
Happy Reading (^з^)-☆Chu!!
***
Berulang kali Floryn mencoba untuk menghubungi ponsel milik Sintia. Akan tetapi, wanita itu tidak menjawabnya sama sekali. Seakan-akan Sintia tahu kalau Floryn akan mempermasalahkan pertemuannya dengan Alvin di sekolah tadi.
“Dasar wanita tidak tahu diri … kenapa beraninya sama anakku? Kenapa tidak menemuiku dan bicara langsung maunya apa …,” omel Floryn setelah sekali lagi ia gagal menghubungi mantan mertua tirinya.
Hari sudah semakin malam. Di ruang tengah itu hanya ada Floryn dan ponsel di tangannya. Martha dan Alvin sudah tidur di kamar Floryn. Karena masih ingin bicara dengan Sintia, Flroyn meminta ibunya untuk menemani Alvin yang sudah tidur sejak tadi.
Karena masih belum mengantuk, Floryn memutuskan untuk menghubungi Zoel. Ia tahu kalau laki-laki itu pasti sudah pulang dari café-nya pada jam-jam segini.
Beruntungnya, panggilan Floryn kepada Zoel langsung dijawab pada dering pertama.
“Hallo …,” sapa Floryn bersemangat. Walau begitu, ada sedikit rasa tidak enak karena kejadian tadi siang.
“Hallo, Sayang. Bagaimana kabarmu dan Alvin? Kalian baik-baik saja, kan?”
Floryn tersenyum. Ia begitu bersyukur telah mengenal Zoel. Laki-laki baik hati yang begitu perhatian dengannya dan Alvin.
“Alhamdulillah baik. Alvin sudah tidur sejak tadi. Lalu, bagaimana denganmu? Kamu … baik-baik saja, kan?” Floryn tahu, walaupun sedikit hati Zoel pasti sakit.
“Aku baik-baik saja. Sedih dengan penolakan Alvin, tapi aku cukup yakin kalau anak itu pasti terpengaruh oleh sesuatu,” terang Zoel.
“Kamu benar. Ternyata tadi siang mantan metua tiriku datang ke sekolah Alvin, dan bicara dengan anakku sebentar. Aku tidak tahu pasti, tapi Sintia pasti sudah menghasut Alvin agar membencimu,” aku Floryn.
Terdengar sebuah helaan napas yang berat di seberang sana. Floryn tahu kalau Zoel pasti juga merasa kesal.
“Jadi?”
“Entahlah. Tadi aku sudah mencoba untuk menghubungi Sitia. Tapi ia tidak menjawab panggilan-panggilanku. Sepertinya aku akan ke rumahnya saja besok pagi.”
“Apa perlu kutemani?” tawar Zoel.
“Mungkin tidak perlu. Pak Edward tidak akan ada di rumah saat aku ke sana, jadi aku bisa menghadapi wanita itu sendirian. Aku cukup yakin itu. Lagi pula, aku tidak ingin menyeretmu ke masalah ini sebelum kita resmi bersama. Ibarat kata, kita belum ada ikatan apa-apa,” terang Floryn dengan sedikit menyesal.
“Well … asal kamu tahu, aku tidak sabar lagi menunggu 22 hari itu. Apakah kita tidak bisa melakukan akad nikah dulu?” Zoel terdengar sangat berharap.
“Ha ha ha … kamu tidak sabar menikah denganku?”
“Ya. Aku tidak sabar.”
“Tunggulah dengan sabar. Undangan sudah dipesan dan besok akan datang beberapa lembar sabagai sample. Setelah pulang dari rumah Sintia, aku akan langsung ke percetakan dan mengambilnya,” terang Floryn.
__ADS_1
“Kalau begitu aku ikut! Aku tidak ingin kamu pergi ke sana sendirian dan terlihat seperti aku tidak bertanggung jawab!” seru Zoel yang begitu bersemangat dengan obrolan tentang pernikahan ini.
