
Hai Hai! Author up lagi!
Semoga bisa menghibur dan jangan lupa berikan like dan dukungan terbaik kalian.
Terima kasih :')
***
“Kenapa ada polisi datang ke rumah ibunya Floryn?” tanya Enrik yang melihat dari kejauhan. Tadinya ia ingin datang ke rumah itu dan melihat keadaan Alvin. Ternyata ia kangen juga dengan anak itu.
Enrik yang rasa penasarannya tersulut, memutuskan untuk masuk dan mencari tahu secara langsung. Ia kembali menjalankan mobilnya dan berhenti di halaman rumah Martha yang dilapisi paving blok berbentuk segi enam beraturan. Tanpa berlama-lama, Enrik keluar dari mobil dan beranjak.
“Permisi …,” kata Enrik saat sudah berada di depan teras. Ia mendapati dua orang polisi yang ia lihat tadi, sedang bersalaman dengan Floryn.
“Mas?” Floryn bingung dengan kehadiran Enrik di depan rumah ibunya. “Maaf, Pak. Ini suami saya …,” terang Floryn kepada dua polisi yang telah bersiap untuk pergi.
Kini giliran Enrik yang menyodorkan tangannya kepada polisi-polisi itu untuk bersalaman. Ia tidak ingin ditangkap karena dianggap tidak menghormati orang-orang berseragam itu.
“Selamat siang, Pak. Maaf, sepertinya kita tidak bisa ngobrol untuk kali ini. Kami harus segera pergi dan kembali ke kantor,” terang salah satu polisi.
“Ya, benar. Dan … untuk Anda, Nyonya … jangan khawatir, kami akan meningkatkan keamanan di sekitar Anda. Kami cukup yakin kalai mungkin ia akan berusaha mendekati Anda untuk alasan apa pun,” terang rekannya kemudian.
Floryn mengangguk. Memang terdengar menyeramkan, tapi ia tahu kalau polisi-polisi itu juga tidak akan mungkin berbohong.
“Terima kasih, Pak!” sahut Floryn dengan sungguh-sungguh.
Floryn dan Enrik menunggu hingga kedua polisi itu pergi. Setelah pergi, dan mereka tidak bisa melihatnya lagi, Floryn berpaling.
“Mau apa ke sini?” tanya Floryn seraya meninggalkan calon mantan suaminya tersebut.
Enrik yang baru menyadari kepergian Floryn, langsung berbalik dan menyusul sang istri.
“Flo, di mana Alvin?” tanya Enrik sambil terus mengikuti langkah kaki Floryn yang pergi ke arah ruang tengah.
Di sana sudah ada Martha yang sedang menggendong Alvin. Rupanya anak itu tertidur dan ia ingin membawanya ke kamar. Itu tandanya, lumayan lama juga Floryn bicara dengan dua polisi yang datang bertamu tadi.
__ADS_1
“Sssttt … Alvin tidur, Nak. Maaf …,” kata Martha yang tidak ingin Enrik atau Floryn berdebat di dekat cucunya.
“Sini, Bu. Biar Floryn saja yang bawa ke kamar,” katanya kemudian.
Martha menyerahkan Alvin ke pelukan Floryn. Ia juga tidak sanggup lagi jika harus menggendong anak itu hingga ke kamar. Pinggang tuanya tidak sekuat dulu lagi.
Enrik lumayan kecewa karena tidak bisa bicara dengan Alvin. Namun, setidaknya ia bisa melihat anak itu dan mengobati sedikit rindunya. Karena tidak bisa ngobrol dengan Alvin, ia memilih untuk menunggu Floryn. Ia ingin tahu lebih banyak tentang kedatangan dua polisi tadi. Lalu, apa maksudnya jika mereka akan meningkatkan keamanan di sekitar Floryn? Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan perintah pengadilan yang telah turun?
Sementara Enrik berpikir, Floryn hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tidak ingin bicara lagi dengan Enrik. Ia tidak sudi. Biarkan saja orang itu menunggu.
Tok tok tok …
Sebuah suara ketukan mengalihkan lamunan Floryn. Ia berpaling dan melihat sang ibu sudah berdiri di ambang pintu kamar.
“Ibu ….”
“Nak, kamu tidak keluar? Itu Enrik sedang menunggumu, loh …,” terang Martha dengan suara berbisik.
Floryn menggeleng. “Enggak mau. Ibu saja yang menemui, Floryn muak melihat wajahnya …,” terang Floryn dengan suara rendah.
