Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Minta Tolong


__ADS_3

Floryn kembali memperbaiki posisi bantalnya. Ia tidak bisa tidur, padahal di sebelahnya Enrik sudah terlelap sejak setengah jam yang lalu.


Ia ingin memfokuskan dirinya untuk mencari bukti-bukti perselingkuhan suaminya. Namun, apa yang terjadi antara dirinya dan Zoel membuat fokus itu menjadi berkurang.


"Ck! Kenapa orang itu muncul terus di hadapanku? Apa semua ini ada hubungannya dengan Widuri di kantor?" batin Floryn di dalam hati.


Lagi-lagi Floryn berbalik memunggungi suaminya. Ia mengambil ponsel yang sejak tadi ia letakkan saja di atas nakas. Tanpa ia sadari, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Pesan itu hanya berisi satu kata. 'Tolong'.


Dengan pelan dan perlahan, Floryn duduk kembali dan memperhatikan nomor itu baik-baik.


"Siapa ini? Apa salah kirim?" tanya Floryn di dalam hati.


Floryn berdiri dari sisi tempat tidurnya dan memilih untuk pergi ke luar kamar. Ia takut jika pesan itu penting atau berasal dari salah satu temannya.


Klek.


Pintu kamar tertutup kembali. Ia memilih untuk duduk di sebuah sofa tunggal yang memang tersedia di depan kamarnya.


Tanpa menunggu lama, Floryn mencoba untuk menghubungi nomor itu kembali. Akan tetapi, ia tidak bisa menjangkaunya. Padahal baru beberapa menit lalu ia mendapatkan pesan itu.


Di dalam kebingungannya, sebuah pesan kembali masuk. Pesan dari nomor yang sama.


"Ryn, ini aku Cika. Apa kamu bisa datang dan menolongku? Please jangan hubungi aku dulu. Aku lagi sembunyi dari orang jahat itu." Bunyi pesan tersebut.


Pada dasarnya, Floryn tidak mau berurusan lagi dengan temannya yang satu itu. Akan tetapi, jika memang Cika sedang dalam bahaya seperti saat ini, ia harus menolongnya. Ia bukan manusia yang tidak punya hati. Bagaimana jika ia yang ada di dalam posisi itu? Karma berlaku, bukan?


"Apa yang harus kulakukan? Ini sudah hampir tengah malam dan aku tidak mungkin pergi sendirian," monolog Floryn.

__ADS_1


Floryn kembali masuk ke dalam kamar. Ia memutuskan untuk membangunkan Enrik untuk memintanya menemani.


"Mas ... Mas Enrik! Bisakah kamu menemaniku keluar?" tanya Floryn sedikit berbisik. "Mas!"


Sayangnya Enrik tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap saja tertidur pulas dan seakan tidak menyadari goncangan-goncangan yang dilakukan Floryn barusan.


Ddrrrtt!


Sebuah getaran pada ponselnya, membuat Floryn berpaling. Ia tahu jika pesan itu pasti berasal dari orang yang sama, yaitu Cika.


Dan ternyata benar saja. Pesan itu kosong, tapi memang berasal dari Cika.


Floryn tahu jika ia tidak bisa mengharapkan Enrik jika sudah seperti itu. Enrik adalah seorang tukang tidur yang lumayan parah. Kalau ia sudah sangat terlelap dan kelelahan, akan sulit membangunkanya lagi.


Jadi, Floryn memutuskan untuk pergi sendiri. Ia tidak ingin temannya kenapa-kenapa. Padahal Cika sudah meminta tolong padanya.


Floryn mengambil jaket yang ada di dalam lemari dan kunci mobilnya di dalam tas. Dengan langkah yang sangat terburu-buru, Floryn meninggalkan kamar.


