
Semoga hari kalian menyenangkan, ya!
Jangan lupa sentuh like-nya dan berikan komentar terbaik kalian.
Selamat membaca...
***
Floryn terbangun dengan kepala yang masih agak pusing. Untungnya, Dokter Rima sudah meninggalkan beberapa butir paracetamol untuk wanita itu.
Di samping Floryn, ada Widuri yang masih sibuk mengetik di ponselnya. Ia terlihat serius dan fokus pada hal itu. Sampai-sampai tidak menyadari kalau bosnya sudah sadar.
"Wi ... apa ... tadi saya pingsan?" tanya Floryn memastikan dirinya sendiri.
Mendengar suara bosnya, Widuri hampir menjatuhkan HP yang ia pegang. Untung saja benda itu masih mau menempel di telapak tangan.
"I-ibu ... iya, Bu. Tadi ibu pingsan!" sahut Widuri gugup.
Floryn melihat sebuah plastik wrap berisi beberapa butir obat dan mengambilnya. "Apakah kalian memanggil dokter?" Floryn memastikan lagi.
Widuri mengangguk. "Tadinya teman-teman yang lain ingin memanggil Pak Enrik, tapi saya buru-buru melarang dan memilih untuk memanggil dokter saja. Saya juga kelepasan bilang kepada mereka ... kalau Ibu sedang dalam tahap perceraian dengan Pak Enrik," ungkap Widuri. Wanita itu khawatir bosnya marah.
"Begitu ... eeemm ... tolong ambilkan air. Saya mau meminum obat ini. Kepala saya masih terasa sakit. Lalu, apakah dokter bilang, apa yang terjadi dengan saya?" tanya Floryn penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja Widuri menjadi ragu. Ia memperhatikan keadaan sekitar. Tirai vertical blind yang masih berantakan membuat suasana di luar ruangan Floryn terlihat dengan jelas.
"Kata dokter ... ibu hamil," ungkap Widuri.
"What?! Kamu bercanda, Wi?" tanya Floryn tidak percaya. Kedua tangan Floryn sudah mencengkeram bahu Widuri dan menuntut wanita itu berkata, kalau dia hanya bercanda.
Akan tetapi, bukan jawaban itu yang Floryn terima. Widuri malah menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin.
"Aish! Bisa-bisanya aku hamil!" Floryn terdengar begitu marah. "Wi! Jangan bilang Zoel tentang hal ini!" tukas Floryn. Hal itu adalah hal pertama yang ia pikirkan.
Mendengar hal itu, Widuri membulatkan matanya. "Ke-kenapa, Bu?" tanya Widuri panik.
Floryn berbalik dan mengetahui kalau Widuri pasti sudah bilang kepada sang abang.
"Astaga ... kamu sudah bilang padanya, ya?" tanya Floryn yang sudah tahu apa jawaban widuri nanti.
Lagi-lagi Widuri mengganggu sesuai dengan perkiraan Floryn.
Klek.
Pintu ruang kerja Floryn terbuka dan tertutup kembali. Namun, tidak ada yang menyadarinya.
__ADS_1
"Oke. Lalu ... apa katanya?" tanya Floryn yang masih berusaha untuk berpikir.
"Aku bilang, sebaiknya kamu pulang dan istirahat," sahut seorang laki-laki yang sudah muncul di belakang Widuri.
Hal itu membuat Widuri seketika merinding dan menjauh dari sana. Ia memilih untuk melipir, karena Widuri paham jika keduanya mungkin sudah memiliki hubungan yang lebih jauh.
"Zoel? Apa yang kamu lakukan di kantorku? Kamu bisa membuat Pak Edward ngamuk!" tukas Floryn. Ia takut hal ini berpengaruh dengan sidangnya. Apalagi Enrik meminta mediasi dan ia ... kalau dokter tidak salah diagnosa, sedang hamil saat ini.
"Bagaimana aku bisa tenang saat mendengar kabar kalau kamu jatuh pingsan saat jam kerja?" sergah Zoel yang kini sudah berada di hadapan Floryn.
Zoel menempelkan punggung tangannya di kening wanita itu.
"Aku gak demam," kata Floryn sebelum Zoel bertanya.
Zoel mengerutkan kening. "Lalu, untuk apa paracetamol?" Pandangan Zoel beralih pada plastik wrap yang Floryn pegang.
"Itu untuk menghilangkan sakit kepalanya saja," terang Floryn.
"Baiklah ... bagaimana perasaanmu sekarang? Sebaiknya kita pulang, ya? Aku masih bertanggung jawab atas dirimu. Ingat, bagian antar jemput?" tanya Zoel.
