Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Yang Tidak Bisa Diberikan Floryn


__ADS_3

Sebelum mulai, author mau minta maaf dengan adegan yang ganjil banget sebelumnya. Thanks untuk komentar kakak-kakak yang mengingatkan. Seharusnya ada satu adegan yang menjelaskan itu semua. Sumpah, author udah rencanain baik-baik, ternyata malah gak keikut. Mungkin authornya terlalu terbawa cerita antara Floryn dan Zoel di mobil. Ah ... sudahlah.


***


Belum juga Floryn duduk lama di dalam bus yang akan membawanya, ada sebuah panggilan masuk ke dalam benda pipih yang tersimpan di dalam tasnya.


Setelah dilihat, panggilan itu berasal dari Zoel. Sebenarnya, Floryn enggan menjawab panggilan itu, tapi kalau bukan karena Zoel, ia tidak akan sampai di rumahnya dengan selamat tadi malam.


Malam itu Floryn menumpang di mobil Zoel untuk pergi ke pos polisi terdekat. Floryn ingin membuat laporan kehilangan mobil. sayangnya, pos polisi yang paling dekat dengan lokasi itu malah tidak buka. Mereka memutuskan kembali saja karena rumah Martha berada di arah berlawanan. Akan tetapi, saat melewati lokasi itu lagi, mereka melihat mobil Floryn berada di bawah pohon yang lokasinya tidak jauh dari TKP.


Jalan yang sepi membuat Zoel buru-buru menepikan mobilnya untuk mengecek mobil milik Floryn. Setelah Zoel yakin jika mobil Floryn dalam kondisi aman dan tidak ada tanda-tanda dari orang jahat sebelumnya, Zoel kembali ke mobilnya sendiri untuk memberitahukan hal tersebut kepada Floryn.


Awalnya Floryn ragu untuk pulang sendiri dengan mobilnya, akan tetapi Zoel berhasil meyakinkan Floryn kalau ia akan mendampingi mobil wanita itu hingga sampai depan rumah. Karena hal itu juga lah, Floryn berani membawa mobilnya pulang.


Mungkin penjahat itu tidak berani membawa kabur mobil Floryn karena Floryn mengetahui siapa sosok penjahat tersebut. HP Floryn juga masih selamat. Hanya uang cash-nya saja yang lenyap tak bersisa. Akan tetapi, hingga saat ini dia belum melaporkan kejadian malam itu kepada polisi karena ia sendiri tidak ingin keluarga dari Enrik sampai mengetahui semuanya. Bisa-bisa ia akan mengalami kesulitan dengan hak asuh Alvin jika suatu saat nanti ia dan Enrik suaminya, akan berakhir dengan perpisahan.


Sebelum panggilan yang masuk itu sempat berhenti berdering, Floryn lebih dulu menjawabnya.


"Halo ...," sapa Floryn begitu mendengar suara di seberang sana.


"Bu Floryn, bagaimana keadaan Anda hari ini? Apa Anda baik-baik saja?" tanya Zoel yang memang belum mendapat kabar apapun dari Floryn sejak kejadian tadi malam. Ia hanya ingin memastikan apakah wanita itu masih flu atau sudah jauh lebih baik. Sebenernya Zoel hanya tidak punya bahan obrolan lain untuk ditanyakan.


"Terima kasih karena sudah memperhatikanku. Saat ini aku sedang berada di dalam bus Trans. Dan keadaanku cukup baik," ungkap Floryn yang merasa tidak perlu membohongi laki-laki itu. Lagi pula, Zoel tidak akan mungkin menyusulnya karena ia tidak bilang akan pergi kemana. Dan ... dia juga masih belum tahu akan pergi ke mana setelah nanti sampai di Bogor.


"Wah ... rupanya Anda sudah baik-baik saja. Kalau begitu, saya tidak perlu mengkhawatirkan Anda. Oh ya, apa mobil Anda rusak? Kenapa pergi ke Bogor dengan bus?" tanya Zoel yang merasa aneh.


"Masalah itu sebenarnya bukan karena apa-apa. Jika saya harus pergi ke Bogor sendirian dan menyetir selama itu, saya rasa tidak mudah," ungkap Floryn tanpa berniat untuk berbohong sedikit pun.


"Oh, oke. Saya cukup yakin jika Anda memiliki banyak sekali rahasia di dalam rumah tangga kalian," tebak Zoel yang merasa sudah sangat tahu tentang wanoita bernama Floryn.

__ADS_1


Floryn hanya bisa tersenyum mendengar pernyataan itu. Ia juga tidak berniat untuk memberitahu Zoel tentang masalah yang ia hadapi pagi ini. Ia tidak boleh terlalu sering bersama dengan laki-laki itu atau semua urusannya akan berjalan dengan tidak lancar.


"Aku sangat berterima kasih untuk kejadian tadi malam. Tapi ... untuk kali ini, aku tidak boleh melibatkan Anda. Maaf ...," lirih Floryn.


"Maaf? Hei ... kenapa meminta maaf pada saya? Anda tidak salah sama sekali. Nanti, kalau Anda mau melaporkan tentang kejadian tadi malam, bilang saja pada saya. Saya bisa menjadi saksi bila diperlukan," ungkap Zoel.


