
Jangan lupa Like dan Koment, ya (≧∇≦)/
***
Enrik tahu jika ia sudah tidak perlu khawatir dengan kedatangan Floryn tadi. Wanita itu tidak lagi memiliki bukti apa-apa untuk diberikan kepada sang ayah.
“Sayang … apa Sayang baik-baik saja? Masih memikirkan yang tadi?” tanya Ambar yang sudah merangkul lengan Enrik di sampingnya.
Laki-laki itu menoleh dan mengecup bibir Ambar sekilas. Ia tahu kalau Ambar tidak akan merasa tenang sampai ia bilang kalau semua baik-baik saja.
"Jangan khawatir. Ayahku tidak akan percaya hanya dengan omongannya saja. Aku kenal ayahku dengan baik," sahut Enrik.
Ambar tersenyum penuh makna. Sebenarnya, ia penasaran dengan alasan Enrik selingkuh dari Floryn. Akan tetapi, ia tidak berani menanyakan hal tersebut. Ia takut jika pertanyaan itu membuat Enrik marah dan malah pergi meninggalkan dirinya. Kadang, ada hal-hal yang tidak ingin dibicarakan kepada orang lain.
"Baiklah, terserah apa kata Sayang saja," ungkap Ambar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Enrik.
Baru beberapa menit lalu kedunya menyelesaikan urusan ranjang mereka. Keduanya begitu puas dan senang. Walaupun sempat ada drama kedatangan Floryn, hal itu tidak lantas mengurangi kesenangan mereka.
Akan tetapi, ada satu hal yang membuat Enrik khawatir. Bagaimana jika Floryn meracuni otak Alvin untuk membencinya? Tidak boleh. Ia harus mendapatkan simpati anaknya setelah pulang nanti. Dan Enrik sudah punya rencana untuk hal tersebut.
"Apa kamu lapar? Bagaimana kalau kita makan di luar? Hujannya juga sudah berhenti ...," ajak Enrik.
Ambar menoleh ke arah jam dinding di sampingnya. Ternyata sudah jam delapan malam. Pantas saja ia merasa lapar. Mungkin makan memang hal yang paling tepat saat ini.
"Baiklah. Saya siap-siap dulu. Sekalian membersihkan semuanya," sahut Ambar.
Enrik mengangguk dan membiarkan Ambar pergi dari sampingnya. Setelah Ambar pergi, Enrik mengangkat koper yang ia bawa ke atas tempat tidur dan mengeluarkan sepasang pakaian santai.
Seharusnya, tadi sore ia pergi ke lokasi pekerjaan, tapi karena hujan yang tidak kunjung reda, pekerjaan timnya juga berhenti. Semuanya akan dilanjutkan besok pagi-pagi sekali. Pasti akan memakan waktu seharian. Itu berarti, malam ini ia ingin full time Ambar melayaninya.
Enrik membayangkan menghabiskan malam dengan Ambar. Sudah lama ia tidak merasakan hal-hal seperti ini. Mungkin sekitar dua tahunan lamanya. Ia merasa Floryn berubah setelah anak mereka berusia satu tahun. Entahlah. Enrik sendiri tidak paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Floryn.
***
Di tempat lain, Floryn sedang mengamati apa yang Naura lakukan dengan serius. Ia tidak menyangka jika wanita itu melakukan banyak hal untuknya.
Ia terbangun dan mendapati Naura sedang melakukan sesuatu pada HP-nya. Ia penasaran. Dengan tertib ia ikut duduk di sana.
"Semoga saja bisa terbaca," lirih Floryn yang pandangannya tidak lepas dari layar laptop milik Naura.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mencoba, akhirnya sebuah folder muncul di layar yang sebelumnya kosong.
"Yes!" pekik Naura yang lebih bahagia daripada Floryn sendiri.
"Apakah bisa?" tanya Floryn tidak yakin.
"Coba lihat ini ...," kata Naura sembari meng-klik folder yang baru saja muncul. Di sampingnya, Floryn mengangguk antusias.
Di layar monitor, muncul deretan folder yang lebih banyak. Floryn mengenalinya sebagai nama-nama aplikasi yang sebelumnya ada di dalam HP rusaknya.
"Itu milikku!" tukas Floryn refleks.
"Ya ... kita akan cari di mana folder yang merekam semuanya," kata Naura antusias. Ia melepaskan mouse yang sejak tadi ia pegang dan mengambil cangkir gelas berisi kopi yang isinya sisa setengah saja.
Floryn mengangguk. Setelah beberapa menit mencari, folder yang dimaksud akhirnya ketemu. Senyum tidak percaya terukir jelas di wajah Floryn saat ia melihat sebuah gambar thumbnail seperti kejadian tadi siang.
