
“Kamu tidak mau? Dasar jal4ng! Kamu masih istriku … maka layani aku!” perintahnya dengan kasar.
Dengan cepat Enrik naik ke atas tempat tidur dan menahan Floryn yang sedang berusaha pergi dari sana.
“Percuma, oke? Kamu tidak akan bisa kabur dariku ….” Enrik merasa semakin tertantang. Ia tidak suka saat ada yang menolaknya. Bahkan sang istri sekali pun.
“Mas … aku akan melaporkanmu ke polisi jika tidak menyingkir sekarang juga!” tukas Floryn yang masih tidak mau menuruti apa kata suaminya.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Floryn.
“M-Mas!” pekik Floryn saat pipinya tiba-tiba terasa perih. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Tidak hanya sakit di pipi, tapi juga di hati. Ia tidak menyangka Enrik bisa sampai menamparnya begitu. Wanita yang melahirkan anak baginya.
“Seorang istri harus menuruti apa kata suami! Apa kamu tidak pernah diajarkan oleh orang tuamu di rumah, hah?!” tukas Enrik yang sudah berhasil mengoyak blouse putih yang dikenakan Floryn.
Ketika Enrik marah, Floryn kira orang itu akan pergi dan kehilangan mood-nya untuk melakukan apa yang ia inginkan. Namun ternyata hal itu tidak benar. Bukannya pergi dan membiarkan Floryn, Enrik semakin beringas.
Setelah mengoyak blouse istrinya, ia menangkap kedua tangan Floryn yang sejak tadi berusaha mendorong orang itu. Dengan tenaga yang ia miliki, Enrik mengunci kedua tangan Floryn di atas kepala.
“Maas … please … aku tidak mau …,” mohon Floryn yang sepertinya sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Tenaga Enrik terlalu besar untuknya.
Akan tetapi, Enrik hanya tersenyum sinis menanggapi kalimat itu. Sebelah tangan Enrik berusaha menarik lepas underwear Floryn yang masih sangat bersih. Ia sama sekali tidak menginginkannya. Enrik membuang benda itu dengan asal. Satu langkah langkah lagi dan ia akan mendominasi sang istri. Dengan triknya sendiri, Enrik berhasil membuat Floryn membuka kedua kakinya.
Floryn merasa sangat malu saat ini. Tidak pernah ia merasa begitu dilecehkan oleh suaminya sendiri. Seharusnya Enrik tidak selingkuh jika masih menginginkan tubuhnya. Apa ia pikir *3** seperti ini tidak beresiko sama sekali? Bagaimana jika Enrik memberikan penyakit padanya? Ketakutan itu membuat Floryn kembali menitikkan air mata.
“Akh, Mas … please … stop it …,” mohon Floryn saat akhirnya Enrik menghujamkan miliknya ke dalam tubuh Floryn.
__ADS_1
“Floryn …,” lirih Enrik dengan cengkeraman yang semakin kuat. Entah kenapa laki-laki itu terlihat begitu menikmati apa yang ia lakukan sekarang. Melakukannya dengan paksa, padahal Floryn sedang susah payah menahan sakit.
“Maas … sudah …,” mohon Floryn putus asa.
Ia merasakan sakit yang teramat sangat. Kasarnya milik Enrik memasuki tubuhnya, membuat rasa sakit menguasai dirinya.
“Kamu harus menikmatinya seperti dulu, Flo … kamu tahu kalau rasanya akan jauh lebih menyenangkan jika kamu menikmati apa yang kuberikan …,” bisik Enrik yang kemudian menempelkan wajahnya di leher Floryn. Tanpa ragu-ragu ia menyesap dalam hingga meninggalkan bekas memerah yang khas.
Floryn tahu kalau apa yang dikatakan Enrik ada benarnya. Ia akan hanya merasa sakit jika terus melawan. Hal itu akan membuatnya rugi pada akhirnya. Demam, lecet, dan mungkin kram. Floryn diam. Ia tidak tahu kalau ia tidak menginginkan hal ini. Rasa jijik masih saja ada di dalam pikirannya. Tapi apa hal itu bisa menolongnya saat ini?
Tanpa Enrik duga, wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu mulai mengikuti gerakannya. Mengikuti irama yang ia ciptakan.
“Dasar pel4cur … ternyata kamu memang menginginkannya, kan?” ejek Enrik yang masih terus menggerakkan tubuh bawahnya. Bahkan, ia menghujamkan benda itu dengan sangat dalam.
