
Saat ini, dua orang petugas dari kepolisian sudah ada di rumah Martha. Kedua laki-laki itu datang sesuai dengan janjinya dengan Martha.
Setelah menyuguhkan dua gelas lemon tea, Martha duduk di samping anaknya. Di sana juga ada Alvin yang sedang memainkan HP Floryn.
Kedua polisi itu bernama Susanto dan Malik. Tugas mereka adalah untuk mencari tahu informasi sebanyak-banyaknya tentang kematian Cika dan Herman.
“Jadi … menurut keterangan dari Ibu Martha, Anda adalah sahabat dekat mendiang Cika. Apa benar begitu?” tanya Susanto yang sudah siap dengan HP untuk merekam semua pembicaraan mereka.
Sementara itu, Malik yang merupakan rekan dari Susanto, sedang berkeliling rumah untuk memeriksa hal-hal. Mungkin ia ingin mencari sesuatu petunjuk.
“Ya … selama ini kami adalah sahabat dekat. Tapi … sudah beberapa minggu ini hubungan kami kurang baik. Ada sesuatu yang membuat saya memilih untuk tidak dekat-dekat dengannya dulu …,” terang Floryn.
Floryn tahu kalau ia tidak perlu menyembunyikan apa-apa kepada pihak kepolisian. Ia tidak melakukan sesuatu yang salah, tidak perlu takut.
“Jadi ada perselisihan di antara kalian? Menarik …,” lirihnya.
“Tapi saya tidak ada hubungannya dengan kematian Cika!” kilah Floryn.
“Ya, Nyonya. Kami tahu …,” terang Malik yang kini sudah duduk di samping partnernya.
“Tahu?”
“Ya,” kata Susanto lagi. “Apa Anda pernah melihat orang ini?” tanya polisi itu seraya meletakkan HP-nya di atas meja. Di dalamnya terdapat sebuah foto.
Floryn melirik ke HP itu dan mengangguk dengan pasti. “Ya!” sahutnya tegas. Ia tidak mungkin salah.
Kedua polisi itu memfokuskan pandangannya ke arah Floryn. “Benarkah? Bagus sekali. Lalu, bagaimana Anda mengenalnya?” tanya Malik kemudian.
Floryn menoleh ke arah sang ibu. Di sana juga ada Alvin yang sibuk dengan kegiatannya. Hal itu membuat Floryn berat untuk bicara. Mungkin ia bisa menjelaskan kepada ibunya, tapi bagaimana dengan Alvin?
Anak itu terlihat serius dengan kegiatannya, tapi tatap saja Floryn merasa tidak enak jika harus mengatakannya di depan sang anak.
“Itu ….” Pandanganya berusaha memberi kode kepada Martha.
__ADS_1
Seperti paham dengan kegelisahan Floryn, Martha berdiri untuk mengajak cucunya pergi dari sana.
Setelah Martha dan Alvin sudah berada di ruangan lain, Floryn mulai menceritakan semuanya secara runtut.
“Laki-laki itu pernah mencoba untuk memperkosa saya, Pak,” terang Floryn dengan nada suara pelan. Sebisa mungkin, ia tidak ingin ibunya tahu terlalu cepat. Martha pasti akan membuat Floryn bediam diri di rumah sampai pelakunya tertangkap.
“Benarkah? Kanapa kantor pusat tidak memberikan informasi, jika orang itu pernah melakukan tindak kejahatan sebelumnya, ya?” tanya Malik kepada rekannya. Ia merasa bingung.
Susanto hanya angkat bahu dan kembali mengeluarkan HP-nya. Nampak jika ia ingin menanyakan hal itu langsung ke atasan. Mungkin mereka hanya belum mengirimkan informasi itu kepada mereka.
“Itu … sebenarnya saya belum pernah membuat laporannya, Pak!” kata Floryn dengan rasa bersalah.
Hal itu membuat polisi bernama Malik mengambil HP yang tadi memperlihatkan wajah Jack di layarnya.
“Apa alasannya Anda tidak membuat laporan atas kejadian itu?” tanya Malik memastikan.
“Itu … saya sedang dalam proses perceraian dengan suami saya. Kalau … kalau keluarganya sampai mengetahui masalah ini, akan sulit bagi saya untuk mendapatkan hak asuh atas anak saya itu …,” terang Floryn.
Menyadari jika para petugas di depannya tidak setuju dengan pernyataan yang ia buat, Floryn kembali berusaha menjelaskan.