"Baiklah. Terima kasih untuk hal itu," akhir Floryn.


Floryn menyimpan kembali ponselnya di dalam tas. Ia ingin memejamkan mata sejenak sebelum nanti sampai di Bogor dan harus langsung mencari tahu keberadaan Enrik. Dan untuk hal itu, ia tidak akan mengalami kesulitan berarti.


Jika tidak ada yang Enrik lakukan pada ponselnya, itu berarti Floryn bisa menemukan Enrik dengan mudah. GPS yang pernah dipasang dulu, pasti bisa menemukan Enrik. Teknologi adalah kuncinya.


***


Sementara itu, di salah satu sudut jalanan menuju kota Bogor, sebuah mobil berisikan Enrik dan Ambar tengah melaju dengan santai. Keduanya begitu fokus dengan jalan di depan mereka.


Sudah satu jam perjalanan dan ia begitu merasa ingin ke toilet. Salah Enrik karena memberikan minuman dingin kepadanya. Padahal di luar juga sedang hujan ringan dan hawanya begitu dingin.


"Kamu mau pipis? Ya sudah, kita akan cari supermarket supaya kamu bisa numpang pipis. Aku juga mau beli sedikit cemilan untuk kita nanti," terang Enrik.


Ambar tersenyum. Entah apa yang dilihat Enrik dari perempuan itu, padahal Floryn jauh lebih cantik dari sudut manapun.


Tidak sampai lima menit kemudian, Enrik melihat sebuah supermarket yang lumayan besar ada di sebelah kanan jalan. Enrik memutuskan untuk putar balik dan singgah di sana.


Setelah mobil yang dikemudikan Enrik berhenti, keduanya langsung turun dan pergi ke tujuan masing-masing. Enrik menelusuri lorong untuk mencari cemilan dan Ambar pergi ke toilet.


Beberapa saat kemudian, ketika Enrik sedang bingung memilih snack apa yang ingin ia beli lebih banyak, ponselnya berdering. Dengan cepat Enrik mengambil dan mengamati siapa penelponnya.


Rupanya, panggilan itu berasal dari Ambar dengan nama Arie di dalam kontaknya. Akan tetapi, bukannya menjawab pangilan itu, Enrik malah tersenyum penuh makna. Ia meletakkan kembali keranjang yang sudah diisi oleh beberapa snack.

__ADS_1


Enrik lebih memilih untuk menyusul Ambar dan mengagetkan wanita tersebut.


Sementara itu, Ambar yang tidak mendapat jawaban dari Enrik, langsung memasang wajah manyun. Ia kembali mencoba memanggil laki-laki itu tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban.


"Apa Tuan gak membawa HP-nya, ya?" keluh Ambar seraya memperbaiki make up yang ia bubuhkan di wajahnya. "Ck! Padahal lagi sepi gini ...," tambahnya kemudian.


Namun, saat Ambar baru saja akan berbalik dan meninggalkan kamar mandi itu, sepasang tangan memeluknya dari belakang. Membuat Ambar memekik kecil dan kemudian tersenyum senang. Ia hafal betul wangi parfum majikannya. Tidak mungkin orang lain.


"Tuan ... aku kira Tuan tidak membawa HP," lirih Ambar.


Tapi Enrik tidak menjawab kalimat itu. Tangannya sibuk mempermainkan kedua bukit kembar milik Ambar yang tidak diberi penyangga. Ya, wanita itu begitu binal hingga rela melakukan apa saja agar Enrik tergila-gila padanya.


"Benda ini begitu besar dan kenyal ... apa yang kamu lakukan pada mereka? Bahkan milik Floryn saja tidak sampai seindah ini ...," bisik Enrik di samping cuping telinga Ambar.


Wanita itu begitu tersanjung dengan kalimat-kalimat pujian yang diberikan Enrik. Dengan cepat ia berbalik dan pergi untuk mengunci pintu kamar mandi. Merekatidak peduli lagi dengan orang lain yang ingin memakai bilik itu. Biarlah tiga bilik tersebut mereka kuasai saat ini.


"Tu-tuan ... sabar ...," lirih Ambar saat Enrik langsung saja merapatkan tubuh Ambar di pintu kamar mandi.


Enrik mundur sejenak. Lalu kembali membawa tubuh itu untuk mendekati washtaple di belakang mereka.


Kedua tangan Ambar bertumpu pada washtaple dan Enrik kembali merayu wanita itu dari belakang. Dengan nakalnya, Ambar menggesek-gesekkan tubuh belakangnya ke benda Enrik yang menegang.


"Selesaikan ini dengan cepat, Sayang. Kita tidak punya banyak waktu ...," bisik Enrik penuh harap.


Ambar tahu apa yang harus ia kerjakan. Dengan sangat menggoda ia berbalik dan melepaskan kancing demi kancing yang menutupi tubuh bagian depannya.


Setelah kedua bukit itu terekspose, Ambar beranjak ke arah kancing celana Enrik dan membukanya dengan mudah. Senyumnya merekah. Ia tahu apa yang tuannya inginkan. Sesuatu yang katanya tidak pernah mau dilakukan Floryn selama ini. Dan ia bisa memberikan hal itu dengan nikmatnya ....


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2