
Selamat membaca!
***
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alvin saat melihat bundanya begitu dekat dengan orang lain.
Zoel terdiam. Begitu juga dengan Floryn. Keduanya bingung ingin menjawab apa.
"Itu ... sepertinya abangku ingin masuk ke kamar mandi dan bundamu berdiri di tempat yang salah," ungkap Widuri asal.
Ia hanya membuat alasan agar anak kecil di depannya tidak berpikiran buruk.
"Oh ... Bunda, kenapa tidak menjauh? Mungkin om-nya kebelet ...," kata Alvin dengan lugunya.
Seperti tersadar, Floryn menjauh dari sana. "Iya. Bunda lupa!" sahut Floryn.
Zoel sendiri langsung masuk ke dalam kamar mandi padahal tidak ingin.
"Ayo Alvin, kita keluar dulu," ajak Floryn yang wajahnya masih memerah.
Ia beruntung Widuri memberi alasan yang tepat. Alvin tidak jadi curiga dengan semua itu.
***
Beberapa bulan kemudian setelah pertemuan mereka semua di rumah Zoel kala itu, hubungan Alvin dan Zoel menjadi semakin dekat.
Saat ini, Zoel dan Alvin sedang makan es krim berdua di halaman pengadilan. Di dalam sana, Floryn sedang menjalani sidang keputusan atas perceraian yang ia ajukan sebelumnya.
“Apa rasa cokelat enak?” tanya Zoel saat melihat Alvin menyantapnya dengan lahap.
Alvin mengangguk tasnpa mengalihkan pandangannya dari es krim yang sudah tersisa sebagian saja.
“Alvin bisa menghabiskan satu lagi!” katanya dengan serius.
“Ho ho ho … sayangnya bundamu tidak akan mengijinkan kita. Nanti ia marah dan tidak membiarkan Om untuk mengajakmu makan es krim lagi,” terang Zoel.
Alvin menoleh dan terlihat khawatir. Hal itu membuat Zoel bingung.
“No … gak boleh terjadi! Es krim itu enak …,” katanya kemudian.
Jawaban itu membuat Zoel hampir tersedak. Ia tertawa geli dengan perkataan Alvin barusan. Ternyata anak itu sangat pandai, Floryn memang orang tua yang hebat meskipun beberapa bulan ini membesarkan Alvin sendirian.
Semua yang Enrik lakukan, membuat laki-laki itu mendekam di penjara. Sidangnya baru berjalan tiga kali dan nampaknya Edward dan Sintia hanya membantu sekedarnya saja. Kedua orang itu memutuskan jika Enrik memang pantas mendapatkan hukuman atas apa yang ia lakukan.
Saat mengetahui hal itu, Enrik sempat marah dan mengamcam untuk membongkar satu rahasia yang Sintia simpan sejak lama.
__ADS_1
Akan tetapi, Edward meyakinkan istrinya jika wanita tersebut tidak perlu takut. Ia akan selalu berada di pihak Sintia, asalkan wanita itu tetap setia padanya.
Enrik tidak bisa mengancam lebih jauh. Apalagi, ia masih memerlukan orang tuanya untuk membantu hal lain. Kalau sampai Edward dan Sintia lepas tangan dengannya, Enrik akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Ia menyadari hal itu.
Zoel membersihkan tangan Alvin yang akhirnya menghabiskan es krim miliknya. Laki-laki itu mencuci tangan Alvin dengan sebotol air mineral, lalu mengelap sisa-sisa air dengan tisu.
Laki-laki itu melihat jam di pergelangan tangan. Ternyata sudah jam sebelas siang dan seharusnya, sidang Floryn sudah selesai jika semuanya sesuai jadwal.
“Hai, Teman … bagaimana kalau sekarang kita temui bundamu? Apa kamu setuju?” tanya Zoel yang ingin tahu bagaimana reaksi anak itu terhadapa ajakannya.
Kedua netra Alvin langsung berbinar. Ia menunggu hal itu sejak tadi, hanya saja ia cukup teralihkan dengan es krim yang sekarang sudang habis tak bersisa.
“Iya! Ayo, Om … Alvin ingin bertemu bunda …,” ungkap Alvin.
Zoel mengangguk setuju. Ia menggendong Alvin turun dari atas bangku taman yang ada di halaman samping pengadilan. Ia membawa anak itu masuk ke gedung pengadilan melewati pintu yang ada di samping.
Keduanya langsung pergi ke arah lift, karena sidang Floryn berlangsung di lantai dua.
Di dalam lift, mereka bertemu dengan Sintia yang berdiri sendirian dengan sebuah bungkusan di tangannya.
“Nenek?” gumam Alvin yang sedikit ragu karena Sintia menggunakan kacamata hitam.
Mendengar teguran itu, Sintian menoleh dan menurunkan kacamatanya, “Alvin,” kata Sintia yang pandangannya langsung beralih ke arah Zoel. Ia melihat sosok itu dari atas hingga ke bawah.
