Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Pengadilan Negeri


__ADS_3

Hari ini Floryn tidak pergi ke kantor. Ia berencana untuk pergi ke Pengadilan Negeri mengurus kasus perceraiannya.


Sebenarnya, Floryn takut meninggalkan ibu dan anaknya di rumah berempat saja dengan pembantu dan satpam. Ia takut Enrik datang dan mengacau.


Akan tetapi, ia tidak punya pilihan lain. Floryn ingin segera menyelesaikan perceraiannya dengan Enrik dan pergi jauh-jauh dari kehidupan orang itu.


"Sebaiknya kamu cepat, Nak, hari ini masih hari kerja yang super sibuk, pasti akan ada banyak orang yang mengantri untuk dilayani di sana," terang Martha kepada anak tunggalnya, Floryn.


Memang sedih saat mengetahui jika rumah tangga anak terkasih tidak lagi bisa dipertahankan, tapi Martha tidak ingin menjadi egois dan mengorbankan kepentingan anaknya sendiri.


Saat ini Alvin belum memahami dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya dan mereka akan menjelaskan hal itu pelan-pelan. Mereka hanya bisa berharap jika Alvin mengerti dan tidak menyalahkan siapa-siapa.


"Ya, Ibu benar ... sebaiknya Floryn segera berangkat, tapi please, Bu ... kalau Mas Enrik datang, jangan biarkan dia masuk. Soalnya ... Floryn takut kalau dia menjadi nekat," pinta Floryn.


Martha mengangguk setuju. "Iya ... nanti Ibu juga berpesan kepada Asep untuk tidak membukakan pintu kecuali atas ijin Ibu." Martha meyakinkan anaknya.


Setelah cukup yakin semuanya akan baik-baik saja, Floryn berangkat ke Pengadilan Negeri. Semalam ia sudah mencari tahu apa saja yang dibutuhkan untuk mengajukan gugatan terhadap suaminya.


Dan pagi ini, Floryn pergi membawa semua berkas-berkas yang dibutuhkan, termasuk dengan video perselingkuhan Enrik yang sudah ada di dalam HP-nya. Ia hanya bersiap, mana tahu saja pihak pengadilan menginginkan bukti atas perselingkuhan yang sedang dilaporkan Floryn. Mungkin akan memalukan, tapi ia tidak punya pilihan lain selain berpisah.


Saat Floryn pergi tadi, Alvin masih tidur di kamar neneknya. Dia tidak ingin membangunkan anak itu, karena semalam Alvin bermain hingga cukup larut. Floryn terlalu fokus dengan berkas-berkas yang ia siapkan, hingga lupa menemani anak itu pergi tidur.


***


Saat Baru saja sampai di depan kantor Pengadilan Negeri, dua buah pesan masuk bersamaan.


Floryn buru-buru membukanya karena takut jika mungkin pesan itu berasal dari sang ibu. Mungkin ada hal yang mendesak. Akan tetapi tebakannya salah, kedua pesan itu berasal dari Widuri yang mengabarkan jika ia minta ijin tidak masuk kerja, karena harus membawa pulang abangnya dari rumah sakit.


Floryn membalas pesan itu dengan cepat dan menjelaskan jika ia juga tidak masuk kerja. Ia juga memberikan ijin kepada wanita itu.

__ADS_1


Setelah menyimpan ponselnya, Floryn turun dari mobil dengan berkas-berkas yang sudah siap di dalam map. Di dalam tas kecilnya, ada HP dan dompet yang tidak pernah ketinggalan untuk dibawa.


Sebelum masuk ke dalam gedung Pengadilan Negeri, Floryn melihat pantulan dirinya di pintu gedung yang terbuat dari kaca. Rambut hitamnya yang biasa tergerai, kini ia gulung agar terlihat lebih rapi.


Floryn juga menggunakan setelan terbaiknya agar bisa terlihat meyakinkan, di depan orang-orang yang ada di sana.


Setelah sudah cukup puas dengan penampilannya sendiri, Floryn membuka pintu di depannya dan masuk tanpa ragu.


Floryn langsung memasukkan berkasnya untuk menunggu antrian. Selama beberapa saat, ia hanya memperhatikan orang-orang yang ada di sana.


Untungnya tidak terlalu banyak yang datang pada hari itu, sehingga ia bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat.


Floryn tahu jika urusannya tidak akan selesai dalam satu atau dua hari saja, tapi tekadnya sudah bulat, ia tidak akan mundur dari urusan tersebut.


Setelah menunggu empat nomor antrian, akhirnya mereka memanggil Floryn. Floryn sudah siap, ia akan mengakhiri hubungan mereka.


***


Ada sedikit rasa lega di hatinya, semua itu akan sempurna setelah masalahnya benar-benar selesai. Saat ia resmi berpisah dengan Enrik.