"Itu ... itu videonya ...," bisik Floryn.
Naura memilih file itu dan membukanya. Seketika itu juga, adegan demi adegan yang terjadi tadi sore, tampil di sana.
Tentu saja hal itu membuat Naura sangat terkejut. Ia langsung saja merasa tidak enak dengan Floryn.
"Flo ... kamu harus kuat. Jika memang hal ini yang terjadi, kamu harus meninggalkannya. Dia bukan untukmu, Flo ...," terang Naura lirih.
Naura berpaling dan memeluk sosok di sampingnya. "Tuhan pasti punya sebuah rencana baik saat mempertemukan kalian, tapi manusia tempatnya salah dan dosa, Flo ...," kata Naura berusaha menenangkan.
Floryn bersyukur karena menemui Naura, bukan sahabatnya yang lain. Mungkin tidak semuanya akan menenangkan dirinya seperti yang Naura lakukan.
Setelah lumayan tenang, Floryn menghapus air matanya sendiri. Ia melihat jam yang menempel di dinding.
"Aku mau pulang ...," lirih Floryn. "Aku ingin memberikan video ini kepada mertuaku. Sekarang," terang Floryn.
Lagi-lagi Floryn hanya memikirkan emosinya sendiri. Ia sedang tidak berpikir panjang. Bagaimana jika terjadi padanya di jalan nanti?
"Kamu jangan nekat, Flo ... tinggallah di sini untuk malam ini saja," pinta Naura.
Floryn menggelengkan kepala. "Rasanya aku harus pulang ... eemm ... bisakah nomor itu digunakan?" tanya Floryn menunjuk nomor HP-nya yang telah dikeluarkan Naura dari dalam HP rusak Floryn.
"Tentu saja bisa," sahut Naura.
__ADS_1
"Kalau begitu, pinjamkan HP-mu padaku sebentar," pinta Floryn.
Naura setuju saja. Ia memberikan HP-nya untuk digunakan oleh sang sahabat.
Floryn sendiri langsung memasukkan SIM card miliknya ke dalam HP Naura.
Belum juga melakukan tujuan awalnya, Floryn sudah mendapat beberapa pesan dan missed call dari sebuah nomor. Hal itu membuatnya tercengang.
"Apakah itu Tante Martha? Dia khawatir sekali ...," ungkap Naura.
"Ini ... bukan ibuku, tapi orang lain," sahut Floryn.
Pesan-pesan itu berasal dari Zoel. Sesuatu yang membuatnya deg-degan. Laki-laki itu menanyakan keberadaan Floryn saat ini. Begitu juga dengan panggilan-panggilan yang tidak terjawab. Sepertinya Zoel begitu kehilangan dan khawatir.
"Aku harus membalas pesan ini," kata Floryn yang kemudian menjauh dari Naura.
Naura hanya mengangguk dan kembali ke layar laptopnya.
Floryn duduk di sofa ruang tengah dan langsung saja menghubungi Zoel. Ia takut jika orang itu datang ke rumahnya atau mencari tahu rumah sang ibu. Hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi.
"Hallo ...," sapa Floryn saat panggilannya terhubung.
"Bu Floryn! Anda kemana saja? Saya sampai frustasi hanya untuk mendengar kabar Anda ...," tanya Zoel yang memang terdengar khawatir.
"Aku ... masih di Bogor. Urusannya masih belum selesai," jawab Floryn. "Apa ... kamu pergi ke rumahku?" tanya Floryn memastikan.
"Tidak. Saya tahunya Anda ke Bogor, makanya ... saya datang menjemput."
"Wah ... kamu sangat— hah! Apa?! Menjemputku?" tanya Floryn terkejut.
"Iya. Saya ada di Bogor. Tepatnya di sebuah warung makan. Sejak sore tadi terjebak di sini ...," ungkap Zoel agak malu-malu.
"Lah? Bagaimana bisa kamu terjebak di sana? Kamu naik bus?"
"Tidak, sih. Saya hanya tidak tahu harus ke mana mencari Anda. Saya hanya berharap nomor Anda kembali aktif. Dan untungnya begitu." Zoel terdengar lebih tenang.
Floryn memutuskan untuk pulang dengan Zoel. Ia akan meminta laki-laki itu datang ke rumah Naura. Floryn cukup yakin kalau Enrik akan cukup sibuk dengan Ambar dan tidak akan mencarinya.
Ya, menurutnya hal itu adalah hal yang tepat.
__ADS_1
"Kalau begitu ... aku akan mengirimkan sebuah alamat. Kamu bisa datang ke sini?"
Bersambung.