
Floryn menghapus air matanya dengan selembar tisu. Baru saja, mereka menutup kembali tanah kuburan Cika dan suaminya. Para tukang gali kubur melakukan hal itu bersamaan.
Selain keluarganya dan keluarga Herman, di sana juga hadir beberapa orang polisi yang bertugas untuk mengawasi keadaan. Mungkin mereka masih khawatir jika Jack tiba-tiba saja muncul dan membuat masalah.
“Bu … kalian langsung pulang saja. Floryn akan ke rumah duka dulu untuk mengurus barang-barang Cika …,” terang Floryn kepada Martha.
“Iya, Nak. Hari sudah hampir malam, Ibu titip salam saja kepada Nak Budi dan istrinya …,” jelas Martha.
Orang-orang yang menghadiri pemakaman itu mulai bubar dari sana. Sebenarnya, Floryn juga tidak tahu apakah ia harus ke rumah Cika dan melakukan sesuatu. Ia hanya tidak enak jika tidak muncul di rumah sahabatnya itu. Bagaimana pun juga, Budi tahu jika Cika adalah sahabatnya.
Setelah lahan pemakaman mulai kosong, Floryn juga bergegas meninggalkan tempat itu. Ia bersyukur karena Zoel tidak ngotot datang ke sana untuk menemaninya, karena ternyata Enrik juga hadir di acara pemakaman Cika.
Floryn mempercepat langkah kakinya. Ia tidak mau Enrik menyusul atau mungkin berniat begitu. Setelah kemarin mendengar sendiri kata-kata polisi tentang penjagaan yang diberikan kepada Floryn, Floryn yakin kalau Enrik tidak akan mau dekat-dekat dengannya di tempat umum.
***
Di dalam mobilnya, Floryn membuka HP yang sejak tadi ia tinggal di atas jok mobil. Ia ingin mengecek, apakah ada panggilan atau pesan yang masuk. Dan benar saja, ada sebuah pesan yang masuk dari nomor Cika.
Tanpa membuka pesan itu, Floryn meletakkan HP-nya dan langsung menjalankan mobil untuk pergi dari sana.
Dddrrrttt … Dddrrrttt ….
Sebuah getaran terasa dari ponselnya yang baru saja ia letakkan. Floryn yang menduga jika penggilan itu dari nomor Cika, memilih untuk tidak menjawabnya.
Akan tetapi, panggilan itu kembali berulang hingga tiga kali. Akhirnya Floryn menepikan mobil dan mengambil benda pipih tersebut.
Dan benar apa yang ia bayangkan. Panggilan itu berasal dari nomor Cika. Sahabatnya yang baru saja dikubur beberapa belas menit lalu.
Karena penasaran, Floryn menjawab panggilan itu tapi tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Ternyata, bukan hanya Floryn yang tidak bersuara, orang yang menghubungi Floryn pun tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya ada sebuah suara yang terdengar secara samar.
Floryn menajamkan pendengarannya. Ternyata, suara yang ia dengar adalah sebuah suara penyiar radio.
Tiiiiinnn ….
__ADS_1
Sebuah mobil melewati Floryn. Ia berpaling dan langsung saja menyadari sesuatu. Saat mobil yang lewat taadi membunyikan klakson, Floryn juga mendengar hal yang sema di dalam panggilan yang ia terima.
Dengan rasa panik yang mulai muncul, Floryn mencoba untuk menyalakan radio mobil. Betapa terkejutnya ia, saat mendapati suara penyiar radio yang sama persis dengan yang ia dengar di dalam HP-nya.
Floryn mengambil HP-nya dan menambah volume benda itu. Ia ingin mendengar jelas apa yang ada di sana.
“Kenapa kamu menghentikan mobil?” Tiba-tiba saja orang yang menghubungi Floryn mengatakan hal tersebut.
Netra Floryn membulat. Tentu saja ia terkejut bukan main. Pandangan Floryn menjadi liar dan mencari tahu bagaimana orang itu bisa mengetahui apa yang ia lakukan.
Tatapan Floryn terpaku pada kaca spion mobilnya. Ia melihat pantulan sebuah mobil yang juga berhenti di belakangnya. Mobil itu diam. Sama seperti mobilnya. Akan tetapi, si pengemudi mobil tidak hentinya memainkan lampu mobil seakan-akan memberikan kode kepadanya. Hal itu cukup untuk membuat Floryn merasa jika dirinya sedang ada di dalam bahaya besar.
Tanpa berpikir dua kali, Floryn melepaskan rem tangan dan langsung menginjak pedal gas. Ia melajukan mobilnya, sampai-sampai hampir saja menabrak sebuah motor yang berjalan di jalurnya sendiri.
“Damn!” umpat Floryn dengan debaran jantung yang tidak lagi normal.
