
Naura melambaikan tangannya ke arah Floryn yang tengah fokus dengan semangkuk bakso di depannya. Wanita itu langsung saja menghampiri Floryn tanpa menunggu lama.
"Hai!" sapa Naura saat ia sudah sampai di depan meja Floryn.
Tidak hanya Floryn, kedua orang yang sejak tadi ada di dekat Floryn juga mendongak. Seperti kecewa karena akhirnya Floryn tidak sendirian lagi.
"Hai. Lama tidak jumpa ...," kata Floryn yang kemudian meneguk habis minuman yang ia pesan.
Baru saja Naura ingin duduk, Floryn menarik tangan wanita itu untuk segera menjauh dari sana. Setelah memastikan jika tidak ada barangnya yang tertinggal, Floryn pergi tanpa menoleh lagi. Begitu juga dengan Naura yang tidak tahu apa-apa.
Setelah agak jauh, Floryn menghentikan langkahnya. Ia tersenyum dan memeluk Naura sebentar.
"Thank's sudah datang di saat yang tepat ...," ungkap Floryn antusias.
Hal itu membuat Naura bingung. "Memangnya ada apa, sih? Apa ada orang jahat yang mengikutimu?" tanya Naura curiga.
Floryn mengangguk ragu. Ia masih tidak yakin apakah kedua orang itu berbahaya atau tidak. Yang pasti, keberadaan mereka membuat Floryn risih.
"Kamu lihat dua orang yang tadi ada di dekatku? Mereka itu pasangan gila yang kutemui di bus. Masa mereka ... ah, sudahlah! Memikirkannya saja membuatku eneg!" keluh Floryn.
Naura merangkul bahu sahabatya. Ia tahu betul apa yang dimaksud oleh Floryn. Pasangan seperti itu banyak di daerahnya kini. Para pelancong memang harus ekstra hati-hati. Bisa saja mereka juga merangkap sebagai penjahat. Untungnya Floryn masih dalam keadaan sadar ketika bertemu dengan Naura.
"Ya sudah ... lebih baik langsung ke mobilku saja. Sepertinya sebentar lagi hujan kembali turun. Biasa ... sudah masuk musim penghujan dan cuaca semakin tidak menentu ...," ungkap Naura.
Floryn megangguk setuju. Keduanya pergi ke area parkir mobil yang posisinya tidak jauh dari pintu masuk utama.
***
Di dalam mobil, Naura melepaskan topi dan masker yang sejak tadi ia kenakan. Lalu menyalakan radio untuk mendengar siaran yang sedang diputar siang itu.
"Jadi, apa kita langsung saja ke rumahku, atau ada tempat lain yang ingin kamu kunjugi?" tanya Naura begitu pengertian.
Pada saat seperti ini, Floryn harus mengambil keputusan. Apakah ia akan bilang pada Naura atau tidak. Dan Floryn memutuskan untuk tidak mengatakannya terlebih dahulu. Ia khawatir jika Naura malah heboh dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
"Ada tempat yang ingin kudatangi. Aku ingin menemui seseorang. Sebentar, aku lihat alamatnya ...," kata Floryn sedikit berbohong.
Naura mengangguk paham dan mengalihkan kesibukan pada benda pipih yang sejak tadi ada di saku jaketnya. Naura mulai fokus pada benda itu dan tidak menoleh-noleh lagi.
Sedangkan Floryn, ia mulai melacak keberadaan HP Enrik. Ia pernah mempelajari caranya dari seorang teman. Ternyata skill itu berguna saat ini. Ia tidak menyangka saja.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Naura kembali bertanya dan Floryn hanya bilang untuk menunggu sebentar lagi. Lalu, binggo! Apa yang Floryn perlukan telah ia dapatkan.
Floryn menemukan lokasi suaminya berada. Laki-laki itu berada di lokasi Villa Joerang Bening yang merupakan villa milik ayah mertuanya. Dada Floryn terasa sesak. Ia sering kali meminta Enrik mengajaknya dan Alvin liburan di sana. Namun Enrik selalu beralasan kalau ia terlalu lelah untuk pergi.
Akan tetapi, apa ini? Laki-laki itu malah mengajak pembantu mereka menginap di sana. Begitu rendah!
"Kamu tahu Villa Joerang Bening, kan? Bisa mengantarku ke sana?" tanya Floryn memastikan.
"Hhmm ... Bukankah ada villa mertuamu di sana? Kamu ngapain ke sana sendirian?" tanya Naura penasaran.
"Tidak apa. Hanya ingin menemui seseorang. Kamu tidak sibuk, kan?" tanya Floryn memastikan.
"Tidak. Tenang saja ...."
Naura menjalankan mobil itu menuju ke lokasi yang diinginkan Floryn. Ia tidak ingin ambil pusing dengan urusan sahabatnya. Yang harus ia lakukan hanyalah membantu wanita itu. Selama ini, Floryn dan Martha, sudah sangat baik padanya.
***
Mobil Naura berhenti di depan villa yang dimaksud Floryn. Villa Joerang Bening.
