
Hai, Semua!
Floryn dan semua masalahnya datang lagi!
Jangan lupa like dan koment-nya juga, ya!
Terima kasih (*´︶`*)ฅ♡
***
Jantung Floryn berdebar semakin cepat saat ia melihat kehadiran sang ayah mertua di kantor. Sebenarnya ia lebih takut lagi dengan kehadiran Enrik. Entah apa yang ia takutkan. Padahal, Enrik yang bersalah atas semua yang terjadi di antara mereka. Enrik yang berselingkuh, bukan dia. Lalu kenapa takut?
“Bu? Apakah Anda mendengar saya?” tanya seorang staff dari divisi lain yang sedang memerlukan sesuatu darinya. Floryn tidak begitu memperhatikan.
“Ah? Apa? Maaf, saya kurang menyimak … mungkin Anda bisa mendapatkannya langsung dari Widuri, ia salah satu staff saya yang ada di sana,” jelas Floryn seraya mempersilakan orang itu untuk menjauh darinya. Ia sedang fokus terhadap hal lain.
“Widuri? Maaf, Bu. Tapi kata temannya yang laki-laki itu, Widuri belum datang. Apa mungkin dia terlambat?” tanya orang itu semakin tidak sabaran.
Floryn berpaling dan mengamati orang di hadapannya kini. Kemudian, ia mengangkat tangannya untuk melihat jam berapa saat ini. Dan ia tidak percaya jika Widuri bisa terlambat. Biasanya wanita muda itu tidak akan terlambat, apalagi saat divisi mereka sedang melakukan penilaian bulanan untuk menilai kinerja semua karyawan.
“Baiklah. Kalau begitu, tunggu setidaknya sepuluh menit lagi. Saya akan mengirimkannya langsung ke layar komputer Anda. Bisa diterima?” tanya Floryn kemudian.
Orang itu terlihat malas berdebat. Ia hanya angkat bahu dan pergi dari sana.
Para peserta rapat sudah mulai memasuki ruang meeting yang telah dipersiapkan. Meeting hari ini adalah meeting besar. Tidak mungkin Enrik melewatkannya. Akan tetapi, sudah hampir semua orang masuk ke dalam ruangan, tanda-tanda kehadiran Enrik belum juga terlihat.
“Bu Floryn …,” sapa Gana yang merupakan salah satu staff-nya sama seperti Widuri.
“Ya?” sahut Floryn yang masih mengawasi keadaan sekitar.
“Widuri mengirimi saya pesan. Katanya dia tidak bisa masuk karena saudaranya masuk rumah sakit.”
“Hah? Sa— maksudnya? Jadi?”
__ADS_1
“Dia akan mengirimkan file yang telah ia kerjakan ke e-mail saya dan ibu. Dia minta saya untuk menyampaikan maaf kepada ibu. Katanya juga, abangnya tidak mungkin ditinggal sendirian di rumah sakit,” terang Gana.
Floryn terlihat berpikir. Mungkin tadi Widuri sudah mengirimkan pesan padanya, tapi sayang ia tidak punya HP untuk sementara ini.
“Apa dia bilang apa yang terjadi pada saudaranya?” tanya Floryn yang tidak tahan untuk tidak bertanya.
Akan tetapi, Gana hanya menggeleng karena memang tidak ada pemberitahuan seperti itu dari Widuri.
“Saya permisi dulu, Bu.” Orang itu pergi.
Kini hanya sisa Floryn seorang yang belum masuk ke dalam ruang meeting. Dengan satu tarikan napas, Floryn melangkah masuk. Bagus kalau suaminya tidak datang. Itu artinya ia tidak perlu capek-capek menjaga hatinya agar tidak panas kembali.
***
Setelah hampir dua jam berjalan, pintu ruang meeting terbuka. Dari sana muncul sosok Enrik yang terlihat rapi seperti biasanya. Yang berbeda adalah visualisasi kebahagiaan yang terlihat sangat tinggi. Floryn berharap ia salah lihat saja. Sayang sekali semua pasti juga menganggapnya begitu.
“Selamat pagi menjelang siang, Semua. Maaf saya terlambat. Perjalanan dari Bogor ke Jakarta pagi ini lumayan macet …,” terang Enrik yang langsung saja duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya. Yang pasti, tidak jauh dari sang ayah.
“Sial. Apa mereka begitu menikmati malam di sana? Bajingan dan pelacur. Bukankah mereka sangat cocok? Ternyata, yang selama ini kukira emas, hanya seonggok sampah tidak berguna!” omel Floryn di dalam hati.
Selama rapat berlangsung, Floryn berhasil menjauhkan tatapannya sendiri untuk bertemu pandang dengan tatapan Enrik. Orang itu pandai mengintimidasi. Ia tidak ingin fokusnya pecah dan membuyarkan pimikirannya untuk rapat ini.
“Baiklah. Mungkin sampai di sini dulu rapat kita hari ini. Untuk perkembangan lain yang berpengaruh pada perusahaan, akan kita bahas pada rapat dewan direksi tiga hari dari sekarang. Semua hal yang menjadi fokus kita untuk hari ini, akan dirangkum kembali dan dikirimkan file-nya kepada Anda semua,” kata sekretaris Edward yang selalu tegas seperti biasa. Wanita itu bisa menguasai semua orang dengan begitu mudahnya. Mungkin pengalamanlah yang membuatnya begitu.
