Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Hanya Ingin Memastikan


__ADS_3

Saat ini Floryn sudah duduk di hadapan Zoel. Laki-laki itu terus saja tersenyum sejak ia datang tadi.


“Bisakah kamu berhenti tersenyum?” tanya Floryn yang akhirnya buka suara.


“Fyuuuh … akhirnya Anda bicara. Memangnya saya ada salah apa sampai-sampai Anda mendiamkan saya seperti tadi?” tanya Zoel penasaran.


Floryn menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang salah denganmu. Hanya saja … aku sedang berpikir ulang, apakah aku memang harus datang ke sini? Kenapa kesannya aku begitu murahan …,” gumam Floryn yang kembali mengganggu sepotong lemon yang ada di dalam tehnya.


Zoel melipat kedua tangannya di depan dada. Tubuhnya ia mundurkan untuk bersandar di sandaran kursi.


“Anda bukan wanita murahan. Memangnya ada apa? Apa ada hal penting yang ingin Anda katakan?” tanya Zoel.


“Tadi pagi sahabatku dan suaminya meninggal …,” ungkap Floryn. "Sampai sekarang aku belum melihat jasadnya atau bahkan mengurus pemakaman mereka. Kata pihak kepolisian, masih ada otopsi yang harus dilaksanakan."


Zoel melonggarkan lipatan tangannya. Ia tahu kalau hal itu pasti menyedihkan bago Floryn. Kini posisi duduknya lebih maju dan rendah. Ia mencoba untuk lebih peka terhadap sang lawan bicara.


“Saya turut berduka cita, Bu.”


“Sebenarnya, kamu tahu siapa orang yang membunuh mereka. Dan aku sudah mengatakan semuanya kepada polisi …,” terang Floryn.


Mendengar penjelasan yang begitu membingungkan, membuat Zoel tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya diam dan terlihat agak pucat.


“Zoel?” panggil Floryn saat melihat sosok itu tidak merespon kata-katanya.


“Eh, iya?” sahutnya kemudian.


“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Floryn memastikan. “Perutmu sakit lagi?” tambahnya.


“Ah, ti-tidak. Ma-maksud saya, apa arti dari kalimat Ibu barusan? Anda melaporkan saya ke polisi?” Rupanya Zoel menangkap arti pembicaraan yang lain.


Kini giliran Floryn yang kebingungan. Detik berikutnya, ia menepuk kepalanya sendiri. Meruntuki kebodohan yang baru saja ia lakukan. Jika didengar lagi, kalimat Floryn memang sangat rancu.

__ADS_1


“Itu … maksudku Jack. Kamu tahu dia. Dia orang yang pernah mencoba untuk memperkosaku …,” jelas Floryn pada akhirnya.


“Astaga … jadi orang itu yang telah membunuh sahabat Anda? Apa sudah bisa dipastikan?”


“Ya, polisi menemukan barang bukti dan sidik jarinya di mana-mana. Kata mereka, motif dari Jack adalah pencurian, karena semua barang berharga Cika telah habis ia bawa pergi,” jawab Floryn.


Zoel tahu kalau Floryn datang menemuinya pasti punya maksud yang jelas. Wanita itu tidak mungkin datang kepadanya hanya untuk ngobrol ringan dan makan cemilan.


“Saya akan melindungi Anda, Bu Floryn. Jangan sungkan. Kalau perlu, saya akan tidur di mobil dan berjaga di depan rumah orang tua Anda …,” terang Zoel dengan penuh keyakinan.


Tentu saja hal itu membuat Floryn sedikit terhibur. Sudah seharian ini ia mendapatkan kabar-kabar tidak menyenangkan. Dari ibunya, dari kepolisian, dan dari Enrik. Namun Zoel berhasil membuatnya ingin tertawa.


“Oke … maksudnya bukan begitu. Polisi meminta banyak keterangan dariku, dan aku sudah menjelaskan semua yang kuketahui termasuk tentang kejadian malam itu. Jadi, kemungkinan besar para polisi akan menemuimu tidak lama lagi,” jelas Floryn.


“Astaga … saya kira ada apa. Tenang saja, Bu. Saya akan menjawab pertanyaan polisi dengan benar. Kita tidak melakukan apa-apa malam itu, jadi saya rasa aman …,” gumam Zoel.


Mendengar hal itu, Floryn merasa malu sendiri. Ia masih ingat betul apa yang terjadi malam itu. Mungkin bukan hal besar bagi Zoel, tapi baginya, malam itu sangat di luar batas. Ia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya di depan laki-laki selain Enrik. Lalu muncul Zoel yang menyelamatkannya dan ‘mau tidak mau’ melihatnya hampir telanjang.


