Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Tidak Ingin Menyerah


__ADS_3

Sebelum masuk ke ceritanya, saya hanya berharap semoga episode-episode terakhir yang akan segera ditulis, bisa memberikan pelajaran-pelajaran berharga untuk kita. Mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang seharusnya, mana yang tidak sepatutnya. Ingat, manusia itu makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendirian. Tidak ada salahnya sesekali menyusahkan orang lain.


Selamat membaca (っ◞‸◟ )


***


“TOLONG!!” pekik Floryn setelah akhirnya berhasil menyingkirkan sapu tangan yang mengikat mulutnya. “TOLONG!” teriakan demi teriakan menggema di ruangan yang mulai dipenuhi oleh kobaran api.


Kenapa seperti tidak ada yang mendengar teriakannya, padahal Floryn sudah berteriak cukup keras?


“Uhuk! Uhuk!” Floryn terbatuk karena asap yang semakin tebal. Sudah sejak dulu, Floryn tidak pernah tahan dengan yang namanya asap. Entah itu asap kendaraan, asap rokok, atau asap pembakaran seperti ini. Mata dan hidungnya akan langsung perih. Paru-parunya terasa penuh dengan hal tersebut dan rasanya sakit.


Mata Floryn terus-terusan berair. Pandangannya mulai kabur. Ia tidak sanggup lagi ….


***


“Bim … itu mobil Floryn, Bim!” seru Zoel saat mereka berselisih jalan dengan sebuah mobil yang sangat Zoel kenal.


Bima balik badan untuk melihat mobil yang di maksud. “Kamu yakin, Zoel?” tanya Bima memastikan.


“Iya! di mobil Floryn ada stiker custom yang modelnya cukup absurd! Sebaiknya aku putar balik dan mengejarnya!” seru Zoel yang mengira mungkin Floryn ada di dalam mobil itu dengan nyawa yang terancam.


Akan tetapi, sesaat sebelum Zoel berhasil putar balik, mereka berdua melihat kepulan asap yang masih terlihat samar.


“Kebakaran, Zoel! Sebaiknya aku menghubungi pemadam untuk datang ke tempat itu!” seru Bimo yang langsung saja mengeluarkan HP dari dalam saku celananya.


“Bim, kebakaran itu berasal dari rumah almarhum temannya Floryn!” Untuk beberapa saat mereka berdua diam. Tidak tahu harus ke arah mana untuk menemukan Floryn. “Bim, panggil bantuan untuk mengejar mobil Floryn! Entah kenapa, perasaanku bilang Floryn tidak ada di mobil itu,” katanya seraya kembali menginjak pedal gas. Zoel kembali melajukan mobilnya menuju rumah almarhum Cika ketimbang mengejar mobil Floryn yang tadi melewati mereka dengan begitu cepat.


Satu pilihan yang sangat sulit. Ia tidak tahu pasti di mana Floryn berada saat ini. Hanya bergantung dengan feeling, Zoel terus berdoa di dalam hati, agar tidak terjadi hal yang buruk dengan Floryn. Ia tidak akan memaafkan dirinya jika hal buruk apa pun sampai terjadi.


***


Mobil Zoel berhenti tepat di halaman rumah almarhun Cika. Di sana sudah ada beberapa warga yang bahu membahu untuk memadamkan api. Sayangnya, mereka hanya menganadalkan ember dan gayung. Kia-kira, kapan api di dalam rumah itu akan mati?


Satu hal yang langsung menarik perhatian Zoel saat ia turun dari mobil adalah pintu rumah yang terlihat terbuka. Rumah almarhum Cika bukanlah rumah mewah. Hanya sebuah rumah sederhana yang terdiri dari satu lantai tapi cukup luas.


Jantungnya berdegub kencang saat melihat hal tersebut. Bagaimana ia bisa tahu jika Floryn ada di dalam sana atau tidak? Netra Zoel memindai lokasi kebakaran dan tidak bisa menemukan petunjuk apa-apa.


“Bagaimana, Bim? Apa mereke bisa menangkap mobil Floryn?” tanya Zoel kepada temannya yang merupakan salah satu anggota polisi. Orang yang berteman dengannya setelah beberapa masalah yang terjadi dengan Floryn. Orang yang ternyata salah satu adik kelasnya saat SMA dulu.