Dengan cepat ia mengakhiri panggilan dan meletakkan HP-nya di atas dashboard dengan asal.
Sesekali matanya melihat ke arah belakang. Mobil itu masih mengikuti dengan kecepatan yang sama.
Hal pertama yang terpikir olehnya adalah menghubungi Zoel. Akan tetapi, ia bahkan tidak bisa meraih HP-nya dengan kecepatan mobil saat ini.
Pikiran Floryn kosong. Ia hanya ingin pergi dari sana dan lepas dari bahaya. Sampai akhirnya Ia terpikir untuk melajukan mobilnya ke café Zoel. Tempat itu masih lebih dekat dari pada rumah mendiang Cika yang akan ia datangi.
Seakan tidak punya pilihan lain, Floryn mengambil jalur kanan dan langsung berbelok saat lampu sudah berubah menjadi kuning. Nekat, tapi ia punya alasan kuat saat melakukannya.
Sekilas Floryn melihat jika mobil yang mengejarnya berhenti karena lampu sudah berubah menjadi merah. Ya, tentu saja orang itu tidak mau menerobos lampu merah karena hal itu akan membuatnya dilacak langsung oleh polisi lalu lintas.
Perasaan Floryn menjadi lebih lega untuk saat ini. Ia kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal. Sayangnya, niatan untuk mampir ke rumah mendiang sahabatnya harus padam. Floryn takut jika Jack muncul di sana dan mencarinya.
Kata polisi, orang itu ada di Yogya, tapi buktinya … saat ini sosok itu sedang mencoba mengejarnya. Apa lagi niatnya kalau bukan niat jahat?
Beberapa saat kemudian, mobil Floryn mulai melambat. Ia sudah sampai di depan café Zoel. Seperti tamu kebanyakan, ia parkir di salah satu sudut yang disediakan. Lokasinya tepat di samping mobilnya parkir tadi malam.
Floryn menarik rem tangan, lalu menelungkupkan kepalanya di atas kemudi dan mencoba untuk menghilangkan shaking pada tangan dan kakinya.
__ADS_1
“Aku harus melaporkan semua ini kepada polisi …,” gumam Floryn kepada dirinya sendiri.
Hari menjadi semakin gelap. Gerimis kembali terlihat pada kaca mobil Floryn yang mesinnya masih menyala. Floryn sendiri tidak berniat untuk pergi dari sana. Kakinya terlalu lemas. Duduk dan menikmati ketenangan jauh lebih baik.
Tok tok tok!
Sebuah suara ketukan membuyarkan lamunan Floryn. Sedikit tersentak kaget, tapi ia berhasil menutupinya.
Ia berpaling dan melihat jika sudah ada sesosok laki-laki berdiri di samping mobil. Floryn menelan saliva. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah kekejaman Jack padanya dan pada Cika.
Tok tok tok!
Orang itu kembali mengetuk kaca jendela, lalu menunduk untuk berhadapan langsung dengan Floryn.
“Apa Anda tidak berniat masuk? Buka pintunya, hujannya mulai deras …,” pinta sosok itu yang ternyata adalah Zoel.
Seperti baru tersadar dan kembali ke kenyataan, Floryn langsung membuka kunci mobilnya. Zoel yang tadi berdiri di samping mobil, kini sudah memutar dan masuk dari sisi kiri, kemudian duduk di sana.
Ada bekas tetesan air hujan di kemeja Zoel yang terbuat dari bahan jeans. Tanpa diminta, Floryn mengambil beberapa lembar tisu dan menyeka kening Zoel.
“So-sorry …,” kata Floryn lirih.
Zoel menangkap tangan Floryn yang terlihat masih sedikit bergetar. Ia curiga jika ada sesuatu yang baru saja terjadi pada wanita itu.
“Apa Anda baik-baik saja?” tanya Zoel memastikan.
Floryn mengangguk tapi kemudian menggelengkan kepala. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan jika mobil yang tadi mengikutinya tidak ada di sana.
“Dia mengejarku … dia ada di sini …,” bisik Floryn, seakan-akan dia takut ada yang mendengar hal itu.
Wajah santai Zoel ikut berubah tegang saat mendengar penjelasan Floryn barusan. Ia ikut melihat ke belakang tapi tidak mendapati ada hal yang mencurigakan.
Zoel merogoh saku celananya dan mengeluarkan HP dari sana. “Bang, minta satu orang lagi dari belakang untuk ikut berjaga di pos depan. Ada seseorang yang mungkin akan datang dan berniat jahat,” terang Zoel kepada salah satu orangnya di bagian keamanan. HP itu kemudian ia simpan kembali di dalam saku baju.
“It’s okey … Anda aman bersama saya ….”
__ADS_1
Bersambung.