
Hai! Jangan lupa kasih like dulu, oke?
Terima kasih :')
***
Floryn bingung dengan apa yang Enrik katakan. Kenapa laki-laki itu malah menanyakan perihal orang yang tudak menyukainya?
Tidak lama kemudian, Sintia datang. Wanita itu terlihat khawatir.
"Pah, kamu baik-baik saja? Ada apa lagi ini?" tanya Sintia bingung.
"Tidak apa, Mah. Tidak apa. Sebaiknya kita bawa Enrik ke rumah sakit. Luka-luka itu ... aku takut malah infeksi nantinya," terang Edward.
Sintia mengangguk dan beralih ke arah anak tirinya. Atas perintah Edward, ia membantu sang anak tiri untuk berdiri dan pergi dari sana.
"Kami pergi dulu. Terima kasih karena telah menghubungi kami tadi, Bu Martha ...," kata Edward berusaha sopan.
"Iya. Tidak masalah, Pak. Semoga saja luka-luka Enrik lekas sembuh," kata Martha sebelum mereka keluar dari ruang tamunya.
Edward mengangguk dan keluar meninggalkan Floryn juga ibunya. Ia tidak ingin mengulur waktu. Kasihan Enrik.
***
Sepeninggal Edward, Enrik, dan Sintia, Floryn langsung menghubungi Widuri. Ia ingin menitipkan pesan jika kemungkinan besar ia tidak akan kembali ke kantor untuk saat ini.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Martha bingung. Tadi hanya ada Enrik yang terluka, kini anaknya juga ikut-ikutan gelisah dan bertingkah aneh.
"Jadi ... tadi pagi Floryn mengajak Alvin ke kantor atas permintaan Mas Enrik. Mas Enrik bilang ia kangen dengan anaknya. Lalu, mereka pergi berdua sementara Floryn meeting. Dan ... entah kenapa, Alvin bisa kembali sendirian ke kantor. Terus, Pak Edward datang dan bilang kalau polisi menangkap Mas Enrik." Floryn meletakkan HP-nya karena sudah selesai mengirimkan pesan untuk Widuri. "Tapi Floryn bilang kalau gak mungkin polisi yang membawa Mas Enrik. Kami langsung panik, kan ... nah, pas itu ibu nelpon," jelas Floryn.
Martha terlihat mengerutkan keningnya. Rupanya wanita itu juga merasa, kalau apa yang terjadi dengan Enrik, tidak seperti yang terlihat.
"Ibu merasa aneh."
__ADS_1
"Floryn juga, Bu. Masa, kata Mas Enrik orang-orang itu ingin mencelakai Alvin, bukan dirinya. Ia hanya ditangkap karena tidak mendapatkan Alvin. Kalau benar begitu, kenapa Alvin terlihat tidak panik atau menangis saat datang kepada Floryn," ungkap Floryn.
"Ya. Tapi, Pak Edward bilang akan ada polisi yang datang dan menanyaimu. Apa mereka tidak takut ketika harus berbohong dan melibatkan polisi?" gumam Martha.
Floryn angkat bahu. Ia mulai bingung mana yang real dan mana yang palsu.
Kenapa suaminya begitu ngotot melakukan ini semua. Sudah nyata, semua itu seperti akal-akalan Enrik saja.
Kini giliran Martha yang mengambil HP miliknya. Ia langsung menghubungi seseorang. Entah kenapa feeling-nya bilang kalau Floryn mungkin sedang berjalan ke arah bahaya.
"Ibu nelpon siapa?"
"Miranda, Nak. Dia harus ada di sini saat polisi-polisi itu datang dan menanyaimu. Ibu tidak ingin kecolongan karena ini sudah menyangkut masalah hukum."
Floryn mengngguk paham. Ia juga mengeluarkan HP-nya untuk menghubungi seseorang. Floryn memutuskan untuk mnghubungi polisi yang waktu itu. Setidaknya mereka tahu kalau orang itu adalah polisi sungguhan.
***
Alvin menggandeng tangan Floryn. Anak itu melambai kepada mobil Miranda yang menjauh, juga mobil polisi yang dikemudikan Pak Malik.
"Ya. Kalau tidak, pasti polisi abal-abal itu akan berkeras untuk memintamu datang ke kantor polisi besok pagi. Ada-ada saja. Kalau sudah begini, ibu jadi cukup yakin kalau Enrik pasti punya rencana jelek di balik semuanya. Benar apa kata Miranda," terang Martha.
Floryn mengangguk.
Tadinya, polisi yang dikatakan Edward datang lebih dulu. Laki-laki itu langsung saja memberikan banyak pertanyaan yang ditujukan kepada Floryn. Untungnya, beberapa menit kemudian Miranda dan Malik datang hampir bersamaan.