***


Floryn menghentikan mobilnya di bawah sebuah jembatan layang yang lokasinya tidak jauh dari kantornya juga. Jembatan itu adalah sebuah jembatan yang proyeknya masih menggantung. Jembatan itu harusnya bisa berfungsi, tapi sepertinya masih ada beberapa masalah yang belum beres dan membuat jembatan itu belum dibuka untuk umum.


Cika sempat mengirimkan pesan jika ia ada di tempat itu. Ia mengirimkannya dengan sebuah gambar yang agak kurang jelas. Namun Floryn bisa memahaminya karena lokasi itu memang sering ia lewati saat pergi dan pulang kerja.


Di dalam mobilnya, Floryn kembali membuka HP. Ia berharap Cika kembali mengiriminya pesan agar ia bisa tahu keadaan temannya tersebut. Akan tetapi, ia hanya bisa menelan kekecewaan karena tidak ada pesan apa pun yang masuk.


"Apa aku harus ke sana sendiri? Gelap ...," lirih Floryn dengan sedikit keraguan di hatinya.

__ADS_1


Sebelum Floryn benar-benar turun dari sana, ia ingin membuat jaminan untuk dirinya sendiri. Ia takut jika terjadi apa-apa saat ia sedang menolong temannya dan bukannya menyelamatkan seseorang, ia sendiri akan menjadi korban.


Sayangnya Floryn tidak tahu harus menghubungi siapa. Enrik sudah tidak mungkin diganggu. Sedangkan ia tidak punya teman laki-laki untuk menjamin keselamatannya saat ini.


"Eh, tunggu ... sepertinya ada satu orang yang bisa kumintai tolong. Agak memalukan ... tapi mau bagaimana lagi?" monolog Floryn.


Akhirnya ia mengirimkan pesan untuk Zoel. Menyertakan foto lokasi dan memastikan jika Zoel telah membuka pesannya. Selama beberapa menit, Floryn menunggu pesan itu terkirim. Namun, pesannya masih pending.


Floryn memutuskan untuk keluar dari sana. Meninggalkan HP-nya di dalam mobil karena ia tidak ingin benda itu tercecer dan malah hilang.


Rintik hujan yang telah turun sejak tadi, membuat hawa dingin menyelimuti malam itu. Floryn merapatkan jaketnya dan menggosok-gosokan kedua telapak tangannya untuk mencipatakan kehangatan.


"Bbrr ... dingin ...," lirih Floryn. Langkahnya terus menuju area bawah jembatan yang ditumpuki beberapa bahan bangunan. Ada balok-balok dengan berbagai ukuran dan drum-drum kosong.


Pandangan Floryn mengitari tempat tersebut. Sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada satu atau dua orang tuna wisma yang sepertinya sedang tidur di ujung kolong. Posisinya agak jauh dari mobilnya parkir.


"Ka?" panggil Floryn dengan suara pelan. Langkah kakinya semakin masuk ke dalam karena ia merasa tidak ada apa-apa di sana.


"Tempat ini tidak terlihat menyeramkan saat siang. Kenapa saat malam hawa yang dikeluarkan membuatku merinding?" Floryn bicara sendiri.


Kini ia sudah berada di lokasi Cika. Tepat seperti di gambar yang ia terima. Keadaan di sana begitu tenang. Tidak ada apa-apa yang mencurigakan.


"Cikaa?!" panggil Floryn dengan suara yang lebih nyaring. Sayangnya, tidak ada sahutan sama sekali.


Floryn mencoba untuk mendekati tumpukan kotak yang disusun begitu tinggi. Apa yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah, mungkin Cika sedang bersembunyi di sana.


Saat Floryn mencoba untuk melihat ke balik kotak, tiba-tiba saja Floryn merasa tubuhnya ditarik dari belakang. Netranya membulat karena kaget. Ia ingin menjerit, tapi mulutnya lebih dulu dibekap dari belakang oleh seseorang.

__ADS_1


"Tolong!!" Sayangnya Floryn hanya bisa menjerit di dalam hati saja ....


Bersambung.


__ADS_2