Jangan Salahkan Aku

Jangan Salahkan Aku
Lipstick Merah Terang


__ADS_3

Floryn dan Alvin pulang sebelum jam sembilan malam. Ia tidak ingin anaknya terlalu lelah karena keesokan harinya Enrik berjanji akan membawa mereka piknik. Floryn sendiri belum tahu, kemana sang suami akan membawa mereka.


“Hoaaaam ….” Alvin menguap setelah mereka turun dari dalam mobil.


“Apa tadi siang Alvin tidak tidur?” tanya Floryn kepada balitanya.


Anak itu tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala dan terus melangkah. Karena kasihan, Floryn menggendong anak itu masuk ke dalam rumah.


“Thank you …,” lirih Alvin entah anak itu masih sadar atau tidak.


Setelah pintu utama dibukakan oleh Ambar, Floryn langsung melepaskan high heels 7 cm yang ia kenakan dan melangkah menuju ke lantai dua. Ia tidak peduli dengan penampilan Ambar yang terlihat tidak seperti biasanya. Apakah wanita itu mengenakan lipstick berwarna merah?


“Bar, tolong letakan sepatu saya di lemari.” Floryn berkata dengan suara lantang. Bukan urusan Floryn jika pembantunya itu menggenakan jasa MUA sekalipun.


“Iya, Nyah.”


“Ingat, jangan merusaknya. Harga sepatu itu dua kali lipat dari gajimu selama satu bulan,” terang Floryn.


“Baik …,” sahut Ambar yang terlihat tidak suka disuruh-suruh oleh majikannya sendiri. Sedangkan Floryn, ia tersenyum dan terus melangkah meninggalkan ruangan itu.


Di atas, Floryn langsung masuk ke kamar anaknya. Ia meletakkan Alvin yang rupanya sudah terlelap. Dengan sangat hati-hati, ia melepaskan pakaian dan sepatu Alvin. Lalu menggantinya dengan piyama tidur.


Sebelum meninggalkan kamar Alvin, Floryn mengecup puncak kepala anak sematawayangnya itu.


Di luar, Floryn melihat suaminya yang baru saja keluar dari dalam kamar mereka. Laki-laki itu terlihat mengenakan jaket kulit dan mambawa sarung tangan motor. Itu tandanya hanya satu, Enrik ingin pergi keluar dengan motornya.

__ADS_1


“Mas?” tegur Floryn saat mereka berpapasan.


“Sayang, kamu sudah pulang. Padahal aku baru saja ingin menghubungimu,” kata Enrik yang tidak tahu benar atau tidak.


“Iya, baru saja. Mas Enrik mau ke mana?” tanya Floryn penasaran. Sebenarnya ia tidak begitu peduli kemana orang itu akan pergi. Yang penting ia pergi sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan Ambar.


“Baru saja Tian menghubungi Mas. Katanya mereka akan memberikan kejutan ulang tahun untuk Sean sebentar lagi. Kamu kenal dia, kan?”


“Ya, aku tahu. Teman SMA Mas yang sekarang jadi rekan bisnis itu, kan?” ungkap Floryn.


“Iya. aku senang kamu mengingatnya. Jadi, apa aku boleh pergi?” tanya Enrik kemudian.


Floryn melipat kedua tangannya di depan dada. “Mas sudah tidak sayang lagi dengan Alvin?” tanya Floryn yang tentu saja membuat orang itu bingung.


“Lalu, kenapa tidak bertanya tentangnya sedikit pun?” Floryn membuang pandangannya ke arah lain. Hatinya masih bisa menerima jika Enrik memiliki wanita simpanan, tapi ia tidak akan terima jika Enrik tidak mempedulikan anaknya lagi. Darah dagingnya.


“Astaga … maaf, Sayang. Aku terlalu buru-buru dan fokus dengan kata-kata Tian tadi. Ia bilang aku harus cepat.” Enrik menarik tubuh Floryn hingga menempel padanya. Hal itu membuat Floryn kaget. “Kamu begitu cantik saat marah padaku …,” bisik Enrik di depan wajah Floryn. Napasnya terasa panas saat menyapu bulu-bulu halus di permukaan kulit Floryn.


“Mas … jangan mengalihkan pembicaraan!” tukas Floryn dengan tangan yang berusaha menjauhkan tubuh sang suami.


“Jadi … apa Alvin sudah tidur? Apa aku harus membatalkan kepergianku ke sana?” tanya Enrik yang sudah merangkul pinggang Floryn. Laki-laki itu mencoba untuk menggoda istrinya sendiri.


Floryn tahu jika Enrik mungkin sudah bermain lagi dengan Ambar tadi sore. Perasaan jijik langsung saja meliputi dirinya. Ia tidak bisa membayangkan jika ia harus kembali melayani Enrik.


“Sudahlah, Mas. Nanti mereka menunggumu. Bukankah kalian begitu dekat?” tanya Floryn agar Enrik berhenti.

__ADS_1


Untungnya hal itu berhasil. Enrik melepaskan rangkulannya di pinggang Floryn dan mengangkat tangan untuk melihat jam.


“Sayang benar.”


“Jadi, Mas akan pergi sendirian?” tanya Floryn memastikan.


“Iya. Mungkin mampir dulu ke salah satu toko untuk mengambil hadiah milik Sean. Aku sudah memesannya setelah Tian menghubungi tadi,” jelas Enrik.


Akhirnya Enrik pergi. Floryn juga mengantar kepergian laki-laki itu hingga depan pintu. Sekedar memastikan agar tidak ada wanita sundal yang ikut dengannya. Mana tahu saja undangan itu hanyalah dalih?


Dan untuk memastikan hal itu, Floryn menyuruh Ambar yang tadi juga melepas kepergian Enrik, untuk menyiapkan air mandi untuknya.


“Saya ingin menemui Bik Mira. Kamu siapkan air mandi untuk saya. Jangan terlalu panas dan jangan masukan sabun terlalu banyak.” Floryn mengatakannya dengan sangat jelas. Jika ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, sudah pasti Ambar sengaja melakukan itu.


“Baik, Nyah.” Ambar menundukkan kepala kepada Floryn.


Dengan cepat, Floryn berbalik dan berjalan menuju dapur. Ia ingin meminta Mira mempersiapkan bekal piknik mereka untuk besok.


Sedangkan Ambar, wanita itu naik ke lantai atas dengan berat hati. Semenjak memiliki hubungan dengan Enrik, pambentu itu merasa dirinya spesial. Setiap kali Floryn menyuruhnya melakukan pekerjaan di luar pekerjaan rutinnya, ia akan merasa kesal.


“Gimana caranya supaya Floryn itu terlihat jelek di depan Tuan Enrik? Lebih baik lagi, jika Floryn terlihat jahat di depan Tuan Enrik. Mana tahu saja Tuan Enrik berpikir untuk menceraikannya …,” monolog Ambar.


Senyum licik terukir di wajahnya yang semakin hari semakin berani mengenakan make up. Awalnya hanya bedak. Namun, lama kelamaan, Ambar mulai mengenakan lipstick berwarna merah terang, tidak seperti sebelumnya. Yang ada di dalam pikirannya hanya satu, Enrik tidak bosan dan terus memerlukan dirinya ….


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2