“Sebentar, ini ada pesan masuk.” Bima membuka pesan yang ia maksud dan langsung membacanya. “Pengemudinya Jack! Dan … dia sendirian, Zoel!” Kalimat Bima membuat Zoel hampir pingsan. Itu artinya Floryn ada di dalam sana terjebak di antara api.

__ADS_1


Tinju Zoel mengepal. Dengan cepat ia pergi ke bagian belakang mobilnya dan mengambil sebuah plastik laundry yang belum sempat ia keluarkan dari dalam sana. Buru-buru ia mengoyak sebuah bungkusan yang masih tersegel rapi. Dari sana ia mengeluarkan sebuah bed cover tebal dan membawanya ke luar.


“Pak, saya minta airnya!” tukas Zoel seraya mengambil satu ember air yang hanya tersisa setengahnya saja. Ia tidak peduli jika bapak-bapak itu marah. Urusannya jauh lebih penting dari apa pun saat ini.


“Apa yang mau kamu lakukan?” tanya Bima saat melihat apa yang dikerjakan Zoel.


“Floryn pasti ada di dalam. Aku harus mengeluarkannya atau dia akan celaka, Bim!” tukas Zoel seraya berdiri dari sana.


Di tangannya sudah ada sebuah bed cover basah yang begitu berat. Akan tetapi, laki-laki itu membawanya seperti tidak ada beban sama sekali. Mungkin itulah yang disebut kekuatan cinta.


“Kamu jangan gila, Zoel! Bagaimana kalau tidak ada Floryn di dalam sana? Atau bagaimana jika Floryn—"


“Diam, Bim. Kamu tidak perlu menjelaskannya kepadaku.”


“Setidaknya tunggu pemadam datang sebentar lagi!” seru Bima saat mereka mendengar sirine mobil pemadam sudah terdengar semakin dekat.


“Enggak. Tidak akan sempat ….” Zoel menutupkan bed cover itu ke tubuhnya sendiri dan langsung masuk menerobos pintu rumah yang sudah mulai terbakar api.


Di luar, Bima hanya bisa tertegun melihat hal itu. Mau menyusul dan menarik Zoel keluar juga sudah tidak mungkin.


Di dalam rumah almarhum Cika yang terbakar, Zoel sedikit kesulitan dengan banyaknya asap yang terkurung. Membayangkan jika ada Floryn di sana membuatnya sesak. Bagaimana bisa seorang wanita hamil akan bertahan di kondisi seperti ini?


Walaupun belum semua bagian rumah terbakar, kondisi di dalam sana tetap saja rawan. Jika dilihat dari luar, kondisinya tidak separah saat di dalam.


Zoel berusaha memfokuskan pandangannya. Wajahnya mulai panas karena harus keluar dari perlindungan bed cover. Ia harus menemukan tubuh Floryn dan membawanya pergi.


Detik berikutnya ia di dalam sana, Zoel melihat sesosok wanita terbaring di atas lantai dengan tangan yang masih terikat. Jantungnya terasa ingin berhenti berdetak saat itu juga.


Dengan susah payah, Zoel berusaha menghampiri tubuh itu.


“FLO!” seru Zoel saat kemudian ia berhasil mencapainya.


Hal pertama yang Zoel lakukan adalah mencari napas wanita itu. Sayangnya, ia tidak bisa merasakan apa-apa walau hanya sedikit.


“Damn!”


Zoel langsung melepaskan bed cover yang menutupi tubuhnya dan menutupkannya ke tubuh Floryn. Dengan berat yang semakin bertambah, Zoel berusaha keras untuk membawa tubuh Floryn ke luar dari sana.


Akan tetapi, sebuah kecelakaan kecil terjadi. Saat Zoel sudah hampir keluar dari kurungan api, sesuatu yang berasal dari langit-langit mengayun dan mengenai pelipisnya. Benda itu tergantung dan sudah hampir jatuh, untung saja tidak menimpanya.


