Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Biar Aku yang Servis


__ADS_3

Klek!


Suara kunci pintu membuat Floryn mengumpat di dalam hati. Suasana rumah yang begitu sepi membuat suara sekecil apa pun menjadi begitu jelas.


Dengan langkah berjingkat, Floryn berjalan menuju ke kamarnya. Jam dinding yang ia lewati menunjukkan pukul satu lewat sedikit. Untungnya Floryn memiliki kunci rumahnya sendiri. Jadi tidak akan ada yang mengetahui kapan ia pulang.


“Nyonyah?” tanya Ambar yang sudah berada di belakang Floryn.


Suara itu membuat jantung Floryn mencolos hingga ke telapak kaki. Siapa yang tidak terkejut dengan kehadiran sundal di belakangnya? Apalagi seharusnya Ambar sudah tidur. Atau jangan-jangan ….


“Ambar? Apa yang kamu lakukan tengah malam buta begini?” tanya Floryn berusaha memasang wajah mengintimidasi. Ia tidak ingin kalah dengan Ambar. Pada sadarnya, ambar bisa hidup baik seperti sekarang ini karena kebaikan hatinya. Mau dilihat dari sudut manapun, wanita itu punya hutang jasa yang begitu besar kepada Floryn.


“Saya? Saya terbangun karena hujan. Nyonya sendiri … kenapa pulang dalam keadaan basah? Dan … baju itu ….” Ambar tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak ingin dianggap lancang, walaupun kelakuannya di belakang Floryn sendiri sudah sangat lancang.


“Saya baru pulang dari rumah ibu, katanya Alvin terus-terusan mengigau dan mencari saya. Lalu … eh, untuk apa saya cerita ke kamu? Dasar!” omel Floryn yang langsung saja meninggalkan Ambar untuk naik ke atas.


Rumah Floryn dan Enrik bukanlah rumah gedong yang begitu luas. Itu artinya, mungkin Enrik sudah menyadari kehadirannya saat ini. Walaupun, ia masih berharap kalau suaminya itu tidak sadar sedikit pun. Ia malas menjawab rentetan pertanyaan yang akan dilontarkan Enrik nantinya.


***


Floryn sudah selesai mandi air hangat. Untungnya pemanas sedang berkerja dengan baik, sehingga ia bisa mandi untuk menghilangkan aroma Zoel di tubuhnya. Ia tidak ingin Enrik tau dan membuat ia berbalik menjadi tersangka. Bukan itu keinginannya.


Sebelum merebahkan diri ke atas tempat tidur, Floryn mencoba untuk memanggil Enrik. Ia tahu suaminya begitu kebo jika tidur, tapi tidak ada salahnya mengecek.


“Mas? Mas Enrik!” panggil Floryn tanpa menyentuh suaminya itu.


Kalau dilihat-lihat, tidak ada yang berubah semenjak beberapa jam yang lalu saat ia tinggalkan. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Semoga saja hal itu benar, Enrik tidak main lagi dengan Ambar.

__ADS_1


Setelah tidak mendapat jawaban dari suaminya, Floryn memilih untuk naik ke samping Enrik dan berbaring di sana.


Pikirannya melayang jauh pada saat mereka baru memulai biduk rumah tangga.


Pada jam-jam segini, tidak ada istilah tidur untuk mereka. Keduanya sibuk menghangatkan tubuh dengan gerakan-gerakan yang seirama. Bukan senam kesegaran jasmani, tapi saling memadu cinta.


Enrik tidak akan membiarkan Floryn tidur lebih cepat karena ia tidak pernah merasa puas dengan istrinya. Seringnya, mereka akan melakukan amalan suami istri itu hingga lebih dari tiga kali dalam semalam. Apalagi jika hari libur atau hari hujan. Mungkin lebih.


Lelah? Tentu saja tidak. Mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk tidak bercumbu.


Pernah suatu ketika, Folyn pergi ke rumah ibunya saharian penuh, karena ada sesuatu yang harus dikerjakan. Enrik tidak ikut karena ada meeting walaupun hari libur. Ia tidak mungkin menolak karena meeting itu perintah ayahnya.


Selama seharian Enrik hanya memikirkan istrinya. Ia beberapa kali mengirinkan pesan kepada Floryn, yang mengatakan jika ia begitu merindukan Floryn dan tersiksa dengan meeting yang sedang ia jalani.


Floryn kasihan. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memberikan semangat kepada Enrik dan menjanjikan sesuatu yang bisa membuat mood Enrik membaik. Hebatnya, janji itu sukses membuat Enrik semangat lagi.


