan kepala.


“Apa ia juga melihat ke arahmu?” tanya Enrik lagi. Namun kali ini Ambar menggelengkan kepalanya.


“Oke ….” Enrik menepikan mobilnya di bahu jalan yang kebetulan mereka lewati. Ia mengambil HP-nya dan langsung mencoba untuk menghubungi Floryn. Akan tetapi, ia membatalkan niatan itu. Enrik memilih untuk menghubungii orang lain yang pasti tahu di mana Floryn saat ini.


Tidak lama setelah Enrik melakukan panggilan, seorang wanita menjawabnya.


“Hallo …,” sapa Martha di ujung panggilan.


“Dia sedang makan sereal. Apa kamu ingin bicara denganya?” tanya Martha yang selalu tenang seperti biasa.


“Ah, tidak usah, Bu. Saya lagi di jalan … hanya ingin memastikan saja. Kata Floryn, semalam ia mengigau, benar, Bu?” tanya Enrik penasaran.


“Mengigau? Tidak hanya mengigau … anakmu ini juga menangis terus mencari bundanya. Untung saja Floryn masih bangun dan mau datang ke sini padahal sudah tengah malam …,” jelas Martha yang kali ini harus berbohong demi anaknya sendiri.


Ya, Floryn telah menceritakan semuanya kepada wanita itu. Tidak ada yang ia sembunyikan kecuali perselingkuhan Enrik dan Ambar. Ia ingin bukti sebelum mengatakan semua itu di depan ibu dan mertuanya.


“Ah … ternyata begitu … lalu, bisakah saya bicara dengan Floryn, Bu?” tanya Enrik yang ingin memastikan lagi jika sang istri memang ada di rumah ibunya.


“Floryn? Sebentar, ya … Floryn … Floryn Nak … ini suamimu menghubungi.” Martha berteriak seakan memanggil sang anak. Padahal ia tahu jika Floryn sedang tidak ada di sana.


Sementara itu, Enrik merasa jika Ambar pasti sudah salah lihat. Saat ia masih menunggu suara Floryn terdengar, seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya. Sosok itu sepertinya sangat ingin mengatakan sesuatu.

__ADS_1


“Bu. Nanti saya telepon lagi. Saya harus pergi,” kata Enrik buru-buru. Ia tidak menunggu jawaban mertuanya dan langsung saja mengakhiri panggilan.


Dengan cepat Enrik membuka sedikit kaca jendela mobilnya. Orang di luar itu seperti akan mengatakan sesuatu.


“Ada apa?” tanya Enrik seraya memperhatikkan laki-laki necis itu dengan seksama.


“Tuan, apa Tuan mau membeli cokelat ini? Tuan sedang jalan dengan kekasihnya, kan? Wah … cokelat ini cocok sekali untuk diberikan kepada kekasih Tuan itu …,” kata orang tersebut mulai mengobral.


Ternyata orang yang Enrik kira ingin mengatakan sesuatu hal penting, malah menjajakan jualan yang tidak Enrik sadari sejak tadi.


Kekesalan langsung saja memenuhi dada Enrik. Dengan kasar Enrik membuka pintu mobilnya sehingga mengenai tubuh laki-laki itu.


“Aduh!” pekiknya yang sudah jatuh terduduk di atas aspal basah. Ya, gerimis yang turun sejak beberapa saat lalu membuat jalanan mulai basah.


Enrik kembali menutup pintu mobilnya dengan kasar pula. "Brengsek! Aku kira ada hal penting apa!” tukas Enrik seraya melajukan kembali mobilnya meninggalkan penjual cokelat tadi. Ia tidak peduli jika orang itu terluka sekali pun.


Dari tempatnya duduk, Ambar hanya bisa melihat penjual itu mengomel di belakang mereka. Ia tidak ingin berkomentar karena takut Enrik malah marah padanya.


“Sudah. Aku sudah memastikan kalau istriku ada di rumah ibunya. Jadi, jangan mengatakan hal lain yang tidak masuk akal. Kamu bisa saja merusak mood-ku hari ini!” tukas Enrik dengan pandangan tegas ke arah jalan.


Menyadari jika majikan sekaligus kekasihnya marah, Ambar mengambil tangan Enrik yang stay di atas persneling dan membawanya ke atas bukit kembarnya yang sebelah kanan. Menekannya di sana agar kemarahan Enrik mereda.


“Bukankan ia bisa membuat kemarahan Tuan mereda?” tanya Ambar yang tiba-tiba kembali merasa ingin pada pusat dirinya.


“Sudahlah, Bar … kita tidak akan bisa sampai ke Bogor jika kamu terus melakukan hal ini …,” lirih Enrik yang sudah tidak terdengar marah lagi. Laki-laki itu kini terdengar kembali lembut.


“Hhhmm … makanya Tuan jangan marah-marah terus … kalau tidak, saya tidak akan berhenti melakukan hal ini di sepanjang perjalanan kita ….”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2