“Arrgh!” pekik Zoel. Pelipis kirinya terasa sakit dan panas di saat yang bersamaan. Pandangan Zoel mulai kabur, ia sadar telah menghirup terlalu banyak asap. Hal itu membuatnya semakin lemas. Ia harus cepat keluar dari sana.

__ADS_1


“Zoel!” tukas Bima saat melihat temannya itu berhasil keluar dengan sesosok tubuh yang belum diketahui siapa. Di dalam hati, Bima berharap jika itu memang Floryn.


Beberapa petugas pemadam yang sudah berada di sana langsung saja menjemput Zoel. Mereka mengambil Floryn dari tangan Zoel dan meletakkannya di atas tanah yang datar. Orang itu melepaskan ikatan di tangan Floryn dan berusaha mendinginkan suhu tubuhnya.


Sementara itu, anggota pemadam yang lain sedang berusaha memadamkan api yang semakin besar. Untungnya, jarak rumah itu cukup jauh dari tetangga, tapi tetap saja sudah banyak warga yang berkumpul untuk melihatnya.


Tubuh Zoel sedikit basah saat keluar dari pintu depan tadi, karena siraman pemadam ke arah atap rumah. Seseorang lainnya langsung memapah Zoel dan membawanya ke ambulance yang juga sudah stand by di sana.


“Siapkan oksigen!” seru seseorang sembari memapah Zoel.


“Floryn …,” kata Zoel lirih. Ia menunjuk sosok yang tadi ia bawa. Zoel berharap mereka segera menolong Floryn, bukannya dia. Namun Zoel kehabisan tenaga. Ia hanya bisa mengikuti ke mana ia dibawa.


Zoel lantas mendapatkan oksigen yang ia butuhkan. Dari tempatnya duduk, Zoel bisa melihat beberapa petugas paramedis tengah berusaha menyadarkan Floryn. Mereka memberikan oksigen dan usaha cardiopulmonary resuscitation atau CPR, tapi Floryn tidak juga bergerak.


Jantung Zoel berdetak semakin tidak karuan. Ia tidak mungkin kehilangan Floryn atas kesalahan bodohnya. Ia tidak mungkin ditinggalkan begitu saja tanpa salam perpisahan.


Zoel tidak terima. Apalagi ketika netranya melihat dengan jelas, saat para petugas itu menghentikan usaha mereka dan hanya bisa menggeleng lemah.


“No …,” lirih Zoel. Sudut matanya mulai penuh dengan air mata. Ia tahu jika hatinya tidak akan kuat menahan benda itu agar tidak terjatuh. “FLO!” Sebuah teriakan lolos dari mulutnya.


Zoel melepaskan masker oksigen yang kembali diberikan petugas paramedis di sampingnya. Ia meninggalkan orang itu yang juga tidak berusaha untuk menahan kepergian Zoel.


Langkah Zoel yang terasa berat, terhenti tepat di depan tubuh Floryn yang tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Ia bersimpuh di samping Floryn.


“Denyut nadinya begitu lemah dan menghilang begitu saja. Paru-parunya penuh dengan asap,” jelas salah satu petugas paramedis di belakang Zoel.


Zoel menggeleng lemah. “Enggak … Floryn bukan wanita lemah ….”


Setelah mengatakan hal itu, Zoel kembali melakukan CPR pada Floryn. Seakan ia tidak yakin dengan apa yang tadi orang-orang itu lakukan beberapa saat lalu.


“Ayolah, Flo … jangan menyerah begitu saja! Aku yakin kamu masih ada di sini, kan?” tanya Zoel kepada sosok tidak bergerak di depannya.


“Zoel … sudahlah,” kata Bima yang terlihat sedih dengan kehilangan Zoel.


“Enggak … aku yakin dia masih ada di sini. Dia sedang berusaha untuk kembali, Bim!” sahut Zoel tidak ingin menyerah.


Lagi-lagi, Zoel melakukan CPR. Kali ini ia juga melakukan napas buatan mouth to mouth kepada wanita yang rencananya akan ia nikahi tersebut. Zoel melakukannya terus menerus. Ia tidak peduli dengan para petugas yang tidak lagi mencoba untuk menenangkannya. Mereka tahu semua yang Zoel lakukan adalah hal sia-sia. Sampai akhirnya ….


“Uhuk! Uhuk!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2