Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Memastikan Keberadaan


__ADS_3

Hai, jangan lupa pencet LOVE sebelum mulai membaca, ya! Biar gak kelewat pastinya. Berikan juga komentar yang menarik di kolom komentar. Mana tau aja kalian dapat pulsa @10k dari saya. Saya akan pilih dua komentar yang paling menarik pada semua bab, mulai tanggal 20-25 Desember 2021.


Good luck, semuaaaa (*´︶`*)ฅ♡


***


Floryn mengemudi tanpa tujuan yang jelas. Ia tidak mungkin langsung pergi menuju Bogor jika memang ingin membuktikan sendiri dengan mata kepalanya, kalau sang suami bukannya kerja melainkan sedang mengerjakan sesuatu yang busuk.


Namun, sebuah ide tiba-tiba muncul di dalam otaknya. Floryn mengehentikan mobil dan mencoba untuk menghubungi seseorang. Bertanya dengan sosok itu adalah hal yang tepat.


“Hallo …,” sapa Floryn setelah panggilannya di terima.


Yang menerima teleponnya saat ini adalah Sintia. Floryn kesal kerena bukannya orang lain. Kenapa harus wanita itu? Niatnya akan semakin sulit terlaksana.


“Siapa ini? Pagi-pagi sudah mengganggu,” tanya wanita itu dengan ketusnya.


Buset! Apa ia begitu pada semua orang? Padahal Floryn menghubungi telepon rumah. Apakah Sintia tidak takut jika yang menghubungi adalah rekan bisnis suaminya? Apa karena yang menghubungi seorang perempuan?


“Ini aku, Floryn. Apa ayah mertuaku ada?” tanya Floryn penuh harap. Walaupun sebenarnya ia tidak boleh berharap terlalu besar kepada wanita itu.


“Eem … ada. Mau nanya apa pagi-pagi gini? Gak ada kesibukan lain?” tanya wanita itu yang tidak mau langsung mengabulkan permintaan Floryn.


“Penting. Ini tentang pekerjaan Mas Enrik. Bisakah Anda memanggilkannya?” tanya Floryn lagi.


“Oh. Tunggu, ya.” Setelah mengatakan hal itu, tidak ada lagi suara di seberang sana. Namun panggilan itu masih terhubung.


Floryn memarkirkan mobilnya dengan benar. Mungkin ia perlu waktu untuk bicara dengan Edward. Ia hanya perlu memastikan jika suaminya memang ada pekerjaan di Bogor.


***

__ADS_1


Setelah hampir lima belas menit menunggu, akhirnya Floryn menyerah. Ia mengakhiri panggilan dengan perasaan kesal. Seharusnya ia tahu kalau ia tidak boleh begitu berharap dengan Sintia. Wanita itu tidak menyukainya, tidak ada alasan untuk menolong Floryn dalam hal apa pun.


Dengan perasaan kesal, Floryn mencoba mencari nomor telepon Edward. Sebenarnya ia takut untuk menghubungi orang itu langsung ke HP-nya. Ia tidak pernah melakukan hal tersebut. Edward adalah sosok yang selalu membuatnya segan.


Nomor yang dimaksud akhirnya ketemu. Tapi Floryn masih ragu untuk menghubunginya langsung.


Tuuut ….


Pada akhirnya Floryn memanggil nomor itu. Floryn hanya berharap jika panggilan itu langsung dijawab oleh mertuanya. Jangan sampai Sintia lagi yang mengangkat. Kalau tidak, nasibnya akan sama. Sintia pasti akan membiarkan panggilan terhubung tapi tidak memberitahukannya kepada Edward. Persis seperti tadi dan hal itu menjengkelkan.


Sayang sekali panggilan itu tidak dijawab. “Apa memang terlalu pagi, ya?” tanya Floryn menjadi ragu. Namun, ia tidak ingin menyerah. Edward sendiri yang bilang, jika Floryn harus membuktikannya. Apakah salah jika ia ingin tahu tentang kepergian anak dari Edward itu saat ini?


“Hallo?” sapa Edward dengan suaranya yang terdengar berat.


“Hallo, Yah …,” sahut Floryn. Akhirnya ia bisa bicara langsung dengan ayah mertuanya. Ia berjanji tidak akan mengganggunya lama-lama. Floryn hanya ingin menanyakan tentang kebenaran kata-kata Enrik.


“Yah, Floryn ingin menanyakan sesuatu. Apakah hari ini Mas Enrik memang ada pekerjaan di Bogor?” tanya Floryn yang tidak ingin membuang-buang waktu mertuanya dan waktunya sendiri.