“Begini, Pak … suami saya itu bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia mau. Termasuk memutarbalikkan fakta. Dia bahkan telah menuduh saya selingkuh di depan orang tuanya, Pak! Pandai sekali orang itu …,” lirih Floryn pada akhirnya.
“Jadi Anda memutuskan untuk tidak bicara apa-apa kepada polisi terutama karena hal itu?” Susanto bertanya lagi.
Floryn menggeleng lemah. “Selain masalah tersebut … kebetulan saat itu ada seorang laki-laki yang menyelamatkan saya. Laki-laki itu … saya takut dia terlibat masalah dengan keluarga suami saya. Tidak hanya satu, tapi ada dua orang laki-laki yang mungkin bisa digunakan suami saya untuk membawa anak saya jauh dari sini …,” terang Floryn. Sungguh, ia hanya ingin membantu orang-orang berseragam itu untuk menangkap Jack. Floryn berharap mereka paham.
Folryn tidak peduli dengan tujuan penjahat tersebut membunuh Cika dan suaminya. Yang mereka semua inginkan adalah keadilan ditegakkan. Jack harus ditangkap dan membayar apa yang ia lakukan. Yang lebih parah lagi, Floryn khawatir ia masuk ke dalam daftar orang-orang yang akan ‘ditemui’ Jack di kemudian hari. Panggilan-panggilan itu buktinya.
“Eh … tunggu dulu … sepertinya, saya punya sesuatu yang mungkin bisa membantu kalian …,”
terang Floryn mulai bersemangat.
Kedua polisi itu saling pandang dan menunggu Floryn. Wanita itu mengambil HP-nya dan membuka deretan panggilan tidak terjawab yang masuk tadi pagi.
__ADS_1
“Apa ini?” tanya Malik saat Floryn memberikan HP-nya kepada mereka.
“Ini … tadi pagi nomor Cika menghubungi saya. Saya tidak tahu, apakah kejadiannya setelah atau sebelum pembunuhan itu terjadi,” terang Floryn. “Nomor Cika ini yang dulu membuat saya hampir diperkosa oleh tersangka Anda, Pak!”
Floryn mulai menjelaskan perkara yang dulu kepada dua petugas polisi tersebut. Ia menceritakan semua, sampai mobilnya yang turut dibawa kabur.
Para petugas itu menagguk paham. Penjelasan dari Floryn itu telah memunculkan hal baru di dalam penyelidikan mereka.
“Pak … apa … kalian sudah tahu, kalau Jack itu ….” Floryn menghentikan kalimatnya. Ia tidak enak saat akan mengatakan hal tersebut. Haruskah ia bertanya? Bukankah hal itu sama dengan membuka aib sahabatnya sendiri?
Malik tidak suka saat orang menggantung kelimatnya. “Bu, jangan membuat kami menunggu. Katakan apa yang ingin Anda katakan!” perintahnya.
“Apa pihak kepolisian sudah tahu, kalau Jack yang kalian cari adalah … teman ranjang Cika dan suaminya?” tanya Floryn dengan sangat menyesal.
Malik dan Susanto saling pandang. Keduanya seperti baru mengetahui hal tersebut dan begitu tidak menyangka.
“Coba Anda ceritakan jelasnya kepada kami. Ini adalah hal baru yang belum diketahui tim penyidik …,” pinta Susanto.
Floryn memang tidak tahu banyak tentang hubungan yang terjadi di antara Cika, Herman, dan Jack. Namun Floryn cukup yakin kalau permainan ranjang yang dilakukan Cika dan Jack, juga diketahui Herman. Bahkan, laki-laki itu yang memperkenalkan Cika kepada Herman.
“Permisi, saya akan melaporkan hal ini kepada pusat. Dengan begitu, mungkin kami bisa mengalihkan fokus pencarian kami,” terang Malik yang berdiri dari tempatnya semula. Laki-laki itu meninggalkan rekannya dan Floryn yang masih mengatakan hal-hal lain lagi.
“Apakah saya ada di dalam bahaya?” tanya Floryn yang debaran jantungnya terus naik.
“Mungkin. Saya sarankan, Anda tidak bepergian seorang diri. Apalagi ke tempat umum yang terbuka.”
“What? Tapi saya harus pergi kerja …,” lirih Floryn tidak percaya.
“Tidak masalah. Selama Anda tidak berada di luar ruangan sendirian, saya yakin Anda tidak apa-apa. Kami juga akan meningkatkan pengawasan di sekitar Anda.” Polisi itu berusaha menenangkan Floryn.
Floryn mengangguk paham. Ia akan mempercayai orang-orang itu.
Bersambung.
__ADS_1