Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Luka Bakar


__ADS_3

Kalau belum sentuh jempolnya, gak boleh baca!


Eh, canda baca :')


***


Kabar penyerangan yang diterima Floryn sampai juga ke telinga Edward. Ia juga tahu kalau pelakunya sudah ditangkap dan nama anaknya ikut terseret ke dalam masalah itu.


Sintia yang masih sangat khawatir dengan kesehatan Edward, meminta agar laki-laki itu tidak gegabah. Ia juga sudah meminta pengacara terbaik untuk mendampingi Enrik.


Untungnya Edward sudah lebih paham akan dirinya sendiri. Ia tidak ingin membuat dirinya terbebani dan memilih untuk tidak panik.


“Aku sudah meminta dua orang pengacara terbaik untuk mendampinginya, Pah. Dari penjelasan Enrik, Mamah yakin kalau anak itu tidak ikut campur dengan apa yang terjadi dengan Floryn. Dalangnya adalah selingkuhan Enrik yang katanya sakit hati dengan Floryn,” terang Sintia kepada suami Edward. Ia menjelaskannya dengan kepala super dingin. Sintia takut suaminya kepikiran, jika ia sendiri terlihat tegang.


“Kamu yakin, Mah?” tanya Edward memastikan.


“Iya, Pah. Mamah sangat yakin. Enrik tidak akan dipenjara kalau itu yang papah takutkan …,” tambah Sintia.


Edward mengangguk tanda paham. Sejelek-jeleknya kelakuan Enrik, laki-laki itu adalah anaknya sendiri. Ia tidak mungkin diam saja saat anak itu terjerumus ke dalam sebuah masalah besar. Selain itu, ia juga yang malu jika sampai Enrik mendekam di penjara.


***


Karena memang tidak ada bukti kuat yang sampai memojokkan Enrik, laki-laki itu bebas dari semua tuduhan. Namun ternyata, hal itu mempengaruhi proses sidang perceraian antara Enrik dan Floryn.


Kata Miranda, sidang Floryn bisa saja berakhir lebih cepat. Walaupun Enrik tidak ada hubungannya, otak semua masalah itu juga masih berhubungan dengan perselingkuhan Enrik.


“Bagaimana tanganmu? Apa masih sakit?” tanya Zoel setelah menyuapkan sepotong melon ke dalam mulut Floryn.


“Untuk saat ini tidak ada rasanya. Tapi aku tidak tahu jika pengaruh obatnya nanti habis …,” terang Floryn. Ada sedikit rasa tidak enak saat berdua saja seperti saat ini. Ia takut ada yang khilaf di antara mereka berdua.

__ADS_1


Zoel meletakkan mangkuk berisi beberapa macam potongan buah yang ia bawa. Sudah dua hari ini ia selalu di sana untuk menjaga Floryn. Ia menyesal karena saat itu tidak menemani Floryn ke pengadilan. Zoel menyalahkan dirinya sendiri setiap saat karena hal tersebut.


“Aku bodoh sekali, kan?” tanya Zoel tiba-tiba.


Sebelum Floryn sempat menjawab, Zoel mengulurkan tangannya untuk menyeka ujung bibir Floryn. Entah ada apa di sana, atau Zoel hanya menciptakan alasan agar Floryn tidak bicara.


“Seharusnya aku di sana denganmu. Bukannya di rumah dan membiarkanmu sendirian …,” terang Zoel lirih.


Floryn tertegun dengan apa yang baru saja Zoel katakan. Bukan karena penyesalan yang ia sampaikan, tapi karena cara bicara Zoel yang benar-benar berbeda. Floryn suka saat mendengar keformalan Zoel telah berubah.


“A-aku tidak apa-apa. Sungguh ….” Floryn meyakinkan laki-laki itu. Ia mengangkat tangannya yang masih dibungkus perban. “Ini bukan masalah besar. Kata dokter, luka bakarnya hanya di luar saja. Dalam beberapa hari akan sembuh dan kembali seperti dulu lagi …,” terang Floryn.


Ia membicarakan tangannya yang kena siraman air keras. Jika mengingat saat itu, Floryn masih saja takut. Untungnya, Floryn sempat menutupi wajah dan kepalnya dengan tangan. Ia juga buru-buru melepaskan balzer yang terkontak dengan air keras. Kalau tidak, Floryn yakin jika luka bakarnya akan jauh lebih luas ketimbang saat ini.


Zoel mengambil tangan kiri Floryn yang hanya ia pangku saja. Laki-laki itu mengecup tangan Floryn dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Floryn tersenyum. Ia masih tidak terbiasa dengan keberadaan Zoel di dekatnya, apalagi hanya berdua. “Tentu saja tidak apa-apa,” katanya. “Besok … aku juga sudah boleh pulang. Atau mungkin, Widuri bisa datang ke rumah ibuku saja?” tawar Floryn.


