Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Penolakan Alvin


__ADS_3

Selamat membaca (✿❛◡❛)


***


Sudah hampir satu jam Martha mencoba untuk membujuk Alvin, agar mau keluar dari kamar bundanya.


Entah hal apa yang menjadi pemicu, sampai-sampai Alvin berani mengunci pintu kamar dan tidak mau keluar di dalam sana.


Lagi-lagi Martha mengetuk pintu kamar, tapi sama seperti tadi, tidak ada jawaban dari dalam.


Marta semakin gelisah karena Floryn tidak kunjung datang. Ia kembali menghubungi anaknya untuk memastikan keberadaan wanita itu saat ini.


"Kamu di mana, Nak? Sudah satu jam Alvin sendirian di dalam kamarmu. Ibu takut terjadi apa-apa dengannya ...." Martha terdengar sangat panik.


"Iya, Bu. Ibu yang tenang ... Floryn dan Zoel sedang terjebak macet," jelas Floryn. Walaupun berusaha menenangkan sang ibu, tidak dipungkiri jika ia juga merasakan panik.


Panggilan itu diakhiri. Martha bilang ia akan mencoba untuk melihat dari jendela kamar. Apa yang Alvin lakukan di dalam sana.


"Aduh ... kenapa tidak ada pergerakan sama sekali sih ini? Masih jam sepuluh, kenapa begitu macet?" tanya Floryn yang tidak bisa tenang di samping Zoel.


"Aku juga tidak tahu, Sayang. Mungkin aku bisa lihat ke depan. Kamu tunggu di sini, ya ...." Zoel mengingatkan.


Floryn mengangguk dan langsung mengunci pintu mobil setelah Zoel keluar dari sana.


Setelah hampir lima belas menit, akhirnya Zoel kembali. Bersamaan dengan itu, mobil-mobil di depan mobil Zoel terlihat mulai bergerak.


"Apa yang terjadi?" tanya Floryn penasaran.


"Ada mobil anjlok. Jalannya berlubang dalam dan orang-orang yang membantu masih sangat kekurangan tenaga. Jadi, aku berinisiatif untuk mengetuk semua jendela mobil pengemudi yang ada di sini untuk ikut membantu," terang Zoel.


Ternyata hal itu penyebabnya. Floryn tersenyum lalu menyeka keringat di kening Zoel. Pantas saja keringatnya sampai banjir begitu.


Setelah kembali berjalan dengan normal, akhirnya mereka sampai di rumah Martha.


Floryn dan Zoel buru-buru masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar Floryn.


"Apakah Alvin masih di dalam, Bu?" tanya Floryn was-was.


"Iya. Tadi ibu sudah melihatnya dari jendela, anakmu menangis di samping tempat tidur," jelas Martha.


Floryn melihat ke arah Zoel yang juga ikut bingung. Apakah ada yang mengganggu Alvin di sekolahnya? Padahal mereka baru menyekolahkan Alvin selama beberapa bulan di sebuah taman bermain. Pasti ada yang tidak benar.


Tok tok tok.


Floryn mencoba mengetuk pintu kamar dan bicara pada anaknya.


"Alvin sayang ... ini Bunda, Nak. Bisakah Alvin membuka pintu kamar ini?" tanya Floryn kepada sang anak.


Florin tahu jika Alvin bisa membuka kunci pintu kamar itu dengan baik, karena ia sudah pernah mengajarkan Alvin hal-hal seperti membuka dan mengunci pintu.


"Bunda ...," lirih Alvin kemudian.


Itu adalah kata pertama yang Martha dengar semenjak tadi.


Rasa lega terlihat jelas di wajah wanita tua itu.

__ADS_1


"Nak ... Alvin mau membuka pintu kamar ini, kan? Di sini juga ada Om Zoel. Apa Alvin mau jalan dengan kami? Nenek juga ikut, loh. Kita akan pergi ke toko mainan favorit Alvin," bujuk Floryn yang merasa mungkin hal itu yang paling tepat untuk saat ini.


Namun, jawaban Alvin berikutnya membuat mereka semua syok.


"ENGGAK! Alvin gak mau lihat Om Zoel lagi! Gara-gara om itu, Ayah pergi!" tukas Alvin yang usianya belum menginjak lima tahun.


Mereka kaget, terlebih lagi Zoel. Bagaimana bisa anak sekecil itu punya pemikiran yang begitu dalam?


