Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Polisi Membawanya


__ADS_3

Sebelum masuk ke dalam ceritanya, author mau minta maaf kalau ada beberapa readers yang merasa konflik mereka sepanjang itu. Author hanya ingin memberikan penyelesaian yang terbaik di sini. Jadi, author harap kalian bisa ngikutin tiap hal yang terjadi pada Floryn, Enrik, Ambar, dan Zoel hingga akhir. Terima kasih :')


***


Hari ini sudah genap satu minggu apa yang terjadi dengan Floryn. Selama itu juga hubungan Floryn dan juga Zoel menjadi semakin dekat.


Zoel lebih sering menghabiskan waktu sorenya dengan Floryn ketimbang berada di Cafe-nya. Widuri sendiri akhirnya mengetahui masalah yang terjadi dengan bosnya. Wanita itu tidak pernah lagi melarang sang abang untuk bertemu dengan Floryn. Seakan-akan semuanya terbuka setelah kedatangan Sintia beberapa waktu lalu. Akhirnya ia paham, jika hubungan Floryn dan suaminya tidak lagi berjalan dengan baik.


Tidak seperti biasanya, hari ini Floryn pergi ke kantor dengan membawa Alvin turut serta. Hal itu merupakan permintaan dari Enrik, yang mengaku jika dirinya kangen dengan sang buah hati. Floryn bukanlah wanita yang jahat. Bagaimanapun juga, Alvin masih tidak paham apa itu artinya perpisahan. Tidak dipungkiri, kadang Alvin mengatakan jika ia merindukan ayahnya.


"Apakah Alvin senang?" tanya Floryn kepada Alvin.


Anak itu mengangguk dengan senyum mengembang. Maklum, sudah satu minggu pula, mereka berdua tidak saling bertemu. Floryn selalu menolak saat Enrik ingin bertandang ke rumah ibunya. Entah kenapa, Floryn masih tidak percaya jika Enrik tidak ada hubungannya dengan kejahatan Ambar dan suruhannya tempo hari.


"Nanti, Alvin yang pintar sama ayah. Bunda ada meeting sebentar. Oke?" terang Floryn.


Alvin kembali mengangguk dan melangkah dengan senang.


***


Floryn melambai ke arah Alvin. Anak itu sudah ada di dalam gendongan Enrik, ayahnya.


Kata Enrik, ia ingin mengajak Alvin makan siang di luar. Makan ayam goreng kesukaan anak itu berdua saja.


"Andai saja kamu tidak selingkuh, Mas. Anakmu pasti bisa bahagia setiap hari ...," batin Floryn miris.


"Bu ...," panggil Widuri dari sisinya. Entah mulai kapan Widuri sudah berdiri di sana.


"Iya?" Floryn berpaling dan melihat ke arah Widuri.


"Anda sudah ditunggu di ruang meeting, Bu." Widuri mengingatkan.


Floryn mengangguk dan beranjak pergi dari sana. Ia tahu kewajibannya dan harus segera melaksanakan hal tersebut.


Selama meeting, Floryn berusaha untuk fokus dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya meeting itu berakhir, ia langsung saja pergi dari sana dan mencoba untuk menghubungi Enrik.


Sayangnya, panggilan-panggilan yang Floryn lakukan tidak mendapat jawaban dari Enrik. Hal itu membuat Floryn mulai cemas.


Akan tetapi, sebuah panggilan di belakangnya membuat Floryn buru-buru berbalik.


"Alvin?" tanya Floryn tidak percaya. Bukankah seharusnya anak itu ada bersama Enrik? Lalu kenapa sekarang sudah ada di kantornya lagi?

__ADS_1


Floryn melihat jam tangannya. Meeting tadi hanya berlangsung selama satu setengah jam saja. Apakah Enrik ada urusan lain, sehingga ia tidak bisa bermain dengan Alvin lebih lama?


Alvin memeluk bundanya. Di tangan anak itu ada sebuah bungkusan yang berlabel tempat makan favorit Alvin.


"Sayang ... di mana ayah?" tanya Floryn bingung.


"Ayah? Ayah naik mobil," jelas Alvin dengan apa yang ia lihat.


Floryn mengangguk dan kemudian menggendong anaknya itu. "Alvin sudah makan? Ini apa?" tanya Floryn penasaran.


"Sudah! Ini mainan Alvin," sahutnya senang.


Floryn membawa Alvin dan berniat untuk menghubungi Enrik. Ia ingin tahu, apa yang orang itu lakukan sampai-sampai meninggalkan anaknya sebelum Floryn selesai meeting.


Sesampainya di ruang kerja, Floryn langsung mendudukan Alvin di sofa panjang. Ia membuka bungkusan yang dibawa Alvin. Di dalamnya ada beberapa jenis mainan yang berbeda-beda. Anak itu menjadi sangat senang saat menerimanya.


Tok tok tok.


Sebuah ketukan mengalihkan Floryn dari anaknya.


Dari arah pintu ruangannya, Floryn melihat kemunculan Edward. Laki-laki itu terlihat buru-buru dan khawatir.


"Cucuku ... apa dia baik-baik saja?" tanya Edward. Pandangannya fokus ke arah Alvin yang asik bermain mainan barunya.


