Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Membeli CCTV Portable


__ADS_3

Jangan lupa sentuh jempol-nya, ya. Dukungan kalian begitu berarti buat penulis.


Terima kasih (*´∇`)ノ


***


Widuri terlihat mondar mandir di depan kamar abangnya. Ia takut sekali terjadi apa-apa dengan Zoel di dalam. Baru beberapa menit yang lalu, Zoel mengeluh kalau perutnya begitu sakit. Hal itu memaksa Widuri untuk kembali memanggil dokter yang baru satu jam lalu datang berkunjung.


“Kamu nakal banget, Bang! Sudah tahu punya mag, tapi masih juga terlambat makan!” tukas Widuri dengan kekhawatiran yang begitu nyata.


Kakinya tidak berhenti mondar-mandir. Widuri memang begitu jika sedang panik atau tidak sabar menunggu sesuatu.


Klek.


Pintu kamar rawat Zoel terbuka. Hal itu membuat jantung Widuri berdebar lebih cepat. Ia tahu ada yang tidak beres dengan lambung abangnya.


“Apa yang terjadi dengan abang saya, Dok?” tanya Widuri to the point.


“Kami akan melakukan pemeriksaan dulu, Mbak. Sebentar lagi perawat akan membawanya untuk di USG,” ungkap dokter itu kepada penunggu pasiennya.


“USG?”


“Ya, ultrasonografi.”


“Sa-saya tahu kepanjangannya. Tapi untuk apa, Dok? Abang saya tidak hamil …,” bisik Widuri cemas.


Dokter itu tersenyum bahkan hampir tertawa. “Bukan … bukan untuk itu tentunya. USG bisa digunakan untuk melihat keadaan organ tubuh manusia. Cara kerjanya kurang labih sama seperti X-Ray atau MRI. Anda mengerti, kan?” tanya dokter itu memastikan.


“Oooh … ya. Maaf, rupanya saya kurang fokus,” aku Widuri.


Dokter itu mengangguk dan pamit. Ia pergi meninggalkan Widuri yang kini sudah masuk kembali ke dalam kamar Zoel. Ia mendapati abangnya masih terbaring lemas dengan cairan infus mengalir di dalam pembuluh darahnya.


“Masih bisa bertahan?” tanya Widuri kesal. Ia tidak suka dengan keteledoran abangnya. Mereka berdua tahu kalau mag bukanlah penyakit yang sepele. Pengidapnya bisa saja meninggal karena tidak bisa menjaga pola makan dan hal-hal lainnya yang harus selalu diperhatikkan.


“Jahat sekali. Kamu ingin abangmu ini lekas menghilang dari peredaran, hah?” tanya Zoel dengan mata terpejam.


Karena kesal dengan respon abangnya, Widuri berpaling. Ia paling tidak bisa jika membicarakan hal-hal seperti itu. Ia cukup trauma dengan kehilangan ayah ibunya dulu. Widuri tidak ingin lagi kehilangan orang yang ia sayangi.

__ADS_1


“Diam atau aku pergi,” kata Widuri seraya menghapus air mata yang mulai tergenang di ujung netra.


“Duri … jangan menangis. Abang janji abang akan baik-baik saja. Besok juga abang sudah boleh pulang. Biasanya gitu, kan?” bujuk Zoel.


Widuri kembali menghadapi abangnya. Mereka memang seperti kucing dan anjing, tapi mereka tetaplah saudara. Ia tidak mungkin senang saat mengetahui abangnya sakit parah.


“Janji pada Duri kalau abang akan baik-baik saja. Oke?” tuntut Duri.


Klek.


Pintu kamar terbuka. Dua orang perawat laki-laki masuk dengan membawa kursi roda untuk Zoel.


“Apa Bapak Zoel sudah siap?” tanya salah satu perawat yang memiliki satu lesung pipit di pipinya. Hal itu membuat Widuri tertarik.


Zoel mengangguk. “Saya siap.”


Kedua orang itu membantu Zoel turun dari tempat tidur dan duduk di atas kursi roda. Di sampingnya, Widuri terus mengawasi.


Setelah siap, kedua perawat itu membawa Zoel pergi dari sana. Widuri tidak mau ketinggalan. Ia terus mengikuti ketiganya hingga sampai di depan ruang pemeriksaan dokter spesialis penyakit dalam.


“Bang ….” Widuri tersenyum getir.


“Abang akan baik-baik saja … tenang, ya …,” kata Zoel sebelum pintu tertutup rapat.


Widuri mengangguk. ia hanya bisa berdoa agar hasilnya baik. Agar semuanya baik. Ia tidak akan sanggup menghadapi berita buruk apa pun itu. Ia tidak akan sanggup.