“Eemm … sepertinya tidak perlu. Aku hanya akan mengambilnya lalu pergi. Ini hanya sample, bukanya aku sudah akan mengambil semua undangan itu,” terang Floryn.
Zoel cukup kecewa. Tapi, ia memang tidak boleh membiarkan Widuri berada sendirian di belakang kasir. Ia pernah mencoba dan hasilnya tidak begitu baik. Hasil penjualan menjadi selisih akibat penanganan Widuri.
“Baiklah … kalau begitu, aku akan menunggumu di café. Lalu … apakah besok Alvin pergi ke sekolah?”
“Libur, kan … system pembelajaran Alvin, masih one day on dan one day off.”
Pembicaraan itu berlangsung cukup lama. Bahkan, keduanya memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan itu dengan sambungan video.
***
Pagi ini Floryn sudah berada di halaman rumah keluarga mantan suaminya. Namun, Floryn agak sanksi karena rumah itu terlihat sangat sepi. Bahkan, security pun tidak ada di pos-nya.
“Aneh banget … pada kemana, ya?” tanya Floryn kepada dirinya sendiri.
Tanpa membuang-buang waktu, Floryn turun dari mobil dan medekati pintu utama yang warna pintunya telah berubah saat itu. Masalahnya dengan Enrik berlum lama. Ia masih ingat, apa warna pintu rumah itu.
Bel pintu sudah dibunyikan. Floryn sudah sangat siap untuk bertemu dengan Sintia dan menanyakan semuanya kepada wanita menjengkelkan seperti orang itu.
Tidak lama kemudian, pintu di depannya terbuka. Orang yang membukanan pintu itu tidak pernah Floryn lihat sebelumnya.
“Iya, ada perlu apa?” tanya orang itu dengan pandangan bingung.
“Oh, yang tinggal di sini sebelumnya?” tanya wanita itu lagi.
Kening Floryn berkerut. Apakah itu berarti, mantan mertuanya itu telah pindah rumah ke tempat lain.
“Ah … ternyata dia sudah pindah?” tanya Floryn berusaha untuk tidak kaget.
“Iya, Mbak. Hanya saja, saya minta maaf, saya tidak bisa memberikan informasi apa-apa tentang mereka. Saya bekerja di sini karena rumah ini kosong dan butuh pengurus,” terang wanita itu tidak enak, “tapi Mbak, beberapa minggu belakangan, pihak bank terus datang ke sini. Katanya, rumah ini sekarang sudah disita. Rumah ini menjadi milik pemerintah, Mbak …,” terang wanita itu dengan bakat ghibah yang luar biasa.
“Jadi rumah ini sudah disita? Wah wah wah … sebenarnya aku tidak tega saat mendengarnya, tapi apa ini yang dinamakan karma? Karma bener-bener real …,” batin Floryn.
Floryn tahu jika kedatangannya kali ini tidak akan mengahsilkan apa-apa. Jadi, Floryn memutuskan untuk langsung pergi dari sana menuju ke percetakan undangan. Setelah itu ia akan langsung ke cafe untuk bekerja.
***
“Bagaimana urusannya?” tanya Zoel saat Floryn muncul di dapurnya.
Setelah medapat sebuah kecupan dari Zoel, Floryn menjawab, “Ternyata mereka sudah pindah dari sana! Aku gak tahu menahu tentang berita ini. Kasihan sekali mereka … kata orang yang menjaga rumah itu, beberapa petugas dari bank telah ke sana untuk mengambil aset-aset yang bisa dijadikan uang.”
__ADS_1
Zoel terlihat iba sama seperti Floryn. Apalagi, Zoel tidak punya masalah-apa dengan keluarga Enrik. “Apa Sayang tahu, ke mana mereka pindah?”
Floryn menggeleng lemah. “Tidak tahu. Tapi, aku curiga kalau Mas Enrik juga tidak mengetahui hal ini. Kasihan dia.”