"Polisi membawanya! Pembantu itu membuat anakku menjadi tersangka!" tukas Edward geram. "Sudah kubilang ... harusnya Enrik mengusirnya jauh-jauh!"


Jantung Floryn berdebar menjadi lebih cepat. Apakah ini karma untuk mantan suaminya? Lalu, kenapa harus dijemput paksa segala?


"Apa Ayah yakin? Menurut Floryn, polisi tidak mungkin menjemput paksa seperti itu. Atau ...." Floryn mulai berpikiran yang tidak-tidak.


"Ada yang melihat anakku dibawa masuk ke dalam mobil." Edward terduduk di sofa Floryn, tepat di samping Alvin. Ia memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit.


"Te-tenang, Yah. Floryn akan mencoba untuk menghubungi polisi."


Dengan cepat Floryn menghubungi polisi yang tempo hari datang ke rumah ibunya. Untung saja ia meminta nomor salah satu dari mereka. Kalau tidak, sudah pasti ia akan kerepotan sendiri bila ada hal mendesak seperti ini.


Setelah bicara dengan pihak kepolisian, Floryn yakin kalau yang membawa Enrik bukanlah polisi. Pasti ada pihak lain yang mencoba untuk mencelakai Enrik.


Tanpa sepengetahuan Edward, Floryn mengirimkan pesan kepada Sintia. Mengabarkan jika mungkin Enrik dibawa paksa oleh orang yang tidak dikenal. Ia berharap ibu mertua tirinya itu paham dan mau datang untuk menenangkan Edward. Kacau jika sampai Edward kembali mengalami serangan jantung di kantor.


Floryn bergidik ngeri saat menyadari jika penjahat itu bisa saja membawa Alvin, bukannya Enrik.

__ADS_1


"Jadi apa kata mereka?" tanya Edward penuh harap.


"Bukan mereka, Yah. Mereka tidak akan melakukan penangkapan tanpa surat perintah. Apalagi sampai anarkis di tempat umum seperti itu."


Tidak lama kemudian, HP Floryn bergetar. Ada sebuah panggilan masuk dari ibunya.


"Hallo, Bu?" sapa Floryn saat panggilan keduanya terhubung.


"Nak! Ini ... ini ada Nak Enrik di rumah!" katanya panik. Hal itu membuat Floryn menjadi ikut-ikutan panik.


"Iya, Bu! Kenapa? Apa yang terjadi padanya?"


"Kata satpam, ada yang mendorongnya keluar dari dalam mobil! Enrik terluka, Nak. Sebaiknya kalian lekas pulang ...," pinta ibunya yang terdengar sangat mengiba.


"Iya, Bu. Floryn pulang."


Floryn menyimpan HP-nya dan mendekati Edward. Ia mengajak laki-laki itu untuk pulang bersamanya.


Setelah mendengar penjelasan Floryn, Edward menjadi sedikit tenang dan mau pergi dengan mantan menantunya tersebut. Begitu juga dengan Alvin yang tidak tahu apa-apa. Yang ia tahu, ia akan kembali bertemu ayahnya di rumah sang nenek.


***


Edward sibuk menghubungi orang-orang yang ia kenal. Ia tidak terima, ada yang melukai anaknya dan hampir melukai Alvin juga.


"Alvin tidak apa-apa, kan?" tanya Enrik khawatir.


Floryn menggeleng lemah. Ia tidak tega dengan apa yang ia lihat sekarang. Wajah Enrik biru-biru bekas pukulan.


Ujung bibirnya berdarah. Matanya sembab. Selain itu, ada sebuah luka di lengan kanannya. Celananya robek karena terseret di atas aspal.


"Sebenarnya, apa yang telah terjadi, Mas? Bagaimana bisa ada orang yang membawamu? Apa kamu punya musuh?" tanya Floryn takut. Setaunya, Enrik tidak punya musuh yang segini membencinya. Tidak sejauh ia mengenal Enrik.


"Aku gak tahu, Flo. Awalnya, mobil itu berhenti di samping kami dan mencoba untuk menarik Alvin ... untung saja, aku sempat menahannya dan meminta tolong. Alvin kusuruh berlari menjauh, tapi aku malah ditarik oleh mereka! Seharusnya ... aku yang bertanya padamu, apa kamu punya musuh yang ingin mencelakai Alvin?" tanya Enrik dengan suara pelan. Seperti tidak ingin Alvin mendengarnya.


Kening Floryn berkerut. Seingatnya, tidak ada orang lain yang berniat jahat padanya selain Ambar dan temannya kala itu. Apalagi, Ambar masih mendekam di penjara saat ini. Mana mungkin ada orang lain lagi.


"Mas ... kamu ...."


"Rik! Ayah sudah melaporkan hal ini ke polisi. Mereka akan mencari tahu tentang mobil seperti yang kamu katakan tadi. Mungkin ... mereka akan menanyaimu sedikit, Flo. Kamu tidak apa-apa, kan?" Edward memastikan.


Floryn berpaling dan tersenyum hambar. "Iya, Yah. Tidak apa ...."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2