“Hari ini? Hari ini ya … eem … ya, sepertinya aku memintanya untuk ke sana sore nanti. Ada pengiriman dan ia harus mengawasinya. Tapi tidak akan lama, kok. Kamu tidak perlu khawatir …,” terang Edward.


Floryn tersenyum miring. Hatinya langsung terasa sakit. Ternyata memang ada hal lain yang ingin suaminya lakukan sebelum mengerjakan tugas yang sesungguhnya.


“Oh … kalau begitu, terima kasih, Yah. Maaf karena telah mengganggu Ayah sepagi ini,” pamit Floryn.


Panggilan itu berakhir. Floryn langsung saja meletakkan benda pipih itu kembali ke dalam tasnya.


Floryn kembali merasa gagal menjaga suaminya sendiri. Ia menelungkupkan kepala di atas setir mobil. Tanpa terasa air matanya menitik. Namun, ia tidak ingin kesedihannya berlarut-larut. Dengan kasar Floryn mengambil selembar tisu dan menghapus air mata yang sudah terlanjur mengalir.


“Lihat saja, Mas … setelah bukti itu kudapatkan, aku akan meminta cerai darimu. Kamu tidak akan punya kesempatan untuk meminta Alvin dari tanganku ini …,” kata Floryn dengan sangat yakin. Ia mengepalkan tinju dan mulai menjalankan mobilnya kembali.

__ADS_1


Saat ini Floryn sudah tahu kemana tujuannya. Ia akan langsung menuju ke Bogor. Akan tetapi, Floryn mulai mengkhawatirkan sesuatu. Mobilnya memang bukan jenis mobil yang limited edition, tapi Enrik begitu hafal dengan mobil tersebut. Ia yang membantu Floryn memasang beberapa aksesoris untuk mobil itu di bengkel langganannya.


Pikiran Floryn kembali buntu. Hal kecil seperti itu bisa menggagalkan tujuannya ke sana. Akhirnya, Floryn memutuskan untuk pergi dengan bus saja. Dua jam merupakan waktu yang cukup lama jika Floryn harus mengemudi sendirian. Ia juga tidak ingin mengalami hal yang tidak-tidak di jalanan nanti.


“Sebaiknya aku menghubungi Naura. Semoga saja ia bisa menjemputku di terminal nanti …,” kata Floryn kepada dirinya sendiri.


Maka, Floryn mencoba untuk menghubungi Naura. Wanita itu adalah salah satu teman dekat Floryn, sebelum akhirnya menikah dan pindah ke Bogor. Ia mengikuti suaminya yang pindah tugas ke sana. Suaminya adalah seorang anggota kepolisian.


Tut tut tut ….


Pannggilan yang Floryn lakukan tidak bisa terhubung. Jadi, ia mengirimkan pesan saja untuk wanita itu. Kalau pun setelah ia sampai Naura tidak ada, ia masih bisa menggunakan taksi online. Ia tidak akan mundur hanya karena tidak ada dukungan.


“Ra, aku OTW Bogor pakai bus Trans. Kalau kamu tidak sibuk, tolong jemput aku di terminal, ya … tapi kalau kamu sibuk, ya tidak usah ….” Floryn masih tidak enak mengganggu temannya itu. Semoga saja Naura tidak memaksakan. Jika memang tidak bisa, ya tidak usah datang. Tinggal bilang padanya.


Floryn melajukan mobilnya menuju rumah Martha, sang ibu. Ia akan menitipkan mobil di sana. Sekalian bilang kepada ibunya untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Enrik jika mungkin nanti Enrik menghubungi.


***


Saat ini Floryn sudah berada di terminal dan juga sudah mendapatkan tiketnya. Karena bukan pengguna bus, ia agak kesulitan saat tadi ingin membeli tiket. Bahkan, ia hampir membeli tiket dari seorang calo. Untungnya ada orang yang memberitahukan hal tersebut.


“Tidak kusangka, masih ada orang baik yang perhatian di dunia ini …,” batin Floryn yang kini sudah duduk di salah satu kursi milik bus Trans menuju Bogor.


Floryn sedikit menyesal karena ia tidak membawa earphone untuk menemaninya dalam dua jam ke depan. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin pulang dulu dan mempersiapkan semuanya.


“Semoga saja feelingku kali ini benar. Mas Enrik ada di sana dan aku bisa membuktikannya kepada ayah mertua dengan segera.”


Floryn tidak bisa mundur lagi. Bus Trans yang membawanya sudah bergerak dengan dia ada di dalam sana. Yang harus kalian lakukan saat ini hanya berdoa dan mendesak author agar Enrik dan Ambar memang ada di dalam satu kamar yang sama, supaya Floryn bisa menciduk mereka dan tidak lupa merekam semuanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2