“Baguslah kalau kamu berpikir seperti itu.” Floryn mengangkat tangan untuk melihat waktu saat ini. Rupanya sudah hampir jam enam sore. Itu tandanya ia harus pulang karena polisi bilang, jangan keluyuran saat gelap. Hal itu memudahkan tindak kejahatan. “Baiklah … kalau begitu, aku pamit pulang.”


“Eh, apa Ibu benar-benar mau pergi? Ibu tidak kasihan dengan saya?” tanya Zoel yang sudah memegangi tangan Floryn agar tidak bisa beranjak jauh.


Floryn terlihat bingung. “Kasihan? Apa kamu mau ikut pulang denganku ke rumah?” tanya Floryn asal.


“Bukan begitu … beberapa hari ini tidak ada kabar. Bisakah kita makan malam dulu sebelum Anda pergi?” tanya Zoel penuh harap. “Setidaknya, makan makanan pembuka, bagaimana?” Zoel yang masih terus membujuk.


Floryn bingung. Ia harusnya tidak terlihat bersama dengan Zoel dalam proses perceraiannya saat ini.


“Sorry, Zoel … sebaiknya aku pulang sekarang. Mereka bilang, aku tidak boleh terlalu lama di luar rumah saat malam,” terang Floryn yang benar-benar tidak enak.


Zoel terlihat kecewa. Namun, keselamatan Floryn memang jauh lebih penting ketimbang apa pun.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Saya kecewa …,” kata Zoel dengan senyum yang dipaksakan.


Setelah menghabiskan minumannya, Zoel mengantar Floryn kembali ke mobil. Ia tahu kalau tidak boleh ada yang namanya pemaksaan. Hubungannya dengan Floryn masih sangat mentah. Apa saja bisa terjadi dalam fase tersebut.


Di halaman café tempat Floryn memarkirkan mobil, terlihat sudah lumayan ramai. Lampu-lampu taman juga sudah dinyalakan. Biasanya, saat malam keadaan café Zoel tersebut akan jauh lebih ramai di luarnya. Para pengunjung memang lebih menyukai konsep out door, karena mereka bisa merokok dengan bebas.


“Kalau begitu, kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Zoel sesaat setelah Floryn masuk ke dalam mobilnya.


“Hhmmm … aku tidak bisa memastikannya. Aku harus menghadiri sidang dan tentu saja kamu tidak boleh ikut. Dan mulai sekarang, aktifitasku terbatas di siang hari saja,” jelas Floryn.


Zoel tersenyum. “Oke …,” katanya lemah.


“Aku pergi dulu.” Floryn tersenyum kepada Zoel.


Akan tetapi, sebelum Floryn sempat menutup kaca mobilnya, Zoel menahan tangan Floryn yang ada di atas kemudi.


“Tunggu!”


Floryn berhenti. “Ya?”


“Saya hanya ingin memastikan … Anda tahu kalau saya suka dengan Anda, kan?” tanya Zoel to the point.


Floryn menelan saliva dengan susah payah. Jawaban apa yang harus ia berikan? Iya?


“Anda tahu kalau semua ini membuat saya … tidak tenang. Sorry … seharusnya saya menunggu saat masalahnya selesai.” Zoel melepaskan tangannya dan mundur dari sana.


Floryn tahu kalau ia terlalu cuek dengan sosok itu. Padahal meraka sama-sama tahu dan sama-sama memiliki rasa itu. Sayangnya, keadaan tidak berpihak kepada mereka saat ini.


Ada deretan masalah yang lebih membutuhkan perhatian dari Floryn. Ia hanya ingin menyelesaikan semuanya terlebih dahulu.


“Kita tidak boleh terlihat sangat dekat, Zoel. Tidak sekarang. Aku minta maaf …,” sahut Floryn lirih. Ia tidak tega saat mengatakannya. Tapi mau bagaimana lagi?

__ADS_1


Zoel terdiam. Sepertinya ia tahu kalau Floryn tetap akan seperti itu. Mungkin memang bukan waktunya. Mungkin suatu saat nanti akan ada masanya. Atau mungkin, apa yang Floryn rasakan tidak sama dengan apa yang ia rasakan. Mungkinkah ia sedang berada di dalam zona ‘Sebatas Teman’ saja saat ini?


Bersambung.


__ADS_2