“Kamu pacar barunya Floryn?” tanya Sintia dengan cuek. Ia tidak memikirkan keberadaan Alvin di sana, dan malah bertanya seperti itu.
Untungnya, Zoel langsung saja menutupi kedua telinga Alvin yang berdiri di depannya. Laki-laki itu tersenyum saat Alvin mendongak dan melihatnya.
“Iya. Apa ada masalah dengan hal itu, Nek?” tanya Zoel dengan nada mengejek.
Hal itu membuat Sintia geram. Ia melepaskan kacamata hitamnya dengan kasar dan menekan pintu salah satu tombol agar pintu lift cepat terbuka.
“Dasar mulut tidak sekolah!” omel Sintia setelah akhirnya ia berhasil keluar dari dalam lift itu.
Di belakangnya, Zoel hanya bisa mencoba untuk menahan tawa. Padahal, mulut wanita itu yang lebih dulu mengeluarkan racun. Saat dibalas, kenapa begitu marah?
Akan tetapi, detik berikutnya Zoel langsung mengangkat Alvin dan membawanya keluar dari dalam lift. Ia hampir lupa kalau tujuannya juga ke lantai yang sama dengan Sintia.
“Om, jangan lari-lari. Nanti kita terjatuh …,” ungkap Alvin yang terkekeh karena goncangan yang dihasilkan Zoel saat berlari.
“Ah, iya. kamu benar juga,” kata Zoel yang kemudian berhenti dan menurunkan Alvin. Mereka berjalan bersama menuju ruang sidang yang ada di ujung lorong.
Ternyata, sidang Floryn memang baru saja selesai. Zoel bisa mendengar dengan samar apa yang mereka bicarakan di dalam ruang sidang.
“Kita tunggu lagi sebentar,” kata Zoel kepada Alvin.
__ADS_1
Alvin mengangguk karena memang tidak paham apa-apa. Yang ia tahu, bundanya ada pekerjaan dan ia tidak boleh mengganggu.
***
Floryn memeluk Alvin setelah ia keluar dari ruang sidang. Wanita itu terlihat lelah dengan perut yang semakin terlihat membesar. Sudah hampir empat bulan dan memang mulai terasa ada yang berbeda.
“Bunda lama, ya?” tanya Floryn basa basi.
Namun, Alvin malah mengangguk dengan polosnya. “Bunda lama bangeeet. Alvin lapar …,” katanya kemudian.
Mendengar hal itu, Floryn merasa kasihan. “Hei … apa o mini tidak membelikan Alvin jajan?” tanya Floryn tidak percaya.
Alvin mengangguk. “Beli. Kita makan es krim dan cilok. Tapi Alvin maunya makan ayam bakar …,” ungkap anak itu kemudian.
Floryn hampir tertawa dibuatnya. Ia melihat ke arah Zoel yang hanya tersenyum saja sejak bertemu dengannya. Floryn yakin kalau Zoel tidak mungkin membiarkan anaknya kelaparan.
“Ya sudah, kita pergi makan, yuk! Om tahu tempat makan yang menyajikan ayam bakar super enak!” seru Zoel kemudian.
Alvin menjadi semakin bersemangat. Ia menarik tangan Floryn untuk segera pergi dari sana. Namun, Zoel malah memegangi bahu Floryn agar keseimbangan wanita itu terjaga.
“Pelan-pelan, Vin … bundamu membawa seorang bayi kecil di dalam perutnya …,” bisik Zoel kepada Alvin.
“Eh … heheheh … maaf, Bun …,” kata Alvin yang kembali tenang.
Baru beberapa langkah mereka beranjak meninggalkan tempat itu, sebuah suara mengagetkan ketiganya.
“Alvin?” panggil suara itu.
Alvin yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke asal suara. Ia tahu betul kalau suara itu adalah suara sang ayah.
“Ayah?!” seru Alvin saat benar-benar melihat keberadaan Enrik di sana.
Anak itu berlari meninggalkan Floryn dan Zoel menuju ayahnya. Memang sudah cukup lama mereka tidak saling bertemu.
Floryn cukup kaget, karena seharusnya Enrik tidak keluar dari pintu yang sama dengannya. Ia tidak memperhitungkan hal ini. Salah satu alasan ia tidak pernah membawa Alvin ke persidangan. Floryn tidak mau anaknya menemui sang ayah dengan keadaan seperti itu.
Namun, ada satu hal lagi yang membuat Floryn panik. Tepat di depan Enrik, ada genangan air yang sepertinya baru saja dilap. Belum begitu kering dan terlihat dari tempat Floryn berdiri.
Hal itu membuat Floryn takut Alvin terpeleset.
“Alvin! Berhenti, Nak!” panggilnya.
Sayang sekali, Alvin tidak berhenti. Hal itu membuat Floryn refleks untuk mengejar. Wanita itu berlari, sampai ….
Bersambung.
__ADS_1