“Aakh … a-aku bukan pel4cur … kamu masih suamiku, ingat?” sahut Floryn tanpa mau melihat langsung ke mata Enrik. Tubuhnya terus bergoyang karena dorongan-dorongan yang dilancarkan Enrik. “Setelah kita berpisah, aku akan membawa Alvin pergi. Kamu tidak akan memiliki anak …,” terang Floryn yang berusaha bersikap biasa.
“Versimu? Apa kamu pikir ia akan percaya?” tantang Floryn kesal.
“Yeaah … pastinya. Kamu istri yang tidak menghormati suami.”
“Tidak benar! Kamu tahu itu!” protes Floryn.
“Kamu kira, kenapa aku selingkuh, hah? Kamu tidak pernah memberikan apa yang aku inginkan, Flo … kamu tidak sepeti Ambar yang selalu menuruti keinginanku. Kamu merasa bisa lebih tinggi dariku, kan?” tuduh Enrik tanpa dilandasi apa-apa.
Enrik melepaskan miliknya, membuat Floryn merasakan sakit dan lega di saat yang bersamaan. Miliknya berdenyut. Ia tahu jika Enrik tidak menarik benda itu, ia akan memuntahkan miliknya sendiri. Sangat memalukan, bukan?
“Alasanmu selingkuh sangat tidak masuk akal, Mas! Kamu tidak perlu mencari-cari alasan … tidak ada hal seperti itu. Kamu memang brengsek sejak awal …,” kata Floryn membela diri. Ia mencoba untuk duduk dan beranjak dari sana. Akan tetapi, ternyata Enrik belum selesai dengannya. Laki-laki itu kembali menarik tubuh Floryn dan membaliknya. Enrik lalu memeluk Floryn dari belakang.
__ADS_1
“Kamu pikir kamu mau kemana? Di luar hujan … tidak perlu buru-buru,” kata Enrik di samping telinganya.
Mendengar hal itu, Floryn mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ternyata apa yang Enrik katakan benar. Di luar hujan sudah turun dan ia bahkan tidak menyadarinya.
“Sudah, Mas … apa lagi yang kamu mau?” elak Floryn saat Enrik mencoba untuk memasukkan miliknya kembali.
“Kamu tahu kita belum selesai,” sahutnya enteng.
Dan sesuai dengan apa yang Enrik katakan, mereka belum selesai. Apa yang Floryn lakukan untuk menolak tubuh itu, tidak berguna sama sekali. Ia bahkan tidak bisa lepas dari tangan Enrik.
“Aakkkhh … Mas … pelan-pelan …,” mohon Floryn yang merasa jika Enrik lebih terburu-buru ketimbang tadi. Floryn merasa jika Enrik mungkin akan sampai dan memuntahkan miliknya.
Sial! Ia tidak mau memiliki anak lagi bersama Enrik. Minggu ini masa suburnya dan mereka tidak menggunakan pengaman.
“Tidak, Flo. Kamu tahu aku tidak suka *3** yang lembut seperti keinginanmu,” terang Enrik.
Floryn tahu itu. Dan ia tidak menyukainya. Enrik selalu terburu-buru dan akan mengulangnya hingga berkali-kali. Kadang ia sudah tidak sanggup lagi, tapi Enrik tidak mau dibantah. Mungkin hal itulah yang membuat laki-laki itu tidak bisa ditinggal tanpa berhubungan badan. Apakah itu alasan utamanya?
Enrik kembali menguasai Floryn. Floryn tahu ia tidak punya celah untuk pergi dari sana. Bagaimana? Kabur dan pergi ke luar tanpa busana? Enrik bahkan tidak membairkannya turun dari atas tempat tidur.
Erangan demi erangan berhasil lolos dari mulut Floryn walaupun wanita itu sudah berusaha untuk menahannya. Ia bahkan sudah tidak bisa mengingat dengan pasti, apa tujuannya datang kembali ke sana. Kebrutalan Enrik membuatnya teralihkan.
Sementara itu, di balik pintu kamar yang terkunci rapat, ada seseorang yang tengah mendengar semuanya. Tinjunya mengepal. Ia tidak terima dengan apa yang ia dengar saat ini.
Laki-laki yang seharusnya hanya melihat dirinya, kini kembali menikmati tubuh istri yang ia benci.
“Kurang ajar! Awas, ya … aku akan lakukan apa pun untuk mendapatkan perhatian utuh Tuan Enrik! Aku akan membuatmu malu untuk menampakkan wajah itu di sini lagi, Nyonya Floryn yang Terhormat!”
__ADS_1
Bersambung.