Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Pebinor?


__ADS_3

Jangan lupa dukungannya, ya!


***


"Cika meninggal." Floryn mengatakannya dengan dingin dan datar.


"Cika? Astaga ... maaf, aku tidak tahu ...," lirih Enrik yang langsung saja merasa tidak enak dengan Floryn. Ia tahu kalau wanita itu adalah satu-satunya sahabat Floryn yang masih bertahan sejak jaman SMA.


"Begitu juga dengan suaminya,” tambah Floryn.


"Flo, itu gak lucu." Enrik merasa jika apa yang dikatakan Floryn kemungkinan besar tidak benar. Memangnya apa yang terjadi sampai-sampai pasangan itu bisa meninggal bersamaan?


"Apa aku terlihat lagi bercanda? Itulah alasan kenapa polisi-polisi itu datang ke sini. Karena aku sahabatnya. Sudahlah, Mas. Sebaiknya kamu pulang. Kalau kamu ...." Floryn menghentikan kalimatnya. Ada sesuatu yang tiba-tiba saja melintas di dalam otaknya saat ini.


Enrik benci sekali saat Floryn melakukan hal seperti itu. Ia menjadi penasaran ….


"Flo? ’Kalau aku’ apa?"


"Mas, di mana perhiasanku yang ada di lemari?" tanya Floryn. Ia hampir melupakan perkara itu karena masalah yang terus bermunculan.


Kening Enrik berkerut. "Perhiasan? Yang dariku dan ayah?" Enrik memastikan kembali.


"Bukan. Yang itu aku simpan di tempat lain. Yang milikku sendiri. Yang paling sering kugunakan ...," terang Floryn mencoba mengingatkan Enrik. Mana tahu saja laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu mengetahuinya.


Enrik menggeleng. "Aku tidak mengganggunya sama sekali. Aku juga tidak punya waktu untuk hal itu. Bukannya benda itu kamu simpan di dalam kotak, ya? Apa tidak dikunci?"


"Aku menguncinya. Tapi kotak itu sudah tidak berisi lagi. Jika saja aku bisa membuktikan kalau yang mengambil perhiasanku adalah selingkuhanmu, aku akan langsung melaporkannya, Mas. Dengar itu ...," ungkap Floryn penuh nada ancaman.

__ADS_1


"Kau bebas melakukannya, Flo."


Tentu saja Floryn terkejut dengan kata-kata Enrik barusan. Mengapa ia semudah itu terhadap Ambar? Apa begitu saja hubungan mereka?


"Ka-kamu tidak akan membelanya?" Floryn bingung.


"Kalau memang terbukti bersalah, untuk apa dibela? Aku tidak bodoh, Flo ...," bisik Enrik.


Di situ Floryn sadar kalau hubungan Enrik dengan Ambar hanya sebatas kesenangan. Dan laki-laki itu sanggup meninggalkan keluarga yang menyayanginya untuk hal tersebut.


"Sudahlah. Aku akan membuktikannya sendiri. Pulang saja, Mas. Lain kali, kirim pesan jika ingin menemui Alvin.” Floryn terlihat begitu lelah. Ia tidak ingin berdebat lagi kali ini.


Enrik masih mengingat apa yang polisi-polisi tadi katakan. Ia tidak ingin macam-macam pada Floryn untuk saat ini. Bagaimana kalau mereka melihat semuanya dan langsung menyeret Enrik ke penjara? Itu tandanya, apa yang ia rencanakan dengan Sintia, tidak bisa dilakukan sekrang. Keadaan sedang tidak kondusif.


“Aku akan mencari pengacara hebat, Flo. Mungkin saja hak asuh Alvin akan jatuh ke tanganku,” terang Enrik yang kemudian pergi dari sana.


Jantung Floryn berdebar-debar tak menentu. Ia takut hanya dengan ancaman itu. Padahal, ia juga bisa melakukan hal yang sama. Menyewa pengacara hebat untuk mendapatkan hak asuh atas Alvin. Selain itu, Enrik lah yang selingkuh. Mana mungkin bisa mendapatkan hak asuh anak mereka.


Sebenarnya hukum di Inodnesia sudah sangat benar. Sejalan dengan hukum agama yang mereka anut, hokum di Indonesia akan memberikan hak asuh anak itu kepada ibu. Hak asuh itu diberikan langsung kepada ibu, jika anak berusia masih di bawah dua belas tahun.