Floryn menoleh ke arah Zoel. Laki-laki itu terlihat sedih atas jawaban Alvin barusan. Padahal, tidak sampai satu bulan lagi, ia dan Zoel akan melangsungkan pernikahan.


"Aku yakin Alvin tidak paham dengan apa yang ia katakan barusan ...," terang Floryn seraya meraih tangan Zoel dan mengecupnya sekali.


Zoel mengangguk paham. Ia tahu kalau hari ini akan tiba juga. Sejauh ini, Alvin tidak pernah memperlihatkan penolakan terhadapnya. Namun tidak dengan hari ini. Walaupun mereka tahu, pasti ada penyebabnya kenapa Alvin samapai berpikiran seperti itu.


“Sayang, sebaiknya aku pergi. Mungkin, bertemu dengan Alvin bukan hal yang tepat untuk saat ini. Aku yakin, setelah aku pergi, Alvin mau keluar dari kamar itu. Dia hanya ingin bersamamu …,” terang Zoel bijak. Sayangnya, ia pernah ada di posisi Alvin.


Floryn berdiri dan memeluk Zoel sebelum laki-laki itu pergi. Zoel juga bersalaman dengan Martha dan mencium punggung tangan calon mertuanya.


“Saya pergi, Bu. Assalamualaikum,” kata Zoel dengan suara pelan.


“Waalaikumsalam,” sahut Martha dengan suara pelan juga.


Floryn kembali duduk di pinggir pintu kamarnya. Ia mendekatkan wajah ke arah lubang kunci agar bisa bicara dengan lebih jelas kepada sang anak.


“Alvin sayang … Om Zoel sudah pulang. Maukah Alvin membuka pintunya? Bunda ingin memeluk Alvin,” terang Floryn berusaha membujuk.


“Benarkah?” tanya Alvin memastikan.


“Iya. Bunda janji, tidak ada Om Zoel di sini sekarang. Bunda sudah meminta om untuk pulang,” jelas Floryn lagi.


Wajah Alvin terlihat dipenuhi air mata. Matanya sembab. Dengan segera ia lari ke dalam pelukan Floryn.


“Bunda … Alvin ingin ayah …,” rengeknya kemudian.


“Iya … nanti kita bertemu dengan ayah,” sahut Floryn berusaha menenangkan.


Alvin mengagguk di dalam pelukan bundanya. Tanpa berlama-lama di sana, Floryn berdiri dan menggendong Alvin untuk beberapa saat.


Mereka berdua berpikir mungkin menidurkan Alvin adalah pilihan paling tepat untuk saat ini.


Selama beberapa saat, Floryn menidurkan Alvin di dalam gendongannya. Anak itu semakin berat, tapi Floryn tidak masalah. Ia cukup kuat untuk menahan bobot sang anak.


Saat sudah cukup yakin anaknya terlelap, Floryn meletakkan tubuh Alvin di atas tempat tidurnya. Bertepatan dengan itu, Martha masuk ke dalam kamar Floryn.


“Bu … kebetulan. Floryn mau mandi dulu, bisakah Ibu tolong jaga Alvin sebentar?” pinta Floryn yang masih mengenakan bajunya sejak dari café tadi. Ada bau roti menempel di baju itu.


“Iya, Nak. Ibu akan menjaganya. Sekalian, kamu makan dulu. Ibu yakin kamu belum makan siang,” terang Martha.


Floryn mengangguk dan pergi dari sana. Ia memilih untuk mandi di kamar mandi milik ibunya, ia tidak ingin menggangu anaknya yang baru saja tertidur.


Setelah selesai membersihkan diri dan makan siang, Floryn kembali ke kamarnya. Ternyata, Alvin telah bangun dan masih sedikit menangis. Rupanya anak itu tidak benar-benar terlelap dalam tidur tadi.


“Alvin anak Bunda …,” sapa Floryn dengan segelas air putih di tangan untuk anaknya.


“Bunda …,” sahut Alvin yang langsung saja merentangkan kedua tangannya ingin dipeluk.

__ADS_1


Floryn memeluk anak itu seperti keinginannya. “Kenapa Alvin masih menangis?” tanya Floryn kepada sang anak, "ini, Alvin minum dulu." Floryn memberikan gelas air kepada Alvin.


"Terima kasih, Bun ...," lirih Alvin.


Martha mengusap puncak kepala sang cucu.


