
"Bersihkan tumpahan ini. Segera!" perintah Enrik kepada Ambar.
Floryn tersenyum. Ia tidak peduli jika Enrik mengatakannya dengan sungguh-sungguh atau tidak. Mendengar bentakan itu membuat Floryn senang.
"Mas ... aku tidak mau tidur di kamar ini. Bau ... apa Mas tidak menciumnya?" tanya Floryn dengan manja.
Floryn memang sosok yang manja. Namun ia juga wanita mandiri yang tidak lemah.
"Kamu benar. Kita pindah kamar saja. Biarkan mereka membersihkan kamar ini dulu," terang Enrik.
Dengan manja, Floryn merentangkan tangannya. Ia minta digendong.
"Kamu manja sekali," kata Enrik yang tetap saja melakukan apa yang istrinya minta. Ia mengangkat Floryn di depan seperti pengantin baru.
Floryn merangkulkan tangannya di tengkuk Enrik dan membenamkan wajahnya di sana. Tiba-tiba saja hatinya sakit. Ada aroma lain yang menyapu indra penciuman Floryn. Apakah ini parfum pembantu itu?
"Turunkan aku, Mas." Floryn membuang muka.
"Kita sudah hampir sampai. Pegangan saja," ungkap Enrik.
Floryn tidak membantah perkataan suaminya. Ia tetap saja berpegangan tapi juga mengalihkan pandangan.
Di dalam kamar yang baru, Enrik menurunkan Floryn di atas tempat tidur. Laki-laki itu melangkah kembali untuk menutup dan mengunci pintu kamar.
Lalu, dengan senyum penuh makna, Enrik menghampiri Floryn yang gaunnya tersingkap.
"Sayang ... kamu membuatku bernafsv ...," bisik Enrik yang diakui Floryn memiliki nafsv yang lumayan besar.
__ADS_1
"Maass ...," keluh Floryn yang tidak kuasa menahan kecupan-kecupan Enrik di tubuhnya yang terekspos.
"Hhhmmm ...," sahut Enrik tanpa berhenti mengecup.
Kini keduanya telah polos. Sayang sekali, Tiba-tiba saja keinginan Floryn langsung terhenti saat kembali mencium aroma parfum asing yang tadi.
"Kenapa, Sayang?" tanya Enrik yang merasa jika sang istri tiba-tiba berubah.
"Entahlah ... apa Sayang ganti parfum? Aku tidak menyukai wanginya. Aku langsung mual, loh ...," bohong Floryn yang tidak ingin lagi melayani Enrik.
Enrik menjauh dari atas Floryn dan mencium tubuhnya yang bisa ia jangkau.
"Masa, sih? Tadi siang aku mencoba beberapa parfum baru. Apakah masih tercium hingga sekarang?" kata Enrik bingung.
Floryn tersenyum kecut. Ia pura-pura merasa tidak enak karena mengagalkan keinginan Enrik kali ini. Padahal, di dalam hatinya ia tertawa. Laki-laki itu pasti akan tersiksa karena tidak bisa menyalurkan hasratnya lagi.
"Hhuueeekk! Huuuueeek!" Floryn menyalakan kran air dan membasuh mulutnya.
Keluar dari sana, ia mendapati Enrik telah mengenakan kembali pakaiannya.
"Tumben ia tidak menuntut ...," batin Floryn.
"Sini ... aku akan memijatmu agar kamu bisa tidur," kata Enrik yang selalu lembut seperti biasanya.
Andai saja ia tidak mendapati suaminya itu menaiki tubuh wanita lain, pasti ia masih akan percaya dengan semua kata-kata Enrik tadi.
"Terima kasih, Mas ...." Floryn mengikuti saran Enrik. Ia berbaring di atas pembaringan dan Enrik mulai memijat dengan lembut
__ADS_1
Floryn mulai hanyut dalam pijatan-pijatan lembut yang dilakukan Enrik. Rasa lelahnya hari ini, membuat Floryn langsung saja terlelap.
***
Dengan enggan, Floryn membuka mata. Ia merasa ingin buang air kecil meskipun dalam keadaan mengantuk.
Malas, tapi mau bagaimana lagi? Dengan mata yang masih tertutup sebagian, Floryn pergi ke toilet yang ada di luar kamar. Sayang sekali di kamar yang itu memang tidak ada toiletnya.
Setelah hajatnya selesai, Floryn kembali ke kamar. Akan tetapi, sesuatu yang aneh ia rasakan. Floryn tidak bisa menemukan suaminya di sana.
"Loh? Bukannya tadi ada di sana, ya?" tanya Floryn bingung.
Pertanyaan tersebut memenuhi kepala Floryn. Wanita itu duduk di tepi tempat tidur. Sepertinya ia sedang berpikir, kira-kira ke mana suaminya itu pergi malam-malam begini?
Padahal, sejak Floryn terbangun tadi, Enrik memang sudah tidak ada di sana. Ia hanya tidak menyadarinya.
Kemudian, sebuah pemikiran muncul di kepala Floryn. "Ambar! Apa mungkin Mas Enrik ada di kamar Ambar saat ini?" terka Floryn dengan hati panas. Saat itu juga ia menyesal karena pernah membujuk Enrik, untuk membiarkan Ambar tinggal menumpang di rumah mereka. Saat itu Floryn terlampau kasihan dengan Ambar.
"Apa karena tidak mendapatkan jatah dariku, kemudian Mas Enrik mencari pelepasan di tempat lain? Kenapa jalan pikirannya dangkal sekali?" batin Floryn kesal.
Dengan langkah cepat, Floryn meninggalkan kamar sementara mereka dan pergi ke arah belakang. Di sana ada Dua kamar yang ditempati masing-masing oleh Ambar dan Maryo si satpam rumah.
Di dapur, Floryn mempertajam indra pendengarannya. Ia ingin tahu apa yang terjadi di belakang sana. Sayang sekali, Floryn tidak bisa menangkap suara yang sepertinya berasal dari dalam kamar.
Wanita beranak satu itu memilih untuk lebih mendekat. Ia hanya ingin memastikan, kalau yang ia lihat tadi siang benar-benar sebuah perselingkuhan ....
Bersambung.
__ADS_1