Zoel mengecup punggung tangan Floryn lagi. “Sudahlah, ini sudah sangat malam. Sebaiknya kamu tidur dan kita ketemu lagi besok pagi. Kita bicarakan hal itu nanti,” jelas Zoel kemudian kembali mengecup jemari Floryn yang dingin.


Pipi Floryn memerah. Tidak tahu kenapa, Floryn merasa seperti ABG lagi jika mendengar Zoel bicara. Ia merasa jiwa mudanya kembali muncul. Ia hanya bisa mengangguk karena saat ini memang sudah lumayan larut malam.


Seperti kemarin-kemarin, Zoel akan menunggui Floryn semalaman itu. Sedangkan Martha dan Alvin, mereka baru akan datang besok pagi untuk membawanya pulang.


“Good night ….”


“Good night, too.” Floryn menutup mata dan me-rileks-kan dirinya. Di dalam hati ia berharap agar esok hari menjadi jauh lebih baik dari hari-hari kemarin.


***

__ADS_1


Keesokan harinya di kediaman Enrik.


Enrik meletakkan sendok yang baru saja ia gunakan untuk mengaduk kopinya. Ia sudah selesai sarapan dan berniat untuk pergi ke kantor saat itu juga.


“Tuan … maaf saya lancang. Saya hanya ingin tahu, apa … apa Ambar akan pulang?” tanya Mira yang terlihat cemas. Walaupun ia dan Ambar tidak pernah akur dalam banyak hal, Mira juga masih punya rasa simpati. Ia sangat terkejut saat kemarin polisi datang dan langsung membawa Ambar pergi untuk diperiksa.


Enrik mengangkat tangan untuk melihat waktu saat ini. Sudah hampir jam delapan dan ia ada meeting penting untuk dihadiri.


“Jalankan perusahaan dengan baik, atau aku akan mewariskan semuanya kepada Alvin!”


Ancaman Edward masih terngiang-ngiang di telinganya. Entah kenapa, ayahnya itu menjadi lebih suka mengancam belakangan ini. Untuk sekarang, ia hanya bisa menuruti perintah sang ayah, jika masih mau menikmati hidup mewahnya.


“Tidak tahu, Bik. Kalau ia tidak bersalah, polisi pasti akan membebaskannya. Tidak usah memikirkan urusan orang lain. Sebaiknya Bibik kerja saja yang benar!” perintah Enrik yang kemudian pergi dari sana.


Mira tertunduk dan hanya bisa mengangguk paham. Tidak dipungkiri, sebagai pembantu ia dan Ambar tidak punya kuasa apa-apa. Berbeda dengan Enrik yang mendapat sokongan dari Edward sang ayah.


Kalaupun orang kaya berbuat salah, uang bisa membantu menyelesaikan. Mungkin tidak semuanya, tapi hampir. Tidak sedikit berita yang menegaskan hal-hal seperti itu. Mira sering melihatnya di TV.


Misalnya, pada salah satu kasus artis yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, lalu ia menyebabkan kecelakaan. Dalam kecelakaan itu, ia telah mengakibatkan banyak korban luka dan meninggal. Pada awalnya semua berjalan normal. Artis itu dipanggil penyidik. Dikurung untuk beberapa waktu dan melakukan sidang. Namun, lama-kelamaan beritanya akan pudar secara perlahan.


Tidak ada lagi media yang meliput masalah itu. Biasanya akan tertutup dengan berita lain yang lebih heboh dan menguntungkan media. Alhasil, tidak ada lagi yang memperhatikkan apa yang terjadi kepada si pelaku.


Ternyata, pelaku yang telah melukai banyak orang sampai mengakibatkan korban meninggal, masih berlenggang kangkung secara bebas. Tidak dipenjara sesuai dengan hukum yang berlaku.


Mira tahu kalau apa yang dilakukan Ambar pasti berhubungan juga dengan Tuan Enrik-nya. Akan tetapi, ia hanyalah pembantu yang tidak punya kuasa untuk bicara. Kalau ia ikut-ikutan melaporkan tentang hal itu, sudah bisa dipastikan ia akan menjadi pengangguran melalui jalan pintas. Lalu, apakah pengakuannya akan membuat sang majikan berubah menjadi tersangka?


Tentu saja tidak. Kembali lagi ke awal, Mira sadar kalau ia hanya seorang pembantu. Dunia memang tidak adil. Maka pandai-pandailah menempatkan diri ….


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2