"Sejak ibu jemput di taman bermainnya, Alvin terlihat murung. Ibu sudah tanya, tapi Alvin tidak bilang apa-apa. Ia hanya bilang rindu ayahnya," jelas Martha dengan suara pelan. Ia tidak ingin Alvin mendengar terlalu jelas.


Floryn mengambil HP-nya. Ia berniat menghubungi Miss Vera yang merupakan pembimbing Alvin di taman bermain. Kebetulan setiap pembimbing menangani tiga anak saja. Miss Vera pasti tahu apa yang terjadi dengan anaknya.


"Sebentar, Bu. Floryn coba hubungi Miss Vera dulu."


Martha mengangguk paham.


Setelah pembicaran telepon yang cukup lama, akhirnya Floryn mendapatkan alasan kenapa anaknya sampai seperti itu.


"Jadi, apa katanya?" tanya Martha penasaran.


"Mantan mertua tiriku, Bu. Entah apa urusannya di taman bermain itu, dia datang dan meminta ijin untuk bertemu Alvin. Miss Vera bilang, pertemuan mereka hanya sebentar, dan Alvin menjadi diam setelah neneknya pergi. Sayangnya, ia tidak sempat bertemu ibu saat jam pulang sekolah," ungkap Floryn.


"Ya, yang bersama Alvin adalah Miss Gina. Katanya Miss Vera ada kesibukan dan harus segera pulang." Martha mengingat-ingat.


Kini Floryn beralih kepada Alvin yang sedang menonton kartun favoritnya di HP Martha.


"Alvin ... tadi Nenek Sintia datang ke sekolah, ya?" Floryn memastikan.


Pandangan Alvin beralih kepada bundanya.


"Iya, Bun. Nenek bilang, ayah kangen Alvin. Tapi karena ada Om Zoel, ayah tidak bisa menjenguk Alvin. Alvin maunya ayah, bukan Om Zoel!" seru Alvin akhirnya.


Floryn tersenyum dan mencium puncak kepala sang anak.


"Sini, Bunda mau jelasin sesuatu sama Alvin ...," bujuk Floryn seraya memangku sang anak, "ayah dan Bunda sudah berpisah, karena tidak semua pasangan akan bertahan sampai selamanya. Ayah harus pergi yang jauh dan Bunda tidak bisa ikut ke sana. Selain itu, ayah dijaga banyak polisi, jadi ayah tidak bisa datang menemui Alvin. Tapi, Bunda janji ... setelah ayah pulang, Alvin akan bertemu ayah."


Alvin mendengarkan dengan serius.


"Lalu, selama ayah pergi jauh, Bunda memerlukan Om Zoel untuk menjaga Bunda. Om Zoel mencintai Bunda seperti ayah mencintai Bunda dulu. Om Zoel juga ingin menjaga Alvin dan nenek. Salah satu hal yang sangat baik."


"Apakah ayah orang jahat? Kenapa harus dijaga polisi? Kenapa tidak di sini saja menjaga kita?" tanya Alvin masih bingung.


"Ayahmu berbuat kesalahan, Nak. Ayah juga tidak bisa menjaga Bunda lagi."


"Ayah tidak sayang Bunda lagi, ya?" tanyanya seraya memeluk Floryn. Anak itu tiba-tiba merasa kasihnan.


Floryn tidak tahu, apakah perkataannya benar atau tidak. Ia takut Alvin menjadi antisosial jika ia salah bicara. Ia takut jika salah bicara, hal itu akan terekam di memory-nya dan tidak bisa hilang.


"Seharusnya, setelah menikah, orang tua harus saling mencintai sampai tua dan meninggal. Tapi ... dalam hal ini, ayah tidak lagi mencintai Bunda, hingga Bunda harus bersedih. Sekarang Om Zoel yang mencintai Bunda. Apakah Alvin akan membenci Om Zoel?" tanya Floryn khawatir.


Sejenak Alvin diam. Ia pasti memikirkan ucapan bundanya.


"Enggak ...," katanya lirih, "Om Zoel tidak membuat Bunda sedih. Om Zoel orang baik, ya?"


Floryn tersenyum. Semoga saja rasa sakit hati Alvin hasil hasutan nenek tirinya, hilang bersamaan dengan penjelasan tadi.


Ya, semoga saja.

__ADS_1


Bersambung ~~~


__ADS_2