
Hai, jangan lupa pencet LOVE sebelum mulai membaca, ya! Biar gak kelewat pastinya. Berikan juga komentar yang menarik di kolom komentar. Mana tau aja kalian dapat pulsa @10k dari saya. Saya akan pilih dua komentar yang paling menarik pada semua bab, mulai tanggal 20-25 Desember 2021.
Good luck, semuaaaa (*´︶`*)ฅ♡
***
Sekarang.
Tidur Floryn tidak nyenyak karena hawa dingin yang menyerangnya. Dengan enggan, ia menarik selimut dengan kesadaran yang belum sempurna.
Sekilas netra Floryn mengamati jam dinding yang berada tepat di depan tempat tidur mereka. Masih jam empat subuh dan ia memang belum puas memejamkan mata.
Hawa dingin juga membuatnya kembali pulas. Apalagi ada selimut tebal yang sudah menghangatkannya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Floryn merasa perutnya berat. Mau tidak mau netra Floryn kembali terbuka. Saat itulah ia menyadari jika bobot itu berasal dari tangan Enrik yang mendarat di atas perutnya.
Tatapan Floryn naik untuk melihat apakah suaminya itu masih tertidur atau sudah bangun. Ternyata Enrik sudah tersenyum dengan pandangan yang segar.
“Selamat pagi, Sayang … bagaimana tidurmu semalam?” tanya Enrik yang sudah memberikan senyum paling manis untuk sang istri.
“Eem … nyenyak. Bagaimana denganmu?” tanya Floryn yang masih sangat berharap kalau Enrik tidak meyadari kepergiannya semalam.
“Jam berapa pulangnya?” tanya Enrik tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat jantung Floryn berdetak lebih cepat. Ia tidak menyangka ternyata laki-laki di hadapannya saat ini, tahu tentang kepergiannya tadi malam itu.
“Pu-pulang? Eem … sepertinya jam satu. Papah tau dari mana aku keluar?” tanya Floryn yang sedang berusaha agar terlihat biasa saja.
“Oohh … pantas saja saat aku terbangun jam setengah satu tadi malam, Sayang tidak ada. Memangnya Sayang ke mana?” tanya Enrik dengan senyum yang masih mengembang. Lama-lama Floryn merasa ngeri sendiri.
__ADS_1
“Aku? Aku pergi ke rumah ibu. Kata ibu, Alvin mengigau dan tidak berhenti menangis,” ungkap Floryn seperti kebohongan yang ia katakan pada Ambar tadi malam.
“Lalu, bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Enrik yang kini mulai terlihat khawatir.
“Pagi ini aku belum menanyakannya lagi kepada ibu. Mungkin sebaiknya aku menghubungi ibuku sekarang …,” ungkap Floryn yang sedang berusaha terdengar meyakinkan.
Enrik mendekati Floryn dan memberikannya satu kecupan singkat di kening. Floryn hanya meringis saja menerima hal itu. Kemudian, ia mengambil sebuah benda pipih yang tergeletak di atas nakas.
Dari tempatnya berbaring, Floryn melihat ke arah Enrik yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. Untung saja Enrik tidak bertanya-tanya lebih jauh.
“Hallo …,” sapa Floryn yang sudah tersambung dengan Martha, ibunya.
Akhirnya mereka ngobrol mengenai Alvin yang ‘mengigau’ tadi malam. Untung saja Ibu Martha mau paham dan mengerti.
“Baiklah, Bu. Kalau Alvin rewel lagi, hubungi saja Floryn …,” kata Floryn dengan agak nyaring. Saat itu juga Enrik keluar dari dalam kamar mandi. Panggilan keduanya berakhir.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Enrik sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Floryn masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat. Ia tidak ingin mendengar pertanyaan lagi dari Enrik tentang tadi malam.
“Sayang … pagi ini aku akan pergi ke Bogor … semalam aku lupa bilang padamu …,” kata Enrik dengan suara yang agak nyaring.
Floryn yang berada di dalam kamar mandi, langsung menghentikan air shower yang sudah menyala sejak beberapa saat lalu. Dengan enggan, ia sedikit membuka pintu kamar mandi setelah melilitkan handuk di tubuhnya sendiri.
“Ke Bogor? Ada urusan apa? Ini hari libur, Mas …,” tanya Floryn yang tidak ingin kecolongan lagi untuk kesekian kalinya. Bisa saja Enrik merencanakan sesuatu dengan Ambar. Pasalnya, Ambar akan mendapatkan dua kali libur dalam satu bulan. Liburnya setiap hari minggu. Dan seingat Floryn, hari ini adalah hari libur wanita itu.