Floryn mengeluarkan HP-nya untuk mengecek waktu saat ini. Ternyata masih jam sepuluh pagi. Ia terpikir untuk langsung pergi ke kantor karena pekerjaannya memang tidak boleh ditinggal terlalu lama. Floryn khawatir jika Edward malah memecatnya karena kinerja yang tidak baik.


Mobil Floryn beranjak keluar dari halaman gedung Pengadilan Negeri. Ia masih kurang percaya jika sudah berhasil melaporkan perselingkuhan suaminya ke dalam tahap yang lebih lanjut.


Dalam perjalanannya menuju ke kantor, Floryn memutuskan untuk menghubungi Martha, ibunya. Ia khawatir ibunya akan mengira Floryn akan langsung pulang dan kemudian malah menungguinya.


Saat baru saja mengeluarkan HP, dari arah berlawanan terdengar suara sirine ambulans yang memekakan telinga. Sebelum ambulans itu lewat di sampingnya, ada sebuah mobil polisi yang bertugas untuk membuka jalan.


Floryn hanya bisa melihat kedua mobil tersebut sambil menunggu panggilan yang ia lakukan terhadap ibunya terhubung.

__ADS_1


"Hallo ...." Suara Martha memecah lamunan Floryn. Itu adalah sapaan kedua Martha karena Floryn ternyata cukup fokus dengan suara sirine ambulans yang masih terdengar dari kejauhan.


"Ah, iya, Bu. Bagaimana keadaan kalian? Baik-baik saja, kan?" tanya Floryn memastikan.


"Ibu tidak apa-apa. Begitu juga dengan Alvin. Oh ya, ibu lupa bilang kepadamu, kalau siang ini di rumah ada arisan ibu-ibu kompleks. Dengan begitu, kamu tidak perlu khawatir karena akan ada banyak orang di rumah." Martha melupakan hal itu. Ia baru mengingatnya lagi saat ibu RT yang juga merupakan bendahara arisan, menghubunginya beberapa saat lalu.


"Wah ... kebetulan sekali, Bu. Kalau begitu, tidak masalah jika Floryn langsung pergi ke kantor, kan? Urusan Floryn di pengadilan selesai lebih cepat, jadi ... Floryn akan kembali kantor. Bagaimana?" Floryn meminta keputusan dari ibunya dulu. Kalau ibunya tidak mengizinkan, Floryn akan langsung pulang.


"Ya ... kalau kamu yang mau ke kantor, kamu jaga diri di sana. Mana tahu saja, nanti kamu bertemu dengan Enrik dan dia mulai membuat masalah lagi."


"Iya, Bu. Semoga saja Mas Enrik tidak berpikir untuk membuat kekacauan di depan banyak orang," tambah Floryn.


Panggilan itu berakhir. Floryn kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor yang jaraknya tidak cukup jauh.


***


Setelah memarkirkan mobil di tempat parkir yang khusus dibuat untuk dirinya, Floryn membuka dashboard mobil dan mengambil beberapa peralatan make up yang tersedia di sana.


Ia sengaja tidak menggunakan make up tadi pagi. Untuk ke pengadilan, ia hanya menggunakan alas bedak dan lipstik yang tipis. Berbeda saat ia akan pergi ke kantor. Floryn harus terlihat lebih segar, sehingga ia kembali menambahkan bedak, lipstik, dan eyeliner. Make-up itulah yang membuat Floryn dipandang tegas oleh staff-staffnya. Floryn hanya ingin menegaskan tema 'I am the Boss' saat di kantor.


Sebelum sampai ke ruangannya sendiri, Floryn melihat meja kerja Widuri. Di atasnya terdapat tumpukan file yang menggunung. Karena staffnya yang lain sedang sibuk bekerja, jadi Floryn langsung mengambil tumpukan file itu dan membawanya ke dalam ruang kerjanya sendiri.


Sesaat setelah masuk dalam ruang kerjanya, ia langsung meletakkan tumpukan file tadi di atas meja tamu. Ia berniat untuk langsung mengerjakan semua itu agar tidak ada penundaan pekerjaan. Pekerjaannya sendiri juga sudah beres sejak kemarin lusa. Masih belum ada laporan yang harus ia kirim atau tandatangani lagi saat ini.


Baru saja Floryn akan berdiri untuk pembuat kopinya sendiri, terdengar ponselnya berdering dua kali lalu mati. Hal itu terjadi hingga dua kali. Tentu saja hal itu memancing rasa penasaran. Floryn mengira, mungkin orang itu salah panggil atau memang hanya ingin mengganggunya saja. Jika begitu, ada beberapa nama yang terlintas di kepalanya saat ini.


Namun, pemikiran itu langsung buyar saat melihat siapa yang baru saja mencoba untuk menghubunginya.


"Cika? Untuk apa lagi dia menghubungiku?" []

__ADS_1


__ADS_2