Lalu ada hal lainnya lagi, jika hak asuh itu tidak bisa jatuh ke tangan ibunya. Bisa jadi ibunya memiliki beberapa masalah yang membuat hak asuh anak harus diberikan kepada ayahnya.


Dengan lekas Floryn menutup pintu rumah ibunya lalu mengunci dengan rapat. Ia tidak mau jika Enrik sampai berubah pikiran dan kembali menghampirinya.


***


Sementara itu di sebuah rumah yang masih ada di kota yang sama, ada Zoel yang sedang berdebat dengan adiknya. Perdebatan itu membawa nama Floryn, sehingga mereka tidak menemukan ujung dari permasalahan itu sejak tadi.

__ADS_1


“Kamu gila, Bang … dia itu atasanku dan usinya lebih tua darimu … aku kira, kita hanya sedang mencoba berteman dengannya … aku kira hubungan kalian hanya main-main saja. Kamu serius?” selidik Widuri yang mulai merasa abangnya gila. Ya, gila wanita.


“Ini yang namanya cinta, Ri … gimana, dong? Awalnya, abang juga berpikir kalau tidak akan ada hal yang mungkin terjadi selama menjalankan rencanamu itu. Tapi ternyata … hati abang merasa berbeda, setelah melihatnya menolongmu di jalan tempo hari. Kamu masih mengingatnya, bukan?” tanya Zoel.


Widuri menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tidak bisa terima jika abangnya menyukai seorang wanita yang lebih tua dan masih memiliki suami. Bagaimana jika orang-orang menyebutnya sebagai pebinor? Reputasinya juga tidak akan baik-baik saja di depan teman-teman kantor.


“Tetap saja, Bang. Abang pikir, suaminya mau diapakan? Apa kamu akan menjadi suami ke dua Ibu Floryn?” tanya Widuri dengan pertanyaan yang tidak kalah gila.


Zoel tertawa. Ia tidak tahu kenapa, apa yang adiknya katakan barusan terdengar begitu lucu. Mana mungkin ia menjadi pebinor. Sedangkan Floryn saja sudah mengakui kalau hubungannya dengan sang suami sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Jalan baginya sudah terbuka lebar. Ia hanya harus menunggu waktu yang tepat.


“Kamu ada-ada saja. Pebinor … mana ada ….”


“Sebaiknya pikirkan lagi, Bang. Pikirkan juga reputasiku di kantor … aku kira, selama ini hubungan kalian hanya teman tapi mesra saja …,” lirih Widuri akhirnya.


Widuri begitu merasa bersalah. Ia pikir, karena permintaannya jugalah semua itu terjadi. Andai saja dulu ia tidak meminta abangnya untuk PDKT dengan sang bos di kantor, mungkin rasa antara abang dan bosnya tidak akan sampai terjadi.


Namun semuanya telah terjadi. Satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah memisahkan abangnya dengan Floryn. Widuri tidak mau jika nama baiknya di kantor sampai rusak. Apalagi, suami dari bos-nya itu adalah anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Mungkin ia tidak akan mendapat rekomendasi yang ia idam-idamkan. Namun, semua itu masih jauh lebih baik dari pada bosnya mengetahui jika abangnya merusak rumah tangga sang anak.


Widuri meninggalkan kamar abangnya. Laki-laki itu sudah sangat sehat dan bersikeras untuk pergi ke restorannya hari ini. Widuri enggan melarang. Toh omongannya juga tidak akan didengar.


Sepeninggal Widuri, Zoel mengambil kunci mobil yang ada di dalam saku jaket. Ia juga meninggalkan kamar untuk langsung pergi ke restorannya. Mungkin akan mampir sebentar untuk membeli buket bunga dan mengirimkannya ke rumah orang tua Floryn. Ya, mungkin hal itu bisa memancing Floryn untuk menanyakan keadaannya. Dua hari ini wanita itu seperti tidak ada kabar. Mungkin Floryn berpikir Zoel masih harus istirahat yang banyak.


Dddrrtt … Dddrrtt …


Sebuah getaran pada HP-nya mengalihkan pandangan Zoel. Ia masuk ke dalam mobil lalu membuka pesan yang masuk.


“Kamu di mana? Bisakah kita bertemu?” tanya pesan itu.

__ADS_1


Senyum Zoel merekah. Ia tidak mengira akan bertemu secepat ini. Mungkin ini-lah yang dinamakan jodoh ….


Bersambung.


__ADS_2