***


Sementara itu di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Jakarta, Floryn terlihat baru saja keluar dari sebuah counter HP yang cukup besar. Di tangannya terdapat sebuah plastik berisi kotak HP yang telah kosong.


Hp yang baru saja ia beli, sudah ada di dalam genggamannya saat ini. Benda itu merupakan versi terbaru dari merk HP lamanya. Ia merasa sudah sangat cocok dengan brand tersebut.


Floryn sedang menyimpan nomor HP yang ada di atas post it. Ia perlu tahu keadaan Zoel. Floryn merasa jika Zoel mungkin sakit karenanya. Walaupun, Floryn tidak yakin apa yang membuat laki-laki itu sakit.


Tanpa menunggu sampai di mobil, Floryn menghubungi nomor Widuri. Namun sayang sekali, panggilannya tidak mendapat jawaban. Floryn kembali mencobanya hingga tiga kali dan hasilnya tetap sama saja.


Sampai akhirnya Floryn berada di dalam mobil, panggilannya tetap tidak dijawab. Dengan sedikit kesal, Floryn membuka pesan dan mengetik sesuati untuk Widuri. Ia meminta wanita itu menjawab panggilannya. Mungkin saja Widuri tidak mau menjawab panggilan Floryn karena nomor barunya tidak terdaftar.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi, nomor HP-nya yang malam itu masih bisa digunakan, kini sudah tidak bisa terbaca. Mungkin karena ada kerusakan pada chip yang terjadi secara perlahan. Akan tetapi, ia masih menyimpan nomor itu. Banyak nomor penting di dalamnya. Floryn berharap agar nomor itu masih bisa diselamatkan.


Setelah mengirimkan pesan tersebut. Floryn meletakkan HP-nya di atas dashboard. Lalu ia mengambil plastik belanjaannya untuk membuka benda lain yang ia beli. Floryn membeli beberapa kamera CCTV mini portable untuk menunjang rencananya.


Floryn begitu berniat membuktikan perselingkuhan Enrik di depan ayah mertuanya. Floryn tidak mau menjadi bahan olok-olokan keluarga itu. Dengan begini ia akan puas.


“Aku akan memikirkan banyak hal untuk membuatmu mengaku, Mas. Jangan kira aku bodoh …,” lirih Floryn.


Dering HP baru Floryn membuatnya terkejut. Ia tidak menyangka jika suaranya akan senyaring itu. Buru-buru Floryn menjawabnya, karena panggilan itu berasal dari Widuri.


“Bu! Maaf … saya kira ini nomor siapa … soalnya, banyak sekali penggilan-panggilan iseng belakangan ini,” terang Widuri panik.


Tadinya Floryn ingin marah, tapi mengurungkannya karena Widuri terdengar begitu tidak baik-baik saja.


“Wi … kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanya Floryn yang tidak berani menanyakan langsung perihal Zoel kepad staff-nya itu.


“Sa-saya … saya pusing banget, Bu. Sekarang abang saya lagi USG dan saya tidak bisa menemani di dalam.”


“USG?”


“Ya! Maksud saya, Abang Zoel bukannya hamil. Tapi dokter sedang—“


“Wi, saya tahu apa kegunaan USG selain memeriksa kandungan. Kamu tidak perlu menjelaskan lebih terperinci,” potong Floryn.


“Maaf, Bu. Saya bingung sekali …,” aku Widuri.


“Saya mengerti ….”


Pembicaraan keduanya tidak berlangsung lama. Setelah Widuri mengatakan di mana keberadaan mereka, Floryn berjanji kalau ia akan datang. Ia beralasan ingin membicarakan sesuatu pada Widuri. Floryn tidak mungkin bilang kalau ia ingin bertemu dengan Zoel secara langsung. Widuri pasti akan bertanya banyak hal.


Floryn menyimpan kembali barang-barang yang tadi ia lihat. Setelah itu, ia langsung melajukan mobilnya keluar dari lahan parkir menuju jalan raya. Rumah sakit yang di maksud Widuri berada cukup dekat dari tempatnya saat ini. Floryn memperkirakan jika ia akan sampai dalam waktu dua puluh sampai tiga puluh menit.


Sebelum sampai di rumah sakit itu, Floryn juga mampir untuk membeli buah tangan untuk Zoel. Ia adalah seorang atasan, mana mungkin datang dengan tangan kosong.


“Hhmm … buah apa yang laki-laki itu sukai? Aku tidak punya bayangan sama sekali. Apa aku bawakan makan lain saja, ya?” tanya Floryn pada dirinya sendiri. “Ah, aku bingung!”


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2