Floryn bisa bernapas lega karena setidaknya ia punya perlindungan. Sejauh ini pihak kepolisian masih terus mengawasi Floryn, pasalnya Jack si penjahat masih belum tertangkap.
Beberapa hari lalu saat Floryn merasa ada yang mengikutinya, ia juga langsung melaporkan hal tersebut setibanya di cafe Zoel.
Beberapa polisi yang dipimpin oleh Malik, melakukan penyisiran di sekitaran lokasi. Floryn menjelaskan semua rute jalan yang telah ia lewati. Sayangnya, polisi tidak menemukan Jack yang dicurigai.
Satu-satunya mobil yang memiliki ciri fisik seperti yang dikatakan Floryn adalah mobil seorang guru les biola. Polisi menghentikan mobil itu dan memeriksa semuanya. Dan hasil yang didapat adalah negatif. Orang itu juga tidak bermaksud mengikuti Floryn.
__ADS_1
Mereka mengatakan, Floryn mungkin agak paranoid karena kasus yang terjadi belakangan ini. Floryn sendiri tidak menyangkalnya. Mungkin ia memang paranoid dan semua itu karena ia mencoba untuk melindungi dirinya sendiri.
"Bu, kapan semua ini usai? Floryn tidak bisa tenang. Apalagi tentang keamanan kalian berdua ...," keluh Floryn di depan sang ibu.
Martha mengusap rambut Floryn. Ia tahu anaknya mungkin sudah begitu lelah. Selalu siaga juga memerlukan tenaga ekstra.
"Minta Zoel untuk menemanimu, Nak. Ibu dan Alvin akan baik-baik saja di rumah. Kamu yang ibu khawatirkan. Kamu harus pergi ke kantor dan kembali lagi ke rumah. Perjalanannya tidak dekat. Apa saja bisa terjadi di jalan. Tidak ada salahnya kamu meminta perlindungan dari Zoel. Bukankah kalian sudah sangat dekat?" tanya Martha.
Pipi Floryn bersemu merah. Ia tidak mungkin meminta hal itu kepada Zoel. Hubungan saja masih tidak jelas. Bagaimana bisa memintanya untuk selalu berada bersama?
"Itu ... mungkin belum waktunya, Bu. Kami masih dalam tahap ini ...," kata Floryn seraya memperlihatkan gerakan tangannya, menunjukkan jika hubungan mereka berdua masih sangat singkat.
"Minta tolong sebagai teman," tambah Martha.
Hal itu membuat Floryn semakin malu. Kenapa ia berpikir ke arah yang salah?
"Ya. Ibu benar. Saat ini, hanya dia yang percaya kepada Floryn tanpa ragu sedikit pun. Sepertinya Floryn memang membutuhkannya."
***
Enrik hampir saja melemparkan HP yang ada di dalam genggaman. Untung saja Sintia sudah lebih dulu menepuk bahu laki-laki itu untuk menenangkannya.
"Sttthh ... gak usah emosi. Saranku, hentikan semua ini. Biarkan ia membawa Alvin. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan wanita lain tanpa ada beban sedikit pun. Bagaimana?" terang Sintia.
Ia berharap anak tirinya itu berhenti dengan semua rencana, yang tujuannya untuk menjelekkan nama baik Floryn. Sejauh ini, tidak ada rencana Enrik yang menghasilkan.
Enrik menepis tangan Sintia. Ia tidak terima dengan kata-kata wanita itu. Akan tetapi, ia juga sudah tidak punya ide lain.
"Sebaiknya kamu menemani ayahku saja. Tidak usah sok peduli lagi. Kamu juga tidak serius ketika membantuku!" omel Enrik. "Aku ingin keluar sebentar." Enrik menarik jaket yang tergantung di dalam lemari. Laki-laki itu berniat pergi dari rumah ayahnya.
Sintia memandangi kepergian Enrik. Jauh di dalam hatinya, Sintia lelah dengan semua itu. Rasanya ingin sekali melaporkan semua tindakan buruk Enrik agar ia terlepas dari laki-laki anak tirinya. Tapi ia takut Edward malah mengira yang bukan-bukan.
"Kamu memulai semua kekacauan ini dengan selingkuh dari Floryn. Lalu memperburuknya dengan kejahatan selingkuhanmu. Untung saja pembantu itu tidak bisa membuktikan keterlibatanmu di depan penyidik. Sekarang, kamu merencanakan hal buruk untuk menjerumuskan Floryn. Kamu memang gila, Rik. Aku tidak ingin ikut terlibat saat ayahmu mengetahui kebusukan ini. Aku tidak bisa kehilangan Edward ...." Monolog Sintia mengungkapkan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Tidak suka bukan berarti harus melenyapkan. Masih ada banyak cara yang lebih baik untuk dilakukan ....
Bersambung.