“Ayah menyuruhku mengawasi perkerjaan lapangan yang dilakukan di sana. Katanya pengawas yang lama sedang cuti dan pekerjaannya tidak bisa ditangguhkan di hari lain,” ungkap Enrik yang sudah mengenakan setelan mahal seperti biasanya.
Jika dilihat dari penampilannya, Floryn akan percaya jika Enrik akan pergi untuk bekerja. Akan tetapi, Enrik bukan orang bodoh. Ia pasti punya banyak cara untuk mengakali niatnya dan berusaha agar tidak ketahuan oleh Floryn.
__ADS_1
“Aku mau ikut …,” kata Floryn tanpa ia pikirkan. Hanya hal itu saja yang terlintas di pikirannya saat ini.
“Hah? Ikut? Sebaiknya jangan, ya … kamu bilang keadaan Alvin sudah membaik, tapi gimana kalau ia kembali rewel dan mencari kita? Setidaknya, ada kamu di rumah …,” ungkap Enrik dengan bijaksananya. “Atau mungkin kamu bisa pergi ke rumah ibu saja sekalian … sesekali ajak ibu dan Alvin keluar. Ia hari minggu, kan …,” tambah Enrik.
Floryn tahu ia tidak bisa mematahkan argument itu. Salahnya sendiri karena bilang jika Alvin semalam rewel. Sekarang ia kena getah atas kebohongan yang ia ciptakan.
“Mas benar … maaf, aku melupakannya …,” sahut Floryn kalah.
Enrik tersenyum dan kembali mendekati Floryn. “Maaf, ya … lain kali kita akan liburan bertiga. Kali itu pasti akan menyenangkan,” terangnya berusaha menghibur.
“Okey ….” Floryn hanya bisa menerima. Untungnya ia tahu apa yang harus dilakukan dalam hal ini.
Setelah Enrik keluar dari kamar, Floryn langsung masuk lagi ke dalam kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan air hangat. Ia melakukannya dengan cepat karena ingin tahu apakah Ambar sudah pergi atau belum. Sebisa mungkin, ia ingin menahan wanita itu agar terlambat pergi. Dari sana mungkin ia bisa tahu apakah wanita itu punya janji dengan suaminya atau tidak.
***
Tidak sampai sepuluh menit, Floryn sudah berada lagi di dapur rumahnya. Ternyata, Ambar sudah pergi sejak pagi-pagi sekali. Kalau kata pembantunya yang satu lagi, wanita itu takut jika tidak kebagian tiket bus. Menurut Mira, Ambar mau pulang ke kampung dan tiketnya suka cepat habis.
“Baiklah, Bik. Saya mau ke rumah ibu saya. Mana tahu ada yang mencari saya, bilang saja saya di sana …,” terang Floryn yang sudah siap untuk pergi.
“Loh, Nyonya tidak sarapan dulu? Ini biar saya hangatkan,” tanya pembantu itu bingung.
“Tidak usah, Bik. Saya sarapan di rumah ibu saja. Tolong kunci pintunya.” Floryn mengingatkan.
Mira menagguk dan mengikuti langkah kaki sang majikan. Setelah Floryn pergi dengan mobilnya, pembantu itu menutup pintu dan menguncinya dengan rapat. Sesuai amanah yang diberikan Floryn.
“Gini, nih … tampilan sebuah keluarga yang isinya pekerja semua. Yang laki kerja … yang perempuan kerja … sampai-sampai anak dititipkan di rumah neneknya. Padahal ini hari minggu.” Mira berbicara sendiri. “Tapi bukan urusanku, sih … lagi-lagi hari ini aku nyantai … gak ada Ambar juga yang kadang bawel!” Ia tersenyum senang.
Tidak ada siapa-siapa di rumah majikannya, hanya berarti satu hal bagi wanita itu, yakni nonton drakor sepuas-puasnya! Kalau di rumah, ia tidak bisa nonton drakor karena tidak memiliki TV Internet. Tidak seperti di rumah Floryn dan Enrik yang menyediakan semuanya dengan lengkap.
__ADS_1
Begitulah nasib pembantu yang ditinggal majikan, setelah pekerjaan utama beres, waktunya bersantai-santai ….
Bersambung.