Keduanya melihat keadaan sekitar. Hujan yang cukup deras membuat pandangan mereka tidak bisa melihat cukup jauh.
Saat Naura akan membuka pintu, Floryn menghalanginya.
"Eh, mau kemana?" tanya Floryn gugup.
"Loh ... kita mau masuk, kan?" jawab Naura.
"Eeemm ... biar aku saja. Ada sedikit urusan pribadi. Gak masalah, kan?" tanya Floryn memastikan. Ia jadi tidak enak dengan wanita itu.
"Ooohh, begitu. Ya sudah. Aku tunggu di sini. Kalau ada perlu apa-apa langsung panggil, ya."
Floryn mengangguk dan membuka pintu dengan cepat. Ia menerobos hujan dengan segera. Ia tidak mau kebasahan karena ia juga membawa HP di dalam tas kecilnya.
Dengan sedikit basah, Floryn sampai di pintu depan. Akan tetapi, ia tidak ingin menekan bel karena hanya akan menggagalkan rencananya. Floryn menelusuri pinggir rumah untuk pergi ke arah belakang. Seingatnya, di belakang sana ada pondok yang berfungsi sebagai kamar. Dulu, mereka menghabiskan malam panas di tempat itu.
Dada Floryn kembali terasa sesak saat menyadari jika mungkin Enrik dan Ambar berada di pondok itu juga. Semua yang pernah Enrik lakukan dengannya, dilakukan juga dengan pembantu itu. Floryn merasa Enrik sudah begitu merendahkannya.
Langkah Floryn terus maju. Ia tidak ingin mundur sampai mendapat apa yang ia perlukan. Bukti yang bisa membuatnya berpisah dengan Enrik dengan tenang. Tanpa ada ketakutan, tanpa ada penyesalan.
__ADS_1
Klek ....
Floryn membuka pintu samping yang untungnya tidak terkunci. Mungkin pembantu mereka lupa atau memang pintu itu tidak perlu dikunci.
Pandangan Floryn beralih ke arah pondok yang memperlihatkan adanya tanda-tanda kehidupan. Semua lampunya menyala.
Dengan sangat hati-hati, Floryn mencoba mendekati pondok itu. Ia harus berusaha agar air hujan tidak mengenainya begitu banyak. Bahkan Floryn harus berjalan mepet di dinding rumah dan pagar.
Setelah bersusah payah, akhirnya ia sampai di pondok itu. Belum juga Floryn mendekat, ia sudah mendengar suara-suara erangan yang berasal dari pembantunya. Erangan itu terdengar begitu nikmat dan menuntut. Susah payah Floryn menelan saliva.
Entah mengapa, Floryn langsung tahu jika itu suara Ambar. Pondok itu terbuat dari kayu. Tidak akan bisa meredam suara yang ada di dalamnya.
Bersamaan dengan itu, gemuruh guntur terdengar bersahutan. Tidak cukup mengejutkan bagi kedua orang yang tengah bercumbu di dalam sana. Mereka hanya tertawa dan kembali dengan kegiatan sebelumnya.
Floryn mengeluarkan sebuah benda pipih dari dalam tas dan membuka kamera. Jauh-jauh ia datang ke sana, Floryn tidak mau semuanya sia-sia.
Floryn berjingkat untuk mendekati pintu utama dan mempersiapkan kamera HP-nya. Ia tahu saat ini adalah waktunya.
Dengan sangat yakin, Floryn berdiri di depan pintu pondok. Memegang kamera di tangan kanan dengan sedikit bergetar.
"Aakkh ... Sayang! Lebih dalam lagi ...," mohon Ambar dengan manjanya. Membuat telinga Floryn sakit hanya dengan mendengar saja.
"Okeey. Kamu yang minta, ya ...," sahut sebuah suara yang Floryn yakini sebagai suara Enrik. Ya, ia tidak mungkin salah.
"Aaakkkh ...." Suara Ambar tersentak tertahan. Membuat lutut Floryn ikut melemas. Kenapa tiba-tiba nyalinya kembali memudar?
Dengan sangat perlahan, Floryn mencoba mengintip keadaan di dalam melalui celah di pintu. Pemandangan di dalam sana membuat dada Floryn panas. Tanpa ia sadari, air mata menitik dengan cepat.
"Brengsek ...," lirih FlorynFloryn sakit.
Keduanya terlihat sedang asik di atas ranjang. Saling memompa dan memberikan kenikmatan. Dengan gagahnya Enrik menguasai Ambar di bawah kungkungannya. Wanita sundal itu membuka kakinya dengan lebar. Menerima setiap hujaman yang diberikan Enrik.
Floryn tidak sanggup lagi. Ia mundur.
Brak!
Sekuat tenaga Floryn menendang pintu pondok yang hanya terbuat dari kayu. Seketika pintu itu terbuka dengan lebarnya. Sorot kamera HP yang dilengkapi lampu flash mulai merekam aktifitas itu. Membuat keduanya terkejut dan tidak berkutik sama sekali ....
Bersambung.
__ADS_1