Martha geleng-geleng kepala. Memang, setelah apa yang terjadi dengan anaknya, ia paham kenapa wanita itu tidak mau menemui Enrik lagi. Diselingkuhi dan dibohongi. Siapa saja pasti akan marah.
Floryn memijat kepalanya yang tiba-tiba sakit. Sungguh, ia tidak mau bertemu dengan Enrik, kalau ujung-ujungnya akan dihina atau direndahkan lagi.
“Tapi, Bu ….”
"Sebaiknya kalian bicara. Kalau pun harus berpisah, setidaknya dengan cara baik-baik, kan?" terang Martha saat melihat anaknya tetap tidak mau pergi ke depan dan menemui Enrik.
Floryn tahu kalau ia tidak mungkin terus menolak permintaan ibunya. Jadi, Floryn hanya mengangguk dan beranjak dari sana.
"Floryn ke depan dulu, Bu." Ia melangkah dengan malas untuk menemui Enrik. Martha lalu mengangguk setuju.
Sebelum pergi ke depan, Floryn pergi ke dapur untuk menemui pembantu ibunya. Kebetulan Dian sedang tidak sibuk.
"Mbak, tolong buatkan teh satu cangkir, ya ...," kata Floryn kepada wanita itu.
__ADS_1
Dian mengangguk dan menghentikan kegiatannya bermain media sosial.
"Eemm ... Nyah, itu ... teh-nya manis atau biasa aja?" tanya Dian memastikan.
Floryn berhenti, ia berpikir sejenak. "Kasih garam aja, biar asin ...," sahut Floryn asal.
Dian terlihat bingung dan ingin tertawa di saat bersamaan. Ia tidak tahu kalau anak majikannya serius dengan perkataan itu.
Di depan, Floryn melihat Enrik yang sedang memainkan HP-nya. Rasanya malas untuk sekedar menyapa sosok itu lagi. Laki-laki yang tidak tahu diri, tidak tahu malu.
"Ngapain masih di sini? Bukannya sudah tahu kalau anakmu lagi tidur siang? Pulang aja sana," kata Floryn malas.
Enrik berdiri dan meninggalkan HP-nya di atas sofa. "Aku ingin ngobrol bentar. Setelah itu aku pulang," terangnya.
Floryn duduk di sofa yang paling jauh dari Enrik. Sepertinya ia mulai memiliki alergi terhadap sosok itu.
"Hhmm."
"Apa yang polisi-polisi itu lakukan tadi? Apa kamu melakukan setu kejahatan?" tanya Enrik yang sudah penasaran sejak tadi.
Floryn tersenyum sinis. "Kenapa kamu sibuk dengan urusanku, ya? Memangnya kita masih punya hubungan?" sindir Floryn.
Enrik merasa emosinya seketika naik, ketika mendengar kalimat Floryn barusan. Laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Floryn. Ia mencekal lengan Floryn yang tentu saja membuat Floryn tersentak kaget. Begitu cepat sampai-sampai Floryn tidak sempat menghindar.
"Jaga mulutmu, Flo! Kita masih belum resmi berpisah!" tukasnya kemudian.
Floryn menepis tangan Enrik sekuat tenaga. "Lepas, Mas! Kamu kasar sama aku! Dulu ... kamu gak pernah gini!" seru Floryn. Ia seperti tidak mengenal lagi sosok di depannya sekarang. Enrik yang lembut dan penuh kasih sayang sudah tidak ada lagi.
"Kamu yang memulainya, Flo ... apa pantas, kamu bicara begitu?" bisik Enrik dengan penekanan pada setiap kalimatnya.
"Apa yang kamu harapkan dariku, Mas? Kita akan berpisah, bukan? Aku tidak akan melarangmu bertemu dengan Alvin, tapi sudah ... cukup. Jangan ganggu aku lagi!" tukas Floryn.
Enrik mundur. "Oke, fine." Enrik tidak ingin membuat masalah. Bukankah tadi, polisi itu bilang kalau mereka akan berada di sekitar Floryn untuk menjaganya? Bagaimana kalau Floryn melaporkan suaminya sendiri?
"Aku hanya ingin tahu, ada masalah apa polisi-polisi itu datang ke sini? Apa salahnya bertanya? Di sini juga ada anakku, kan?" tanya Enrik dengan suara pelan.
__ADS_1
"Cika meninggal."
Bersambung.