Sorenya, saat Enrik sudah pulang ke rumah, ia begitu kecewa karena Floryn belum ada di istana mereka. Saat ia mencoba menghubungi, Floryn hanya bisa bilang sebentar lagi. Padahal urusannya belum selesai. Ia hanya tidak ingin mengecewakan Enrik sang suami.


Floryn hanya bisa mengamati wajah Enrik dengan perasaan iba. Laki-laki itu sudah terlelap dan terlihat sedikit kecewa.


Floryn membersihkan tubuhnya karena tidak sempat melakukan hal itu di rumah ibunya. Setelah mengenakan gaun tidur yang merupakan salah satu kado pernikahan dari sepupunya, Floryn ikut merebahkan tubuh di samping Enrik.


“Hhhmmm … akhirnya berbaring juga …,” lirih Floryn dengan mata terpejam, sembari merenggangkan tubuh.


Saat itulah, tiba-tiba saja Floryn merasa ada sebuah gerakan di sampingnya. Sebelum ia sempat membuka mata, tiba-tiba saja ia merasa sebuah tangan sudah menyusup ke dalam gaun tidur longgar yang ia kenakan.


“Aku merindukanmu, Sayang …,” bisik Enrik yang entah sejak kapan sudah bangun dan mengumpulkan nyawanya. Atau jangan-jangan sebenarnya orang itu tidak tidur?

__ADS_1


“Aaww, Mas … itu geli …,” lirih Floryn saat tangan Enrik mulai bergriliya di kedua bukit kembarnya. Tangan kekar itu mengusapnya bergantian.


“Oya? Tapi aku tidak merasa geli, kok ...,” sahut Enrik yang semakin nakal. Tidak hanya kedua bukit kembar Floryn, tangannya mulai menjelajahi area yang lebih ke bawah. Perut rata Floryn adalah sasarannya. Ia menyukai kulit mulus Floryn, seperti menyentuh sutra.


“Maass …,” rengek Floryn saat tangan Enrik mulai menyusup ke dalam underwear-nya.


“Hhm … aku tidak akan membiarkanmu tidur sebelum janji itu dipenuhi,” bisik Enrik yang sudah tidak bisa menahan hasratnya sendiri. Terbukti dengan sesuatu yang tercetak jelas di boxer-nya.


Tanpa malu, Floryn menyentuh gundukan itu. Membuat Enrik melengkuh dan membalasnya dengan satu sentuhan tepat di pusat kenikmatan sang istri.


“Aakkh … kamu jahat, Mas …,” keluh Floryn yang tidak lagi merasakan kantuk. Yang ia inginkan saat ini adalah hal lain. Hal yang jauh lebih nikmat dari hanya sekedar tidur.


Sentuhan yang dilancarkan Enrik tidak berhenti sampai di situ, ia menyingkap gaun Floryn ke atas hingga melewati kepalanya. Dengan begitu, bebaslah sudah bukit kembar yang sejak tadi menjadi pusat permainan Enrik.


“Waktunya melepas rindu …,” kata Enrik yang kemudian langsung mendekatkan wajahnya ke arah kedua bukit itu. Dengan rakusnya, Enrik menyesap bukit-bukit itu bergantian.


Di depannya, Floryn hanya bisa merapatkan kedua kaki, mencoba menahan sensasi menakjubkan yang dihasilkan Enrik dengan lidahnya yang basah dan bibirnya yang lembut.


“Eemmph … Maas … le-lebih lembut …,” mohon Floryn. Terkadang, Enrik bisa menjadi agak kasar jika sudah dikuasai oleh nafsvnya. Saat itulah Floryn harus mengingatkan. Kalau tidak, mood Floryn bisa rusak dalam waktu singkat.


“Okeey …,” sahut Enrik yang kembali menurunkan tempo pemanasannya. Ia tidak ingin malam ini gagal eksekusi. Sudah cukup saharian ini hanya bisa membayangkan tubuh polos Floryn di bawah kungkungannya. Ia tidak ingin semua itu gagal dan pada akhirnya menyiksa dirinya sendiri.


“Mass … jangan curang … ga-gantian …,” kata Floryn terbata.


Sebenarnya ia hanya tidak mau jika harus selesai lebih cepat, jadi ia menggunakan alasan itu untuk menekan tempo permainan Enrik.


“Gantian?” tanya Enrik tidak paham. Ya, mereka belum sebulan menikah, Floryn belum membuka semua tentang dirinya. Hal itu pasti akan mengejutkan Enrik.

__ADS_1


“I-iya … biar aku yang servis Mas sekarang ….” Floryn mengucapkannya dengan malu. Di sampingnya, Enrik tersenyum bahagia. Luar biasa sekali istrinya ini ….


Bersambung.


__ADS_2