Floryn berusaha untuk tersenyum. Sesungguhnya ia malu karena masih bisa hamil dengan Enrik. Namun, sosok di depannya kini, kenapa begitu santai?
"Eeemm ... sakit kepala ...," sahut Floryn ragu.
"Itu saja? Pingsan?"
Zoel meninggalkan Floryn untuk mengambil tas kerja wanita itu.
Kesempatan tersebut digunakan Floryn untuk bicara pada Widuri yang masih berdiri di sana.
"Kamu tidak bilang kalau saya—"
Belum selesai Floryn bicara, Zoel sudah meraih tangan Floryn dan menggandeng wanita itu.
"Ayo," ajak Zoel kemudian. "Ri, kami pulang dulu. Kalian bisa bekerja tanpa wanita ini, kan?" tanya Zoel memastikan.
"Eh? Ka-kami? Iya ... bisa. Laporannya akan kami kirimkan sore ini, Bu!" sahut Widuri gugup.
Widuri sama gugupnya dengan Floryn. Apakah Zoel tidak paham saat ia bilang Floryn sedang hamil?
"Apa jangan-jangan ... itu bayi abangku, ya? Astagaaaaaa!!" batin Widuri protes.
Ia hanya bisa memandangi kepergian Zoel dan bosnya. Namun, keduanya sudah tidak lagi bergandengan tangan. Tentu saja Floryn menolak karena masih ada staff-nya yang lain di sana.
Semua mata yang melihat kepergian Floryn, tidak punya pikiran macam-macam. Mereka malah berpikir kalau Zoel itu mungkin bodyguard Floryn atau sejenisnya.
__ADS_1
Selain itu, hanya Widuri lah yang mendengar tentang kehamilan Floryn itu dari Dokter Rima. Beban berat yang seharusnya tidak ia pikul sendirian.
***
Di dalam mobilnya, Zoel lebih banyak diam dari pada bertanya. Tidak seperti tadi saat ada Widuri.
Padahal, Floryn ingin laki-laki itu banyak bertanya. Setidaknya, ia akan tahu apakah Zoel mengetahui kehamilan itu atau tidak. Apakah Widuri sudah benar-benar bilang atau belum.
"Zoel ...," panggil Floryn dengan suara lirih.
"Hhmmm?" sahutnya singkat.
"Kamu ... tidak apa-apa?" tanya Floryn kikuk. Ia hampir saja mengumpat pada diri sendiri karena telah mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti itu. Bukankah yang pingsan itu dia? Kenapa malah bertanya tentang keadaan Zoel?
"Aku? Aku baik-baik saja. Kenapa bertanya? Bukankah kamu yang jatuh pingsan?" tanya Zoel tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.
Mobil Zoel sudah keluar halaman gedung dan terus bergerak menuju ke jalan utama.
Floryn terdiam. Ia berada di posisi yang serba salah. Mau langsung bertanya pun, jadinya ragu.
"Bisakah kamu mengantarku ke rumah sakit?" tanya Floryn pada akhirnya.
Zoel mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Floryn, seperti yang gemar ia lakukan. "Oke."
Floryn menutup mata. Ia masih lemas karena kondisi tubuh dan mentalnya. Floryn bersyukur sekali karena Zoel tidak bertanya banyak hal.
Zoel tahu atau tidak, hal itu tidak akan mengubah apa pun. Jika benar ia hamil, akan banyak hal yang harus dipikirkan. Salah satunya, apakah Zoel masih menginginkan untuk bersamanya?
***
Sementara itu, dari kejauhan Enrik hanya bisa melihat kepergian Floryn dan laki-laki yang berusaha menggantikan dirinya.
Tinjunya mengepal dan rahangnya mengeras.
"Apa yang laki-laki itu lakukan di kantor? Apa hubungan mereka sudah sedekat itu?!" tanya Enrik pada angin.
Ia merogoh saku celananya dan melihat kotak pesan masuk. Sayangnya, tidak ada apa-apa di sana.
Enrik tidak sabar dengan deal yang sudah ia lakukan tempo waktu. Kenapa orang-orang itu tidak melakukannya dengan cepat? Kenapa ia masih melihat kemesraan Floryn dan laki-lakinya?
Aah ... mungkin karena ia meminta kedua orang itu untuk membuat Zoel pergi dengan sendirinya. Tentu saja hal itu butuh waktu yang tidak sebentar.
"Kenapa aku tidak minta mereka membunuhmu saja, ya? Ck! Pasti saat itu aku sedang tidak waras ...."
Bersambung.
__ADS_1
#Kamu memang gak waras, Rik...