
Setelah menghubungi mertuanya, Floryn buru-buru pergi ke rumah orang itu. Rumahnya tidak berada jauh dari rumah Floryn dan Enrik. Laki-laki itu tinggal dengan istri mudanya. Istri pertamanya atau ibu dari Enrik, sudah berpulang sejak lama.
Sebenarnya, Floryn tidak begitu suka dengan Sintia. Wanita itu adalah istri muda Edward yang juga tidak begitu menyukai Floryn. Usianya tidak berbeda jauh dari Floryn. Usia Sintia saat ini adalah tiga puluh satu tahun. Hanya satu tahun lebih tua dari pada Enrik. Mungkin bisa dibilang Edward sangat beruntung atau mungkin sial. Karena memiliki istri muda itu seperti sebuah pisau yang memiliki dua mata tajam sekaligus. Jika wanita itu sungguh cinta dengan sang suami, hal itu akan menjadi sesuatu yang baik dan manis. Namun bisa juga wanita itu hanya mengejar hartanya saja. Ia sengaja mencari suami yang jauh lebih tua darinya agar ia bisa mendapatkan harta laki-laki itu lebih cepat. Setidaknya, begitulah yang diajarkan sinetron dan film-film kepada Floryn.
Setelah lima belas menit perjalanan, Floryn tiba di depan rumah Edward. Rumah dua lantai itu jauh lebih besar dari rumahnya dan Enrik. Edward memang seorang pengusaha yang sukses. Akan tetapi, ia tidak mau memanjakan Enrik dengan memberikan segala kemudahan untuk laki-laki itu. Ia tahu jika anaknya harus ditempa menjadi laki-laki yang kuat. Walaupun menurut Floryn tidak cukup berhasil, setidaknya Enrik bukanlah ayah yang buruk.
Bel pintu telah berbunyi. Floryn tidak punya kesempatan untuk mundur dari sana. Ia harus bilang kepada orang tua itu tentang kelakuan anak semata wayangnya. Pewaris tunggal Keluarga Bimasakti yang selalu Edward banggakan.
Klek.
Suara kunci pintu diputar membuat Floryn berbalik. Ternyata di sana sudah muncul seorang wanita yang Floryn kenal sebagai salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ayah mertuanya. Dini? Dina? Sepertinya Floryn lupa siapa nama orang di hadapannya.
“Nyonya Floryn … silakan masuk, Nyah …,” ajak wanita itu kepada Floryn.
Floryn tersenyum karena wanita itu selalu ramah dengan semua orang. Dengan lekas ia mengkikuti langkah kaki wanita itu. Ada sedikit rasa malu pada diri Floryn karena ia tidak bisa mengingat dengan pasti nama dari asisten rumah tangga tersebut. Mau bertanya pun, ia malu.
“Terima kasih, Bik. Apa Pak Edward lagi sibuk?” tanya Floryn memastikan.
“Ah, tidak. Tuan lagi duduk-duduk saja di taman dengan Nyonya Besar. Sepertinya sedang ngobrol santai …,” ungkap Dina yang namanya tidak bisa diingat Floryn.
__ADS_1
“Aduh … apa saya akan mengganggu, ya? Saya belum bilang mau ke sini,” ungkap Floryn menjadi ragu.
“Eemm … mungkin tidak apa, Nyah. Sepertinya mereka tidak begitu serius dengan pembicaraan itu,” sahut Dina yang sebenarnya juga terlihat ragu.
Sebenarnya, Floryn tidak punya pilihan lain selain masuk ke sana dan menemui ayah mertuanya. Sudah cukup lama ia pergi dari rumah. Kalau tidak lekas-lekas, nanti Enrik sempat pulang dan mempertanyakan keberadaannya. Ia bisa saja ketahuan dan Floryn tidak ingin hal itu terjadi.
Langkah Floryn terhenti di belakang pintu geser kaca yang ada di depannya. Hanya pintu itu dan memisahkannya dengan sang ayah mertua.
“Nyah, tunggu di sini dulu, ya. Biar saya ke sana dan bilang tentang kedatangan Nyonya ke sini,” ungkap Dina yang langsung disetujui oleh Floryn.
Tangannya mulai terasa dingin. Jantungnya memang tidak berdebar lebih cepat, tapi ia mulai sedikit gelisah.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat jika Edward sedikit terkejut dengan informasi yang diberikan asisten rumah tangganya.
“Nyah, kata tuan, Nyonya tunggu dulu di ruang kerjanya. Nanti tuan akan ke sana,” jelas Dina. “Mari saya antar …,” ungkap wanita itu kemudian.
“Oh, oke.” Floryn melangkahkan kakinya menuju ruangan yang Dina maksud. Wanita itu mengantarkan Floryn hingga depan pintu ruang kerja yang tertutup.
“Masuk saja, Nyah. Sepertinya tuan sudah beranjak datang,” bisik Dina.
__ADS_1
Mereka berdua memang mendengar suara pintu geser yang terbuka dan kemudian tertutup lagi. Dan benar saja, setelah Dina membisikkan hal itu, suara berat Edward terdengar di belakang mereka.
“Mamah Papah tinggal sebentar. Papah mau bicara dengan Floryn dulu,” kata Edward dengan lembut.
Padahal pernikahan keduanya sudah cukup lama, tapi selalu terdengar seperti pengantin baru.
“Terima kasih, Bik,” kata Floryn kepada Dina. Dina mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan Floryn di sana.
Karena Edward sudah dekat, Floryn memutuskan untuk menunggu saja laki-laki itu. Lebih baik mereka masuk bersama-sama.
“Aku harus yakin dengan apa yang akan kulakukan sebentar lagi. Kalau aku saja tidak yakin, bagaimana orang lain akan yakin dengan kata-kataku?” batin Floryn.
“Floryn? Kamu tidak masuk? Masuk saja. Silakan …,” kata Edward yang kemudian membuka pintu ruang kerjanya sendiri.
Floryn melangkahkan kakinya mengikiti Edward yang sudah masuk ke dalam sebuah ruang kerja. Edward sengaja tidak menutup pintunya karena tahu kalau mereka berdua saja.
“Silakan duduk, Ryn. Apa yang membuatmu capek-capek datang ke sini. Sendirian? Saya tebak, pasti ada hubungannya dengan Enrik dan hal itu tidak baik. Benar begitu?” tebak Edward.
Floryn tersenyum kecut. Ia tidak menyangka jika mertuanya bisa menebak sampai begitu dekat. Floryn mulai berkeringat dingin. Sekarang atau tidak sama sekali ….
__ADS_1
Bersambung.
Notes: Saya gak bosen mengingatkan kalian agar nge-LIKE pada setiap episode JANGAN SALAHKAN AKU. Terima kasih (≧∇≦)/