
Maaf, up kali ini agak telat.
Selamat membaca, ya. Please, jangan lupa like-nya, masa yang mampir banyak tapi like-nya sedikit. Kan saya sedih :'(
BTW, selamat membaca!
***
"Selamat ya, Bu. Hasil tes lab Anda menyatakan kalau Anda positif hamil. Selamat Tuan ...," kata dokter yang memeriksa Floryn siang itu.
Kini, Floryn dan Zoel sedang berada di salah satu rumah makan yang paling dekat dengan rumah sakit. Sementara ini, hanya diam yang ada di antara keduanya.
"Ini pesanannya, silakan ...," kata seorang pramusaji yang baru saja meletakkan pesanan Zoel dan Floryn di atas meja.
“Terima kasih,” sahut Floryn. Tidak dengan Zoel. Laki-laki itu memilih untuk langsung mengmbil sendok dan mengelapnya terlebih dahulu.
Floryn merasa sedikit kecewa. Ia ingin orang di hadapannya kini bicara padanya. Terserah apa yang ingin ia tanyakan. Tentang kehamilannya atau tentang sidang kemarin. Apa saja yang penting dia tidak diam.
Diam itu mengartikan banyak hal. Apakah Zoel sudah berubah pikiran tentangnya?
“Makanlah. Sebaiknya kamu tidak sakit. Masih banyak hal yang belum diselesaikan, bukan?” tanya Zoel seraya memberikan sendok dan garpu yang sudah ia bersihkan tadi.
Floryn mengulurkan tangannya untuk menerima kedua benda itu. Namun, tangannya kembali ia tarik. Ia tahu kalau Zoel berada di sana hanya karena permintaan sang ibu. Ibu Floryn meminta Zoel untuk menjaganya. Kalau tidak, Zoel pasti sudah tidak mau lagi melihat Floryn.
Brak!
Floryn berdiri dengan tiba-tiba. Membuat kursi di belakangnya terjatuh ke belakang. Hal itu membuah Zoel terkejut dan memandang Floryn tidak percaya.
“Aku mau pulang! Terima kasih sudah berbaik hati denganku dalam beberapa minggu ini!” tukas Floryn dengan suara yang mungkin tidak hanya bisa di dengar oleh Zoel.
Zoel meletakkan sendok yang tidak diterima Floryn. Pandangannya melihat ke lain. Apa saja, selain Floryn. Ia tidak ingin melihat wanita itu lama-lama.
Floryn mengambil tas yang ia letakkan di kursi berbeda dan beranjak dari sana. Setelah itu, Floryn langsung berbalik untuk meninggalkan Zoel. Netranya terasa panas. Sudah banyak langkah yang ia ambil, tapi laki-laki itu tidak terdengar memanggil untuk menghentikannya. Mungkin memang hal itu yang Zoel inginkan.
Sementara itu, Zoel yang masih duduk mematung di kursinya, hanya bisa menatap tidak percaya dengan HP Floryn yang tertinggal. Mungkin Floryn perlu waktu sebentar untuk sendiri. Namun, pikiran tentang orang-orang jahat yang mungkin mengawasi mereka, seketika muncul.
Zoel buru-buru berdiri dan mengeluarkan dompetnya. Ia meletakkan dua lembar uang lima puluh ribu untuk membayar makanan mereka. Dengan langkah terburu-buru, Zoel mengejar Floryn. Sebagai wanita yang sedang hamil, jalan Floryn lumayan cepat. Buktinya, ia sudah tidak bisa melihat wanita keberadaan itu.
__ADS_1
“Flo!” panggil Zoel yang benar-benar kehilangan arah.
Sayangnya, tidak ada jawaban. Zoel memutuskan untuk langsung kembali ke mobilnya. Mana tahu saja Floryn ada di sekitar sana.
***
Floryn merogoh tasnya untuk mengambil HP dan memesan taksi online. Namun, setelah beberapa saat, Floryn tidak bisa menemukan benda pipih itu.
Floryn baru ingat kalau HP itu tadinya ia keluarkan dan diletakkan di atas meja.
“Astaga …,” lirih Floryn tidak percaya. Otaknya menyuruh Floryn untuk berbalik dan pergi mengambil HP itu. Mungkin saja Zoel tidak ingin repot-repot mengantarkan benda tersebut.
Tanpa berlama-lama, Floryn kembali ke sana untuk mengambil HP-nya. Ia memilih untuk naik ke atas dengan lift karena kakinya mulai lelah.
Sesampainya di sana, Floryn mendapati kalau meja yang tadinya mereka tempati sudah diisi oleh orang lain. Dengan buru-buru Floryn menghampiri meja itu.
“Maaf! Apa di meja sini ada HP yang tertinggal?” tanya Floryn kepada orang-orang itu.
Sayang sekali, keduanya hanya menggelengkan kepala dengan kompak. Ingin curiga pun, tidak ada gunanya. Floryn memutuskan untuk pergi dari sana.
“Semoga saja HP-ku ada sama Zoel. Kalau tidak … haaaaah ….” Floryn menghela napas dengan pasrah. Kalau memang bukan rezekinya, mau diapakan?