“Bagaiman Sayang tahu?”
“Hanya feeling. Entahlah, mungkin feelingku salah kali ini,” akhir Zoel.
Saat ini Floryn sudah mengenakan celemek bertuliskan De’ Lunar, sama seperti karyawan lainnya yang bekerja di sana. Ia mulai bekerja, begitu juga dengan Zoel. Laki-laki itu membawa sebuah nampan besar berisikan kue nastar kesukaan Floryn ke atas meja panjang yang masih kosong. Karena bulan puasa tidak lama lagi, cafenya mulai menambahkan beberapa jenis kue kering di daftar menu mereka.
Setelah nampan itu diambil alih oleh anak buahnya yang lain, Zoel kembali mendekati Floryn yang sedang sibuk di belakang meja kasir.
Laki-laki itu mengajak Floryn untuk masuk ke dalam ruang kerjanya yang berukuran tidak terlalu luas.
“Ada apa? Di luar masih ramai.” Floryn merasa bingung.
“Aku butuh penyemangat. Entah kenapa, aku merasa sangat lemas saat ini,” ungkap Zoel sembari memasang wajah kelelahan yang dibuat-buat.
“Idih … apaan, sih, Sayang? Kenapa tiba-tiba lemes? Belum sarapan?” tanya Floryn yang tidak ingin menanggapi keusilan Zoel padanya.
Floryn sudah berbalik dan siap melangkah pergi dari sana. Namun, Zoel lebih dulu menangkap pinggangnya dan memeluk wanita itu dari belakang. Tanpa sengaja, lengan Zoel menyentuh tubuh Floryn yang sensitive dan lembut.
“Emmh … Sayang, kamu sengaja, ya?” tanya Floryn yang tiba-tiba merasa pipinya memanas. Periodenya yang akan datang dalam beberapa hari, membuat semua saraf di tubuhnya menjadi lebih peka.
“Sorry, aku tidak sengaja …,” sahut Zoel dengan suara yang mulai serak. Sepertinya, kedua orang itu berada di area berbahaya saat ini. Padahal, keduanya sedang ada di tenpat kerja, dan bahkan pintu ruangan itu tidak dikunci. Bagaimana jika Widuri tiba-tiba masuk?
Zoel memutar tubuh Floryn hingga menghadap padanya. Zoel yang masih berdiri bersandar di tepi meja, terlihat sangat berharap.
“Sayang, sebaiknya kita keluar dari sini. Aku tidak ingin kita keterusan …,” bisik Floryn yang merasa tidak akan bertahan lama jika Zoel tidak menghentikan mereka.
Zoel tersenyum tipis. Ia mulai menarik Floryn hingga lebih rapat dengan tubuhnya. Dorongan-dorongan yang ditimbulkan oleh keadaan, membuat Floryn tidak bisa berbuat banyak.
Sampai akhirnya ….
“Ish, Sayang …,” protes Zoel saat ia merasa sebuah benda dingin menempel di bibirnya.
Ternyata, Floryn lebih dulu menyodorkan beberapa tumpuk undangan di depan wajahnya.
“Sorry, aku takut keterusan. Tidak baik kalau sampai terjadi. Ini tempat umum …,” terang Floryn, “lebih baik Sayang lihat undangan ini. Apakah semuanya telah sesuai atau belum …,” bujuk Floryn.
Zoel hanya bisa menyambut lembaran undangan itu dan menarik Floryn untuk keluar dari sana. Untung saja Floryn masih berpikiran waras, kalau tidak, ia sendiri pasti tidak sanggup untuk menghentikan desakan hormon yang mendobrak-dobrak ingin dilepaskan.
“Aku tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya, Floryn …,” batin Zoel yang tidak bisa fokus dengan undangan di tangannya.
__ADS_1
Floryn tersenyum, seakan tahu apa yang Zoel pikirkan barusan.
Bersambung.