Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Aku Begitu Tersiksa


__ADS_3

"Tuann ... aakkhh ... please lebih dalam lagi ...," mohon Ambar dengan penuh harap.


"Okeey ... as you wish," sahut Enrik yang diiringi oleh lengkuhan penuh nikmat dari Ambar.


Floryn memegangi dadanya yang semakin sesak. Ternyata yang tadi siang memang bukan mimpi semata. Ternyata yang tadi siang bukan salah lihat saja.


Dengan perasaan kalut, bingung, ragu, dan marah, Floryn mencoba untuk mengintip dari lubang kunci. Seingat Floryn, kunci kamar pembantunya rusak sehingga Maryo membuatkan pengunci lain di pintu kamar Ambar.


Netra Floryn membulat dengan apa yang ia lihat saat ini. Posisi itu, Floryn bahkan tidak pernah membayangkannya. Pernah, kala itu ia memperlihatkannya kepada Enrik dan laki-laki itu bilang kalau ia pasti sudah gila. Tapi sekarang apa? Ia mempraktekkannya dengan Ambar!


Sungguh Floryn merasa jika harga dirinya telah ditampar berkali-kali dengan kenyataan tersebut.


"Aaakkhh ... Tu-tuan, apa Nyonya tidak akan mengetahui hal ini? Ba- aakkkhh ... ba-bagaimana jika ia terbangun?" tanya Ambar di sela kenikmatan bertubi-tubi yang ia terima.


"Sssstthh ... jangan sebut namanya. Jadikan ruangan ini, malam ini, dan suasana ini milik kita ...," ungkap Enrik tanpa menghentikan gerakannya.


"Hhmmmmppph ... ookkey ...," sahut Ambar menurut.

__ADS_1


Floryn mundur. Ia mendekap mulutnya sendiri. Benarkah apa yang barusan ia dengar? Kenapa Enrik bisa bicara begitu? Apakah sudah tidak ada cinta lagi untuknya?


Dengan perasaan hancur, Floryn memilih untuk pergi dari sana. Lagi-lagi, ia tidak berani untuk membuka pintu itu dan melabrak keduanya.


Bagaimana jika Enrik marah dan malah langsung menceraikan dirinya malam itu juga? Mungkin Floryn akan langsung kehilangan dunianya saat itu. Ia masih mengingat jika tempatnya bekerja saat ini adalah perusahaan milik keluarga Enrik Bimasakti. Lalu ada Alvin yang masih memerlukan sosok kedua orang tuanya. Floryn terlalu takut untuk mengambil resiko besar seperti itu.


Di dalam kamarnya yang ada di lantai dua, Floryn menangis sejadi-jadinya. Tangisan dengan suara tertahan yang keluar dari mulutnya, hanya membuat dada Floryn semakin sesak.


Di sela rasa sakit hati itu, Floryn berpikir untuk balas dendam. Satu balas dendam yang bisa memuaskan dirinya, tanpa melukai Alvin. Karena yang selama ini Alvin tahu, ayahnya adalah sosok yang luar biasa. Floryn tidak ingin mengecewakan malaikat kecilnya, ia pasti bisa menemukan cara untuk membuat pasangan itu menyesal pada akhirnya.


***


Floryn kembali ke kamar utama. Permadani yang tadi malam terkena tumpahan susu telah diganti. Begitu juga dengan sprei di atas tempat tidur. Semuanya baru.


Floryn masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menghidupkan shower air hangat. Wanita itu membasahi tubuhnya dengan merata. Tangannya sendiri menyentuh seluruh bagian tubuh agar air yang mengalir bisa menjangkau semua lekuk tubuhnya.


Namun, tanpa sengaja Floryn menyentuh puncak dadanya dengan ibu jarinya sendiri. Membuat ia memekik kaget dengan bulu tubuh yang mulai meremang.

__ADS_1


"Mas ... aku begitu tersiksa ...," lirih Floryn pada angin.


Floryn memejamkan mata dan mengangkat wajahnya agar langsung diterpa oleh tetesan air shower.


Detik berikutnya, Floryn memekik kaget karena sebuah sentuhan terasa di punggungnya yang melentik.


Lalu, dua buah tangan dengan mantap menangkup kedua bukit kembar milik Floryn. Membuat Floryn sadar dan yakin kalau ia tidak mungkin berhalusinasi.


Floryn ingin berbalik untuk memastikan jika sosok itu memang sang suami, tapi tubuh di belakangnya malah menempel dan menghalangi keinginan Floryn untuk berbalik.


"Maas?" tanya Floryn memastikan.


"Ya, Sayang ...," sahut Enrik dengan napas yang terdengar berat.


"Apa ya-yang Mas inginkan? Ki-ta di ... di kamar mandi ...," tanya Floryn dengan susah payah.


"Aku menginginkanmu, Sayang ...."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2