Di sana, Floryn menemukan HP-nya tergeletak di atas aspal. Buru-buru ia mengambil benda pipih tersebut dan memeriksa kondisinya. Untung saja masih bisa menyala dan hanya lecet sedikit. Lebih beruntung lagi, ia yang menemukannya sebelum orang lain.
Netra Floryn mulai mencari. Kemana sosok Zoel yang pasti berniat membawakan HP itu untuknya. Kenapa mobil Zoel masih ada di sana?
Sayang sekali, Floryn tidak dapat menemukan Zoel dimanapun.
Terik matahari dan kekesalan yang masih tersisa di dalam hatinya, membuat Floryn memutuskan untuk pergi dari sana. Dengan taksi online yang sudah datang menjemput, Floryn akhirnya pergi.
***
Kantor Polisi Beringin Raya
Ambar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat melihat Enrik datang menjenguk. Satu hal yang sudah ia harapkan sejak pertama kali mendekam di bui.
Saat ini mereka sudah berada di salah satu ruangan khusus untuk pengunjung. Selain Enrik, ada juga pengacara yang dibayar Enrik untuk membantu Ambar di persidangan, Paulina.
__ADS_1
Enrik sengaja datang untuk menghadiri sidang keputusan Ambar. Seperti yang ia rencanakan, Ambar tutup mulut dengan keterlibatan Enrik. Bahkan, wanita itu mengambil sumpah walaupun ia berbohong. Bagi Enrik, Ambar adalah tipe orang yang mudah ditipu dengan sedikit janji manis dari orang yang ia puja.
“Kamu jangan khawatir, setelah beberapa bulan, aku akan meminta Paulina untuk mengajukan banding pada kasusmu. Jangan berpikir kalau aku akan membiarkanmu di sini untuk waktu lama,” ungkap Enrik dengan suara berbisik.
“Terima kasih, Tuan. Saya akan menunggunya dengan sabar. Eem … apa nasib saya ….” Ambar menghentikan kalimatnya sendiri.
Seharusnya ia tidak menyinggung masalah Tomas saat bersama Enrik. Laki-laki itu menidurinya dan Enrik pasti marah. Hal terakhir yang Ambar inginkan adalah mengingatkan Enrik kembali akan kebodohannya.
“Kenapa dengan nasibmu?” tanya Enrik yang agak kurang fokus dengan kalimat Ambar barusan. Ia baru saja menerima sebuah pesan yang membuatnya bisa sedikit tersenyum senang.
“Ah … tidak, Tuan. Saya akan menyerahkan semuanya kepada Tuan. Saya harap, Tuan mau membebaskan saya dari sini … saya akan melakukan apa saja untuk Tuan ….” Ambar memastikan.
“Ya. Kamu akan baik-baik saja jika menuruti Paulina,” kata Enrik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Ambar kesal tuannya memperhatikan hal lain saat mengunjunginya. Namun, ia sendiri tidak berani protes. Bagaimana kalau Enrik meninggalkannya sekalian? Sabagai orang yang memiliki banyak harta, mungkin saja Enrik bisa lolos dengan mudah jika terjerat hukum sekali pun.
“Pak, sudah waktunya kita pergi. Jam besuknya hampir habis …,” terang Paulin kepada majikan kliennya.
Enrik mengunci layar HP dan menyimpannya di dalam saku celana. “Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Kamu baik-baik di tempatmu nanti,” terang Enrik menasehati selingkuhannya.
Ambar tersenyum bingung. “Tempat baru bagaimana?” batinnya. Ambar ingin bertanya, tapi kepergian Enrik yang terburu-buru, membuat Ambar tidak punya pilihan itu. Ia hanya bisa menatap sendu saat sosok Enrik kembali menjauh dan lepas dari jangkauannya.
Di Dalam Mobil Enrik.
“Bapak baik sekali mau mengunjungi pembantu itu …,” kata Paulina yang sudah duduk di belakang kemudi.
“Ya, bagaimanapun juga, dia pernah memuaskanku di atas ranjang. Aku bukan manusia yang tidak punya hati. Jadi, tidak ada salahnya, kan?” tanya Enrik seraya memasang sabuk pengamannya sendiri.
Paulina tersenyum mendengar pengakuan itu. Kliennya yang satu ini memang begitu blak-blakan. Setau Paulina, ayah dari Enrik sudah memerintahkan laki-laki itu untuk tidak berhubungan lagi dengan Ambar. Apa Enrik tidak takut warisannya lenyap?
Akan tetapi, Paulina tidak ingin mencampuri kehidupan Enrik. Ia tahu kehidupan orang itu sudah begitu rumit dan menegangkan. Cukup sebagai pengacara saja ia terlibat.
“Anda mau saya antar kemana, Pak Enrik?” tanya Paulina yang kembali bersikap formal.
“Ke kantor saja. Mood-ku sedang baik siang ini. Selain itu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan dan tidak bisa ditunda-tunda,” sahut Enrik kemudian tersenyum.
Senyuman Enrik memang sangat manis dan terlihat tulus. Hal itu lah yang sering Enrik manfaatkan untuk memikat hati wanita dan rakan bisnisnya. Pun dengan Paulina yang merasakan hal serupa. Sayang sekali, wanita itu sudah paham siapa Enrik. Berurusan dengannya dalam masalah lain adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan ….
__ADS_1
Bersambung.