
Floryn mengelilingi daerah itu dan tetap saja tidak bisa menemukan Alvin. Ia panik. Dengan langkah besar-besar, Floryn mendatangi loket pembelian tiket.
Akan tetapi, sebelum sampai ke sana, ia melihat Enrik suaminya sedang ngobrol saja dengan seorang pengunjung lain. Pandangannya mengitari ke seluruh lokasi, tetap saja tidak ada tanda-tanda keberadaan Alvin.
"Di mana dia? Apa ada orang jahat yang membawanya pergi?" tanya Floryn kepada dirinya sendiri. Ia tidak mungkin kehilangan anaknya seperti itu. Ibu macam apa dia?
Floryn berbalik dan kembali ke lokasi tadi. Sama. Tidak ada tanda tanda kehadiran anaknya di sana.
Namun, tiba-tiba saja ....
"Bundaa!" Sebuah suara teriakan datang dari belakang Floryn. Wanita itu berpaling dan mendapati anaknya sedang menggandeng seorang laki-laki yang berperakan sedikit lebih tinggi dari suaminya.
"Alvin!" pekik Floryn seraya berlari menghampiri anaknya.
"Bunda ...," lirih Alvin saat keduanya telah saling bertemu.
"Kamu kemana saja, Nak?" tanya Floryn sembari memeriksa kondisi fisik Alvin. Mana tahu saja ada luka pada tubuh Alvin sementara tidak bersamanya.
"Sorry ... tadi ia mengikutiku. Untung saja aku bukan orang jahat," aku orang itu dengan suara sedikit berbisik.
Floryn kembali bediri dan mengalihkan pandangannya dari Alvin. Dengan sangat terkejut, Floryn menatap sosok itu dengan tidak percaya.
"Kamu?!"
"Loh ... Bu Floryn? Wah ... kebetulan sekali kita bertemu di sini," kata sosok itu sengan senyum mengembang.
__ADS_1
“Zoel … nama Anda Zoel, kan? Anda yang membawa anak saya pergi?” tanya Floryn tidak percaya.
“Eh? Sejak kapan saya yang membawanya pergi? Maaf, ya Bu. Tapi, anak ini yang mengikuti saya. Saya saja kaget saat ia menarik tas saya dari belakang,” ungkap sosok itu. Sosok yang sejak tadi bicara dengan Floryn adalah kakak dari Widuri. Orang yang mengiriminya sekotak kue dan selembar kertas berisikan nomor HP.
“Alasan! Kamu sengaja, ya?” tanya Floryn dengan ketus. Saat ini, Alvin sudah berada di dalam dekapannya.
Di depannya, laki-laki itu tersenyum smirk. “Jangan asal tuduh, Bu. Anda bisa menanyakannya langsung kepada anak Anda yang imut itu. Dia pasti akan mengatakan yang sebenarnya,” terang Zoel lagi.
Mendengar kalimat itu, Floryn berpaling ke arah anaknya. Ia berjongkok dan mencoba bertanya tentang kebenaran hal tersebut.
“Vin … Bunda mau tanya … tadi, kenapa Alvin pergi dari Bunda? Apa Om ini yang mengajak Alvin?” tanya Floryn.
Jawaban Alvin membuat Floryn sedikit malu. Anak itu menggelengkan kepala dan kembali memeluk tubuh Floryn.
“Tadi … Alvin kira om itu ayah … jadi Alvin mengikutinya,” sahut buah hatinya dengan kata-kata yang masih belum begitu sempurna.
Alvin mengangguk dan berpaling ke arah Zoel yang hanya menyaksikan semua pembicaraan itu dengan senyuman.
“Om … Alvin minta maaf, ya …,” katanya dengan pelan.
Kini giliran Zoel yang berjongkok untuk menyejajarkan dirinya dengan Alvin dan bos sang adik. Laki-laki itu tersenyum untuk Alvin dan bundanya.
“Tidak apa-apa. Lain kali, jangan diulang lagi. Kasihan Bunda karena kehilangan Alvin. Bunda sedih …,” ingat Zoel.
Di depannya, Alvin mengangguk dan kembali memeluk Floryn.
__ADS_1
Floryn berdiri, begitu juga dengan Zoel.
"Maaf karena telah menuduhmu yang tidak-tidak," kata Floryn dengan enggan.
"Permohonan maaf diterima. Lalu, yang jadi pertanyaanku sekarang adalah ... apa kalian butuh teman?" tanya Zoel tanpa malu.
Mendengar hal itu, tentu saja Floryn tahu betul maksud dan tujuannya. Untung saja, Enrik datang tepat waktu.
Laki-laki itu langsung menangkap lengan kiri Zoel dan membuat sosok itu berpaling ke arahnya.
"Hei ... apa yang Anda lakukan pada keluarga saya?" tanya Enrik ketus.
Netra Floryn membuat. Ia takut jika Enrik salah sangka dan langsung memukul Zoel. Padahal, Zoel hanya mengantarkan Alvin kembali padanya.
Saat Zoel melihat baju yang dikenakan lawan bicaranya, ia tersenyum dan berusaha untuk menahan tawa. Pakaian mereka memang mirip sekali. Pantas saja Alvin terkecoh.
"Maaf ... rupanya hal ini yang membuat Alvin mengira aku adalah ayahnya ...," ungkap Zoel tanpa mempedulikan kemarahan Enrik.
"Ada apa ini?" tanya Enrik yang masih tidak paham dengan pembicaraan di depannya.
Floryn memutuskan untuk menjelaskan semua, sebelum terjadi kesalahpahaman lebih jauh. Untungnya Enrik paham dan memilih untuk pergi mengajak Floryn dan Alvin masuk ke dalam.
"Lain kali, jangan sok akrab dengan kami. Aku tidak menyukainya." Floryn berlalu menyusul Enrik yang sudah menjauh sembari menggendong Alvin dalam pelukannya.
Zoel tersenyum penuh makna. Ia baru saja mendapat ide cemerlang, agar keinginnannya bisa terlaksana. Bagaimana tahu hasilnya jika tidak mencoba?
__ADS_1
Bersambung.