Hampir semua peserta rapat di ruangan itu keluar. Tidak terkecuali dua orang staff Floryn yang hadir bersamanya tadi. Sayangnya, Edward dan Enrik masih berada di sana. Mereka tahu ada yang harus dibicarakan dan hal itu karena Floryn.
“Apakah aku siap?” batin Floryn saat tatapannya bertemu dengan Edward.
“Ya. Kamu siap. Kamu siap sekali, Flo! Ingat, kamu punya bukti yang kuat tentang semuanya. Jangan biarkan laki-laki itu memutarbalikkan fakta. Bagaimanapun juga, kamu tidak pernah selingkuh darinya lebih dulu. Lalu, saat ini adalah kesempatanmu untuk bicara. Tenang saja, Edward adalah pihak yang netral. Pembicaraan ini antara dirimu dan Enrik. Tidak ada orang yang akan mengacau seperti Sintia ….” Suara di dalam kepala Floryn mengatakannya dengan lantang.
Floryn menggenggam bandul kalung berbentuk bintang yang merupakan pemberian ibunya saat ia remaja. Kalung itu membuatnya tenang. Walaupun hanya sugesti yang diberikan Martha, tapi Floryn senang memilikinya.
“Duduk.” Edward mempersilakan anak dan menantunya untuk duduk di dekatnya. Laki-laki itu selalu tegas dan tidak ingin di bantah.
__ADS_1
Tanpa di suruh dua kali, Enrik dan Floryn duduk di sisi kanan dan kiri Edward. Kini Floryn tidak lagi takut melihat wajah sang suami yang telah mengkhianatinya. Sudah tidak ada orang lain di ruangan itu. Ia bisa bicara sebebas-bebasnya.
“Jadi, aku pikir Floryn pasti telah meminta pertemuan itu terjadi,” tebak Enrik yang sedang duduk bersandar sembari memainkan pena di tangannya.
Floryn mengalihkan pandangan. Ia lalu membenarkan duduk dan kembali diam.
“Kamu bisa mengatakannya sekarang, Flo,” jelas Edward.
Hal itu membuat Enrik tersenyum. Mengatakan itu berarti tidak berdasarkan apa-apa. Ia tidak akan khawatir dengan omongan Floryn.
“Mas Enrik … dia … dia sudah selingkuh di belakang Floryn, Yah. Floryn tidak tahu sejak kapan, tapi Floryn telah melihat dengan mata kepala sendiri, bahkan sebanyak dua kali,” ungkap Floryn dengan usaha yang cukup keras.
Hal itu membuat pandangan Edward tertuju kepada anaknya saat ini. “Benarkah itu, Nak?” tanya Edward dengan dingin dan datar.
Enrik tersenyum skeptik lalu meletakkan penanya di atas meja. “Kenapa kamu menuduh suami sendiri seperti itu? Apa kamu tidak mencintaiku lagi, Flo?” tanya Enrik pada istrinya.
“Kenapa masih berpura-pura? Setelah apa yang kulihat kemarin, kamu masih bisa berbohong, Mas? Rasanya sudah terlambat untuk itu!” tukas Floryn yang tidak suka dengan kepura-puraan Enrik.
“Kemarin? Bukankah kamu sedang mengurus masalah pekerjaan di Bogor?” tanya Edward yang masih terdengar datar.
“Ya, Ayah. Aku ke Bogor untuk mengurus masalah pekerjaan. Aku juga tidak tahu kenapa wanita ini tidak percaya dengan suaminya sendiri. Mungkin dia perlu menempelkan CCTV di tubuhku agar bisa memantau semuanya …,” ungkap Enrik dengan sangat mengejek.
Floryn tersenyum. Ia merasa lucu. Mungkin Enrik berpikir kalau Floryn tidak mempunyai bukti itu. Ia kasihan kepada Enrik karena ayahnya sudah tahu semua yang anaknya perbuat. Edward bersikap seperti itu hanya untuk mengetahui apakah anaknya akan berkata jujur padanya atau tidak. Sayang srkali laki-laki itu gagal melewati ujian dari Edward.
Enrik yang kembali asik memainkan pena di tangannya, dialihkan oleh sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
“Sebentar.” Enrik mengambil benda itu dan terkejut dengan beberapa pesan yang datang bersamaan. Nampaknya pesan itu sudah dikirim sejak beberapa jam lalu, tapi baru bisa ia terima sekarang.
“Pesan dari Sintia banyak sekali. Apa yang ingin ia katakan?” batin Enrik. Tanpa menunggu lama, ia membuka pesan yang paling awal diterima. Isinya membuat Enrik pucat. Pandangannya beralih dari layar HP ke arah Floryn. Lalu berpindah lagi ke arah Edward.
“Tadi malam Floryn ke rumah dan memperlihatkan video-mu bercinta dengan seorang pembantu. Dasar bodoh!” Kenapa pesan itu baru tiba padanya saat ini?
Bersambung.
__ADS_1